aep.saepuloh












Memahami Takdir Ilahi 
Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal 
Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah ta'ala, salah satu rukun 
iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir 
baik maupun buruk. 
Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan: 
1.        Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu 
ada. Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah 
diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya. 
2.        Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh. 
3.        Mengimani masyi'ah (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang 
terjadi adalah karena kehendak-Nya. 
4.        Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah 
adalah Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga 
amalan manusia. 
Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah ta'ala 
(yang artinya), "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah 
mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang 
demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang 
demikian itu amat mudah bagi Allah." (QS. Al Hajj [22]: 70). Kemudian 
dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah firman Allah (yang artinya), "
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila 
dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At Takwir [81]: 29). 
Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman Allah (yang 
artinya), "Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu perbuat." (QS. 
Ash-Shaffaat [37]: 96). Pada ayat 'Wa ma ta'malun' (dan apa saja yang kamu 
perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah ciptaan Allah. 
Macam-Macam Takdir 
Takdir itu ada 2 macam: 
[1] Takdir umum mencakup segala yang ada. Takdir ini dicatat di Lauhul 
Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari 
kiamat. Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah shallallahu 
'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan 
Allah adalah qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, 
"Tulislah". Kemudian qalam berkata, "Wahai Rabbku, apa yang akan aku 
tulis?" Allah berfirman, "Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi 
hingga hari kiamat." (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani 
dalam Shohih wa Dho'if Sunan Abi Daud). 
[2] Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum. Takdir ini 
terdiri dari: 
(a) Takdir 'Umri yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu 
Mas'ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan 
ditetapkan mengenai 4 hal: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara 
atau berbahagia. 
(b) Takdir Tahunan yaitu takdir yang ditetapkan pada malam lailatul qadar 
mengenai kejadian dalam setahun. Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "
Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah." (QS. Ad Dukhan 
[44]: 4). Ibnu Abbas mengatakan, "Pada malam lailatul qadar, ditulis pada 
ummul kitab segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang terjadi dalam 
setahun." (Lihat Ma'alimut Tanzil, Tafsir Al Baghowi) 
Seorang muslim harus beriman dengan takdir yang umum dan terperinci ini. 
Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak 
beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun 
iman yang wajib diimani. 
Salah Dalam Menyikapi Takdir 
Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula 
yang terlalu berlebihan dalam menetapkannya. 
Yang pertama ini dikenal dengan Qodariyyah. Dan di dalamnya ada dua 
kelompok lagi. Kelompok pertama adalah yang paling ekstrem. Mereka 
mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa 
yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh. Mereka mengatakan bahwa Allah 
memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang taat dan 
berbuat maksiat. Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh 
ilmu Allah dan takdirnya. Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan 
tidak ada lagi. 
Kelompok kedua adalah yang menetapkan ilmu Allah, namun meniadakan 
masuknya perbuatan hamba pada takdir Allah. Mereka menganggap bahwa 
perbuatan hamba adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah tidak 
menciptakannya dan tidak pula menghendakinya. Inilah madzhab mu'tazilah. 
Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan 
takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan 
ikhtiyar (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu 
dipaksa untuk menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal 
dengan Jabariyyah. 
Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana 
ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang 
artinya), "(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang 
lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali 
apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At Takwir [81]: 
28-29). Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua 
kelompok di atas. Pada ayat, "(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau 
menempuh jalan yang lurus" merupakan bantahan untuk jabariyyah karena pada 
ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi 
manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri. Kemudian pada 
ayat selanjutnya, "Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) 
kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam" merupakan bantahan 
untuk qodariyyah yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri 
sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak 
Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah 
mengaitkan kehendak hamba dengan kehendak-Nya. 
Keyakinan yang Benar Dalam Mengimani Takdir 
Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, 
kekufuran dan kerusakan terjadi dengan ketetapan Allah karena tidak ada 
pencipta selain Dia. Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk 
adalah termasuk makhluk Allah. Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap 
yang dia kerjakan, bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya. 
As Safariny mengatakan, "Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu 
(salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah 
menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba. Dan hambalah yang 
menjadi pelaku perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah 
menjadikan hamba sebagai pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), 
"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila 
dikehendaki Allah" (QS. At Takwir [81]: 29). Maka dalam ayat ini Allah 
menetapkan kehendak hamba dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini 
tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Inilah dalil yang tegas yang 
dipilih oleh Ahlus Sunnah." 
Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir. Mereka 
menyangka bahwa seseorang yang mengimani takdir itu hanya pasrah tanpa 
melakukan sebab sama sekali. Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan 
istrinya berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak 
meninggalkan sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya. Lalu dia 
mengatakan, "Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada 
mereka". Sungguh ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir. 
Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di 
samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan 
melarang kita bermalas-malasan. Apabila kita telah mengambil sebab, namun 
kita mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa 
dan bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah. Oleh 
karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Bersemangatlah 
dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan 
janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata: 
'Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu', 
tetapi katakanlah: 'Qodarollahu wa maa sya'a fa'al' (Ini telah ditakdirkan 
oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena 
ucapan'seandainya' akan membuka (pintu) setan." (HR. Muslim) 
Buah Beriman Kepada Takdir 
Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati 
menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini. Seseorang 
yang mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin 
bahwa hal itu pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya. 
Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, "Engkau 
tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir 
yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja 
yang akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu 
tidak akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda, "Takdir itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan 
tidak beriman seperti ini, maka dia akan masuk neraka." (Shohih. Lihat 
Silsilah Ash Shohihah no. 2439) 
Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan 
menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda 
dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah 
barang tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. 
Semoga kita dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala 
cobaan yang merupakan takdir Allah. 
Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang 
mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka 
serta perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya 
Allah, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau 
tetapkan bagi kami adalah baik. Amin Ya Mujibbad Da'awat. 
Sumber Rujukan Utama: 
[1] Al Irsyad ila Shohihil I'tiqod, Syaikh Fauzan Al Fauzan 
[2] Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin 

*** 
Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal 
Muroja'ah: Ustadz Aris Munandar 
Artikel www.muslim.or.id 
______________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.


______________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke