> From: Hery SA <[email protected]> > Subject: Utusan (Gali Kata Alkitab dari Tinjauan Tulisan Ibrani Kuno) > To: [email protected], "hery setyo adi" <[email protected]> > Date: Wednesday, January 6, 2010, 4:41 PM > > > > > > Gali Kata > Alkitab > > > Rubrik > ini menyediakan artikel yang berisi makna > suatu kata dalam Alkitab yang diteliti dengan menggali akar > kata dalam bahasa > Ibrani Kuno. Artikel yang dimuat di rubrik ini merupakan > pengembangan dari > artikel pendek dalam "Pelayanan via SMS" yang > disebarkan setiap hari > Rabu dengan rubrik "Gali Kata Alkitab" dari > telepon selular > nomor 085294397157 atas nama Hery > Setyo > Adi. Sedangkan rubrik “Gali Kata Alkitab” –yang > disebarkan melalui e-mail ini > -- mempostingkan satu artikel seminggu sekali setiap hari > Kamis. Artikel yang > sama disebarkan juga melalui http://www.sabdaspace.org/blog/hery_setyo_adi > atau http://herysa.blogs.friendster.com/gali_kata. > Harap artikel-artikel ini menjadi berkat bagi kita semua. > Tuhan Yesus > memberkati. > > Pelayanan via E-mail > > Edisi 74: Kamis, 6 Agustus > 2009 > > Utusan > > > Kata “utusan” > merupakan padanan antara lain dari kata Ibrani mal’ak (disusun dari > huruf-huruf dan tanda > baca Ibrani: > Mem-Patah-Lamed-Shewa-Alef-Qames-Kaf). > Akar-kata induk mal’ak adalah LK (Lamed-Kaf), yang dalam > tulisan-gambar (piktograf) Ibrani kuno menggambarkan benda > dan melambangkan ide > tertentu. Huruf Lamed adalah gambar tongkat gembala. > Sedangkan huruf Kaf adalah > gambar telapak tangan yang terbuka. Gabungan dua gambar > tersebut berarti > “tongkat di telapak tangan.” Seorang pengembara > berjalan kaki dengan sebuah > tongkat di tangannya untuk mendukungnya dalam perjalanan. > Tongkat dapat dipakai > sebagai senjata untuk mempertahankan diri dari serangan > binatang buas atau > perampok. > > Pada zaman > masyarakat lampau, tongkat merupakan senjata yang penting > bagi seseorang pada > saat mengadakan perjalanan. Ketika seseorang berjalan di > jalan setapak dan > melewati semak-semak yang menutupnya, tongkat dapat dipakai > untuk menyibakkan > semak itu. Pada saat ia berjalan dan menjumpai ular di > tengah jalan, tongkat > dapat dipakai untuk menyingkirkan atau memukul ular itu. > > > Di sampaing > sebagai senjata, tongkat juga dapat dipakai sebagai > penopang dalam perjalanan. > Ketika seseorang menuruni lembah atau menaiki bukit, ia > bisa menggunakan > tongkat yang dibawanya untuk menopang tubuhnya. Tongkat > sangat berarti bagi > seseorang ketika melakukan perjalanan. > > Seorang > “utusan”, adalah seorang yang “di telapak tangannya > memegang tongka.” Maksudnya > seorang yang siap untuk mengadakan perjalanan. Ia siap > berjalan ke mana saja, > sebab di telapak tangannya ada senjata dan penopang untuk > berjalan. Seorang > utusan berarti seorang yang siap pergi. Seorang utusan > dikirim seorang raja > kepada raja lain, berarti utusan itu siap pergi > menyampaikan pesan raja kepada > raja lain itu. > > Yesaya > 42:19 > > “Siapakah yang buta selain dari > hamba-Ku, dan yang tuli seperti utusan yang > Kusuruh? Siapakah yang buta seperti suruhan-Ku dan yang > tuli seperti hamba > TUHAN?” (Yesaya 42:19). > > > > Nabi Yesaya > dikirim Allah untuk memperingatkan Yehuda dari > dosa-dosanya. Ayat di atas > ditujukan kepada bangsa itu yang telah gagal hidup taat dan > setia kepada Tuhan > itu. (Dosa Yehuda tersebut dapat dilihat di antaranya dalam > ayat 24). Tuhan > sangat kecewa terhadap Yehuda, sebab Yehuda adalah hambaNya > (‘ebed), “utusan”Nya (mal’ak), dan > suruhanNya (shalakh), tapi mereka > buta dan tuli. > > Kekecewaan Tuhan > ini dapat dipahami, mengingat Tuhan mempunyai agenda besar > melalui umat > pilihanNya ini. Pada suatu hari nanti, Tuhan mau > menyediakan keselamatan > melalui Israel dan Yehuda bagi bangsa-bangsa. Tapi, bangsa > itu malah > memberontak kepada Tuhan. > > Yehuda yang > mestinya menjadi umat yang siap pergi memberitakan Firman > Tuhan, tapi mereka > sendiri buta dan tuli. Bagaimana seorang “utusan” siap > pergi kalau ia buta? > Bagaimana seorang “utusan” siap pergi membawa pesan > untuk disampaikan kepada > pihak lain kalau ia tuli? > > Implikasi > > Saya tinggal di > sebuah desa yang berjarak lebih dari lima kilometer dari > kota. Ketika saya > pergi ke kota istri saya kadang meminta tolong untuk > membelikan sesuatu. Sambil > menyiapkan sesuatu saya biasanya menjawab “ya” kepada > istri saya. Sepulang dari > kota, istri saya bertanya, “Mana pesananku?” Saya > kaget, “Oh…ya, lupa. Tadi > pesan apa, ya?” Istri saya tentu kecewa. Saya meminta > maaf kepadanya. > > Saya mendengar > istri saya memesan sesuatu. Telinga saya tidak tuli. Tapi, > saya kurang > memperhatikannya. Karenanya, saya tidak dapat mengetahui, > apalagi mengingat isi > pesannya. > > Bayangkan, > seorang yang memiliki telinga dan dapat mendengar pesan, > tapi kurang memberi > perhatian, ia dapat melalaikan tugasnya. Bagaimana jika > orang itu tuli? Apakah > yang dapat diharapkan dari seorang yang tidak dapat > mendengar pesan dan > berkewajiban menyampaikannya kepada orang lain? > > Saya dan Anda > sekalian, yang sudah menerima Tuhan Yesus sebagai > Juruselamat dan Tuhan, adalah > “utusan-utusan” Tuhan. Apakah kita sungguh-sungguh > tidak tuli dan buta, > sehingga “siap pergi” membawa berita dan > menyampaikannya kepada orang lain? > Atau, kita sendiri sebenarnya masih tuli dan buta, sehingga > tidak “siap pergi” > sebagai “utusan” Tuhan? > > (Artikel ini > ditulis oleh Hery Setyo Adi, > yang menggunakan rujukan dari berbagai > sumber) > > > > >
-- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] or add me in Yahoo Messenger at [email protected] thanks for joinning this group.
