-
aep.saepu...@dd 
01/07/2010 12:37 PM












Keluarga dalam Pandangan Islam 
Penulis : Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah. 
Syaithan begitu berambisi dalam merusak sebuah keluarga. Berbagai upaya 
ditempuh untuk mencapai ambisinya itu. Ini disebabkan keluarga merupakan 
pondasi bagi terbentuknya masyarakat muslim yang berkualitas. 
Setiap manusia tentu mendambakan keamanan dan mereka berlomba-lomba untuk 
mewujudkannya dengan setiap jalan dan cara yang memungkinkan. Rasa aman 
ini lebih mereka butuhkan di atas kebutuhan makanan. Karena itu Islam 
memperhatikan hal ini dengan cara membina manusia sebagai bagian dari 
masyarakat di atas akidah yang lurus disertai akhlak yang mulia. Bersamaan 
dengan itu, pembinaan individu-individu manusia tidak mungkin dapat 
terlaksana dengan baik tanpa ada wadah dan lingkungan yang baik. Dari 
sudut inilah kita dapat melihat nilai sebuah keluarga. 
Keluarga dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil. Bahkan 
Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga dengan 
meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara kehidupan keluarga dari 
ketidakharmonisan dan kehancuran. Kenapa demikian besar perhatian Islam? 
Karena tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata pertama 
untuk membangun istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman yang 
diharapkan dapat mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan 
kalimat Allah di muka bumi. 
Bila pondasi ini kuat, lurus agama dan akhlak anggotanya maka akan kuat 
pula masyarakat dan akan terwujud keamanan yang didambakan. Sebaliknya, 
bila tercerai berai ikatan keluarga dan kerusakan meracuni 
anggota-anggotanya maka dampaknya terlihat pada masyarakat, bagaimana 
kegoncangan melanda dan rapuhnya kekuatan sehingga tidak diperoleh rasa 
aman. 
Dengan keterangan di atas pahamlah kita kenapa musuh-musuh Allah dari 
kalangan syaitan jin dan manusia begitu berambisi untuk menghancurkan 
kehidupan keluarga. Mereka bantu-membantu menyisipkan kebatilan ke dalam 
keluarga agar apa yang diharapkan Islam dari sebuah keluarga tidak 
terwujud. Dan sangat disesalkan ibarat gayung bersambut, kebatilan itu 
banyak diserap oleh keluarga muslim. Akibatnya tatanan rumah tangga hancur 
dan dampaknya masyarakat diantar ke bibir jurang kehancuran. Naudzubillah 
min dzalik!!! Kita berlindung kepada Allah dari yang demikian. 
Jauh sebelumnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah 
memperingatkan kita akan makar iblis terhadap anak Adam. Bagaimana iblis 
begitu bergembira bila anak buahnya dapat menghancurkan sebuah keluarga, 
memutuskan hubungan antara suami dengan istri sebagai dua tonggak dalam 
kehidupan keluarga. 
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : 
"Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia 
mengirim tentara-tentaranya. Maka yang paling dekat di antara mereka 
dengan iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya. Datang 
salah seorang dari mereka seraya berkata: Aku telah melakukan ini dan itu. 
Maka Iblis menjawab: "Engkau belum melakukan apa-apa". Lalu datang yang 
lain seraya berkata: "Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang 
digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya". Maka Iblis 
pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya dengan 
berkata: "Ya, engkaulah". (Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya, Kitab 
Shifatul Qiyamah wal Jannah wan Naar, Bab Tahrisyu Asy Syaithan wa 
Ba`tsuhu Sarayahu Li Fitnatin Naas, 17/157- Syarah Nawawi) 
Dalam Syarah Shahih Muslim (17/157) berkata Imam Nawawi rahimahullah 
menjelaskan hadits di atas bahwa Iblis bermarkas di lautan dan dari 
situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak 
buahnya yang berhasil memisahkan antara suami dengan istrinya karena kagum 
dengan apa yang dilakukannya dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang 
dikehendaki iblis. 
Sebegitu kuat ambisi iblis dan para syaitan sebagai tentaranya untuk 
menghancurkan kehidupan keluarga hingga mereka bersedia membantu syaitan 
dari kalangan manusia untuk mengerjakan sihir yang dapat memisahkan suami 
dengan istrinya. Allah Ta`ala berfirman menyebutkan ihwal orang–orang 
Yahudi yang biasa melakukan pekerjaan kufur ini (sihir) guna memisahkan 
pasangan suami istri: 
"Orang-orang Yahudi itu mengikuti apa yang dibacakan para syaitan pada 
masa kerajaan Nabi Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu 
mengerjakan sihir) padahal Sulaiman tidaklah kafir (mengerjakan sihir) 
namun syaitan- syaitan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada 
manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babil yaitu Harut 
dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seorangpun 
sebelum keduanya mengatakan: "Kami hanyalah ujian (cobaan) bagimu maka 
janganlah engkau kufur dengan belajar sihir". Maka mereka mempelajari 
sihir dari keduanya yang dengan sihir tersebut mereka bisa memisahkan 
antara suami dengan istrinya…" (Al Baqarah: 102) 
Kita berlindung kepada Allah ta`ala dari kejahatan sihir dan pelakunya! 
Pembaca yang semoga dirahmati Allah ta`ala… ketahuilah, suatu keluarga 
baru memiliki nilai lebih bila bangunan keluarga itu ditegakkan di atas 
dasar takwa kepada Allah Ta`ala. 
Untuk kepentingan ini perlu dipersiapkan anggota keluarga yang shalih, 
tentunya dimulai dari pasangan suami istri. Seorang pria ketika akan 
menikah hendaknya mempersiapkan diri dan melihat kemampuan dirinya. Dia 
harus membekali diri dengan ilmu agama agar dapat memfungsikan dirinya 
sebagai qawwam (pemimpin) yang baik dalam rumah tangga. 
Karena Allah Ta`ala telah menetapkan: 
"Kaum pria itu adalah pemimpin atas kaum wanita disebabkan Allah telah 
melebihkan sebagian mereka (melebihkan kaum pria) di atas sebagian yang 
lain (di atas kaum wanita) dan karena kaum pria telah membelanjakan 
harta-harta mereka untuk menghidupi wanita…". ( An Nisa: 34) 
Hendaknya seorang pria menjatuhkan pilihan hidupnya kepada wanita yang 
shalihah karena demikian yang dituntunkan oleh Nabi kita yang mulia 
Muhammad shallallahu alaihi wasallam. 
Beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda tentang kelebihan wanita yang 
shalihah: 
"Dunia itu adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita 
shalihah ". (HR. Muslim dalam Shahihnya, Kitab Ar Radlaa`, Bab Istihbaab 
Nikaahil Bikr. 10/56, Syarah Nawawi) 
"Ada empat perkara yang termasuk dari kebahagiaan: istri yang shalihah, 
tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih dan tunggangan (kendaraan) 
yang nyaman. Dan ada empat perkara yang termasuk dari kesengsaraan: 
tetangga yang jelek, istri yang jelek (tidak shalihah), tunggangan yang 
jelek dan tempat tinggal yang sempit". (HR. Ibnu Hibban. Hadits ini 
dishahihkan Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab beliau " Ash Shahihul 
Musnad Mimma Laysa fish Shahihain" 1/277) 
Beliau Shallallahu 'alaihi Wasallam mengabarkan: 
"Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, 
kedudukannya (keturunannya), kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah 
wanita yang memiliki agama, taribat yadaak ". (HR. Bukhari dalam Shahihnya 
no. 5090, Kitab An Nikah, bab Al Akfaau fid Dien, dan Muslim dalam 
Shahihnya, Kitab Ar Radla, bab Istihbaab Nikahi Dzatid Dien, 10/51, Syarah 
Nawawi) 
Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa yang benar tentang makna hadits 
di atas adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan tentang 
kebiasaan yang dilakukan manusia. Mereka ketika hendak menikah memilih 
wanita dengan melihat empat perkara tersebut dan mereka mengakhirkan 
pertimbangan agama si wanita . Maka hendaklah engkau wahai orang yang 
meminta bimbingan memilih wanita yang baik agamanya. (Shahih Muslim bi 
Syarhin Nawawi, 10/51-52) 
Imam Nawawi melanjutkan: "Dalam hadits ini ada hasungan untuk 
bergaul/berteman dengan orang yang memiliki agama baik dalam segala 
sesuatu karena berteman dengan mereka bisa mengambil faedah dari akhlak 
mereka, barakah mereka dan baiknya jalan hidup mereka, di samping itu kita 
aman dari kerusakan yang ditimbulkan mereka". (10/52) 
Masalah agama ini juga harus menjadi pertimbangan seorang wanita ketika ia 
memutuskan untuk menerima pinangan seorang pria, karena pria yang shalih 
ini bila mencintai istrinya maka ia akan memuliakannya, namun bila ia 
tidak mencintai istrinya maka ia tidak akan menghinakannya. Dan hal ini 
harus menjadi perhatian wali si wanita karena Rasulullah shallallahu 
alaihi wasallam bersabda : 
"Apabila datang kepada kalian (para wali wanita) orang yang kalian ridla 
agama dan akhlaknya (untuk meminang wanita yang di bawah perwalian kalian) 
maka nikahkanlah laki-laki itu, kalau tidak kalian lakukan hal tersebut 
niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan terjadi kerusakan yang 
merata". (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dll) 
Di antara yang dijadikan Islam sebagai tujuan berumah tangga dan 
dibentuknya sebuah keluarga adalah untuk memperbanyak umat Muhammad 
shallallahu alaihi wasallam. Karena itu ketika datang seorang pria 
menghadap beliau dan mengatakan : "Aku mendapatkan seorang wanita yang 
memiliki kecantikan dan keturunan namun ia tidak dapat melahirkan 
(mandul), apakah boleh aku menikahinya ?" Rasulullah shallallahu alaihi 
wasallam menjawab: "Jangan menikahinya". Kemudian pria tadi datang 
menghadap Nabi untuk kedua kalinya dan mengutarakan keinginannya untuk 
menikahi wanita tersebut, namun beliau melarangnya. Kemudian ia datang 
lagi untuk ketiga kalinya, maka beliau shallallahu alaihi wasallam 
bersabda : 
"Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur (banyak anaknya) 
karena aku akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan 
umat-umat yang lain". (HR. Abu Daud dan Nasai. Dishahihkan oleh Syaikh 
Muqbil dalam "Ash Shahihul Musnad Mimma Laysa fis Shahihain" 2/211) 
Bila setiap muslim memperhatikan dan melaksanakan dengan baik apa yang 
ditetapkan dan digariskan oleh syariat agamanya niscaya ia akan 
mendapatkan kelurusan dan ketenangan dalam hidupnya, termasuk dalam 
kehidupan berkeluarga. Dan dia benar-benar dapat merasakan tanda kekuasaan 
Allah ta`ala sebagaimana dalam firman-Nya; 
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untuk kalian 
pasangan-pasangan kalian dari diri-diri (jenis) kalian sendiri agar kalian 
merasa tenang dengan keberadaaan mereka dan Dia menjadikan di antara 
kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu 
benar-benar terdapat tanda –tanda bagi kaum yang mau berfikir". (Ar Ruum: 
21 ) 
Wallahu ta`ala a`lam bishawwab. 
(Ummu Ishaq Zulfa Husein Al Atsariyyah) 

______________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.


______________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.


-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke