Mandikan Aku Bunda...

 

Mandikan Aku Bunda! Sudahkan Kita Memenuhi Tanggung Jawab Kita sebagai
Seorang Ibu yang Baik bagi Anak-Anak Tercinta Kita Dirumah? oleh: Ayah Edy,
penulis buku 'Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur, 37 Kebiasaan
Orang Tua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak'.

 

Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak cemerlang
dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep
dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis maupun profesi
yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,'' begitu ucapan yang kerap
kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan seorang mantan presiden
Amerika. Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional
di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya. 

 

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang
''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama
berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut lahir
ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan suaminya
meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka. Ketika Bayu, berusia 6
bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak seekor burung garuda, nyaris
tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke
negara lain. 

 

Sebagai seorang sahabat setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah
si Bayu masih terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan
sigap Dewi menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan
sempurna". "Everything is OK !, Don't worry Everything is under control kok
!" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri. Ucapannya itu memang
betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya, ditangani secara profesional
oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal mengontrol jadwal Bayu lewat
telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas
mandiri dan mudah mengerti. Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan
kepada cucu semata wayang itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang
gelar Phd. dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang
berlimpah. "Contohlah ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah
seperti Bunda". Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng
menjelang tidurnya.

 

Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu tetap tumbuh dengan penuh
cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi sangat iri pada keluarga
ini.Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu
menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan oleh
Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please. ..please bunda", pinta
Bayu dengan mengiba-iba penuh harap. Karuan saja Dewi, yang detik demi detik
waktunya sangat diperhitungkan merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia
dengan tegas menolak permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan
mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau
mandi dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau
menurutinya, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini terus berulang sampai
hampir sepekan. "Bunda, mandikan aku !" Ayo dong bunda mandikan aku sekali
ini saja...?" kian lama suara Bayu semakin penuh tekanan. Tapi toh, Dewi dan
suaminya berpikir, mungkin itu karena Bayu sedang dalam masa pra-sekolah,
jadinya agak lebih minta perhatian. 

 

Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Bayu bisa ditinggal juga dan mandi bersama
Mbanya.Sampai suatu sore, Dewi dikejutkan oleh telpon dari sang baby sitter,
"Bu, hari ini Bayu panas tinggi dan kejang-kejang. Sekarang sedang di
periksa di Ruang Emergency". Dewi, ketika diberi tahu soal Bayu, sedang
meresmikan kantor barunya di Medan. Setelah tiba di Jakarta, Dewi langsung
ngebut ke UGD. Tapi sayang... terlambat sudah...Tuhan sudah punya rencana
lain. Bayu, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh Tuhannya..
Terlihat Dewi mengalami shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya
keinginan dia adalah untuk memandikan putranya, setelah bebarapa hari lalu
Bayu mulai menuntut ia untuk memandikannya, Dewi pernah berjanji pada
anaknya untuk suatu saat memandikannya sendiri jika ia tidak sedang ada
urusan yang sangat penting. Dan siang itu, janji Dewi akhirnya terpenuhi
juga, meskipun setelah tubuh si kecil terbujur kaku. Ditengah para tetangga
yang sedang melayat, terdengar suara Dewi dengan nada yang bergetar berkata
"Ini Bunda Nak...., Hari ini Bunda mandikan Bayu ya...sayang. ...! akhirnya
Bunda penuhi juga janji Bunda ya Nak.." . 

 

Lalu segera saja satu demi satu orang-orang yang melayat dan berada di
dekatnya tersebut berusaha untuk menyingkir dari sampingnya, sambil tak
kuasa untuk menahan tangis mereka. Ketika tanah merah telah mengubur jasad
si kecil, para pengiring jenazah masih berdiri mematung di sisi pusara sang
Malaikat Kecil. . Berkali-kali Dewi, sahabatku yang tegar itu, berkata
kepada rekan-rekan disekitanya, "Inikan sudah takdir, ya kan..!" Sama saja,
aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya di
panggil, ya dia pergi juga, iya kan?". Saya yang saat itu tepat berada di
sampingnya diam saja. Seolah-olah Dewi tak merasa berduka dengan kepergian
anaknya dan sepertinya ia juga tidak perlu hiburan dari orang lain.
Sementara di sebelah kanannya, Suaminya berdiri mematung seperti tak
bernyawa. Wajahnya pucat pasi dengan bibir bergetar tak kuasa menahan air
mata yang mulai meleleh membasahi pipinya. Sambil menatap pusara anaknya,
terdengar lagi suara Dewi berujar, "Inilah konsekuensi sebuah pilihan!"
lanjut Dewi, tetap mencoba untuk tegar dan kuat. 

 

Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja yang menusuk hidung hingga ke
tulang sumsum. Tak lama setelah itu tanpa di duga-duga tiba-tiba saja  Dewi
jatuh berlutut, lalu membantingkan dirinya ke tanah tepat diatas pusara
anaknya sambil berteriak-teriak histeris. "Bayu maafkan Bunda ya
sayaang..!!, ampuni bundamu ya nak...? serunya berulang-ulang sambil
membenturkan kepalanya ketanah, dan segera terdengar tangis yang
meledak-ledak dengan penuh berurai air mata membanjiri tanah pusara putra
tercintanya yang kini telah pergi untuk selama-lamanya. Sepanjang
persahabatan kami, rasanya baru kali ini saya menyaksikan Dewi menangis
dengan histeris seperti ini. Lalu terdengar lagi Dewi berteriak-teriak
histeris "Bangunlah Bayu sayaaangku.. ..Bangun Bayu cintaku, ayo bangun
nak.....?!?" pintanya berulang-ulang, "Bunda mau mandikan kamu sayang....
Tolong Beri kesempatan Bunda sekali saja Nak.... Sekali ini saja, Bayu..
anakku...?" Dewi merintih mengiba-iba sambil kembali membenturkan kepalanya
berkali-kali ke tanah lalu ia peluki dan ciumi pusara anaknya bak orang yang
sudah hilang ingatan. Air matanya mengalir semakin deras membanjiri tanah
merah yang menaungi jasad Bayu. Senja semakin senyap, aroma bunga kamboja
semakin tercium kuat manusuk hidung membuat seluruh bulu kuduk kami berdiri
menyaksikan peristiwa yang menyayat hati ini...tapi apa hendak di kata, nasi
sudah menjadi bubur, sesal kemudian tak berguna. Bayu tidak pernah
mengetahui bagaimana rasanya dimandikan oleh orang tuanya karena mereka
merasa bahwa banyak hal yang jauh lebih penting dari pada hanya sekedar
memandikan seorang anak. Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran berharga
bagi kita semua para orang tua yang sering merasa hebat dan penting dengan
segala kesibukannya.

 

Semoga bermanfaat

 

Warm Regards,

 

 

Rochmad Sigit

 

 

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke