Lubang Di Hati

"Mengingat keburukan dua kali lebih kuat dari pada mengingat kebaikan" 
begitulah kira-kira kata salah satu buku mengenai dampak berbuat buruk. Saya 
teringat dulu seorang satpam marah kepada saya karena merasa jalan yang dilalui 
oleh kendaraannya terhalang oleh sepeda motor saya. Parkiran di depan masjid 
tersebut memang tidak begitu lebar tetapi motor yang dimaksud bukanlah milik 
saya. Kebetulan waktu itu saya berada di samping motor tersebut saat sedang 
menerima telepon dari seorang teman, tiba-tiba terdengar suara membentak " Hei 
Mas, kalo parkir jangan sembarangan dong, itukan jalan lewat pengurus masjid, 
tolong pinggirin motornya ! " teriak satpam tersebut. Saya terhenyak dan kesal 
, tetapi saya membantu meminggirkan motor tersebut dan tidak melayaninya karena 
saat itu masih online dengan teman dan berusaha menghilangkan amarah dengan 
becanda dengan teman diseberang telepon. Setelah hari itu setiap bertemu 
dengannya yang teringat hanyalah muka marahnya walaupun saat bertemu dia sedang 
tersenyum, dan ingatan tersebut muncul begitu saja tanpa direkayasa.

Sewaktu pertama kali bekerja dahulu seorang teman sering mengirim email berisi 
artikel-artikel islami dan salah satu dari artikel itu bercerita tentang akibat 
perbuatan buruk. Dikisahkan seorang bapak mempunyai seorang anak yang nakal dan 
tidak pernah mau menurut nasehat orang tua. Karena kesal sang Bapak mendirikan 
tiang kayu didepan rumah. Setiap sang anak berbuat kejahatan maka sang bapak 
memaku kayu tersebut dan tidak ada yang mengerti maksud dari sibapak kecuali 
Ibunya. Beberapa tahun kemudian ketika sang bapak meninggal dunia , tanpa 
sengaja atau baru sadar anak tersebut melihat tiang kayu didepan rumah yang di 
penuhi oleh paku, lalu dia bertanya kepada ibunya maksud dari tiang kayu 
tersebut.

" Amanah dari Bapakmu jika kamu telah insyaf dan berbuat baik maka cabutlah 
satu paku setiap kamu berbuat satu kebaikan kepada orang lain sebagai ganti 
keburukan yang kamu perbuat" kata sang ibu mengingatkan. Waktu telah mengubah 
segalanya, doa dari orang tua telah membuat Allah ridho sehingga memberikan 
hidayah kepada anak tersebut. Sejak hari itu dia berusaha berbuat baik kepada 
siapapun dan tercabutlah paku dari tiang tersebut satu persatu. Ketika paku 
telah habis dari tiang tersebut , sang ibu kemudian menghampirinya " Nak kamu 
telah banyak berubah , kamu juga telah berhasil mengimbangi segala keburukanmu 
dimasa lalu dengan kebaikan yang telah kamu perbuat dan kamu juga mungkin telah 
dimaafkan tapi bekas yang telah kamu perbuat akan membekas selamanya dihati 
orang-orang yang pernah kamu lukai seperti kayu itu , walaupun kamu telah 
berhasil mencabut paku dari tiang itu tapi kamu tidak bisa menghilangkan bekas 
lubang yang di tinggalkannya, apalagi lubang dihati anakku" kata ibunya dengan 
penuh kasih sayang.

Cerita diatas seperti menyadarkan saya bahwa mendapatkan maaf bukanlah 
menghilangkan apa yang pernah kita perbuat tapi menghilangkan dosa dari apa 
yang telah kita perbuat namun secara psikologis dampak itu akan terus terasa. 
Sebagai contoh jika ada orang menabrak orang lain sampai kakinya patah, 
kemudian dia minta maaf dan orang tersebut memaafkan lalu apakah kakinya 
kembali normal dengan memaafkan tentu tidak , kemudian jika setelah memafkan 
lalu sering muncul perasaan sedih ketika melihat kakinya dan kembali mengingat 
orang yang menabraknya , apakah dia berdosa ? apakah kata maaf sudah bisa 
menggugurkan segala hukuman ? termasuk kesedihan yang akan di timbulkan ? tentu 
ini menjadi renungan kita bersama

Orang yang berbahaya bukanlah orang pada lingkungan tertentu tetapi orang yang 
memiliki sifat-sifat tertentu yang dengan sifat tersebut dia tidak bisa 
mengendalikan dirinya. Sifat yang dimaksud adalah sifat buruk seperti marah, 
dendam, iri , dengki dan berbagai sifat lain yang kita tidak pernah meminta 
untuk di anugrahkan kepada kita tetapi tetap di amanahkan. Kita tidak akan 
pernah mendengar ada seorang ulama yang berdoa agar di hilangkan dari sifat 
buruk karena itu melanggar fitrah. Ketika semua orang menyalahkan nafsu birahi 
sebagai penyebab zina lalu Allah mencabut nafsu ini dari hati seluruh manusia 
maka akibatnya kita tinggal menunggu waktu kepunahan . Pengendalian dan 
penempatanlah yang diinginkan oleNya. 

Salam

David Sofyan
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke