Dari milis tetangga..

From: iwanhsuriadikusumah <[email protected]>
Subject: [Altuji] Penelanjangan diri.
To: [email protected]
Date: Thursday, 14 January, 2010, 9:32 AM


Sobat-sobat yth.,

Pansus yang digambar-gemborkan dibentuk untuk menyelidiki penyelewengan
kasus Bank Century setelah berjalan sekian lama dan diekspos
habis-habisan melalui media radio maupun televisi ke hadapan seluruh
rakyat Indonesia mulai memperlihatkan skenario besar aslinya.

Bukan skenario yang "ingin dibongkar" setiap pemrakarsa hak istimewa DPR
ini.

Melainkan skenario Yang Maha Empunya isi alam semesta ini.

Rupanya limpahan kasih sayangNya yang tiada putus dan henti, menyebabkan
Dia juga tidak berhenti-henti meminta kita untuk berIQRA.

Memaksa kita untuk melihat setiap individu di pemerintahan kita
menelanjangi sifat dan karakternya masing-masing. Mempertontonkan isi
kepala dan moralnya masing-masing.

Wakil-wakil rakyat yang merasa paling bersih moralnya di Republik ini,
di depan layar televisi bukan saja memperlihatkan kadar isi kepalanya,
tetapi sekaligus membuka topeng yang menyembunyikan wajah sebenarnya.

Kita langsung bisa melihat wajah-wajah tulus yang memang ingin membuka
kebenaran.

Tapi jauh lebih banyak yang ingin menelanjangi diri betapa rendah
penguasaan mereka akan materi yang mereka katakan akan dibereskannya
itu.

Lebih parah lagi, mereka menelanjangi karakter mereka sendiri.
Model-model preman, model-model paling tahu, model-model petruk dadi
ratu, yang tidak mampu mengemban beban kekuasaan.

Orang-orang yang sama-sekali tidak pantas buat duduk di kursi mahal DPR.
Boro-boro tahu adab dan sopan santun, sebagian besar memperlakukan para
petinggi negara kita seperti preman pasar memeras pedagang kaki lima
yang tidak berani melawan mereka. Boro-boro bersikap beradab terhadap
seorang pejabat negara, buat sekedar beradab memperlakukan orang yang
lebih tua saja mereka tidak tahu!!!

Penampilan Menkeu Sri Mulyani Indrawati yang anggun bekarakter dan
berwibawa di depan Pansus DPR yang sama-sekali tidak tahu hormat dan
sopan-santun kemarin sungguh menyejukkan hati kita.

Ternyata di jajaran kepemimpinan yang diolok-olok sebagai kaum
tebar-pesona ini memang masih banyak kok orang-orang yang selain
berkarakter, juga TAHU akan apa yang jadi tanggung-jawabnya.

Saya berkali-kali dibuat tersenyum melihat Menkeu yang anggun ini dengan
tenang dan sama sekali tidak terpancing emosinya oleh kevulgaran sikap
penanya, menerangkan dan mengoreksi pernyataan dan pertanyaan penanya
yang punya kuasa tapi tidak menguasai materi yang dipercayakan negara
kepadanya. Saya senang sekali melihatnya tersenyum penuh arti, sementara
pihak penanya tidak bisa mengartikan senyum yang manis dan "penuh
pengertian" itu.

Saya geleng-geleng kepala melihat dan mendengar para penanya (tidak cuma
satu) yang ngotot mempertanyakan mengapa Menkeu mengambil keputusan yang
tidak sesuai dengan pikiran dan kehendak penanya. Beberapa penanya malah
seakan-akan hendak mengajari Menkeu tindakan apa yang seharusnya
diambil.

Semua penanya memperlihatkan kualitas diri mereka sebagai orang-orang
yang tidak pernah duduk sebagai pemimpin yang harus membuat
keputusan-keputusan besar yang penting dan genting dalam waktu yang
sangat mendesak.

Pantaskah keputusan Panglima Perang dipertanyakan? Keputusan dokter ahli
di ruang operasi atau UGD dipertanyakan? Keputusan Kapten Pilot yang
mendaratkan pesawatnya di sungai Hudson dipertanyakan? (Berapa kerugian
perusahaan akibat sang pilot menenggelamkan sebuah pesawat mahal di
sungai???)

Seorang penanya dengan sinis mempertanyakan apakah memang Menkeu biasa
rapat sampai "seperti mau sahur"? Saya suka melihat cara Bu Menteri
menjawabpertanyaan sinis ini dengan senyum manis. Dan langsung menduga
bahwa penanya mungkin salah satu anggota dewan yang biasa tidur kapan
saja, termasuk sewaktu sidang! Sehingga tidak masuk akalnya kalau
seorang pejabat tinggi negara yang punya kuasa kok mau-maunya bekerja
buat negara betul-betul sampai pagi!

Di sidang kemarin itu, Sri Mulyani memperlihatkan kualitas dan
ketangguhan dirinya sebagai perempuan perkasa yang sendirian mampu
menghadapi keroyokan rame-rame oleh sidang yang didominasi pria selama
lebih dari duabelas jam! Tanpa bisa meninggalkan kursinya untuk sekedar
meregangkan otot-otot sejenak. Sementara para anggota sidang bisa saling
berkonsultasi dengan teman-temannya, jalan-jalan keluar ruang sidang
dsb.

Malamnya Fakhri Hamzah malah sempat muncul di TVOne sementara sidang
masih berjalan! Dan sepanjang hari Ichsanuddin Nursyi ahli ekonomi yang
pandai geregetan melihat kebodohan para anggota panitia yang tidak mampu
mencecar dan mengejar Sri Mulyani. Tidak menyadari bahwa kegenitannya
mempertontonkan kepandaiannya dimana-mana semakin lama malah semakin
menampilkan dirinya jadi kelihatan seperti badut yang haus panggung!

Kesimpulannya?

Kita semakin dibuat bingung, Pansus ini sebetulnya maunya apa, sih?

Apakah betul-betul ingin menyelidiki aliran uang Rp. 6,7 triliun ini
mengalir ke mana saja?

Atau marah karena uang sebanyak Rp. 6,7 triliun ini mengalirnya kok
tidak lewat DPR?

Sehingga bernafsu sekali untuk mengganti semua pejabat yang dianggap
bertanggung- jawab atas pengaliran uang sebanyak itu.

Maaf sekali, nuansa ini sangat terasa dan sulit disembunyikan dari mata
publik.

Salam,

Iwan


      
-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke