Assalamu'alaikum Wr Wb

Ikhwah fillah..

Izinkan saya mengucapkan terima kasih untuk Mas Agus Syafii sebab diskusi
dimilis ini menambah iman dan ilmu bagi saya. Pada kesempatan ini saya ingin
mengajak akhi wa ukhti untuk mendiskusikan Sabar dan shalat sebuah harmoni

Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS Al Baqarah [2]: 155).

Shalatlah kamu sebagaimana kamu lihat aku shalat". Demikian sabda Rasulullah
SAW. Hadis ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya peranan shalat bagi
seorang Muslim, sampai detail gerakan dan bacaannya dicontohkan langsung oleh
beliau.

Sejatinya, shalat adalah ibadah paripurna yang memadukan olah pikir, olah gerak,
dan olah rasa (sensibilitas). Ketiganya terpadu secara cantik dan selaras.
Kontemplasi dan riyadhah yang terintegrasi sempurna, saling melengkapi dari
dimensi perilaku/lisan (al bayan), respons motorik, rasionalitas (menempatkan
diri secara proporsional), dan kepekaan terhadap jati diri-kepekaan dan
kehalusan untuk merasakan cinta dan kasih sayang Allah SWT.

Yang menarik, Alquran kerap menggandengkan ritual shalat dengan sikap sabar.
Salah satunya dalam QS Al Baqarah [2] ayat 155, Hai orang-orang yang beriman
jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta
orang-orang yang sabar.

Mengapa Sabar dan Shalat?
Secara etimologi, sabar (ash shabr) dapat diartikan dengan "menahan" (al habs).
Dari sini sabar dimaknai sebagai upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau
meninggalkan sesuatu untuk mencapai ridha Allah. Difirmankan, Dan orang-orang
yang sabar karena mencari keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra'd [13]:22),

Sabar termasuk kata yang banyak disebutkan Alquran. Jumlahnya lebih dari seratus
kali. Tidak mengherankan, karena sabar adalah poros sekaligus asas segala macam
kemuliaan akhlak. Muhammad Al Khudhairi mengungkapkan bahwa saat kita menelusuri
kebaikan serta keutamaan, maka kita akan menemukan bahwa sabar selalu menjadi
asas dan landasannya. `Iffah [menjaga kesucian diri] misalnya, adalah bentuk
kesabaran dalam menahan diri dari memperturutkan syahwat. Syukur adalah bentuk
kesabaran untuk tidak mengingkari nikmat yang telah Allah karuniakan. Qana'ah
[merasa cukup dengan apa yang ada] adalah sabar dengan menahan diri dari
angan-angan dan keserakahan. Hilm [lemah-lembut] adalah kesabaran dalam menahan
dan mengendalikan amarah. Pemaaf adalah sabar untuk tidak membalas dendam.
Demikian pula akhlak-akhlak mulia lainnya. Semuanya saling berkaitan.
Faktor-faktor pengukuh agama semuanya bersumbu pada kesabaran, hanya nama dan
jenisnya saja yang berbeda.

Cakupan sabar ternyata sangat luas. Tak heran jika sabar bernilai setengah
keimanan. Sabar ini terbagi ke dalam tiga tingkatan. Pertama, sabar dalam
menghadapi sesuatu yang menyakitkan, seperti musibah, bencana atau kesusahan.
Kedua, sabar dalam meninggalkan perbuatan maksiat. Ketiga, sabar dalam
menjalankan ketaatan.

Tidak berputus asa saat menghadapi hal yang tidak mengenakan merupakan tingkat
terendah dari kesabaran. Satu tingkat di atasnya adalah sabar untuk menjauhi
maksiat serta sabar dalam berbuat taat. Mengapa demikian? Sabar menghadapi
musibah sifatnya idhthirari alias tidak bisa dihindari. Pada saat ditimpa
musibah, seseorang tdak memiliki pilihan kecuali menerima cobaan tersebut dengan
sabar. Tidak sabar pun musibah tetap terjadi. Lain halnya dengan sabar menjauhi
maksiat dan melaksanaan taat, keduanya bersifat ikhtiari atau bisa dihindari. Di
sini manusia "berkuasa" melakukan pilihan, bisa melakukan bisa pula tidak.
Biasanya ini lebih sulit.

Secara psikologis kita bisa memaknai sabar sebagai sebuah kemampuan untuk
menerima, mengolah, dan menyikapi kenyataan. Dengan kata lain, sabar adalah
upaya menahan diri dalam melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu untuk
mencapai ridha Allah. Difirmankan, Dan orang-orang yang sabar karena mencari
keridhaan Rabb-nya (QS Ar Ra'd [13]: 22).

Jiwa yang Tenang
Salah satu ciri orang sabar adalah mampu menempatkan diri dan bersikap optimal
dalam setiap keadaan. Sabar bukanlah sebuah bentuk keputusasaan, melainkan
optimisme yang terukur. Ketika menghadapi situasi di mana kita harus "marah"
misalnya, maka marahlah secara bijak serta diniatkan untuk mendapatkan kebaikan
bersama. Karena itu, mekanisme sabar dapat melembutkan hati, menghantarkan
sebuah kemenangan yang manis atas dorongan syaithaniyah untuk menuruti
ketidakseimbangan pemuasan hawa nafsu.

Dalam shalat dan sabar terintegrasi proses latihan yang meletakkan kendali diri
secara proporsional, mulai dari gerakan (kecerdasan motorik), inderawi
(kecerdasan sensibilitas), aql, dan pengelolaan nafs menjadi motivasi yang
bersifat muthma'innah. Jiwa muthma'innah atau jiwa yang tenang inilah yang akan
memiliki karakteristik malakut untuk mengekspresikan nilai-nilai kebenaran
absolut. Hai jiwa yang tenang (nafs yang muthmainah). Kembalilah kepada Tuhanmu
dengan hati yang bening dalam ridha-Nya(QS Al Fajr [89]: 27-28).

Orang-orang yang memiliki jiwa muthma'innah akan mampu mengaplikasikan
nilai-nilai shalat dalam kesehariannya. Sebuah nilai yang didominasi kesabaran
paripurna. Praktiknya tercermin dari sikap penuh syukur, pemaaf, lemah lembut,
penyayang, tawakal, merasa cukup dengan yang ada, pandai menjaga kesucian diri,
serta konsisten.

Tak heran bila Rasulullah SAW dan para sahabat menjadikan shalat sebagai
istirahat, sebagai sarana pembelajaran, pembangkit energi, sumber kekuatan, dan
pemandu meraih kemenangan. Ketika mendapat rezeki berlimpah, shalatlah ungkapan
kesyukurannya. Ketika beban hidup semakin berat, shalatlah yang meringankannya.
Ketika rasa cemas membelenggu, shalatlah pelepasannya. Khubaib bin Adi dapat
kita jadikan teladan. Saat menghadapi dieksekusi mati di tiang gantungan, Abu
Sufyan memberinya kesempatan untuk mengatakan keinginan terakhirnya. Apa yang ia
minta? Khubaib minta shalat. Permintaan itu dikabulkan. Dengan khusyuk ia shalat
dua rakaat. "Andai saja aku tidak ingin dianggap takut dan mengulur-ulur waktu,
niscaya akan kuperpanjang lagi shalatku ini!" ungkap Khubaib saat itu.

Ya, shalat yang baik akan menghasilkan kemampuan bersabar. Sebaliknya kesabaran
yang baik akan menghasilkan shalat yang berkualitas. Ciri shalat berkualitas
adalah terjadinya dialog dengan Allah sehingga melahirkan ketenangan dan
kedamaian di hati. Komunikasi dengan Allah tidak didasari "titipan" kepentingan.
Dengan terbebas dari gangguan "kepentingan" tersebut, insya Allah shalat kita
akan mencapai derajat komunikasi tertinggi. Siapa pun yang mampu merasakan
nikmatnya berdialog dengan Allah SWT, hingga berbuah pengalaman spiritual yang
dalam, niscaya ia tidak akan sekali melalaikan shalat. Ia rela kehilangan apa
pun, asal tidak kehilangan shalat. Jika sudah demikian, pertolongan Allah pasti
akan datang. Wallaahu a'lam

Wassalamu'alaikum Wr Wb
_________



CONFIDENTIALITY CAUTION: This message is intended only for the use of the
individual or entity to whom it is addressed and contains information that is
privileged and confidential. If you, the reader of this message, are not the
intended recipient, you should not disseminate, distribute or copy this
communication. If you have received this communication in error, please notify
us immediately by return email and delete the original message.



-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke