Lienda 








---------- Forwarded message ----------
From: Fonny Jodikin 
Date: 2010/2/8
  
Comparing

Ibu Suci
memiliki seorang suami yang baik dan sepasang anak yang lucu-lucu berumur 
4 dan
6 tahun. Di usia perkawinannya yang memasuki tahun ke-8, sebetulnya dia 
harus
akui dia cukup bahagia. Suami bekerja dengan posisi lumayan. Belum manajer 
sih, tapi cukuplah. Mobil mereka punya,
bukan merk yang mewah, tapi muat buat sekeluarga jalan-jalan. Rumah mereka
masih dicicil setiap bulannya dan berada di satu kompleks yang cukup baik 
di
kawasan barat Jakarta. Segala sesuatu baik, anak-anak
sehat dengan sedikit batuk dan pilek yang datang dan pergi seiring  cuaca 
yang terus berubah. Masalah pasti ada,
tetapi mereka setidaknya mampu mengatasinya. Semua seolah baik-baik saja.
Sampai satu ketika, tetangga sebelah mereka mulai mendaki kesuksesan. 
Mereka
pindah rumah, dapat mobil bagus, dapat fasilitas wah dan masih terus 
mengontak Ibu Suci dengan memberi ‘update’
kemajuan mereka. Tanpa sadar, perlahan, Ibu Suci mulai dirasuki pemikiran 
dan
rasa iri hati. Sebetulnya wajar saja, jika iri itu bisa menyelinap 
diam-diam.
Tetapi, ketika rasa itu berdiam terlalu lama dan menyebar menjadi racun 
yang
memenuhi hati seseorang seperti hati Ibu Suci di saat ini, itu yang jadi
masalah.

 

Ibu Suci
menjadi sering marah-marah. Kepada suaminya karena dianggap tak pintar 
cari seseran
atau cari jalan tikus buat menaikkan ‘income’ keluarga mereka. Kepada
anak-anaknya karena dianggap tak cukup pintar untuk jadi juara di sekolah 
demi
menaikkan gengsi mereka. Jadi sedih dengan kondisi rumah, mobil, dan 
tempat
tinggal mereka yang di kawasan barat (dan bukan di kawasan Selatan). Semua 
lagu
yang awalnya dinyanyikan sebagai lagu ceria, kini berubah menjadi lagu 
duka
bercampur amarah. Kenapa dia bisa sukses? Kenapa aku masih begini-begini 
saja?

 

Ketika
kita dibandingkan sebagai pribadi, tak pernah rasanya enak. Misalnya kakak 
dan
adik yang selalu dibandingkan. Yang satu lebih cantik dari yang lainnya. 
Atau
yang satu lebih pintar dari yang lainnya. Tidak pernah terasa enak bagi 
yang
dianggap kurang, bagi yang dianggap kalah. Namun, sebetulnya perbandingan 
baik
juga untuk memacu dan memicu seseorang untuk bergerak maju. Asal tidak
dihinggapi dengan dendam, karena kalau maju dalam tangga kesuksesan tapi
diiringi dendam kesumat juga bukanlah suatu hal yang membanggakan…

 

Tindakan
mendengar dan membandingkan kesuksesan orang lain dengan keadaan diri 
sendiri
terkadang membuat seseorang menjadi frustrasi. Dan tak jarang timbul 
tindakan
mengasihani diri. Atau mungkin marah kepada Tuhan dan mengatakan, “ Tuhan 
koq
pilih kasih, tidak adil nih! Koq dia dikasih yang bagus-bagus, koq aku 
tidak?”

Padahal
mungkin, bertahun-tahun lamanya tetangganya itu hidup susah sementara Ibu 
Suci
merasa senang, tenang, dan bahagia. Dan Ibu Suci tidak ingat masa-masa 
yang
membahagiakan itu. Yang dia ingat hanya masa-masa yang menyedihkan saja.
Masa-masa kekalahan saja.

 

Membandingkan,
mungkin perlu untuk kemudian memacu diri lagi. Dan perbandingan yang 
paling pas
rasanya adalah membandingkan kemajuan diri sendiri yang telah dicapai 
waktu
demi waktu. Apa sekarang aku tambah sabar?Apa aku sekarang tambah pandai 
dalam
Bahasa Inggris? Apa sekarang aku telah tambah pandai menyetir mobil? 
Bukannya
melulu membandingkan dengan orang lain. Karena saya bukanlah dia. Dan dia
bukanlah saya. Saya dan dia memang BERBEDA. Kami punya kelebihan dan 
kekurangan
masing-masing. Kami punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Kalau di 
bidang
itu dia unggul, di bidang ini saya yang lebih unggul. Begitu kira-kira. 
Rasanya
tak ada orang yang sempurna dan menguasai 100% segalanya. Jadi tak perlu 
berkecil
hati akan diri sendiri.

 

Kunci
yang juga tak kalah pentingnya adalah menyadari arti penting seseorang di 
dunia
ini. Bahwa ia lahir bukan sebagai suatu kesalahan. Namun dalam 
perencanaan-Nya.
Dengan lebih mengasihi dan menerima diri sendiri, agaknya sikap 
membandingkan
yang negatif dan berujung rasa frustrasi akan berkurang. Karena sadar 
bahwa dia
dicintai apa adanya oleh Tuhan dan dia pun belajar mencintai dirinya 
sendiri
apa adanya. Dengan niat untuk memperbaiki diri juga agar menjadi seseorang 
yang
lebih baik dan tentunya mengasihi diri sendiri ini diiringi rasa kasih 
yang
seimbang juga kepada sesama, agar tak selalu berpusat pada diri sendiri 
melulu.

 

Perlahan,
Ibu Suci mulai disadarkan akan kekeliruannya. Bahwa memang dia salah juga.
Karena tiap orang ada rezekinya masing-masing. Dan untuk tiap orang ada
waktu-Nya juga. Ketika dia melihat apa yang dimiliki, dia mulai mensyukuri
kembali. Apalagi ketika dia melihat orang-orang yang berkekurangan. Dia 
pun
merasa malu hati, tak sepantasnya dia menjadi iri sekaligus marah begini.

 

Tidak
lagi dia mau membandingkan dirinya dengan tetangganya secara terlalu
berlebihan. Menyadari tetangganya tengah berkelimpahan, berdoa bagi 
mereka, dan
berusaha meningkatkan diri juga. Dengan mencari-cari kegiatan atau usaha 
apa
untuk membantu suaminya. Daripada terus membebani suaminya untuk mencari 
penghasilan
ekstra. Dengan bahu-membahu, Ibu Suci dan keluarga mulai menapaki jalan 
sukses
mereka sendiri. Yang mungkin tak melesat seperti tetangganya, tetapi 
mereka
mulai menerima penghasilan tambahan yang cukup lumayan dari usaha Ibu Suci
berjualan kue kering terutama mendekati Lebaran, Natal, dan Imlek.

 

Dibandingkan,
tak pernah enak, apalagi ketika kita berada di posisi ‘kalah’. Dan itu
terkadang mematikan potensi diri dengan anggapan kita tak bisa apa-apa. 
Mungkin
sikap yang bisa diambil ketika kita kalah dalam suatu perbandingan: 
menerima
diri dan kenyataan, namun tidak menyerah bahkan berusaha untuk  tetap 
mengejar impian yang ada dalam hati kita
masing-masing.

 

Iri hati
takkan membawa kita berkembang pesat dalam hidup ini. Ketika dia muncul, 
ketika
tendensi ‘comparing’ atau membandingkan muncul… Entah dari sekitar kita 
yang
memang mengamati terus dan mengungkapkannya. Entah dari diri kita pribadi 
yang
juga secara kritis membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Hal yang
penting untuk dicatat adalah: perbandingan diri saya sendiri untuk  
menjadi lebih baik hari lepas hari. 

 

Di dunia
yang semakin materialistis dan mendewakan uang, di dunia yang semakin 
melihat
kesuksesan dan memperolok kegagalan… Kita tetap belajar bahwa ada hikmah 
di
balik setiap kejadian. Tidak ada kejadian yang kebetulan. Semua saling
berhubungan, semua saling berkaitan. Karena semuanya itu sudah ditulis dan 
dilukis
secara sempurna dalam buku kehidupan kita oleh Sang Pencipta.

 

Jadi diri
sendiri yang lebih baik, yang terbaik yang kita bisa, itu yang hendaknya 
kita
usahakan terus dan terus. Dan yakinlah, Tuhan akan terus memberikan 
kesempatan,
pertolongan, dan pertumbuhan bagi mereka yang tak menyerah terhadap 
kegagalan
dan berdiri tegar dalam kepahitan. Dia selalu beserta kita. Dia selalu ada
dengan setia sepanjang perjalanan kita. Be
yourself, a better you. A better us! Dan temukanlah kebahagiaan itu bagi
dirimu sendiri yang menerima segala sesuatu yang sudah diberikan-Nya 
sambil
terus berjuang untuk menjadi lebih baik lagi. Tindakan membandingkan yang
berujung negatif, hendaknya diperkecil. Namun, membandingkan yang kemudian
membuat hasil yang positif untuk bergerak maju, itulah yang harus
dipertahankan. Tuhan sayang kamu! :) 

 

HCMC, 8
Februari 2010

-fon-

* Mungkin
kita semua pernah dalam satu masa berperan sebagai ‘Ibu Suci’ yang 
tiba-tiba
merasa iri mendadak. ‘It’s about time to change’ dengan mensyukuri apa 
yang ada
dan menjadi diri sendiri yang lebih baik:) A
better you!

[Non-text portions of this message have been removed]

__._,_.___

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke