Alkisah ada sepasang kekasih yang saling mencintai, sang pria berasal
dari keluarga kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota
tersebut.Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup serba
kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati. Kelebihan
inilah yang membuat sang pria jatuh hati.

Sang wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah,
dengan membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka
duga, orang tua sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai orang
yang terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan merusak
reputasi keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah mencarikan jodoh
yang sepadan untuk anaknya. Sang pria berusaha menyakinkan orang
tuanya, bahwa ia sudah menetapkan keputusannya, apapun resikonya bagi
dia. Sang wanita merasa tak berdaya, tetapi sang pria menyakinkan
wanita tsb bahwa tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Sang pria
terus berargumen dengan orang tuanya, bahkan membantah perkataan
orangtuanya, sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama hidupnya
(di zaman dulu, umumnya seorang anak sangat tunduk pada orang tuanya).
Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk membujuk orang tuanya
agar menerima calon istrinya. Sang orang tua juga stress karena gagal
membujuk anak satu-satunya, agar berpisah dengan wanita tsb, yang
menurut mereka akan sangat merugikan masa depannya. Sang pria akhirnya
menetapkan pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk meninggalkan
semuanya demi sang kekasih.

Waktu keberangkatan pun ditetapkan, tetapi rupanya rencana ini
diketahui oleh orang tua sang pria. Maka ketika saatnya tiba, sang
ortu mengunci anaknya di dalam kamar dan dijaga ketat oleh para
bawahan di rumahnya yang besar. Sebagai gantinya, kedua orang tua
datang ke tempat yang telah ditentukan sepasang kekasih tsb untuk
melarikan diri. Sang wanita sangat terkejut dengan kedatangan ayah dan
ibu sang pria... Mereka kemudian memohon pengertian dari sang wanita,
agar meninggalkan anak mereka satu-satunya. Menurut mereka, dengan
perbedaan status sosial yang sangat besar, perkawinan mereka hanya
akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota, reputasi anaknya akan
tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya lagi. Akibatnya, bisnis
yang akan diwariskan kepada anak mereka akan bangkrut secara
perlahan2. Mereka bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan
permohonan agar wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan
anaknya lagi, dan menggugurkan
kandungannya. Uang tsb dapat digunakan untuk membiayai hidupnya di tempat lain.

Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati kecilnya, ia sadar bahwa
perbedaan status sosial yang sangat jauh, akan menimbulkan banyak
kesulitan bagi kekasihnya.
Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini, tetapi menolak untuk
menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan uangnya. Walaupun ia
sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan sangat sulit? Ibu sang
pria kembali memohon kepada wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk
surat kepada mereka, yang menyatakan bahwa ia
memilih berpisah dengan sang pria.. Ibu sang pria kuatir anaknya akan
terus mencari kekasihnya, dan tidak mau meneruskan usaha orang tuanya.
'Walaupun ia kelak bukan
suamimu, bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang
berhasil? Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua', kata sang ibu.
Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia menjelaskan bahwa ia
sudah memutuskan untuk pergi meninggalkan sang pria. Ia sadar bahwa
keberadaannya hanya akan merugikan sang pria. Ia minta maaf karena
telah melanggar janji setia mereka berdua, bahwa mereka akan selalu
bersama dalam menghadapi penolakan2 akibat perbedaan status sosial
mereka. Ia tidak kuat lagi
menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk berpisah. Tetesan air
mata sang wanita tampak membasahi surat tersebut. Sang wanita yang
malang tsb tampak tidak punya pilihan lain. Ia terjebak antara moral
dan cintanya. Sang wanita segera meninggalkan kota itu, sendirian. Ia
menuju sebuah desa yang lebih terpencil. Disana, ia bertekad untuk
melahirkan dan membesarkan anaknya..

====== Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut telah
menjadi seorang ibu. Anaknya seorang laki2.. Sang ibu bekerja keras
siang dan malam, untuk membiayai
kehidupan mereka. Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah
industri rumah tangga,malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan
menyulam sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan
semua pekerjaan ini sambil menggendong anak di punggungnya. Walaupun
ia cukup berpendidikan, ia menyadari bahwa pekerjaan lain tidak
memungkinkan, karena ia harus berada di sisi anaknya setiap saat.
Tetapi sang ibu tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya.

Di usia tiga tahun, suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya
sangat tinggi. Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb
harus menginap di rumah
sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan telah menguras habis
seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya selama ini, dan itupun
belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga meminjam ke sana-sini, kepada
siapapun yang bermurah hati untuk memberikan pinjaman. Saat
diperbolehkan pulang, sang dokter menyarankan untuk membuat sup
ramuan, untuk mempercepat kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari
obat2 herbal dan daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi sang ibu
hanya mampu membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang sepeserpun
lagi untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak mungkin,
karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal, dan
belum terbayar. Ketika di rumah, sang ibu menangis. Ia tidak tahu
harus berbuat apa, untuk mendapatkan daging. Toko daging di desa tsb
telah menolak permintaannya, untuk bayar di akhir bulan saat gajian.

Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide. Ia mencari alkohol
yang ada di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan sepotong kain.. Setelah
pisau dapur dibersihkan dengan alkohol, sang ibu nekad mengambil
sekerat daging dari pahanya. Agar tidak membangunkan anaknya yang
sedang tidur, ia mengikat mulutnya dengan sepotong kain. Darah
berhamburan. Sang ibu tengah berjuang mengambil dagingnya sendiri,
sambil berusaha tidak mengeluarkan suara kesakitan yang teramat
sangat?. Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan menyebabkan rintihan
kesakitan sang ibu tidak terdengar oleh para tetangga, terutama oleh
anaknya sendiri. Tampaknya langit juga tersentuh dengan pengorbanan
yang sedang dilakukan oleh sang ibu.

====== Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi seorang anak
yang tampan, cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga sangat sayang
ibunya. Di hari minggu, mereka sering pergi ke taman di desa tersebut,
bermain bersama, dan bersama2 menyanyikan lagu 'Shi Sang Chi You Mama
Hau' (terjemahannya 'Di Dunia ini, hanya ibu seorang yang baik'). Sang
anak juga sudah sekolah.. Sang ibu sekarang bekerja sebagaipenjaga
toko, karena ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari. Hari2
mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang anak
terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya menyuci di
malam hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam hari, karena perlu
tambahan biaya untuk sekolahnya. Ia memang seorang anak yang cerdas.
Ia juga tahu, bulan depan adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat
membelikan sebuah jam tangan, yang sangat didambakan ibunya selama
ini.. Ibunya pernah mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak
setelah pemilik toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana,
tidak terlalu mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih
banyak keperluan lain yang perlu dibiayai. Sang anak segera pergi ke
toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya. Ia meminta kepada kakek
pemilik toko agar menyimpan jam tangan tsb, karena ia akan membelinya
bulan
depan.

'Apakah kamu punya uang?' tanya sang pemilik toko.
'Tidak sekarang, nanti saya akan punya', kata sang anak dengan serius.

Ternyata, bulan depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan
tsb. Sang kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya main2.

Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek bertanya 'Dari mana kamu
mendapatkan uang itu? Bukan mencuri kan ?'.
'Saya tidak mencuri, kakek. Hari ini adalah hari ulang tahun ibuku.
Saya biasanya naik becak pulang pergi ke sekolah. Selama sebulan ini,
saya berjalan kaki saat pulang dari sekolah ke rumah, uang jajan dan
uang becaknya saya simpan untuk beli jam ini. Kakiku sakit, tapi ini
semua untuk ibuku. O ya, jangan beritahu ibuku tentang hal ini. Ia
akan marah' kata sang anak.

Sang pemilik toko tampak kagum pada anak tsb.

Seperti biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak
segera memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam tangan
tsb. Sang ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan anaknya. Jam
tangan ini memang adalah impiannya. Tetapi sang ibu tiba2 tersadar,
dari mana uang untuk membeli jam tsb. Sang
anak tutup mulut, tidak mau menjawab.

'Apakah kamu mencuri, Nak?'

Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin ibu mengetahui bagaimana
ia mengumpulkan uang tersebut. Setelah ditanya berkali2 tanpa jawaban,
sang ibu menyimpulkan bahwa anaknya telah mencuri.

'Walaupun kita miskin, kita tidak boleh mencuri. Bukankah ibu sudah
mengajari kamu tentang hal ini?' kata sang ibu.

Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul anaknya. Biarpun ibu sayang
pada anaknya, ia harus mendidik anaknya sejak kecil. Sang anak
menangis, sedangkan air mata sang ibu mengalir keluar. Hatinya begitu
perih, karena ia sedang memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus
melakukannya, demi kebaikan anaknya. Suara tangisan sang anak
terdengar keluar. Para tetangga menuju ke rumah tsb heran, dan
kemudian prihatin setelah mengetahui kejadiannya.

'Ia sebenarnya anak yang baik', kata salah satu tetangganya.

Kebetulan sekali, sang pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah
satu tetangganya yang merupakan familinya. Ketika ia keluar melihat ke
rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika mengetahui
persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk menjelaskan. Tetapi
tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko, memohon agar jangan
menceritakan yang sebenarnya pada ibunya.

'Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh berbohong, dan tidak
boleh menyembunyikan sesuatu dari ibunya'.

Sang anak mengikuti nasehat kakek itu. Maka kakek itu mulai
menceritakan bagaimana sang anak tiba2 muncul di tokonya sebulan yang
lalu, memintanya untuk menyimpan jam tangan tsb, dan sebulan kemudian
akan membelinya. Anak itu muncul siang tadi di tokonya, katanya hari
ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia juga menceritakan bagaimana
sang anak berjalan kaki dari sekolahnya pulang ke rumah dan tidak
jajan di sekolah selama sebulan ini, untuk mengumpulkan uang membeli
jam tangan kesukaan ibunya. Tampak sang kakek meneteskan air mata saat
selesai menjelaskan hal tsb, begitu pula dengan tetangganya. Sang ibu
segera memeluk anak kesayangannya, keduanya menangis dengan
tersedu-sedu.

'Maafkan saya, Nak..' 'Tidak Bu, saya yang bersalah'...

======= Sementara itu, ternyata ayah dari sang anak sudah menikah,
tetapi istrinya mandul. Mereka tidak punya anak. Sang ortu sangat
sedih akan hal ini, karena tidak akan ada yang mewarisi usaha mereka
kelak. Ketika sang ibu dan anaknya berjalan2 ke kota , dalam sebuah
kesempatan, mereka bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah
baru menyadari bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah
dagingnya sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya, bersedia
menanggung semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu menolak. Kami
bisa hidup dengan baik tanpa bantuanmu. Berita ini segera diketahui
oleh orang tua sang pria. Mereka begitu ingin melihat cucunya, tetapi
sang ibu tidak mau mengizinkan.

======== Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali kambuh.
Dokter mengatakan bahwa penyakit sang anak butuh operasi dan perawatan
yang konsisten. Kalau kambuh lagi, akan membahayakan jiwanya. Keuangan
sang ibu sudah agak membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya
medis tidaklah murah, ia tidak sanggup
membiayainya. Sang ibu kembali berpikir keras. Tetapi ia tidak
menemukan solusi yang tepat. Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan
anaknya kepada sang ayah, karena sang ayahlah yang mampu membiayai
perawatannya. Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali mengajak
anaknya berkeliling kota , bermain2 di taman kesukaan mereka. Mereka
gembira sekali, menyanyikan lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau', lagu
kesayangan mereka. Untuk sejenak, sang ibu melupakan semua
penderitaannya, ia hanyut dalam kegembiraan bersama sang anak.
Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan keadaannya pada sang anak. Sang
anak menolak untuk tinggal bersama ayahnya, karena ia hanya ingin
dengan ibu.

'Tetapi ibu tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak' kata ibu.

'Tidak apa2 Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila bisa
bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari banyak
uang untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu tidak perlu
bekerja lagi, Bu', kata sang anak.

Tetapi ibu memaksa akan berkunjung ke rumah sang ayah keesokan
harinya. Penyakitnya memang bisa kambuh setiap saat. Disana ia
diperkenalkan dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang
melihat anak imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak
meronta2 ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun diberikan mainan
kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh saat bersama ibunya,
sang anak menolak.

'Saya ingin Ibu, saya tidak mau mainan itu', teriak sang anak dengan
nada yang polos.

Dengan hati sedih dan menangis, sang ibu berkata 'Nak, kamu harus
dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini. Ayah, kakek dan nenek akan
bermain bersamamu.'

'Tidak, aku tidak mau mereka. Saya hanya mau ibu, saya sayang ibu,
bukankah ibu juga sayang saya? Ibu sekarang tidak mau saya lagi', sang
anak mulai menangis.

Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di rumah besar tsb tidak
didengarkan anak kecil tsb. Sang anak menangis tersedu2

'Kalau ibu sayang padaku, bawalah saya pergi, Bu'.

Sampai pada akhirnya, ibunya memaksa dengan mengatakan 'Benar, ibu
tidak sayang kamu lagi. Tinggallah disini', ibunya segera lari keluar
meninggalkan rumah tsb.

Tampak anaknya meronta2 dengan ledakan tangis yang memilukan. Di
rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya. Tangisannya begitu menyayat
hati, ia telah berpisah dengan anaknya. Ia tidak diperbolehkan
menjenguk anaknya, tetapi mereka berjanji akan merawat anaknya dengan
baik. Diantara isak tangisnya, ia tidak menemukan arti
hidup ini lagi. Ia telah kehilangan satu2nya alasan untuk hidup,
anaknya tercinta.. Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau dapur
untuk memotong urat nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia sadar
bahwa anaknya mungkin tidak akan diperlakukan dengan baik. Tidak, ia
harus hidup untuk mengetahui bahwa anaknya diperlakukan dengan
baik.Segera, niat bunuh diri itu dibatalkan, demi anaknya
juga..........

=== Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat lain, mendapatkan
kerja yang lebih baik lagi. Sang anak telah sehat, walaupun tetap
menjalani perawatan medis secara rutin setiap bulan. Seperti biasa,
sang anak ingat akan hari ulang tahun ibunya. Uang pun dapat ia
peroleh dengan mudah, tanpa perlu bersusah payah mengumpulkannya.
Maka, pada hari tsb, sepulang dari sekolah, ia tidak pulang ke rumah,
ia segera naik bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya, yang memakan
waktu beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai bunga,
sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu, sebuah
kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang sangat bagus.
Ia akan memberikan semuanya untuk ibu. Sang anak berlari riang gembira
melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Tetapi ketika sampai di
rumah, ia mendapati rumah ini telah kosong. Tetangga mengatakan ibunya
telah pindah, dan tidak ada yang tahu kemana ibunya pergi.

Sang anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di depan rumah tsb, menangis

'Ibu benar2 tidak menginginkan saya lagi.'

Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas, ketika sang anak sudah
terlambat pulang ke rumah selama lebih dari 3 jam. Guru sekolah
mengatakan semuanya sudah
pulang. Semua tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar. Mereka
panik. Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi
pun dihubungi untuk melaporkan anak hilang. Ketika sang ibu sedang
berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini adalah hari ulang
tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya. Anaknya mungkin pulang
ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu segera naik mobil menuju rumah
tsb. Sayangnya, mereka hanya menemukan kartu ulang tahun, setangkai
bunga, nilai ujian yang bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang ibu
tidak mampu menahan tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya
dalam surat itu. Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar
desa tsb, tanpa mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin resah.
Kemudian sang ibu membakar dupa, berlutut di hadapan altar Dewi Kuan
Im, sambil menangis ia memohon agar bisa menemukan anaknya. Seperti
mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat bahwa ia dan anaknya pernah
pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa
bila kamu memerlukan pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang
welas asih. Dewi Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.
Ibunya memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk
memohon agar bisa bertemu dengan dirinya. Benar saja, ternyata sang
anak berada di sana. Tetapi ia pingsan, demamnya tinggi sekali. Sang
ayah segera menggendong anaknya untuk dilarikan ke rumah sakit. Saat
menuruni tangga kuil, sang ibu terjatuh dari tangga, dan berguling2
jatuh ke bawah............

======== Sepuluh tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki
bangku kuliah. Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan
ibunya. Sejak jatuh dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan. Sang
anak telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya kemana2,
tetapi hasilnya nihil. Siang itu, seperti biasa sehabis kuliah, sang
anak berjalan bersama dengan teman wanitanya. Mereka tampak serasi.
Saat melaju dengan mobil, di persimpangan sebuah jalan, ia melihat
seorang wanita tua yang sedang mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan
tampak memakai tongkat. Ia tidak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
Wajahnya kumal, dan ia tampak berkomat-kamit. Di dorong rasa ingin
tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama pacar untuk
menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua sambil
mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap dengan
lemah

'Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat anakku?'

Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa disadari, ia segera
menyanyikan lagu 'Shi Sang Ci You Mama Hau' dengan suara perlahan, tak
disangka sang
pengemis tua ikut menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka berdua
menyanyi bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu
menyanyikan lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis
tua itu dan berteriak dengan haru

'Ibu? Ini saya ibu'.

Sang pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu bertanya,

'Apakah kamu ??...(nama anak itu)?'

'Benar bu, saya adalah anak ibu?'.

Keduanya pun berpelukan dengan erat, air mata keduanya berbaur
membasahi bumi ............. ... . Karena jatuh dari tangga, sang ibu
yang terbentur kepalanya menjadi hilang ingatan, tetapi ia setiap hari
selama sepuluh tahun terus mencari anaknya, tanpa peduli dengan
keadaaan dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang gila.

======== Perenungkan untuk kita renungkan bersama-sama: Dalam kondisi
kritis, Ibu kita akan melakukan apa saja demi kita. Ibu bahkan rela
mengorbankan nyawanya.. Simaklah penggalan doa keputusasaan berikut
ini, di saat Ibu masih muda, ataupun disaat Ibu sudah tua:
1. Anakku masih kecil, masa depannya masih panjang. Oh Tuhan, ambillah
aku sebagai gantinya.

2. Aku sudah tua, Oh Tuhan, ambillah aku sebagai gantinya. Diantara
orang2 disekeliling Anda, yang Anda kenal, Saudara/I kandung Anda,
diantara lebih dari 6 Milyar manusia, siapakah yang rela mengorbankan
nyawanya untuk Anda, kapan pun, dimana pun, dengan cara apapun. Tidak
diragukan lagi 'Ibu kita adalah Orang Yang Paling Mulia di dunia ini'
Ingin bergabung dalam sebuah MISI MULIA ? Ada 2 tindakan yang dapat
Anda lakukan :

Bila Anda beruntung (Ibu Anda masih ada di dunia ini), ajaklah ia
untuk keluar makan atau jalan2 MALAM INI JUGA. Jangan ditunda2. Bila
Ibu Anda tinggal di tempat yang
terpisah jauh dengan Anda, telponlah dia malam ini juga, just to say
'hello'. Catatlah hari ulang tahunnya, rayakan, dan bahagiakanlah dia
semampu Anda... Hidangkan makanan favoritnya, dst.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke