*Rochmad Sigit Like This*

Salam,


Rochmad Sigit.


2010/3/4 Bona, Mirza Rotua <[email protected]>

>  nice...
>
> thanks ya.
>
>
>
>
> BonA
>
> [email protected]
>
> No Mils Like IT…!!
>
> ‘coz Angels & Devils share and care…
>
>
>  ------------------------------
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On
> Behalf Of *ryesya rasady
> *Sent:* 04 Maret 2010 13:22
> *To:* [email protected]
> *Subject:* ~ aga ~ Agama dan Isteri Tetangga
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> ------------------------------
>    dari tetangga...
>
> *PELAJARAN BERHARGA dari CAK NUN...!!!*
>
> *"Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki
> Pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi
> Mancing bareng. Tidak Ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik,
> Kamituwonya Hindu, kebayannya
> Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dgn hati...itulah
> Maiyah,"
> Ujarnya.*
>
> *Subject:* Agama Dan Isteri Tetangga
> *AGAMA Dan ISTRI TETANGGA.*
> *Buah Pemikiran CAK NUN*
> **
> *Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar
> Di Jogja. Waktu itu, tiap Rabu malam, saya Dan teman-
> Teman memilih nglurug ke patang puluhan, rumahnya
> Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair Dan kiai
> Mbeling Emha Ainun Nadjib.
>
> Kita bikin forum melingkar di situ.
> Biasanya Kita bicara soal kesenian atau kebudayaan,
> Tapi juga ngobrolin soal keagamaan.
>
> Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin.
> Komandannya anak Solo, Nasution Wahyudi.
> Ini nama asli Jawa, nggak Ada hubungannya dgn Nasution
> Yang dari Medan.. Pesertanya juga tidak cuma
> Mahasiswa atau pemuda yang beragama Islam. Pendek
> Kata, pemeluk berbagai agama berkumpul melingkar disitu.
>
> Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu.
>
> "Apakah anda semua punya tetangga?"
>
> Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak
> Kost, tentu saja kamar sebelah saya bisa disamakan
> Dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi saya ikut-ikutan
> Saja menjawab : "Tentu saja punya".
>
> Cak Nun melanjutkan bertanya : "Punya istri enggak
> Tetangga Anda?"
>
> Sebagian hadirin menjawab : "Ya, punya dong".
> Saya diam saja. Rasanya tetangga kost saya bujangan
> Semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak desa.
> Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.
>
> Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya :
> "Apakah anda pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu?
> Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus atau Ada bekas
> Korengnya ?"
>
> Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah
> Pembicaraan Cak Nun.
>
> Kebanyakan menjawab : "Tidak pernah memperhatikan
> Cak. Ono opo Cak?"
>
> Cak Nun ndak peduli.
> Dia tanya lagi : "Body-nya sexy enggak?"
>
> Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh.
> Apalagi saya yang benar-benar tidak faham arah
> Pembicaraan sang Kiai mbeling itu.
>
> Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis.
> Jawabannya bagus banget. Dan ini senantiasai saya ingat
> Sampai Hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk sebuah
> Negeri yang memilih Pancasila : "Jadi ya begitu. Jari
> Kakinya lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan
> Urusan Kita,kan? Tidak usah Kita perhatikan, tak usah
> Kita amati, tak usah Kita dialogkan, diskusikan atau
> Perdebatkan. Biarin saja".
>
> "Kenapa cak?" salah satu teman bertanya, penasaran.
>
> "Ya apa urusan Kita ? Nah, keyakinan keagamaan
> Orang lain itu ya ibarat istri orang lain. Ndak usah
> Diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar
> Salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun. Tentu,
> Masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya
> Begini begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah
> Disimpan didalam hati saja".
>
> Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan.
> Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.
>
> Dia melanjutkan serius : "Bagi orang non-Islam, agama
> Islam itu salah. Dan itulah sebabnya IA menjadi orang
> Non-Islam. Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa
> Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam? Demikian juga,
> Bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar
> Itulah maka IA menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana
> Istri tetangga, itu disimpan saja didalam hati, jangan
> Diungkapkan, diperbandingkan, atau dijadikan bahan
> Seminar atau pertengkaran.
>
> Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, Dan
> Jagalah kemerdekaan masing-masing orang untuk
> Menghormati Dan mencintai istrinya masing-masing, tak
> Usah rewel bahwa istri Kita lebih mancung hidungnya
> Karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak Dan tidak
> Pakai dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas,
> Teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan, biarkan
> Masing-masing pada keyakinannya. "
>
> Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.
>
> Cak Nun terus berkata : "Itu prinsip Kita dalam
> Memandang berbagai agama. Sementara itu orang Muslim
> Yang mau melahirkan padahal motornya gembos, silakan
> Pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk
> Mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang
> Sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal
> Waktunya mendesak, dia boleh pinjam baju koko tetangganya
> Yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau Ada orang
> Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha,
> Kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan
> Tetangga Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.
> Begitu."
>
> Kami semua terus menyimak paparannya.
>
> "Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain.
> Itu sama aja anda ngajak gelut tetangga anda. Mana
> Ada orang yang mau isterinya dibahas Dan diomongin
> Tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai
> Pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan,
> Aliran, kelompok, atau apapun, silakan bekerja sama
> di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan,
> sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. "
>
> "Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki
> pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihkan
> kampung, bisa pergi mancing bareng bisa main gaple
> dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim,
> cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya
> Gatholoco, atau apapun. Itulah lingkaran tulus hati dgn
> hati. Itulah maiyah," ujarnya.
>
> Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris
> tanpa emosi. Tapi serius dan dalam. Saya menyimaknya
> sungguh-sungguh. Dan saya catat baik-baik dalam
> hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal.
> Di Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak
> orang usil mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di
> berbagai tempat di dunia. Di Bosnia. Atau yang paling
> baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya perang dan
> hancur-hancuran. Menyedihkan.
>
> Sangat menyedihkan. *
>
>
>
>
>
>
>    [image: FREE Animations for your email - by IncrediMail! Click 
> Here!]<http://www.incredimail.com/?id=606431&rui=74916633>
> ------------------------------
> New Windows 7: Simplify what you do everyday. Find the right PC for 
> you.<http://windows.microsoft.com/shop>
>
> --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
> or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
> thanks for joinning this group.
>
> --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
> or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
> thanks for joinning this group.
>

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke