-

aep.saepuloh














Keutamaan Mendidik Anak Perempuan

Oleh: Ummu Salamah As-Salafiyah


Dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu, dia berkata bahwa Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa mengasuh dua orang anak perempuan sehingga berumur
baligh, maka dia akan datang pada hari Kiamat kelak, sedang aku dan
dirinya seperti ini." Dan beliau menghimpun kedua jarinya." [HR.
Muslim]

Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha, dia berkata:

"Ada seorang wanita yang masuk menemuiku dengan membawa dua orang anak
perempuan untuk meminta-minta, tetapi aku tidak mempunyai apa-apa
kecuali hanya satu butir kurma. Lalu aku memberikan kurma itu
kepadanya. Selanjutnya, wanita itu membagi satu butir kurma itu untuk
kedua anak perempuannya sedang dia sendiri tidak ikut memakannya.
Lantas, wanita itu bangkit dan keluar. Kemudian Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam datang kepada kami, maka aku ceritakan peristiwa itu
kepada beliau, maka beliau pun berkata, 'Barangsiapa yang diuji dengan
anak-anak perempuan, lalu dia mengasuhnya dengan baik, maka anak-anak
perempuan itu akan menjadi tirai pemisah dari api Neraka." [HR.
Al-Bukhari dan Muslim]

An-Nawawi rahimahullah mengatakan di dalam kitab Syarh Muslim (V/
485), "Disebut ibtilaa' (ujian), karena biasanya orang-orang tidak
menyukainya.

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran)
anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat
marah.' [An-Nahl: 58]

Lebih lanjut, an-Nawawi rahimahullah mengatakan, "Di dalam
hadits-hadits ini terdapat keutamaan berbuat baik kepada anak-anak
perempuan, memberikan nafkah kepada mereka, bersabar dalam
mengasuhnya, dan mengurus seluruh urusannya."

Dari 'Uqbah bin 'Amir, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Barangsiapa memiliki tiga orang anak perempuan, lalu dia bersabar
dalam menghadapinya serta memberikan pakaian kepadanya dari hasil
usahanya, maka anak-anak itu akan menjadi dinding pemisah baginya dari
siksa Neraka." [HR. Al-Bukhari dalam kitab al-Adaabul Mufrad dan
hadits ini shahih]

Mengenai hak wanita, Allah Ta'ala berfirman:

"…Dan jika kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena
mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan
padanya kebaikan yang banyak." [An-Nisaa': 19]

Demikian juga pada anak-anak perempuan. Tidak jarang seorang hamba
mendapatkan kebaikan yang sangat banyak di dunia dan akhirat dari
anak-anak perempuan. Dan cukuplah sebagai keburukan, orang yang tidak
menyenangi mereka bahwasanya ia benci pada apa yang diridhai dan
diberikan Allah kepada hamba-Nya.


[Disalin dari buku Al-Intishaar li Huquuqil Mu'minaat, Edisi Indonesia
Dapatkan Hak-Hakmu Wahai Muslimah, Penulis Ummu Salamah As-Salafiyyah,
Penerbit Pustaka Ibnu Katsir, Penerjemah Abdul Ghoffar EM]

Sumber: almanhaj.or.id


Sepuluh Kesalahan Dalam Mendidik Anak

Oleh: Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd


Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Maka, kita sebagai orang
tua bertanggung jawab terhadap amanah ini. Tidak sedikit kesalahan dan
kelalaian dalam mendidik anak telah menjadi fenomena yang nyata.
Sungguh merupakan malapetaka besar ; dan termasuk mengkhianati amanah
Allah.

Adapun rumah, adalah sekolah pertama bagi anak. Kumpulan dari beberapa
rumah itu akan membentuk sebuah bangunan masyarakat. Bagi seorang
anak, sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan masyarakat, ia
akan mendapatkan pendidikan di rumah dan keluarganya. Ia merupakan
prototype kedua orang tuanya dalam berinteraksi sosial. Oleh karena
itu, disinilah peran dan tanggung jawab orang tua, dituntut untuk
tidak lalai dalam mendidik anak-anak.

BAHAYA LALAI DALAM MENDIDIK ANAK
Orang tua memiliki hak yang wajib dilaksanakan oleh anak-anaknya.
Demikian pula anak, juga mempunyai hak yang wajib dipikul oleh kedua
orang tuanya. Disamping Allah memerintahkan kita untuk berbakti kepada
kedua orang tua. Allah juga memerintahkan kita untuk berbuat baik
(ihsan) kepada anak-anak serta bersungguh-sungguh dalam mendidiknya.
Demikian ini termasuk bagian dari menunaikan amanah Allah. Sebaliknya,
melalaikan hak-hak mereka termasuk perbuatan khianat terhadap amanah
Allah. Banyak nash-nash syar'i yang mengisyaratkannya. Allah
berfirman.

"Artinya : Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada
yang berhak menerimanya" [An-Nisa : 58]

"Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati
Allah dan Rasul (Muhamamd) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati
amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui"
[Al-Anfal : 27]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Artinya : Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung
jawaban terhadap yang dipimpin. Maka, seorang imam adalah pemimpin dan
bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah
pemimpin bagi keluarganya dan bertanggung jawab terhadap yang
dipimpinnya" [Hadits Riwayat Al-Bukhari]

"Artinya : Barangsiapa diberi amanah oleh Allah untuk memimpin lalu ia
mati (sedangkan pada) hari kematiannya dalam keadaan mengkhianati
amanahnya itu, niscaya Allah mengharamkan sorga bagianya" [Hadits
Riwayat Al-Bukhari]

SEPULUH KESALAHAN DALAM MEDIDIK ANAK
Meskipun banyak orang tua yang mengetahui, bahwa mendidik anak
merupakan tanggung jawab yang besar, tetapi masih banyak orang tua
yang lalai dan menganggap remeh masalah ini. Sehingga mengabaikan
masalah pendidikan anak ini, sedikitpun tidak menaruh perhatian
terhadap perkembangan anak-anaknya.

Baru kemudian, ketika anak-anak berbuat durhaka, melawan orang tua,
atau menyimpang dari aturan agama dan tatanan sosial, banyak orang tua
mulai kebakaran jenggot atau justru menyalahkan anaknya. Tragisnya,
banyak yang tidak sadar, bahwa sebenarnya orang tuanyalah yang menjadi
penyebab utama munculnya sikap durhaka itu.

Lalai atau salah dalam mendidik anak itu bermacam-macam bentuknya ;
yang tanpa kita sadari memberi andil munculnya sikap durhaka kepada
orang tua, maupun kenakalan remaja.

Berikut ini sepuluh bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang
tua dalam mendidik anak-anaknya.

[1]. Menumbuhkan Rasa Takut Dan Minder Pada Anak
Kadang, ketika anak menangis, kita menakut-nakuti mereka agar berhenti
menangis. Kita takuti mereka dengan gambaran hantu, jin, suara angin
dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut :
Takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya
tidak perlu ditakuti. Misalnya takut ke kamar mandi sendiri, takut
tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita-cerita tentang hantu,
jin dan lain-lain.

Dan yang paling parah tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut
kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka
jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal
semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi
ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakut-nakutinya, menampar
wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya,
anak-anak semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut
apabila melihat darah atau merasa sakit.

[2]. Mendidiknya Menjadi Sombong, Panjang Lidah, Congkak Terhadap
Orang Lain. Dan Itu Dianggap Sebagai Sikap Pemberani.
Kesalahan ini merupakan kebalikan point pertama. Yang benar ialah
bersikap tengah-tengah, tidak berlebihan dan tidak dikurang-kurangi.
Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang
lain. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut
apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya : takut berbohong,
karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka berbohong,
atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik
anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

[3]. Membiasakan Anak-Anak Hidup Berfoya-foya, Bermewah-mewah Dan Sombong.
Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka
kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri,
tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini
dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqomah dalam bersikap zuhud di
dunia, membinasakah muru'ah (harga diri) dan kebenaran.

[4]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak
Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan
anaknya, tanpa memikirkan baik dan buruknya bagi anak. Padahal, tidak
setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia
dan kebutuhannya. Misalnya si anak minta tas baru yang sedang trend,
padahal baru sebulan yang lalu orang tua membelikannya tas baru. Hal
ini hanya akan menghambur-hamburkan uang. Kalau anak terbiasa
terpenuhi segala permintaanya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak
yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta
mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan
baik.

[5]. Selalu Memenuhi Permintaan Anak, Ketika Menangis, Terutama Anak
Yang Masih Kecil.
Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita
menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan
senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi
permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis.
Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak
punya jati diri.

[6]. Terlalu Keras Dan Kaku Dalam Menghadapi Mereka, Melebihi Batas 
Kewajaran.
Misalnya dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan
bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lainnya. Ini
kadang terjadi ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia
(mungkin) baru sekali melakukannya.

[7]. Terlalu Pelit Pada Anak-Anak, Melebihi Batas Kewajaran
Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga
anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya
mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan bebagai
cara. Misalnya : dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau
dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega
menitipkan anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban dirinya.
Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu
membiayai hidup. Naa'udzubillah mindzalik

[8]. Tidak Mengasihi Dan Menyayangi Mereka, Sehingga Membuat Mereka
Mencari Kasih Sayang Diluar Rumah Hingga Menemukan Yang Dicarinya.
Fenomena demikian ini banyak terjadi. Telah menyebabkan anak-anak
terjerumus ke dalam pergaulan bebas –waiyadzubillah-. Seorang anak
perempuan misalnya, karena tidak mendapat perhatian dari keluarganya
ia mencari perhatian dari laki-laki di luar lingkungan keluarganya.
Dia merasa senang mendapatkan perhatian dari laki-laki itu, karena
sering memujinya, merayu dan sebagainya. Hingga ia rela menyerahkan
kehormatannya demi cinta semu.

[9]. Hanya Memperhatikan Kebutuhan Jasmaninya Saja.
Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang
terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan
pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang
bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya
untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak
mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi
saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Bila
kasih sayang tidak di dapatkan dirumahnya, maka ia akan mencarinya
dari orang lain.

[10]. Terlalu Berprasangka Baik Kepada Anak-Anaknya
Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada
anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa
tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan
anak-anaknya, tidak mengenal teman dekat anaknya, atau apa saja
aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba,
mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya
terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha
menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa
hanyalan penyesalan tak berguna.

Demikianlah sepuluh kesalahan yang sering dilakukan orang tua. Yang
mungkin kita juga tidak menyadari bila telah melakukannya. Untuk itu,
marilah berusaha untuk terus menerus mencari ilmu, terutama berkaitan
dengan pendidikan anak, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan
dalam mendidik anak, yang bisa menjadi fatal akibatnya bagi masa depan
mereka. Kita selalu berdo'a, semoga anak-anak kita tumbuh menjadi
generasi shalih dan shalihah serta berakhlak mulia. Wallahu a'lam
bishshawab.

[Disadur oleh Ummu Shofia dari kitab At-Taqshir Fi Tarbiyatil Aulad,
Al-Mazhahir Subulul Wiqayati Wal Ilaj, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VII/1424H/20004M,
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. Jl Solo – Purwodadi Km 8
Selokaton, Gondangrejo – Solo]

Sumber: almanhaj.or.id
______________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.


______________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.


-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

To unsubscribe from this group, send email to 
aga-madjid+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words 
"REMOVE ME" as the subject.

Kirim email ke