Apakah kita sudah menjadi Suami yang baik buat Istri Kita?
--------------------------------------------------------------------------------
http://blog.bukukita.com/users/unesa/?postId=5619
kategori: Umum - Tanggal Posting : 28/10/2008 15:51 WIB
Bila malam sudah beranjak mendapati Subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah
istri Anda yang sedang terbaring letih menemani bayi Anda. Tataplah
wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian
ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirahat barang sekejab.
Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari,
barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi. Sesudahnya,
bayangkanlah tentang esok hari. Di saat Anda sudah bisa merasakan betapa
segar udara pagi, tubuh letih istri Anda barangkali belum benar-benar
menemukan kesegarannya.
Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya,
membisingkan telinganya dgn tangis serta membasahi pakaian nya dgn pipis
tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi.
Padahal tangan istri Anda pula yang harus mencucinya.
Di saat seperti itu, apakah yang Anda pikirkan tenang dia ?
Masihkah Anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara
lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara
di saat yang sama Anda menuntut dia untuk nenjadi istri yang penuh
perhatian, santun dalam bicara, lulus dalam memilih kata serta dalam
menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang
sesungguhnya bukan kewajiban istri tapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkah Anda sampai hati mendambakan tentang seorang
perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lebut? Tentu saja
gua tidak tengah mengajak Anda membiarkan istri kita membentak anak-anak
dengan mata membelalak......No way.
Saya hanya ingin mengajak Anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat
letih, sementara kita tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau
ia menjadi tidak sabar. Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak
kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka
ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik
bisa tiba-tiba membuat anak kita menjerit karena cubitannva yanq bikin
sakit.
Apa artinya ?
Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara
kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng.
Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia
juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada Anda. Sementara
gejolak-gejolak jiwa yang memenuhi dada, butuh telinga yang mau
mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya
berupa kesedian untuk mendengar, atau ia tak pernah Anda akui
keberadaanya, maka jangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu
sendiri jika ia tiba-tiba meledak.
Jangankan istri kita yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi
pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang
membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengar
melainkan semata karena dibakar kecemburuan.
Ketika itu, Nabi Saw. hanya diam menghadapi 'Aisyah yang sedang cemburu
seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan. Alhasil, ada
yang harus kita benahi dalam jiwa kita.
Ketika kita menginginkan ibu anak-anak kita selalu lembut dalam
mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu kita berikan. Ada yang
lain. Ada kehangatan yang perlu kita berikan agar hatinya tidak dingin,
apalagi beku, dalam menghadapi anak-anak setiap hari.
Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap
menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan
kasih sayang.
Ada ketulusan yang harus kita usapkan kepada perasaan dan pikirannya,
agar ia masih tetap memiliki energi untuk tersenyum kepada anak-anak
kita, sepenat apapun ia.
Ada lagi yang lain : pengakuan.
Meski ia tidak pernah menuntut, tetapi mestikah kita menunggu sampai
mukanya berkerut-kerut.
Karenanya, marilah kita kembali ke bagian awal tulisan ini.
Ketika perjalanan waktu telah melewati tengah malam, pandanglah istri
Anda yang terbaring letih itu. Lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang
bisa kita lakukan sekedar untuk menmgucapkan terimakasih atau menyatakan
sayang?
Bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh,
lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu,
alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman
hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka, " Ada secangkir
minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan untuk itu ? " Sulit
melakukan ini ?
Ada cara lain yang bisa Anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya
menyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan
tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita.
Kalau kita terlibat dengan pekerjaan di dapur, rnemandikan anak, atau
menyuapi si mungil sebelum mengatarkannya ke TK, itu bukan karena
gender-friendly; tetapi semata-mata karena mencari ridha Allah.
Sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang kita
lakukan. Kita tidak akan mendapati amal-amal kita saat berjumpa dengan
Allah di yaumil-kiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin Anda lakukan,
terserah Anda.
Yang jelas, ada pengakuan untuknya, baik lewat ucapan terima kasih atau
tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih.
Semoga dengan kerelaan kita untuk menyatakan terima-kasih, tak ada
airmata duka yang menetes dari kedua kelopaknya.
Semoga dengan kesediaan kita untuk membuka telinga baginya, tak ada lagi
istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karena merasa tak
didengar.
Dan semoga pula dengan perhatian yang kita berikan kepadanya, kelak
istri kita akan berkata tentang kita sebagaimana Bunda Aisyah
radhiyallahu anha berucap tentang suaminya.
Rasulullah Saw., " Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku. "
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah
Engkau perhatikan gurat2 penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak
untuk meneruskan istirahatnya.
Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah
dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih-sayang dan cinta yang tak
Lekang oleh perubahan.
Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan
Wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkur mu. Marilah kita ingat
kembali ketika Rasulullah Saw. berpesan tentang istri kita.
" Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian
sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka.
Ketahuilah," kata Rasulullah Saw. melanjutkan, ’kalian mengambil wanita
itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan mereka
dengan kitab Allah.Takutlah kepada Allah dalam mengurus istri kalian.
Aku wasiatkan atas kalian untuk selalu berbuat baik. "
Kita telah mengambil istri kita sebagai amanah dari Allah. Kelak kita
harus melaporkan kepadaAllah Taala bagaimna kita menunaikan amanah dari
Nya kah kita mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat
menggeroti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya?
Ataukah, kita sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri ?
Saya tidak tahu. Sebagaimana saya juga tidak tahu apakah sebagai suami...
Saya sudah cukup baik jangan-jangan tidak ada sedikit pun kebaikan di
mata istri. Saya hanya berharap istri saya benar-benar memaafkan
kekurangan saya sebagai suami.
Indahya ....semoga ada kerelaan untuk menerima apa adanya. Hanya inilah
ungkapan sederhana yang kutuliskan untuknya.
Semoga Anda bisa menerima ungkapan yang lebih agung untuk istri Anda.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.
To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.