ZAINAL ARIFIN 






السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
semoga bermanfaat
wass ....zainal


Qana'ah 
Syeikh Abul Qasim al-Qusyairy

Allah swt. berfirman
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki laki maupun perempuan 
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya 
kehidupan yang baik." (Q.S. An Nahl: 97).

Diriwayatkan oleh jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah saw. telah bersabda:
"Qana'ah (menerima pemberian Allah) adalah harta yang tidak pernah sirna." 
(H.r. Thabrani) 

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: 
"Jadilah orang yang wara’ maka engkau akan menjadi orang yang paling 
berbakti kepada Allah swt. jadilah engkau orang yang menerima (pemberian 
Nya), engkau akan menjadi orang yang paling bersyukur. Cintailah manusia 
sebagaimana (kamu mencintai) dirimu sendiri, maka engkau menjadi orang 
yang beriman. Perbaikilah dalam hidup bertetangga dengan tetanggamu, 
engkau akan menjadi orang Muslim. Dan sedikitlah tertawa, sebab banyak 
tertawa itu mematikan hati.” (H.r. Baihaqi).
Dikatakan, "Orang-orang miskin itu mati, kecuali mereka yang dihidupkan 
Allah dengan kebesaran qana'ah. "
Bisyr al Hafi berkata, "Qana'ah adalah seorang raja yang hanya tinggal di 
dalam hati yang beriman."

Abu Sulaiman ad-Darany berkomentar, "Hubungan qana'ah dengan ridha adalah 
seperti hubungan antara maqam wara' dengan zuhud. Qana'ah adalah awal 
ridha, dan wara' adalah awal zuhud."
Dikatakan, "Qana'ah adalah sikap tenang dalam menghadapi hilangnya sesuatu 
yang biasa ada."

Abu Bakr al-Maraghy menjelaskan, "Orang yang cerdas adalah orang yang 
menangani urusan dunianya dengan qana'ah dan tidak bergegas-gegas, tapi 
menangani urusan akhiratnya dengan penuh kerakusan dan ketergesaan, 
menangani urusan agamanya dengan ilmu dan ijtihad."
Abu Abdullah bin Khafif berkata, "Qana'ah adalah meninggalkan keinginan 
terhadap apa yang telah hilang atau yang tidak dimiliki, dan menghindari 
ketergantungan kepada apa yang dimiliki."

Dikatakan mengenai firman Allah swt, "Allah akan menganugerahi mereka 
rezeki yang berlimpah," (Q.s. AI Hajj: 88), bahwa yang dimaksud di Sini 
adalah qana'ah.

Muhammad bin Ali at-Tirmidzy menegaskan, "Qana'ah adalah kepuasan jiwa 
terhadap rezeki yang diberikan."
Dikatakan, "Qana'ah adalah menemukan kecukupan di dalam apa yang ada dan 
tidak menginginkan apa yang tiada.

Wahb menuturkan, "Kehormatan dan kekayaan berkelana mencari teman. Mereka 
berjumpa dengan qana'ah, dan mereka hinggap menetap padanya."
Dikatakan, "Orang yang merasa qana'ah akan menemukan bubur yang lezat." 
Dikatakan juga, "Orang yang selalu kembali kepada Alah swt. dalam segala 
hal, akan dianugerahi qana'ah."

Dalam sebuah cerita disebutkan ketika Abu Hazim melewati seorang penjual 
daging yang mempunyai sejumlah daging berlemak, si penjual berkata 
kepadanya, 'Ambillah sedikit, wahai Abu Hazim, karena daging ini 
berlemak!" Abu Hazim menjawab, 'Aku tidak membawa uang." Sipedagang 
berkata, 'Aku beri engkau waktu untuk membayarnya." Abu Hazim menjawab, 
"jiwaku masih lebih baik menunggu daripadamu."

Salah seorang Sufi ditanya, "Siapakah orang paling qana'ah di antara ummat 
manusia?" Ia menjawab, "Yaitu orang yang paling berguna bagi ummat manusia 
dan paling sedikit upahnya."
Dikatakan dalam kitab Zabur, "Orang yang qana'ah adalah orang yang kaya, 
sekalipun ia dalam keadaan lapar."

Dikatakan, "Allah swt. menempatkan lima perkara dalam lima tempat: 
Keagungan dalarn lbadat, kehinaan dalam dosa, kekhidmatan dalam bangun 
malam, kebijaksanaan dalam perut kosong, dan kekayaan/cukup dalam 
qana'ah."

Ibrahim al-Maristany berkata, "Lakukanlah pembalasan terhadap kerakusanmu 
dengan qana'ah sebagaimana engkau membalas dendam kepada musuhmu dengan 
qisas".
Dzun Nuun al-Mishry berkata, "Orang yang qana'ah selamat dari orang orang 
semasanya dan berjasa atas semua orang."
Dikatakan, "Orang yang qana'ah akan menemukan istirah dari kecemasan dan 
berjaya atas segala sesuatu."

Al-Kattany mengatakan, "Barangsiapa menjual kerakusan demi qana'ah berarti 
telah memperoleh keagungan dan kebesaran."
Dikatakan, "Kesedihan dan rasa gelisah menjadi panjang bagi orang yang 
matanya mengejar apa yang dimiliki orang lain."
Kaum Sufi sering membacakan syair berikut:
Betapa indahnya pemuda,
dari hari hari yang lapar
lebih terhormat dari kekayaan yang disertai lapar.

Dalam suatu cerita disebutkan, "Seorang laki laki melihat seorang yang 
bijaksana sedang mengunyah potongan-potongan sayur yang dibuang di tempat 
air, dan berkata kepadanya, 'Jika saja Anda mau mengabdi kepada sultan, 
niscaya Anda tidak perlu makan makanan begini.' Orang bijak itu menjawab, 
'Dan Anda, seandainya saja Anda Mau berqana'ah dengan makanan begini, 
niscaya Anda tidak perlu mengabdi kepada sultan'."
Mengenai firman Allah swt.:
"'Sesungguhnya orang orang yang banyak berbakti benar benar berada dalam 
surga yang penuh kenikmatan.” (Q.s. Al Infithar: 13).

Dikatakan bahwa kata na'im adalah qana'ah di dunia. Dalam ayat berikutnya:
“Dan sesungguhnya orang orang yang durhaka benar-benar berada dalam 
neraka.” (Q.s. Al Infithar: 14).

Kata jahim berarti kerakusan di dunia. 
Mengenal firman Allah swt.:
"Tahukah kamu, apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (Yaitu) 
melepaskan budak dari perbudakan." (Q.s. Al- Balad:123).
Dikatakan bahwa ayat ini berarti, "membebaskan orang dari kerendahan sifat 
tamak".

Dikatakan bahwa firman Allah swt, "Sesungguhnya Allah bermaksud hendak 
menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait," (Q.s. Al Ahzab: 33), 
berarti, "menghilangkan sifat kikir dan iri".
Dan firman Nya selanjutnya, "Dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." 
(Q.s. Al Ahzab: 33), berarti, "melalui sifat murah hati dan tidak pelit 
dalam memberi".

Mengenal firman Allah swt, "Ia berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah aku dan 
anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun 
sesudahku'." (Q.s. Shaad: 35), berarti, "Anugerahkanlah kepadaku derajat 
qana'ah yang dapat membuatku sendiri, dibanding sibuk dengan persoalanku, 
yang dengannya aku akan merasa ridha dengan ketentuan Mu."

Dikatakan mengenal firman Allah swt, “Aku (Sulaiman) pasti akan menghukum 
(burung Hud hud) dengan hukuman yang pedih," (Q.s. An Naml: 21), bahwa 
ayat ini berarti, 'Aku akan menanggalkan darinya sifat qana'ah dan 
memberinya cobaan dengan sifat rakus," yakni, "Aku akan memohon kepada 
Allah swt. agar melakukan hal itu terhadapnya."
Abu Yazid al Bisthamy ditanya, "Bagaimana Anda bisa sampai pada kedudukan 
sekarang ini?" Ia menjawab, 'Aku mengumpulkan harta benda dunia ini lalu 
mengikatnya dengan tali qana'ah. Lalu aku menempatkan mereka dalam ketepil 
keikhlasan dan melontarkannya ke lautan putus asa. Maka aku pun bisa 
istirahat."

Abdul Wahhab, paman Muhammad bin Farhan, menuturkan, "Aku sedang duduk 
duduk bersama al Junayd di saat musim haji, dan di sekelilingnya ada 
sekelompok besar orang non Arab, termasuk beberapa orang yang telah 
dibesarkan di lingkungan orang Arab. Seseorang datang kepadanya dengan 
membawa uang limaratus dinar, yang diletakkannya di hadapan al Junayd, 
lalu Junaid berkata, 'Sebarkan kepada orang orang fakir,' sambil bertanya 
kepadanya, Apakah kamu masih punya uang selain ini?' Ia menjawab, Ya, aku 
masih punya banyak.' Al Junayd bertanya kepadanya, Apakah kamu ingin 
memperoleh lebih banyak dari yang kamu miliki sekarang?' la menjawab, 
'Ya.' Maka al Junayd lalu berkata kepadanya, Ambillah kembali uangmu ini, 
sebab engkau lebih memerlukannya daripada kami.' Junayd tidak 
menerimanya."

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject.

Kirim email ke