Baru baca awal2nya nih... Masih penasaran dengan kisah di bagian belakangnya
Apakah mereka akan tetap bersama??? *dah kayak sinetron aja gw * wakakakakka -- Edy Haryanto -- -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of [PCC] - Wenki Afrian Zain Sent: Tuesday, April 13, 2010 4:51 PM To: [email protected] Subject: RE: ~ aga ~ Setelah Kau Menikahiku (Om MAhen) Om Mahen...thanks bgd, Sampai bergemuruh dada saya membacanya (Lebay Mode On) Best Regards, Wenki Afrian Zain -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of maHen Sent: Tuesday, April 13, 2010 4:26 PM To: [email protected] Subject: Re: ~ aga ~ Setelah Kau Menikahiku (Om MAhen) hahahaha gw mnunggu komen sprti ini td tu cm sinopsisnya aja bro sbnrnya aja 10 bagian ini gw lg baca gt, kbtulan lg males kerja :-P ni gw bagi d ^_^ [PCC] - Wenki Afrian Zain wrote: > Ini part sebelum & selanjutnya ada gak? > BAgus cerita nya... > > > Best Regards, > Wenki Afrian Zain > > -----Original Message----- > From: [email protected] [mailto:[email protected]] > On Behalf Of maHen > Sent: Tuesday, April 13, 2010 3:11 PM > To: [email protected] > Subject: ~ aga ~ Setelah Kau Menikahiku > > Setelah Kau Menikahiku (Bagian 5) > > > Meski sudah bersikap menyebalkan, Puspita tidak berhasil membuat Idan > marah. Pria itu malah bersikap sangat manis. > > Wajah Idan benar-benar merah sekarang. "Upit! Jangan main-main denganku! > > Aku tidak mau kau menolak pergi jalan-jalan lalu menghukumku dengan > cemberut sepanjang hari begini. Mandi sekarang. Kita pergi setengah jam > lagi." > > "Aku bukan budakmu. Jangan suruh-suruh aku. Dan aku tetap tak mau > pergi." > > "Oke. Terserah! Kalau kau mau duduk di sini seharian, makan es krim dan > cokelat sambil mengasihani diri sendiri dan melar dan melar dan melar > dan melar...." > > "Idan!" jeritku sambil melempar kotak es krim itu ke arahnya. Ia > terlambat mengelak dan sisa es krim yang telah mencair melumuri > t-shirtnya. Aku lari ke kamarku, membanting pintunya dan melempar diri > ke ranjang, sesenggukan. > > Kudengar ia memaki dan menendang pintu. Saat itu aku takut, takut > sekali. Ia seperti telah menjadi manusia lain yang tak kukenali sama > sekali, asing dan mengerikan. Kututup telingaku dengan bantal dan aku > terus menangis hingga tenggorokanku yang sakit dan kepalaku yang berat > memaksaku tertidur kelelahan. > > Sorenya aku keluar mengendap-endap. Idan pasti telah pergi memancing. > Memikirkan bahwa ia pergi sementara aku masih menangis karena kata-kata > kasarnya membuatku makin marah kepadanya. Kali ini aku yakin tak ada > pilihan lain kecuali meninggalkannya dan kembali ke rumah orang tuaku. > Maka selesai mandi aku segera memasukkan semua pakaianku ke dalam kopor. > > Saat itu Idan datang. Ia kedengaran sangat gembira, bersiul-siul sejak > ia memasuki pintu gerbang. Siulannya berhenti saat ia melihat koporku > dari pintu kamar yang terkuak. > > "Apa-apaan ini, Pit?" tanyanya. > > "Aku pulang ke rumah Ibu." > > Ia masuk dan duduk di atas kasurku, mengawasi gerak-gerikku. "Semudah > ini kau menyerah?" > > "Ini di luar dugaanku." > > "Apa?" > > "Aku tidak mengira aku menikahi monster." > > Idan terdiam, menunduk. > > "Aku...," katanya lirih. "Aku bawa pizza kesukaanmu." > > "Aku sudah terlalu gemuk." > > Ia menggeleng dengan ekspresi bersalah, "Tidak. Kau cantik." > > "Aku tidak butuh pendapatmu. Kau bukan suamiku, ingat? Penilaianmu tidak > > punya arti apa-apa." > > "Aku sudah mencoba jadi suami yang baik." > > "Kau gagal." > > "Setidaknya aku mencoba. Kau ... kau tidak melakukan apapun supaya > pernikahan kita berhasil...." > > "Simulasi." > > Ia menghela napas panjang dan mengangguk singkat. "Simulasi." > > "Kau salah, Dan. Aku sudah melakukan terlalu banyak. Sudah belajar > terlalu banyak. Dan aku sudah mengambil keputusan. > Aku tidak akan menikah. Aku tidak suka menikah. Apalagi denganmu." > > Ia tak mengatakan apa-apa, lama sekali. Ketika ia keluar dari kamarku, > aku ambruk ke atas tempat tidur. Semua topeng ketegaranku hancur > berkeping-keping. Aku tak pernah menduga Idan bisa menyakitiku sehebat > ini. Lama kemudian. setelah aku bisa sedikit menguasai diri, aku > bangkit. Kurapikan dandananku dan kuseret koporku keluar. > > "Setidaknya tunggulah sampai hujan reda," suara Idan menyambutku. > > "Terlalu lama," gumamku. "Aku tidak bisa tinggal denganmu selama itu." > > Aku tak peduli hujan yang serta merta mengguyurku basah kuyup saat aku > membuka pintu gerbang. Meninggalkan Idan secepatnya, hanya itu yang ada > di benakku. Dan ketika mobilku mulai tersendat terendam genangan air > hujan hanya lima puluh meter dari rumah, aku begitu berang dan putus asa > > hingga aku keluar dari mobil dan menendang pintunya, meninju atapnya, > air mataku larut dalam siraman hujan. > > Saat itu aku melihat Idan datang. Tanpa mengatakan apa-apa ia mencabut > kunci mobilku dan mengunci mobil itu dari luar. > > "Ayo pulang," katanya. > > Aku menggeleng tanpa berani menatap wajahnya. > > Dan ia mengangkatku, menggendongku, tanpa menghiraukan perlawananku. Ia > membopongku sampai ke rumah, tak memberiku kesempatan untuk melarikan > diri. Setiba di dalam, ia mengunci pintu dan menyimpan kuncinya di saku. > > "Ganti bajumu," katanya. > > "Semua bajuku di dalam kopor." > > "Ambil bajuku." > > "Tidak akan pernah!" > > Ia mencengkeram pergelangan tanganku dan menatapku lurus dengan mata > berkobar,"Ini bukan waktunya melawanku, Pit. Kau bisa sakit!" > > "Monster," desisku. > > Malam itu suhu tubuhku menanjak naik, kepalaku sakit dan tenggorokan > nyeri. Aku masih ingat saat Idan menyuruhku menelan sebutir tablet > penurun panas dan aku membangkang. Ketika abangku datang untuk memeriksa > > keadaanku, aku masih bisa menangis dan merengek minta diantar pulang ke > rumah orang tuaku. Setelah itu semuanya kabur. > > Kesadaranku kembali dalam kelebatan-kelebatan singkat. Ketika aku > terjaga dan menemukan Idan tengah mengganti kain kompres di dahiku, > sentuhannya begitu sejuk dan menenteramkan. Ketika aku tiba-tiba > tersentak dari salah satu mimpi burukku dan mendapati Idan tengah > membersihkan ceceran muntahku di lantai. Ketika aku terbangun dari > tidurku yang gelisah dan merasakan tangannya erat menggenggam jemariku. > > Hingga akhirnya, entah setelah berapa lama, aku terbangun dan nyala api > dalam kepala dan dadaku telah padam. Jendela kamarku terbuka dan cahaya > matahari hangat menerobos masuk, membawa aroma melati dari rumpun di > luar kamarku. Ibuku tengah duduk di dekat jendela, membaca. > > "Ibu." > > Ibuku menurunkan korannya. Senyumnya mengembang saat ia menghampiriku. > "Bagaimana? Sudah enakan?" > > "Idan mana?" bisikku. Ah, pertanyaan bodoh. Mungkin seharusnya aku > bertanya di mana aku sekarang atau setidak-tidaknya siapa namaku. Kenapa > > pertanyaan pertamaku harus tentang Idan? rutukku pada diri sendiri. > > "Masih di kantor. Sebentar lagi juga pulang." > > Aku sakit dan dia pergi ke kantor. Suami teladan. > > "Ibu sudah berapa lama di sini?" > > "Dari pagi. Kau tidak ingat ibu datang pagi tadi?" > > Aku mencoba menggeleng dan kepalaku serta merta terbelah tiga. Tapi yang > > paling menyakitkanku adalah, Idan sama sekali tak peduli aku sakit. Aku > berbalik dan memejamkan mata. Air mataku yang panas luruh satu-satu. > > Sore itu ketika Idan pulang, aku berpura-pura tidur. Aku sama sekali > belum siap untuk bicara lagi dengannya. "Bagaimana, Bu?" tanyanya, > suaranya mendekati tempat tidurku. Dan kemudian tangannya hinggap di > dahiku, sejuk dan membawa ketenangan. Dengan punggung tangannya ia > menyentuh leherku, dan kalaupun aku sanggup menepiskan tangannya dengan > tenagaku yang nyaris nihil, aku tak akan mau melakukannya. > > "Tadi bangun sebentar, menanyakan kamu. Lalu tidur lagi. Tapi panasnya > sudah turun dan tadi siang sudah mau minum susu." > > Tangan Idan berpindah ke bahuku dan mulai memijat dengan lembut. Jangan > berhenti, jangan berhenti, jangan berhenti, pintaku dalam hati. Tapi ia > bangkit dan merapikan selimutku sambil terus bicara dengan ibuku. > > "Kalau Ibu capai, Ibu bisa ambil cuti besok." > > Ibu tertawa kecil. "Kau sendiri? Kau tidak tidur entah berapa malam dan > kau mengerjakan semuanya. Mencuci, membersihkan rumah, mengurus Upit. > Apa kau tidak capai?" > > "Saya pakai baterai Energizer, Bu." > > Bersambung > > Penulis: Novia Stephani > Pemenang I sayembara mengarang cerber femina 2003 > > > -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] or add me in Yahoo Messenger at [email protected] thanks for joinning this group. To unsubscribe, reply using "remove me" as the subject. -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] or add me in Yahoo Messenger at [email protected] thanks for joinning this group. -- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups. to post emails, just send to : [email protected] to join this group, send blank email to : [email protected] to quit from this group, just send email to : [email protected] if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected] or add me in Yahoo Messenger at [email protected] thanks for joinning this group.
