like this..

2010/4/26 Oktaf Triwidaya Agni <[email protected]>

>
>
> *
> Buat Yang Udah Nikah, Mau Nikah, Punya Niat Untuk Nikah Sebarkan kepada
> orang-orang yang kalian kenal. Dan mudah-mudahan bermanfaat.
> *
> Bertengkar adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah
> tangga, kalau ada seseorang berkata: “Saya tidak pernah bertengkar dengan
> isteri saya!” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia
> tengah berdusta. Yang jelas kita perlu menikmati saat-saat bertengkar itu,
> sebagaimana lebih menikmati lagi saat saat tidak bertengkar. Bertengkar itu
> sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi
> tingkat tinggi.
>
> Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa
> tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan
> perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi,
> pesan-pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa
> emosi. Tulisan ini murni non politik, jadi tolong jangan tergesa-gesa
> membacanya. Bacalah dengan sabar, lalu renungi dengan baik, setelah
> itu…terapkan dalam keseharian kita……. Setuju friend’s…???
>
> …....Suatu ketika seseorang berbincang dengan orang yang akan menjadi teman
> hidupnya, dan salah satunya bertanya: "Apakah ia bersedia berbagi masa depan
> dengannya, dan jawabannya tepat seperti yang diharap. Mereka mulai
> membicarakan : seperti apa suasana rumah tangga ke depan.
> Salah satu diantaranya adalah tentang apa yang harus dilakukan kala mereka
> bertengkar. Dari beberapa perbincangan hingga waktu yang mematangkannya,
> tibalah mereka pada sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalaupun harus
> bertengkar, maka :
>
> 1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah, cukup seorang saja yang
> marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu
> sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun
> sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika seorang marah dan saya mau
> menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya ! Saya harus diam sambil
> istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “kamu makin
> cantik kalau marah, makin energik…”
> Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi
> jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih
> .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang
> kelegaan perasaanmu itu aku menunggu ….”.
>
> Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya
> menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah
> sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak
> berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya :-) . Maka kini
> giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus untuk
> marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik
> untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah :-) .
>
> 2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit yang telah terlibat
> masa (maksudnya masa lalu kita). Siapapun kalau diungkit kesalahan masa
> lalunya, pasti terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya
> yang tidak bisa ia ubah.
>
> Siapapun tidak akan suka dinilai dengan masa lalunya. Sebab harapan
> terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu
> menjaga harapan dan bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara
> orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang
> pertengkaran dua hati yang patah asa,
> menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya.
>
> Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan
> itu sekeras apapun kecamannya, adalah “ungkapan rindu yang keras”. Tapi bila
> itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan
> kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh
> yang disajinya tidak manis (saya termasuk penimbun gula), sepedas apapun
> saya marah, maka itu adalah “harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi
> kalau itu dihubungkan dengan kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus
> tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya
> dengan hari yang telah pergi, saya menguburnya di masa lalu, ups…! saya
> telah membunuhnya, membunuh cintanya.
>
> Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk
> kesalahan semasa, saya tidak hidup di minggu lalu, dan ia pun milik hari ini
> …..
>
> 3. Kalau marah jangan bawa-bawa keluarga saya dengan isteri saya terikat
> baru beberapa masa, tapi saya dengan ibu dan bapak saya hampir berkali lipat
> lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan kakak serta pamannya. Dan
> konsep Qur’an,
> seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (QS.53:38-40).
>
> Saya tidak akan terpantik marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau
> ibu saya diajak serta, jangan coba coba. Begitupun dia, semenjak saya
> menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain
> dia, karenanya mengapa harus bawa bawa barang lain ke kancah “awal cinta
> yang panas ini”. Kata ayah saya : “Teman seribu masih kurang, musuh satu
> terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah dicari
> ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri
> saya..”. Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah
> dengan memusuhi mertua!
>
> 4. Kalau marah jangan di depan anak-anak, anak kita adalah buah cinta
> kasih, bukan buah
> kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena
> itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat
> orang tuanya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah,
> bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itu ‘kan bapak saya. Ketika anak
> mendengar ayah ibunya bertengkar :
>
> * Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, dan kamu datang
> main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
> * Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku
> harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang
> saya ini kuda ????!!!!
> * Anak : “…… Yaaa … ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”
>
> Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang,
> lihat mata mereka, dalam binarannya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya
> ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata bahasa
> hati kita ???
>
> 5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu shalat, Pada setiap tahiyyat
> kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa’ibaadilahissholiihiin” Ya Allah
> damai atas kami, demikian juga atas hamba-hambamu yg sholeh….
>
> Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri
> kita dengan amarah, maka kita telah mendustai Nya, padahal nyawamu ditangan
> Nya.
>
> OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho
> itu janji dengan Ilahi …. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu
> dzuhur, Atau maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas….??? Nnngg .. Ah
> kayaknya kita sepakat kalau
> habis isya sebaiknya memang tidak bertengkar … :-) .
>
> 6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan, tapi yang
> jelas memang begitu, selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar
> untuk mencintai lebih intens”. Ternyata ada yang masih setia dengan kita
> walau telah kita maki-maki.
>
> Ini saja, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita
> menyatakan diri untuk bersedia dibatasi”.
>
> *Selamat tinggal kebebasan tak terbatas yang dipongahkan manusia pintar
> tapi bodoh*
>
>
>
>
>
> Best Regards,
>
>
>
>
>
> Oktaf  Triwidaya A.
>
> PT. Danareksa Sekuritas
>
> Tlp: 021- 7396988 ext 8177
>
> fax: 021- 7396966
>
> Hp:  +62.856 97 447 327
>
>        +62.818870158
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Disclaimer/Perhatian :
>
> Seluruh Informasi, keterangan dan dokumen yang disampaikan melalui media
> elektronik (“e-mail”) PT Danareksa (Persero) dan/atau anak perusahaannya
> (“Dokumen Elektronik”) hanya merupakan informasi dan/atau keterangan yang
> tidak dapat diartikan sebagai suatu saran/advise bisnis tertentu karenanya
> Dokumen Elektronik tersebut tidak bersifat mengikat.
> Segala hal yang berkaitan dengan diterimanya dan/atau dipergunakannya
> Dokumen Elektronik tersebut sebagai pengambilan keputusan bisnis dan/atau
> Investasi merupakan tanggungjawab pribadi atas segala risiko yang mungkin
> timbul. Sehubungan dengan risiko dan tanggungjawab pribadi atas Dokumen
> Elektronik, pengguna dengan ini menyetujui untuk melepaskan segala tanggung
> jawab dan risiko hukum PT Danareksa (Persero) dan/atau anak perusahaannya
>  atas diterimanya dan/atau dipergunakannya Dokumen Elektronik.
>
>
>
>
> ****************
> CONFIDENTIALITY: The information contained in or attached to this electronic 
> transmission
> is confidential and may be legally privileged. It is intended for the named 
> recipient(s) only.
> If you are not the named recipient, you are hereby notified that any 
> distribution, copying,
> review, retransmission, dissemination or other use of this electronic 
> transmission or
> the information contained in it is strictly prohibited.
> The information expressed herein may contain the private views and opinions 
> of the sender
> that does not constitute the formal views and opinions of PT. Danareksa 
> (Persero) and its
> subsidiaries, and should not in any ways be construed as the views, offers, 
> or acceptances
> of these entities, unless specifically stated. PT. Danareksa (Persero) and 
> its subsidiaries
> does not take any responsibilities nor accepts any claims of liabilities 
> and/or damages
> for statements which are clearly the sender's own and not made on behalf of 
> the entities
> concerned.
>
>  --
> you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
> to post emails, just send to :
> [email protected]
> to join this group, send blank email to :
> [email protected]
> to quit from this group, just send email to :
> [email protected]
> if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
> or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
> thanks for joinning this group.
>



-- 
ketika hidup penuh dgn makna
Regards,


Eka Prasetia (Phecor)

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Subscription settings: http://groups.google.com/group/aga-madjid/subscribe?hl=en

Kirim email ke