Haruskah Langsung Punya Momongan?
Rabu, 28/4/2010 | 08:31 WIB
KOMPAS.com - Apakah Anda termasuk dalam kategori perempuan yang ingin
cepat menikah? Bertemu dengan calon suami dan dalam kurun waktu 6 bulan
memutuskan untuk menikah? Jangan takut untuk melangkah, bila itu memang
sudah menjadi kesepakatan Anda. Namun ada hal-hal yang harus Anda dan
pasangan sepakati sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.
Berikut adalah beberapa hal yang harus disepakati bersama sebelum
menikah, menurut Ir Bambang Syumanjaya, MM MBA, Enter-Trainer, Family,
and Business Consultant.
1. Waktu untuk lebih mengenal dan menerima pasangan
Setelah menikah tak usah memaksakan diri untuk langsung memiliki anak.
Bila Anda langsung dikaruniai anugerah ini, syukurilah. Begitu pula jika
Anda berdua memang sudah sepakat untuk langsung mempunyai anak. Bila
tidak, luangkan waktu yang ada untuk saling mengenal dan mendalami sifat
dan karakter pasangan.
Setelah menikah, sifat asli pasangan akan terlihat. Anda akan terkejut
betapa si dia ternyata memiliki sisi-sisi yang tak Anda kenal
sebelumnya. Bahkan caranya mengawali hari, misalnya bagaimana ia begitu
susah dibangunkan atau enggan sarapan, bisa membuat pengantin baru
terkaget-kaget. Perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan
pasangan. Jadi, nikmati saja dulu tahapan ini.
2. Tidak ada privasi total atau rahasia
Memang setiap orang punya hal-hal yang tidak di-share dengan pasangan.
Tetapi hal ini bukan berarti Anda atau pasangan Anda boleh merahasiakan
segala hal dari pasangan. Apalagi jika hal itu menyangkut rumah tangga.
Contohnya, Anda tidak menceritakan bahwa Anda sering berhutang untuk
menutup kebutuhan rumah tangga. Atau, suami ingin punya suatu ruangan di
rumah yang Anda dan anggota keluarga lainnya tidak diperbolehkan untuk
masuk.
''Setiap orang ingin punya waktu untuk sendiri, termasuk juga diri Anda.
Tetapi kalau dalam rumah sendiri Anda punya ruangan yang tidak boleh
dimasuki orang lain, hal ini menjadi amat ganjil,'' ujar Bambang.
3. Menghindari "medan perang"
Pernikahan adalah proses belajar dan pembentukan karakter kedua
pasangan. Dalam proses tersebut pasti ada gesekan, konflik, dan percikan
masalah.
Ketika berumah tangga, masalah yang sebelumnya tidak ada bisa muncul.
Contohnya, saat pacaran Anda dan pasangan punya waktu tetap untuk
bersantai keluar kota atau sekadar menonton dan makan malam. Namun
setelah menikah, kebutuhan ini bukan lagi prioritas. Jika Anda
memaksakan maka Anda akan menyulut medan perang alias pertengkaran.
Hal-hal kecil seperti ini menurut Bambang seringkali jadi sebab
kehancuran pernikahan. Di satu sisi perempuan merasa terabaikan dan
kurang diperhatikan, sementara suami merasa kalau hal-hal seperti itu
tidak lagi harus dilakukan.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.