Bagaimana Mengunyah Perkataan yang “Tidak Enak”?
http://codenamezero.wordpress.com/2010/04/29/bagaimana-mengunyah-perkataan-yang-tidak-enak/
Hal yang juga paling menantang dalam kehidupan seseorang adalah ketika
ia harus berhadapan dengan perkataan yang “Tidak Enak”, yakni yang
menyakitkan hati, memilukan, dan menyebalkan.
Secara definisi, perkataan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang
mengindikasikan (menyatakan) suatu isyarat, baik melalui suara, tulisan,
simbol, sandi (kode), dll. Dengan kata lain, perkataan merupakan segala
bentuk komunikasi, baik yang formal (umum) ataupun non-formal (tidak umum).
Perkataan menganut aturan-aturan yang jelas melalui unsur-unsur tata
bahasa. Dan klarifikasi (pembagian) bahasa tersebut terbagi dalam dua
jenis, yakni bahasa yang baik dan bahasa yang buruk. Dari sinilah nilai
suatu perkataan ditentukan. Dan pengertian “Bahasa” di sini bukan hanya
bahasa manusia, tapi segala macam bahasa.
Selain itu, perkataan tidak hanya dikenal dalam kehidupan manusia, dunia
hewan juga mengenal perkataan. Dan antara manusia dan hewan juga ada
transmisi (komunikasi) perkataan. Lihatlah ketika seekor harimau
melompati sebuah “lingkaran api” dalam sebuah atraksi sirkus setelah
pelatihnya memberikan perkataan (yakni, aba-aba) kepadanya. Kemudian,
selain itu, dunia komputer pun juga mengenal perkataan. Istilah
perkataan dalam dunia komputer lebih dikenal dengan istilah programming
(pemrograman). Dan alur-alur bahasa pemrograman (baca: perkataan) dalam
dunia komputer sering disebut dengan script atau code. Misal, jika Anda
mengetikkan script (tulisan) www.codenamezero.wordpress.com pada address
bar browser Anda (misal Internet Explorer, Opera, FireFox, dll). Script
tersebut mengindikasikan (menandakan) bahwa Anda sedang berkata kepada
komputer Anda untuk mengunjungi halaman website yang sedang Anda lihat
ini. Atau dengan cara lain, misalnya meng-klik linknya, maka Anda telah
berkata kepada komputer Anda dengan maksud yang sama.
Jadi definisi “perkataan” sebenarnya sangat luas. Bahkan bunyi dering
handphone Anda ketika ada panggilan atau SMS masuk, menandakan bahwa
sebenarnya handphone Anda tersebut sedang berkata-kata kepada Anda yang
artinya, “Aku ingin bicara empat mata denganmu, sekarang!” Atau tentang
simbol-simbol alam di sekitar Anda, misal saat angin sepoi-sepoi
berhembus menerpa tubuh Anda, bisa saja itu ditafsirkan sebagai suatu
perkataan yang artinya, “oh, sayang.” atau bisa jadi, “oh, kasihan.”
Atau juga tentang kicauan burung yang merupakan perkataan (baca:
bait-bait puisi) yang seringkali tidak dimengerti oleh kebanyakan orang.
Bagaimana dengan “angin topan” atau “kobaran api” yang memusnahkan
pemukiman penduduk, apakah itu juga perkataan? Itu adalah perkataan
yang sangat mengerikan yang mungkin saja artinya, “Aku muak dengan
keberadaan kalian di sini!” Sebab itu, berhati-hatilah dengan angin,
dan jangan suka bermain api!
Sehingga, definisi “perkataan” yang sebenarnya adalah segala bentuk
komunikasi, baik bisa dipahami ataupun tidak. Dan pemahaman ini menuntut
suatu pengetahuan (metodologi) tersendiri. Misal, Anda tidak akan bisa
memahami perkataan orang jepang kalau Anda tidak punya pengetahuan
(baca: ilmu) tentang bahasa Jepang. Anda tidak akan bisa memahami
perkataan orang bisu kalau Anda tidak punya pengetahuan tentang arti
(baca: maksud) simbol-simbol gerakan-gerakan anggota badan (dalam aturan
tata bahasa orang bisu). Anda juga tidak akan bisa memahami perkataan
alam, kalau Anda tidak punya pengetahuan tentang ilmu Geofisika. Dan
bahkan, Anda tidak akan bisa memahami perkataan al-Qur’an jika Anda
tidak mempelajarinya (baik dengan cara mendengar ceramah, atau membaca
kitab terjemahan) dan memikirkannya (merenunginya) maknanya. Karena
sebenarnya Allah juga memberikan perkataan (baca: berfirman) kepada
manusia, tapi kebanyakan manusia tidak tahu (yakni, karena tidak belajar
atau karena tidak mau tahu).
Dan Kami tidak mengutus kamu (Muhammad), melainkan kepada seluruh umat
manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan,
tetapi kebanyakan manusia tiada tahu. (QS. Saba’: 28)
Padahal, Allah telah mempermudah perkataan (bahasa) al-Qur’an agar
manusia bisa mengambil pelajaran darinya.
Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka
adakah orang yang mengambil pelajaran? (QS. al-Qamar: 17)
Tapi kebanyakan manusia mengabaikannya (tidak memikirkan, mempelajari
atau merenungkannya).
Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi
tanpa alasan yang benar dari ayat (tanda-tanda) kekuasaan-Ku. Jika
mereka melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan
jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau
menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus
menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan
ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai (cuek) terhadapnya. (QS.
Al-Maidah: 146)
Dan manusia memang lebih suka berpaling dari kebenaran.
Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al
Qur'an ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak
menyukai kecuali mengingkari(nya). (QS. Al-Isra’: 89)
Okay,
Itulah selayang pandang tentang definisi perkataan yang sesungguhnya.
Namun, artikel ini hanya akan mengulas satu macam perkataan manusia yang
sangat umum dan paling merusak perasaan (hati). Yakni tentang perkataan
manusia yang tidak enak, yang memiliki berbagai macam bentuk (misal:
cacian, penghinaan, ejekan, sindiran bermakna negatif, dll). Karena pada
dasarnya, setiap orang bisa menikmati “perkataan yang tidak enak”. kalau
saja ia tahu resep-nya.
Hal-hal yang perlu diketahui tentang perkataan yang tidak enak
Perkataan yang tidak enak, khususnya yang berbentuk cacian, sangatlah
marak dalam dunia percakapan manusia. Misalnya, dalam percakapan
langsung (face to face), dalam forum (rapat/perundingan), blog (melalui
comments), media massa, mailing-list, dll. Dan tekniknya pun sangat
beragam, mulai dari kata-kata kotor, akronim (singkatan kata), simbol,
sindiran, karikatur, ataupun dalam bentuk-bentuk lain yang berpotensi
membuat perasaan sakit.
Menghadapi perkataan yang tidak enak ketika dalam keadaan bersalah
Bagi mereka yang memang “nyata-nyata” berbuat salah kemudian memperoleh
perkataan yang tidak enak (misal: cacian atau ejekan) maka, hendaknya ia
menjadikan cacian tersebut sebagai obat untuk menumbuhkan kesadaran
dalam hatinya, dan sebagai jalan untuk memperbaiki kesalahannya. Cacian
tersebut mungkin sangat pantas untuknya, sepanjang cacian tersebut tidak
berlebihan. Harga diri Anda bisa lebih tinggi daripada orang yang
mencaci Anda jika Anda bisa memperbaiki perilaku Anda melebihi perilaku
orang yang mencaci Anda. Anda tidak boleh tersinggung jika posisi Anda
dalam keadaan seperti ini (yakni, dicaci karena bersalah). Anda harus
bersikap dewasa dalam menanggapi cacian. Betapa banyak orang yang dicaci
tapi akhirnya malah menjadi orang yang lebih baik dari yang mencaci,
karena ia bisa bersikap bijak dalam menanggapi cacian terhadap dirinya
yang memang nyata-nyata benar adanya.
Nabi saw. pun juga mencaci orang-orang yang memang pantas diberi cacian.
Misalnya, dalam hadits disebutkan tentang perumpamaan orang yang menarik
kembali pemberiannya, beliau saw. menjulukinya seperti anjing yang
menjilat kembali muntahnya.
Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:
Bahwa Nabi saw. bersabda: Perumpamaan orang yang menarik kembali
sedekahnya seperti anjing yang muntah kemudian ia kembali kepada
muntahnya lalu memakannya. (Shahih Muslim No.3048)
Bahkan, Allah sendiri juga memberikan cacian terhadap hamba-Nya yang
memang pantas menerimanya. Misal, Allah mencaci syaitan dengan sebutan
“penipu”.
.Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali
kehidupan dunia menipu kamu, dan jangan kamu tertipu oleh si penipu
(syaitan) dalam (menaati) Allah. (QS. Luqman: 33)
Atau tentang cacian Allah kepada orang-orang munafik (yakni, orang yang
berpura-pura beriman). Allah mencaci mereka dengan sebutan “pendusta”.
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu (Muhammad), mereka berkata:
"Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah". Dan
Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar
Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik
itu benar-benar orang pendusta. (QS. Al-Munafiqun: 1)
Dan juga tentang orang-orang yang mengingkari Allah dan Rasul-Nya. Allah
menyebut (baca: mencaci) mereka dengan sebutan “sesat”.
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta
kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada
Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari
kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. (QS.
An-Nisa’: 136)
Dan cacian Allah kepada orang yang tidak mau beriman kepada-Nya. Allah
menyebut mereka sebagai orang bodoh.
Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana
orang-orang lain telah beriman", mereka menjawab: "Akankah berimankah
kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah,
sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.
(QS. Al-Baqarah: 13)
Jadi, disamping mengandung “perkataan yang enak” (baca: janji & pujian
terhadap kebaikan), al-Qur’an juga mengandung “perkataan yang tidak
enak” (baca: ancaman dan celaan/cacian terhadap keburukan). Allah
mencaci “keburukan” agar manusia sadar dan bertaubat. Dan Allah memuji
“kebaikan” agar manusia senantiasa tetap taat dalam mengabdi (baca:
beribadah) kepada-Nya.
Misal dalam ayat:
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan
tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula)
kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. Dan
orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal
dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung
pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan
kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus: 26-27)
Sehingga, bagi orang yang ingin memperbaiki dirinya, maka ia harus
sering-sering memperhatikan isi kandungan al-Qur’an yang berupa
“perkataan yang tidak enak” (baca: ancaman & cacian terhadap keburukan).
Dan bagi orang yang ingin tetap teguh dalam mengikuti kebenaran, maka ia
harus sering mengingat-ingat tentang “perkataan yang enak” (baca: janji
& pujian terhadap kebaikan) yang ada dalam al-Qur’an.
Menghadapi perkataan yang tidak enak ketika dalam keadaan benar
Bagi seorang muslim yang telah bersikap dan bertindak benar, jika ia
menjumpai perkataan yang tidak enak, misal dalam bentuk cacian ataupun
hinaan dari seseorang maka, seharusnya ia menjadikan hal tersebut
sebagai snack (makanan ringan) bagi hatinya. Maksudnya adalah, hendaknya
dia menjadikan hal tersebut sebagai latihan dalam menempa kesabaran
hatinya. Mengapa demikian? Karena Nabi saw. pun telah mengalami banyak
sekali cacian dan hinaan sepanjang hidupnya. Tapi beliau saw. bersabar
karena beliau tahu bahwa cacian dan hinaan itu bukanlah suatu hal
penting dan berarti yang perlu ditanggapi secara serius. Perkataan yang
serius hanyalah dari Allah dan Rasul-Nya.
Dan ada beberapa alasan kenapa kita tak harus selalu menanggapi cacian
yang dilontarkan oleh seseorang. Yakni,
1.Harga diri manusia tidak ditentukan oleh perkataan orang, tapi
ditentukan oleh perbuatannya (ketaqwaannya) sendiri.
.Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah
orang yang paling bertakwa (yakni, paling benar perbuatannya) di antara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.
al-Hujurat: 13)
Jadi, jika Anda telah berbuat benar, lalu ada orang yang mencaci Anda
maka, hal itu tak ada pengaruhnya. Anda tetap sebagai orang yang benar,
bukan orang yang salah! Dan jika ada orang yang mencaci Anda dengan
sebutan “anjing”, sementara Anda tak punya sifat-sifat seperti anjing
(yakni jahat), maka sebenarnya orang yang mencaci itulah yang seperti
anjing. Mengapa demikian? Hal ini karena setiap cacian yang “meleset”
akan kembali kepada sumbernya (yakni, kepada orang yang mencaci itu
sendiri).
Seperti yang disebutkan dalam hadits berikut tentang konsekuensi
(akibat) sebutan “kafir” yang dilontarkan oleh seseorang, tapi meleset.
. Barang siapa yang memanggil (baca: mencaci) seseorang dengan sebutan
"kafir" atau mengatakan "musuh Allah", padahal sebenarnya tidak
demikian, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya. (Shahih Muslim No.93)
Jadi, orang yang menyebut (baca: mencaci) orang yang benar-benar beriman
dengan sebutan “kafir”, maka sebenarnya yang mencaci itulah yang kafir,
jika tuduhannya itu meleset (baca: salah). Dan dari hadits ini, dapat
kita simpulkan bahwa dalam mencaci pun ada tekniknya, yakni tidak boleh
sembarangan. Kita tidak boleh mencaci orang lain, dengan perasaan
sombong dan asal-asalan. Karena jika cacian tersebut meleset maka,
cacian itu akan kembali kepada si pencaci itu sendiri.
Namun, untuk hal-hal yang telah nyata kebenarannya (yakni dalam hal
keburukan), maka kita boleh mencacinya (tanpa berlebihan). Misal, Anda
mencaci pejabat pemerintah yang korupsi dengan sebutan “Tikus”. Hal ini
diperbolehkan, karena memang begitulah kenyataannya. Dengan syarat Anda
adalah orang yang berbeda (yakni, sama sekali bukan koruptor)!
2.Tujuan orang mencaci hanya ingin memancing kemarahan, sementara Allah
menyukai orang yang sabar.
. Allah menyukai orang-orang yang sabar. (QS. Ali ‘Imran: 146)
Orang mencaci biasanya hanya karena ingin mencari gara-gara (yakni,
memancing kemarahan). Dan hal itu mungkin karena sifat dengki,
fanatisme, atau kurang kerjaan (iseng dan suka usil). Anda boleh saja
marah, tapi jangan diwujudkan dalam bentuk “cacian” juga, ataupun dalam
bentuk-bentuk perbuatan lainnya yang merusak. Anda harus meredam
kemarahan Anda. Anda harus sadar, bahwa yang mencaci Anda itu hanyalah
manusia yang seperti Anda juga, sama-sama punya dua tangan, sama punya
dua kaki, sama-sama punya satu mulut, sama-sama punya satu kepala, dll.
jelasnya adalah, “Anda” dan “dia” sama-sama dari tanah. Bahkan, dia
bukan Nabi dan bukan pula Rasul. Sangat tidak bijak jika Anda memberikan
perhatian yang serius terhadap caciannya, mengingat dia adalah orang
yang gak penting. Dia mungkin hanya punya keterampilan mencaci, tidak
lebih. Dan jika Anda menanggapi caciannya itu, maka sebenarnya Anda
telah membuatnya senang, karena usahanya dalam memancing kemarahan Anda
telah berhasil.
Yang perlu Anda lakukan adalah bersikap cuek (baca: masa bodoh) terhadap
caciannya itu, dia bukan siapa-siapa, itu intinya!
3.Seorang mukmin (baca: orang beriman) tak sepantasnya membalas cacian
dengan cacian (baca: mencaci).
Seorang mukmin bukanlah pengumpat (tukang gosip), suka mengutuk, berkata
keji (kotor) atau berkata busuk (berbohong, mencaci, dll). (HR. Bukhari
dan Al Hakim)
Kita hanya dianjurkan untuk membalas kebaikan dengan kebaikan, dan tidak
dianjurkan membalas keburukan dengan keburukan. Takdir itu selalu adil,
barangsiapa yang berbuat baik, maka kebaikan itu untuk dirinya sendiri.
Dan barang siapa berbuat keburukan, maka keburukan itu untuk dirinya
sendiri.
Barang siapa yang mengerjakan amal kebaikan maka itu adalah untuk
dirinya sendiri, dan barang siapa mengerjakan kejahatan, maka itu akan
menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhan-mu lah kamu
dikembalikan. (QS. Al-Jatsiyah: 15)
Teknik menghadapi perkataan yang tidak enak
Nabi saw. juga telah mengembangkan teknik kesabaran yang paling
menakjubkan sepanjang sejarah, dalam hal menanggapi perkataan yang tidak
enak. Hal tersebut beliau lakukan demi Efisiensi Perasaan agar sumber
daya perasaannya tidak terkuras pada hal-hal yang tidak penting.
Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:
Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Bukanlah orang kuat itu karena menang
berkelahi (berdebat, bertengkar), tetapi orang yang kuat ialah orang
yang dapat menguasai dirinya ketika marah (misal, tidak menghiraukan
cacian yang tidak penting). (Shahih Muslim No.4723)
Dan ingatlah juga, bahwa harga diri (baca: kemuliaan) seseorang itu
ditentukan oleh akhlaknya. Jika Anda membalas cacian seseorang dengan
cacian juga, maka ketahuilah, bahwa Anda dan orang yang mencaci Anda itu
adalah sama, yakni sama-sama suka mencaci. Jelasnya adalah, sama-sama
buruknya. Lebih jelasnya lagi adalah, tak ada perbedaan antara Anda
dengan orang yang mencaci Anda itu, karena sama-sama rendahnya. Dan itu
sudah sangat jelas.
Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah
akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya (misal,
berbuat santun dan menanggapi cacian dengan cara yang bijak). (HR. Ahmad
dan Al Hakim)
Sebab itulah, ketika ada orang yang meminta nasihat kepada Nabi saw.
maka, Nabi saw. memberikan nasihat kepada orang itu agar tidak menjadi
orang yang suka marah.
Seorang sahabat berkata kepada Nabi Saw, "Ya Rasulullah, berikanlah aku
wasiat." Nabi Saw berpesan, "Jangan suka marah (emosi)." Sahabat itu
bertanya berulang-ulang dan Nabi Saw tetap berulang kali berpesan,
"Jangan suka marah." (HR. Bukhari)
Dan orang yang tidak melayani (baca: membalas) cacian sebenarnya adalah
orang yang beruntung karena ia telah terbebas dari perbuatan yang tidak
berguna.
Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang
khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari
(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. (QS. al-Mukminun: 1-3)
Cara efektif dalam menghadapi cacian
1.Berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk (membaca
ta’awuz: A’udzubillahi minasyaithanirrajim).
Hadis riwayat Sulaiman bin Shurad ra., ia berkata:
Dua orang pemuda saling mencaci di hadapan Rasulullah saw. lalu mulailah
mata salah seorang dari mereka memerah dan urat lehernya membesar.
Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang
apabila diucapkan, maka akan hilanglah kemarahan yang didapati yaitu
“A’udzubillahi minasyaithanirrajim (Aku berlindung kepada Allah dari
godaan setan yang terkutuk)”. Lelaki itu berkata: Apakah engkau
menyangka aku orang gila?. (Shahih Muslim No.4725)
2.Biarkan saja cacian orang itu, karena orang itu pasti akan celaka
(baca: mengalami nasib buruk) dengan sendirinya (jika ia tak bertaubat).
Apabila ada orang yang mencaci-maki kamu tentang apa yang dia ketahui
pada dirimu, janganlah kamu mencaci-maki dia tentang apa yang kamu
ketahui pada dirinya karena pahalanya untuk kamu dan kecelakaan (baca:
takdir buruk) untuk dia (yang mencaci). (HR. Ad-Dailami)
3.Berdoa dalam hati dengan mengatakan, “Yaa Allah, aku serahkan orang
ini kepada-Mu.”
Berikut adalah salah satu contoh panutan dari Nabi saw. dalam menghadapi
ejekan seseorang.
Hadis riwayat Ibnu Mas`ud ra., ia berkata:
Ketika Rasulullah saw. sedang salat di dekat Ka'bah dan Abu Jahal
beserta kawan-kawannya sedang duduk padahal sehari sebelumnya unta
kurban telah disembelih. Berkatalah Abu Jahal, "Siapakah di antara kamu
sekalian yang mau beranjak ke kotoran unta Bani fulan itu lalu
mengambilnya dan meletakkannya di atas kedua pundak Muhammad sewaktu ia
sujud?" Maka bangkitlah seorang yang paling jahat di antara mereka dan
segera mengambil kotoran itu. Di saat Nabi saw. bersujud, ia meletakkan
kotoran itu di atas kedua pundak beliau. Lalu mereka pun tertawa
terpingkal-pingkal sambil satu sama lain saling melirik sedangkan aku
berdiri menyaksikan kejadian itu. Seandainya aku mempunyai kekuatan,
niscaya akan aku buang kotoran itu dari punggung Rasulullah saw.
Rasulullah saw. tetap saja masih bersujud, tidak mengangkat kepalanya
hingga seorang lelaki pergi mengabarkan kepada Fatimah. Kemudian
datanglah Fatimah, yang saat itu masih gadis kecil, membuang kotoran
dari tubuh beliau lalu menghampiri ke arah mereka sambil mencaci-maki.
Setelah Nabi saw. selesai salat, beliau mengangkat suara kemudian berdoa
memohon bencana atas mereka. Rasulullah saw. jika berdoa, berdoa tiga
kali dan jika memohon, juga memohon tiga kali. Kemudian beliau bersabda,
"Ya Allah, aku serahkan kepadamu orang-orang kafir Quraisy tersebut."
Doa ini beliau baca tiga kali. Ketika mendengar suara Nabi saw. itu,
terhentilah tawa mereka. Mereka benar-benar merasa takut akan doa beliau
tersebut. Kemudian Nabi saw. berdoa lagi, "Ya Allah, aku serahkan
kepadamu Abu Jahal bin Hisyam, Utbah bin Rabi`ah, Syaibah bin Rabi`ah,
Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Abu Mu`aith (yang ketujuh
aku tidak ingat namanya)." Demi Tuhan Yang mengutus Muhammad saw. dengan
membawa kebenaran. Sungguh aku melihat orang-orang yang beliau sebutkan
itu semua terbunuh dalam perang Badar. Kemudian jasad mereka diseret ke
dalam sumur tua, yaitu sumur tua yang ada di Badar. (Shahih Muslim No.3349)
Kesimpulan
Kita boleh menanggapi perkataan tidak enak yang dilontarkan oleh
seseorang, tapi bukan dengan cara yang buruk dan ceroboh., melainkan
dengan cara yang bijak (baca: sopan).
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (sopan). Sesungguhnya
Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. An-Nahl: 125)
Sehingga, jika ada orang yang mengejek atau menghina Anda dengan sebutan,
“Dasar, anjing!”
Maka, jawablah hinaan tersebut dengan cara bijak,
“Apakah dasar Anda memanggil saya anjing, padahal kaki saya cuman 2 dan
saya juga tidak berekor?!”
.
Selain itu,
Kita juga bisa menanggapi suatu keburukan dengan cara yang dianjurkan
oleh Nabi saw., yakni diam jika kita tidak bisa berkata yang baik.
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berbicara yang
baik-baik atau diam (saja). (HR. Bukhari)
Anda boleh marah, tapi sebaiknya diredam (baca: dipendam).
Bila seorang dari kamu sedang marah hendaklah diam (diredam, jangan
diteruskan). (HR. Ahmad)
Kita juga bisa bersikap cuek (baca: mengabaikan) terhadap suatu
“perkataan yang tidak enak” dengan cara mengalihkan pikiran dan perasaan
kita kepada hal-hal yang lebih bermutu (yakni, yang lebih bermanfaat dan
menghibur perasaan). Dengan kata lain, kita harus mengalihkan
konsentrasi kita kepada hal-hal lain yang bisa meredam atau membuat kita
lupa akan kemarahan kita. Misal saja, dengan cara membaca buku fiksi
(dongeng, cerita anak), buku-buku sastra, berita teknologi, dll. Atau
aktivitas-aktivitas lainnya yang menenangkan pikiran kita, seperti makan
kue, bercanda dan ngobrol dengan adik/teman. Itulah yang kadang saya
lakukan kalau saya lagi kesal terhadap suatu hal, yakni makan kue, baca
buku cerita atau ngobrol dan bercanda dengan adik saya. Sehingga kalau
marah, saya bisa makan banyak kue. Kita boleh makan kue, tapi tidak
boleh makan hati!
Namun, ada cara yang lebih maju dalam hal “teknik menenangkan pikiran”,
yakni berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya. Karena sesungguhnya di
dalam dzikir terkandung “rahasia” yang sangat banyak dalam hal
menenangkan pikiran. Rahasia tersebut tak bisa diungkapkan dengan
kata-kata. Dengan kata lain, hanya orang-orang yang hobi berdzikir yang
tahu rahasianya. Dzikir sangat berpengaruh dalam menenangkan hati (baca:
perasaan). Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an.
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
berdzikir (mengingat) kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)
Dzikir adalah membaca puji-pujian kepada Allah sesuai yang disyariatkan
(dianjurkan) oleh Nabi saw..
Itulah sebabnya, sebelum makan kue, saya berdzikir dengan cara membaca
basmalah (yakni, Bismillahirrahmaanirrahim: Dengan Nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang). Begitu juga sebelum membaca suatu buku,
saya pun berdzikir dengan cara membaca basmalah. Jadi, sebenarnya yang
meredam kemarahan perasaan saya itu bukannya “Kue” yang saya makan
ataupun “buku” yang saya baca itu, melainkan dzikir yang saya lakukan
ketika saya mengawali perbuatan saya itu (yakni, ketika hendak makan kue
atau membaca buku).
Akhirnya
Itulah penjabaran yang cukup panjang tentang bagaimana menghadapi
“perkataan yang tidak enak”. Mengapa saya menjabarkannya begitu panjang
dan terperinci? Yakni, agar wawasan Anda tidak sesempit wawasan
orang-orang yang suka melontarkan “perkataan yang tidak enak”, yang
bisanya cuman menyakiti perasaan orang, tidak lebih. Dan bagi Anda yang
hobi menyakiti perasaan orang, hendaknya membuang jauh-jauh kebiasaan
seperti itu serta bertaubat. sebelum terlambat. karena waktu berjalan
sangat cepat dan tak bisa dihambat. Sementara takdir (baca: aturan
hidup) tidak pernah pilih kasih. Semua konsekuensi (akibat) perbuatan
seseorang akan diperhitungkan dengan sangat teliti. Dan konsekuensi
tersebut akan menimpa dalam dua kemungkinan, yakni dalam kehidupan dunia
atau di kehidupan yang akan datang (akhirat). Allah adalah Dzat Yang
Maha Memperhitungkan. Dengan kata lain, Allah membuat perhitungan
terhadap segala perbuatan manusia dengan teramat sangat teliti!
Kendalikan perasaan Anda, dan perhatikan semua tindakan Anda. Anda tak
perlu menguasai dunia jika Anda bisa menguasai perasaan Anda. Dan Anda
tak perlu khawatir menjadi orang yang "hina" jika sudah mampu bertindak
(berakhlak) baik.
[end]
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.