السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 
semoga bermanfaat
wass....zainal
IKHLAS DALAM SEBUAH AMALAN
 
Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Adil dan Maha Bijaksana telah 
menetapkan bahwa di antara hamba-hamba-Nya akan ada yang mengalami hidup 
bahagia dan akan ada yang mengalami hidup sengsara. Namun Allah subhanahu 
wata’ala adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, melalui lisan 
Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam, Dia subhanahu wata’ala juga telah 
menunjukkan kepada umat manusia ini mana jalan yang akan mengantarkan 
kepada hidup bahagia dan mana jalan yang akan menjerumuskan kepada jurang 
kesengsaraan.
Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui dan 
mempelajari serta kemudian mematuhi dan mengamalkan rambu-rambu yang telah 
terpasang di jalan yang menuju kepada hidup bahagia tersebut. Allah 
subhanahu wata’ala sebagai pemilik kehidupan ini telah menegaskan dalam Al 
Qur’an (artinya):
“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan 
dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya 
kehidupan yang bahagia.” (An Nahl: 97)
Allah subhanahu wata’ala mensyaratkan kepada seorang mukmin yang 
menginginkan hidup bahagia, agar mereka beramal shalih. Allah subhanahu 
wata’ala berjanji, barangsiapa yang beramal shalih niscaya akan dimasukkan 
ke dalam Jannah-Nya. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
“Barangsiapa yang beramal shalih baik laki-laki maupun perempuan dan dia 
beriman, maka mereka akan masuk ke dalam Al Jannah dan mereka tidak akan 
dianiaya sedikitpun.” (An Nisa’: 124)
Apakah Amal Shalih itu?
Tidaklah semua amal baik yang dilakukan oleh seseorang bisa dikatakan 
sebagai amalan shalih yang diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala. 
Seperti yang telah dikhabarkan oleh nabi shalallahu ‘alaihi wasallam dalam 
sabdanya:
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوْعُ, وَرُبَّ قَائِمٍ 
لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهْرُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, tidaklah dia mendapatkan pahala 
kecuali sekedar rasa lapar, dan betapa banyak orang yang menegakkan shalat 
malam, tidaklah dia mendapatkan pahala kecuali sekedar bergadang saja.” 
(HR. Ibnu Majah, An Nasa’i)
Lihatlah wahai pembaca yang mulia, ternyata amalan puasa dan shalat malam 
yang dilakukan, tidak memberikan manfaat bagi dirinya, Allah subhanahu 
wata’ala tidak menerima amalan tersebut, tidak memberi pahala kepadanya, 
dan yang ia peroleh hanya sebatas rasa lapar dan payah belaka.
Karena Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wasallam 
telah menetapkan dalam syari’at Islam ini, bahwa suatu amalan disebut amal 
shalih yang diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala jika terpenuhi 
padanya dua syarat:
Syarat Pertama adalah Ikhlas, yakni amalan yang dilakukan itu semata-mata 
hanya untuk mengharapkan ridha Allah subhanahu wata’ala, bukan karena 
terpaksa atau karena mengharapkan pujian orang lain, ataupun dalam rangka 
untuk mencari jabatan, kekayaan, popularitas dan semisalnya dari 
perkara-perkara duniawi.
Syarat Kedua haruslah amalan itu sesuai dengan tuntunan/ajaran Rasulullah 
shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunan (ajaran)nya 
dari kami, maka amalan itu akan tertolak (di sisi Allah subhanahu 
wata’ala).” (HR. Muslim)
Bagaimana bisa seperti itu? Kita ambil contoh amalan shalat. Rasulullah 
shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada umatnya bahwa shalat 
Maghrib itu tiga raka’at. Maka barangsiapa yang mengerjakan shalat Maghrib 
empat raka’at, tentu shalatnya tidak sah dan secara otomatis akan tertolak 
di sisi Allah subhanahu wata’ala.
Kedua syarat itulah pada hakekatnya merupakan realisasi dari Asy 
Syahadatain (dua kalimat Syahadat: Laa Ilaaha Illallah – 
Muhammadurrasulullah). Ketika seseorang telah mengikrarkan bahwa Allah 
subhanahu wata’ala lah satu-satunya Dzat yang berhak untuk diibadahi, maka 
sudah seharusnya bagi dia untuk mempersembahkan seluruh ibadahnya ikhlas 
karena Allah subhanahu wata’ala. Dan ketika dia telah menyatakan bahwa 
Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Rasulullah, maka hendaknya dia 
siap, tunduk, dan patuh untuk menjalankan ibadah kepada Allah subhanahu 
wata’ala sesuai dengan tuntunan/ajaran Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi 
wasallam.
Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Barang siapa mengharap 
perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaknya dia mengerjakan amal shalih dan 
janganlah dia mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya.” 
(Al Kahfi: 110) 
Al Imam Ibnu Katsir mengatakan: Ini adalah dua rukun amalan agar diterima 
(di sisi Allah subhanahu wata’ala), yaitu Ikhlas karena Allah subhanahu 
wata’ala dan sesuai dengan tuntunan/ajaran Rasulullah shalallahu ‘alaihi 
wasallam.
Jika hilang salah satu dari kedua syarat tersebut, maka amalan seseorang 
akan tertolak dan tidak ada nilainya di sisi Allah subhanahu wata’ala. 
Maka barangsiapa yang beramal dengan niatan ikhlas karena Allah subhanahu 
wata’ala, namun tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shalallahu 
‘alaihi wasallam, maka amalannya tertolak, dan sebaliknya barangsiapa yang 
beramal dengan amalan yang sesuai dengan tuntunan/ajaran Rasulullah 
shalallahu ‘alaihi wasallam, namun tidak ikhlas karena Allah subhanahu 
wata’ala, maka amalannya pun juga tertolak.
Peranan Niat dalam Amalan dan Kewajiban Ikhlas di dalamnya
Setiap amalan itu tergantung pada niatnya sebagaimana sabda nabi 
shalallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung 
pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan balasan (dari amalannya) 
sesuai dengan niatannya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang beramal dengan niatan ikhlas untuk mendapatkan ridha dan 
pahala dari Allah subhanahu wata’ala, dia akan mendapatkannya Insya Allah. 
Dan barangsiapa yang beramal namun dengan niatan untuk mendapatkan perkara 
yang sifatnya materi (duniawi) dan tidak ikhlas karena Allah subhanahu 
wata’ala, maka amalan itu tidak ada nilainya di sisi Allah subhanahu 
wata’ala. Boleh jadi dia akan mendapatkan apa yang diinginkan tersebut, 
tapi Allah subhanahu wata’ala tidak akan memberikan keridhaan-Nya 
kepadanya, bahkan Allah subhanahu wata’ala mengancam orang yang seperti 
ini dengan firman-Nya (artinya):
“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya 
Kami berikan kepada mereka balasan usaha mereka di dunia dengan sempurna 
dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang 
tidak memperoleh di akhirat kecuali An Nar (neraka) dan lenyaplah di 
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa 
yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)
Betapa pentingnya permasalahan ikhlas ini, sampai-sampai Al Imam An Nawawi 
menjadikan wajibnya ikhlas sebagai bab pertama dalam kitab beliau yang 
barakah Riyadhush Shalihin.
Adapun dalil yang menunjukkan wajibnya ikhlas dalam semua amalan ibadah 
kepada Allah subhanahu wata’ala adalah firman-Nya (artinya): “Dan tidaklah 
mereka diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan 
mengikhlaskan ibadah kepada-Nya.” (Al Bayyinah: 5)
Seseorang yang beramal bukan dalam rangka mengharap ridha Allah subhanahu 
wata’ala, berarti dia telah menjadikan sekutu dan tandingan bagi Allah 
subhanahu wata’ala dalam ibadah. Inilah kesyirikan yang dilarang dalam 
agama ini. Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِيْ غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
“Barang siapa yang beramal dengan mempersekutukan Aku dengan selain-Ku, 
maka Aku tinggalkan (tidak mempedulikan) pelakunya dan perbuatannya.” (HR. 
Muslim)
Orang yang berbuat syirik kepada Allah subhanahu wata’ala, maka amalannya 
akan terhapus dan tertolak di sisi Allah subhanahu wata’ala. Allah 
subhanahu wata’ala berfirman (artinya): “Jika engkau berbuat syirik, maka 
sungguh amalan-amalanmu akan terhapus dan engkau termasuk orang-orang yang 
merugi.” (Az Zumar: 65) 
Tipu Daya Iblis
Tentunya kita tidak lupa akan perbuatan Iblis yang membangkang ketika 
Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kepadanya untuk sujud kepada Nabi 
Adam ?. Allah subhanahu wata’ala mengusir Iblis dari Al Jannah, maka Iblis 
menyatakan sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala kisahkan dalam Al 
Qur’an (artinya):
“Iblis berkata: “Wahai Rabbku, oleh sebab Engkau telah menyesatkanku, 
pasti aku akan menjadikan mereka (anak cucu Adam) memandang baik 
(perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka 
semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka.” (Al 
Hijr: 39-40)
Iblis bertekad untuk menyesatkan umat manusia ini seluruhnya, kemudian 
Iblis mengecualikan orang-orang yang ikhlas, karena Iblis tidak akan mampu 
untuk menyesatkan mereka.
Ini menunjukkan bahwa misi utama Iblis adalah menyesatkan umat manusia 
dari jalan Allah subhanahu wata’ala dengan memalingkan mereka dari 
keikhlasan kepada-Nya ?.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَحْضُرُ أَحَدَكُمْ عِنْدَ كُلِّ شَيْءٍ مِنْ شَأْنِهِ
“Sesungguhnya setan akan selalu hadir menggoda salah seorang diantara 
kalian pada setiap keadaannya.” (HR. Muslim)
Hendaknya kita semua berhati-hati dari makar setan ini, karena setan 
senantiasa akan menggoda, menyesatkan, dan memalingkan kita dari 
keikhlasan kepada Allah subhanahu wata’ala. Senantiasa kita koreksi 
niat-niat kita dalam beramal. Semoga Allah subhanahu wata’ala menjadikan 
kita termasuk di antara hamba-hamba-Nya yang Mukhlishin.
Akibat tidak Ikhlas
Berikut ini akan kami sampaikan sebuah hadits nabi shalallahu ‘alaihi 
wasallam yang menceritakan keadaan orang-orang yang tidak ikhlas dalam 
amalannya, Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya):
“Sesungguhnya manusia yang pertama dihisab pada hari kiamat nanti adalah 
seseorang yang mati syahid, dimana dia dihadapkan dan diperlihatkan 
kepadanya nikmat yang telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian 
ditanya: Apakah yang kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Saya 
berjuang di jalan-Mu sehingga saya mati syahid. Allah berfirman: Kamu 
dusta, kamu berjuang (dengan niat) agar dikatakan sebagai pemberani, dan 
hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang 
tersebut yang akhirnya dia dilemparkan ke An Nar (neraka).
Kedua, seseorang yang belajar dan mengajar serta suka membaca Al Qur’an, 
dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya 
serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang kamu gunakan 
terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Saya telah belajar dan mengajarkan Al 
Qur’an untuk-Mu. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu belajar Al Qur’an 
(dengan niat)agar dikatakan sebagai orang yang alim (pintar), dan kamu 
membaca Al Qur’an agar dikatan sebagai seorang Qari’ (ahli membaca Al 
Qur’an), dan hal itu sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk 
menyeret orang itu yang akhirnya dia dilemparkan ke dalam An Nar.
Ketiga, seseorang yang dilapangkan rizkinya dan dikaruniai berbagai macam 
kekayaan, lalu dia dihadapkan dan diperlihatkan kepadanya nikmat yang 
telah diterimanya serta ia pun mengakuinya, kemudian ditanya: Apakah yang 
kamu gunakan terhadap nikmat itu? Ia menjawab: Tidak pernah aku tinggalkan 
suatu jalan yang Engkau sukai untuk berinfaq kepadanya, kecuali pasti aku 
akan berinfaq karena Engkau. Allah berfirman: Kamu dusta, kamu berbuat itu 
(dengan niat) agar dikatakan sebagai orang yang dermawan, dan hal itu 
sudah terpenuhi. Kemudian Allah memerintahkan untuk menyeret orang 
tersebut yang akhirnya dia dilemparkan ke dalam An Nar.” (HR. Muslim)
Demikianlah ketiga orang yang beramal dengan amalan mulia tetapi tidak 
didasari keikhlasan kepada Allah subhanahu wata’ala. Allah subhanahu 
wata’ala lemparkan mereka ke dalam An Nar. Semoga kita termasuk 
orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut.
nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عز وجل لاَ 
يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ 
عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ..
“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dalam rangka untuk 
mengharap wajah Allah, tetapi ternyata tidaklah dia menuntutnya kecuali 
hanya untuk meraih sebagian dari perkara dunia, maka dia tidak akan 
mendapatkan aroma Al Jannah pada hari kiamat nanti.” (HR. Ahmad, Abu 
Dawud, Ibnu Majah)
Akhir kata, semoga ulasan edisi kali ini mendorong kita untuk selalu 
mengoreksi ibadah yang telah kita lakukan baik kualitas maupun 
kuantitasnya. Semoga Allah subhanahu wata’ala mengampuni 
kekurangan-kekurangan ibadah kita yang telah lalu dan menjadikan kita 
sebagai hamba-hamba-Nya yang mukhlishin. Amin, Ya Rabbal alamin.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke