Like This!!!

Regards,
Bona 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On 
Behalf Of [email protected]
Sent: 11 Mei 2010 17:35
To: undisclosed-recipients
Subject: ~ aga ~ Fw: MERAIH RIDHA ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dgn BERDERMA
Importance: High


- 


السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها

semoga bermanfaat
wass....zainal


MERAIH RIDHA ALLAH Subhanahu wa Ta’ala dgn BERDERMA 

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Dan sesungguhnya dia (manusia) sangat berlebihan dalam kecintaannya kepada 
harta.” (QS. Al ‘Adiyat: 8) 

Itulah salah satu perangai manusia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan 
dalam Al Qur’an, dan Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala dan segala 
firman-Nya. Memang, kalau kita memperhatikan pola hidup masyarakat dewasa ini, 
ternyata kondisi mereka tidak jauh berbeda dengan apa yang Allah Subhanahu wa 
Ta’ala gambarkan dalam kitab-Nya yang suci. Harta seolah-olah sudah menjadi 
tolok ukur tinggi dan rendahnya status sosial seseorang di masyarakat. Sehingga 
tidaklah mengherankan jika kemudian harta menjadi ‘buruan’ yang senantiasa 
diintai oleh para pemburunya, apapun yang terjadi yang penting bisa mendapatkan 
‘harta buruannya’, walaupun dengan menghalalkan segala cara. Na’udzubillahi min 
dzalik. 

Kondisi seperti ini diperparah dengan munculnya sikap bakhil / kikir disebabkan 
kecintaan mereka yang sangat berlebihan terhadap hartanya. Lebih memprihatinkan 
manakala sifat yang seperti ini ada pada kaum muslimin yang beriman kepada 
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam. Padahal 
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menetapkan bahwa berinfaq merupakan salah satu 
sifat orang-orang yang bertaqwa sebagaimana firman-Nya (artinya): 

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan 
menginfaqkan sebagian rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah: 
3) 

Seorang muslim sejati pasti menginginkan dirinya meraih predikat taqwa. Sikap 
dermawan dan suka menginfaqkan harta kepada siapa saja yang membutuhkan 
merupakan cermin dari jujurnya keimanan dan taqwa yang ada pada seorang muslim. 
Dia sangat yakin akan janji-janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya 
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang yang melakukan amalan besar ini, 
walaupun hal ini bertentangan dengan tabiat asal manusia yang gila harta. 

Pada edisi kali ini, kami mengajak para pembaca sekalian untuk merenungi dan 
mengaji ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hadits-hadits Nabi Shalallahu 
‘alaihi wa Sallam yang menjelaskan keutamaan infaq dan shadaqah (sedekah) serta 
bahayanya sifat bakhil/kikir. Dengan suatu harapan agar Allah Subhanahu wa 
Ta’ala membukakan pintu hati kita untuk berhias dengan sifat derma dan 
menjaganya dari sifat bakhil/kikir. 

Do’a Malaikat untuk Si Penderma dan Si Kikir 

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيْهِ إِلاَّ مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، 
فَيَقُوْلُ أَحَدُهُمَا : اَللّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقاً خَلَفاً، وَيَقُوْلُ 
اْلآخَرُ : اَللّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكاً تَلَفاً.

“Tidaklah ada satu hari pun yang dilalui oleh setiap hamba pada pagi harinya, 
kecuali ada dua malaikat yang turun, berkata salah satu dari keduanya: Ya Allah 
berilah orang yang suka menginfaqkan hartanya berupa ganti (dari harta yang 
diinfaqkan tersebut), dan berkata (malaikat) yang lain: Ya Allah, berilah orang 
yang kikir kebinasaan (hartanya).” (HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berjanji akan mengganti orang yang berinfaq 
dengan ganti yang lebih baik, sebagaimana dalam firman-Nya (artinya): 

“Dan Apa saja yang kamu infaqkan, niscaya Dia (Allah) akan menggantinya.” (QS. 
Saba’: 39) 

Demikian pula yang difirmankan-Nya dalam hadits qudsi: 

أَنْفِقْ يَا ابْنَ آدَمَ يُنْفَقْ عَلَيْكَ.

“Berinfaqlah wahai anak Adam, niscaya engkau akan diberi balasan/gantinya.” 
(HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Seorang muslim yang jujur keimanannya akan segera membenarkan keterangan dari 
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan rasul-Nya Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tersebut. 
Kemudian mendorongnya untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa 
Ta’ala dengan banyak berinfaq dan bershadaqah kepada saudaranya yang 
membutuhkan. 

Namun yang perlu diperhatikan disini adalah pentingnya menjaga keikhlasan niat 
ketika beramal. Karena suatu amalan ibadah apapun bentuknya, jika tidak 
diniatkan ikhlas semata-mata mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka 
amalan itu akan sia-sia. 

Demikian pula berinfaq, yang merupakan amalan besar dan mulia dalam Islam, 
harus ditunaikan dengan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah Subhanahu wa 
Ta’ala. Janganlah berinfaq dengan niatan agar hartanya semakin bertambah banyak 
setelah melihat keutamaan yang telah disebutkan di atas, terlebih lagi berinfaq 
dengan niatan agar dinilai sebagai orang yang dermawan. 

Karena keutamaan dan janji yang disebutkan tadi tidaklah diraih kecuali oleh 
orang-orang yang ikhlas dalam infaq/shadaqahnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala 
berfirman (artinya): 

“Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mengharapkan 
wajah Allah (yakni ikhlas), maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang 
yang melipatgandakan.” (QS. Ar Ruum: 39) 

Sungguh indah permisalan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al 
Qur’an tentang orang-orang yang ikhlas dalam menginfaqkan hartanya. Allah 
Subhanahu wa Ta’ala berfirman (artinya): 

“Dan permisalan orang-orang yang menginfaqkan hartanya karena mencari keridhaan 
Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di 
dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan 
buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis 
(pun memadai) …” (QS. Al Baqarah: 265) 

Para pembaca yang mulia, sehingga sebanyak apapun harta yang diinfaqkan oleh 
seseorang karena ikhlash lillahi ta’ala, justru akan semakin menambah barakah 
pada harta tersebut, tidak berkurang sedikitpun. Sungguh benar apa yang 
disabdakan Rasulullah r: 

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Tidaklah shadaqah itu akan mengurangi harta.” (HR. Muslim) 

Benteng dari An Nar dan Pendorong Menuju Al Jannah 

Dan di antara keutamaan shadaqah adalah bahwa ia menjadi salah satu sebab 
terlindunginya seseorang dari siksaan An Nar (api neraka). Nabi Shalallahu 
‘alaihi wa Sallam bersabda: 

ِاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ.

“Takutlah kepada api neraka walaupun dengan bershadaqah separuh buah kurma.” 
(HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Pada suatu ketika Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memberitakan bahwa 
ternyata penghuni An Nar itu kebanyakan adalah para wanita.Tetapi beliau 
Shalallahu ‘alaihi wa Sallam adalah seorang yang sangat belas kasih terhadap 
umatnya, tidak membiarkan umatnya menghadapi masalah tanpa tahu jalan 
keluarnya, maka beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pun bersabda: 

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ 
النَّارِ.

“Wahai sekalian wanita, bershadaqahlah, karena sesungguhnya aku melihat kalian 
(para wanita) adalah mayoritas dari penduduk an nar.” (HR. Al Bukhari dan 
Muslim) 

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan mereka untuk 
banyak-banyak bershadaqah, walaupun mungkin ada di antara mereka yang tidak 
memiliki kelebihan harta, beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tetap memberikan 
dorongan untuk berinfaq, bershadaqah, dan memberikan apa yang dimiliki kepada 
siapa saja yang membutuhkan. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: 

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ 
شَاةٍ.

“Wahai para wanita muslimah, janganlah seorang tetangga meremehkan untuk 
memberikan shadaqah kepada tetangganya walaupun hanya sepotong kaki kambing.” 
(HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedikitpun tidak menyia-nyiakan amalan 
baik seseorang, walaupun amalan itu kelihatannya sepele dan mungkin dianggap 
remeh oleh sebagian orang, tetapi ternyata sangat besar nilainya di sisi Allah 
Subhanahu wa Ta’ala. 

Al Jannah (surga) yang seluas langit dan bumi juga telah disediakan untuk 
orang-orang dermawan yang dengan ikhlas menginfaqkan hartanya karena Allah 
Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: 

أَرْبَعُونَ خَصْلَةً أَعْلاَهَا مَنِيْحَةُ الْعَنْزِ مَا مِنْ عَامِلٍ يَعْمَلُ 
بِخَصْلَةٍ مِنْهَا رَجَاءَ ثَوَابِهَا وَتَصْدِيْقَ مَوْعُوْدِهَا إِلاَّ 
أَدْخَلَهُ اللهُ تَعَالَى بِهَا الْجَنَّةَ.

“Ada empat puluh perangai dan yang paling utama adalah mendermakan seekor 
kambing untuk diperah susunya, tidak ada satu orang pun yang mengamalkan 
perangai-perangai tersebut dengan tujuan mengharap pahalanya dan membenarkan 
apa yang telah dijanjikannya kecuali Allah akan masukkan dia (dengan amalannya 
tadi) ke dalam Al Jannah.” (HR. Al Bukhari) 

Diantara Amalan Terbaik dalam Islam… 

Pernah ada salah seorang shahabat yang bertanya kepada Rasulullah Shalallahu 
‘alaihi wa Sallam: 

أَيُّ اْلإِسْلاَمِ خَيْرٌ ؟

“Amalan apakah yang paling baik dalam Islam? 

Maka beliau Shalallahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab: 

تُطْعِمُ الطَّعَامَ، وَتَقْرَأُ السَّلاَمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ 
تَعْرِفْ.

“Memberi makan (orang yang membutuhkan), dan mengucapkan salam baik kepada 
orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. Al Bukhari dan 
Muslim) 

Amalan inipun jika dilakukan dengan ikhlas semata-mata mengharapkan ganjaran 
dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka orang yang mengamalkannya termasuk 
golongan orang-orang yang telah berbuat kebajikan, yang dengan gamblang Allah 
Subhanahu wa Ta’ala gambarkan balasan yang akan mereka dapatkan, sebagaimana 
dalam QS. Al Insan: 8-22 

Sifat Kikir yang Membinasakan 

Kembali kita mengingat do’a malaikat yang disebutkan di atas. Sungguh sifat 
inilah yang menjadi salah satu sebab kebinasaan orang-orang terdahulu. 
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan dalam sebuah 
sabdanya: 

اِتَّقُوا الظُّلْمَ، فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، 
وَاتَّقُوا الشُّحَّ، فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، 
حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوْا دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوْا مَحَارِمَهُمْ.

“Takutlah dari perbuatan zhalim karena kezhaliman itu menyebabkan kegelapan 
pada hari kiamat, dan takutlah dari perbuatan kikir, karena sesungguhnya 
kekikiran itu menyebabkan kebinasaan orang-orang sebelum kalian, (kekikiran 
itu) telah mendorong mereka untuk menumpahkan darah-darah mereka dan 
menghalalkan perkara-perkara yang diharamkan atas mereka.” (HR. Muslim) 

Kebinasaan yang akan ditimpa oleh orang-orang yang kikir tidak hanya di akhirat 
saja, bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala menyegerakan adzab bagi mereka di dunia. 
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: 

مَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلاَّ ابْتَلاَهُمُ اللهُ بِالسِّنِين. 

“Tidaklah suatu kaum mencegah dari memberikan zakat kecuali Allah akan 
menimpakan bala’ kepada mereka dengan paceklik.” (HR. Ath Thabarani) 

Kesulitan hidup, kesempitan karena berbagai problem yang dihadapi juga 
merupakan akibat dari sikap bakhil dan kikir Allah Subhanahu wa Ta’ala 
berfirman (artinya): 

“Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya tidak butuh kepada Allah, 
serta mendustakan keyakinan yang benar berikut balasannya, maka akan Kami 
mudahkan baginya keadaan yang sulit.” (QS. Al Lail: 8-10) 

Sifat kikir juga mendatangkan kemurkaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya 
kita masih ingat kisah tiga orang dari kalangan Bani Israil yang diuji oleh 
Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dikaruniakan kepada mereka nikmat berupa 
kesembuhan dari penyakit dan harta (hewan ternak) yang semakin melimpah 
(berkembang biak). Dua dari tiga orang tersebut enggan untuk memberikan harta 
yang dimilikinya kepada yang membutuhkan. Maka akibatnya, tidak hanya Allah 
Subhanahu wa Ta’ala lenyapkan hartanya, tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala juga 
murka kepada mereka. 

Dan sebaliknya, seorang dari mereka dengan sukarela memberikan harta yang telah 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan tersebut kepada yang membutuhkan, maka Allah 
Subhanahu wa Ta’ala kekalkan hartanya dan Dia Subhanahu wa Ta’ala pun ridha 
kepadanya. 

Para pembaca rahimakumullah, itulah sifat kikir yang membinasakan. Hendaknya 
setiap muslim benar-benar berhati-hati darinya, berusaha untuk menghilangkannya 
jika sifat tersebut ada pada dirinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman 
(artinya): 

“Dan barangsiapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang 
yang beruntung.” (QS. Al Hasyr: 9). 

Akhir kata, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melapangkan 
hati-hati kita untuk berinfaq/bershadaqah dengan penuh keikhlashan, dan 
membersihkan hati-hati kita dari sifat-sifat bakhil/kikir yang membinasakan. 
Amin… 

  

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke