--
aep.saepuloh













Hadirilah kajian ahad ini, 27 Juni 2010
                  
1. Di Cibarusah  jam : 09.00- dzuhur, membahas : "Hal-hal yang wajib 
diketahui oleh setiap muslim" (Kitab :Al waajibat al-muttahattimat alla 
kulli muslim wal muslimat) 
        bersama  Ust Abu Isa  (staf pengajar mahad Ihya as-sunnah, Tasik 
Malaya) rutin setiap ahad ke-4 
2. Di Masjid Baitul Ma'mur, Perum Telaga Sakinah,  Cikarang Barat, jam : 
09.00- dzuhur, membahas : "Wasiat Emas syaikh Abdul Qodir Jaelani" 
        bersama  Ust . Ibnu Saini  (staf pengajar mahad Hidayatun -Najah, 
Pabayuran) rutin setiap ahad ke-4 
3. Di Masjid Raya At-Taqwa, Jembatan 11, Perum Bumi Bekasi Baru, Rawa 
Lumbu,  jam : 09.00- dzuhur, membahas : "Amalan Yang Mendatangkan Rohmat 
Allah" 
        bersama  Ust . Badrussalam Lc.  (staf pengajar Radio RODJA, AM 
756Khz, ) 
3. Di Masjid Al-Barkah, , Radio RODJA, Belakang POLSEK Cilengsi. 
         jam : 09.00- dzuhur, membahas : "Meneladani Ahlak Seorang Ulama 
Ahlussunnah" bersama  Ust . Firanda Lc.  (staf pengajar Radio RODJA, AM 
756Khz, ) 
         jam : 13.00- Ashar, membahas : "Adab Ulama dalam Menuntut Ilmu" 
bersama  Ust . Badrussalam Lc.  (staf pengajar Radio RODJA, AM 756Khz, ) 

            
KEUTAMAAN TERSENYUM DI HADAPAN SEORANG MUSLIM 

Oleh Ustadz Abdullah bin Taslim, M.A 




عن أبي ذَرّ  قال: قال رسول الله :  ((تبسُّمك في وجه أخيك لك صدقةٌ))  رواه 
الترمذي وابن حبان غيرهما, وهو  حديث حسن. 

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah 
bagimu”[1]. 

Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan tersenyum dan menampakkan  
muka manis di hadapan seorang muslim, yang hadits  ini semakna dengan 
sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits  yang lain: 

“Janganlah sekali-kali engkau menganggap remeh suatu perbuatan baik, 
meskipun (perbuatan baik itu) dengan engkau menjumpai saudaramu (sesama 
muslim) dengan wajah yang ceria”[2]. 

Mutiara hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini: 

- Menampakkan wajah ceria dan berseri-seri ketika bertemu dengan   seorang 
muslim akan mendapatkan ganjaran pahala seperti pahala   bersedekah[3].- 
Keutamaan dalam hadits ini lebih dikuatkan dengan  perbuatan Nabi 
Shallallahu  ‘alaihi wa sallam sendiri,  sebagaimana yang disebutkan oleh 
sahabat yang mulia, Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu,  dia 
berkata: 

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melarangku untuk 
menemui beliau sejak aku masuk Islam, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam tidak pernah memandangku kecuali dalam keadaan tersenyum di 
hadapanku”[4]. 

- Menampakkan wajah manis di hadapan seorang muslim akan meyebabkan 
hatinya merasa senang dan bahagia, dan melakukan perbuatan yang 
menyebabkan bahagianya hati seorang muslim adalah suatu kebaikan dan 
keutamaan[5]. 

- Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan faidah penting sehubungan 
dengan masalah ini, ketika beliau mengomentari ucapan   Muhammad bin 
Nu’man bin Abdussalam, yang mengatakan: “Aku tidak pernah   melihat orang 
yang lebih tekun beribadah melebihi Yahya bin Hammad[6],   dan aku mengira 
dia tidak pernah tertawa”. Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Tertawa 
yang ringan dan tersenyum lebih utama, dan para  ulama yang tidak pernah 
melakukannya ada dua macam (hukumnya): 

Pertama: (bisa jadi) merupakan kebaikan bagi orang   yang meninggalkannya 
karena adab dan takut kepada Allah Ta’ala, serta sedih atas (kekurangan 
dan dosa-dosa yang ada pada) dirinya. 

Kedua: (bisa jadi) merupakan celaan (keburukan) bagi orang yang 
melakukannya (tidak mau tersenyum) karena kedunguan,   kesombongan, atau 
sengaja dibuat-buat. Sebaimana orang yang banyak   tertawa akan 
direndahkan (diremehkan orang lain). 

Dan tidak diragukan lagi, tertawa pada diri pemuda lebih ringan 
(dilakukan) dan lebih dimaklumi dibandingkan dengan orang yang sudah tua. 

Adapun tersenyum dan menampakkan wajah ceria, maka ini lebih utama   dari 
semua perbuatan tersebut (di atas), Rasulullah Shallallahu   ‘alaihi wa 
sallam bersabda: 

“Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah   (bernilai) sedekah 
bagimu”. Dan Jarir bin Abdullah radhiyallahu   ‘anhu berkata: “Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidak pernah memandangku kecuali dalam 
keadaan tersenyum”. 

Inilah akhlak (mulia) dalam Islam, dan kedudukan yang  paling tinggi 
(dalam hal ini) adalah orang yang selalu menangis (karena takut kepada 
Allah ‘Azza wa jalla) di malam hari dan selalu  tersenyum di  siang hari. 
(Dalam hadits lain) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa  sallam bersabda: 
“Kamu tidak akan mampu berbuat baik  kepada semua  manusia denga hartamu, 
maka hendaknya kebaikanmu sampai  kepada mereka  dengan keceriaan (pada) 
wajahmu”[7]. 

Ada hal lain (yang perlu diingatkan) di sini, (yaitu) sepatutnya bagi 
orang banyak tertawa dan tersenyum untuk menguranginya (agar tidak 
berlebihan), dan mencela dirinya (dalam hal ini), agar dia tidak 
dijauhi/dibenci orang lain, demikian pula sepatutnya bagi orang yang 
(suka) bermuka masam dan cemberut untuk tersenyum dan memperbaiki tingkah 
lakunya, serta mencela dirinya karena buruknya tingkah lakunya,  maka 
segala sesuatu yang menyimpang dari (sikap) moderat (tidak   berlebihan 
dan tidak kurang) adalah tercela, dan jiwa manusia mesti   sungguh-sungguh 
dipaksa dan dilatih (untuk melakukan kebaikan)”[8].  Wallahu a’lam 

Catatan Kaki: 

[1] HR at-Tirmidzi (no. 1956), Ibnu Hibban (no. 474 dan  529) dll, 
dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban rahimahullah, dan dinyatakan  hasan 
oleh at-Tirmidzi dan Syaikh al-Albani rahimahullah dalam  “ash-Shahihah” 
(no. 572). 

[2] HSR Muslim (no. 2626). 

[3] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (6/75-76). 

[4] HSR al-Bukhari (no. 5739) dan Muslim (no. 2475). 

[5] Lihat kitab “Tuhfatul ahwadzi” (5/458). 

[6] Beliau adalah seorang Imam besar yang terpercaya dalam  meriwayatkan 
hadits (wafat 215 H), biografi beliau dalam kitab “Siyaru a’laamin 
Nubala’” (10/139) dan “Taqriibut tahdzib” (hal. 545). 

[7] HR al-Hakim (1/212) dll, hadits ini sangat lemah, dalam sanadnya  ada 
Abdullah bin Sa’id al-Maqburi, dia seorang yang sangat lemah dan 
ditinggalkan riwayatnya, sebagaimana ucapan adz-Dzahabi rahimahullah dan 
Ibnu Hajar rahimahullah dalam “Taqriibut tahdzib” (hal. 256). Lihat 
“adh-Dha’iifah” (no. 634). 

[8] Kitab “Siyaru a’laamin nubala’” (10/140-141). 

Sumber: ibnuabbaskendari.wordpress.com dipublikasikan  kembali oleh 
salafiyunpad.wordpress.com 
______________________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.


______________________________________________
This message is for the designated recipient only and may contain 
privileged, proprietary, or otherwise private information. If you have 
received it in error, please notify the sender and delete the message 
immediately. Any other use of the email is prohibited.


-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke