السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 semoga bermanfaat
wass....zainal
Jangan Tertipu Dengan Amalmu!
Oleh: Badrul Tamam
Seorang muslim jika melakukan beberapa amal ibadah dan taqarrub kepada 
Allah akan merasakan hatinya tentram, jiwanya tenang, menerima serta 
qana’ah dengan pemberian Allah Ta’ala. Bahkan, terkadang lahir dalam 
dirinya perasaan sudah memberikan  hak-hak Allah. Terkadang perasaan ini 
mendatangkan kekaguman dan bangga dengan ibadahnya.
Orang-orang shaleh tidak akan melakukan hal tersebut. Karena orang-orang 
shaleh selama-lamanya selalu rindu  kepada Allah dan takut kalau-kalau 
ibadahnya tidak diterima. Bahkan, dia beranggapan amalnya tidak pantas 
diterima oleh Allah. 
Allah Ta’ala berfirman tentang mereka, 
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى 
رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ
"Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan 
hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan 
kembali kepada Tuhan mereka." (QS. Al-Mukminun: 60)
Aisyah radliyallaahu 'anha berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah 
shallallaahu 'alaihi wasallam tentang ayat ini, apakah mereka orang-orang 
yang minum khamer, pezina, dan pencuri? Beliau  menjawab, “Tidak, wahai 
putri al-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, menunaikan 
shalat dan shadaqah namun mereka takut kalau amalnya tidak diterima.” (HR. 
Muslim, kitab al Imarah, bab man qatala li al Riya wa al sum’ah istahaqqa 
al naar, no. 1905)
Imam Ibnul Qayyim berkata, “Puas dengan ketaatan yang telah dilakukan 
adalah di antara tanda kegelapan hati dan ketololan. Keraguan dan 
kekhawatiran dalam hati bahwa amalnya tidak diterima harus disertai dengan 
mengucapkan istighfar setelah melakukan ketaatan. Hal ini karena dirinya 
menyadari bahwa ia telah banyak melakukan dosa-dosa dan banyak 
meninggalkan perintah-Nya." 
Allah telah memerintahkan kepada para hujjaj untuk mengucapkan istighfar 
setelah mereka rampung dari melaksanakan ibadha haji. Hal ini sebagai 
penyempurna dan kemuliaan. Allah Ta’ala berfirman:
فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ 
الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ 
لَمِنَ الضَّالِّينَ  ثُمَّ أَفِيضُوا مِنْ حَيْثُ أَفَاضَ النَّاسُ 
وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di 
Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang 
ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar 
termasuk orang-orang yang sesat. Kemudian bertolaklah kamu dari tempat 
bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; 
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Baqarah: 
198-199)
Syaikh al-Sa'di mengatakan, "Beginilah seharusnya yang dilakukan hamba, 
setiap selesai dari melaksanakan ibadah dia beristighfar (meminta ampun) 
kepada Allah atas kealpaan dan bersyukur kepada Allah atas taufiq-Nya. 
Tidak seperti orang yang melihat dirinya telah menyempurnakan ibadah dan 
berbangga di hadapan Tuhannya." 
Dalam surat lain Allah menjelaskan,
الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ 
وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ
"(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang 
menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu 
sahur." (QS. Ali Imran: 17)
Imam al Hasan menjelaskan ayat ini, bahwa mereka adalah orang-orang yang 
lama dalam menjalankan shalat sampai menjelang waktu sahur (akhir malam) 
kemudian mereka duduk dengan mengucapkan istighfar (meminta ampunan) 
kepada Allah.
Dalam hadits shahih dijelaskan bahwa ketika Nabi shallallaahu 'alaihi 
wasallam selesai mengucapkan salam dari shalatnya, maka beliau mengucapkan 
istighfar tiga kali. (HR. Muslim dari Tsauban)
Diriwayatkan dari Tsauban radliyallah 'anhu, berkata: "Adalah Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wasallam, apabila telah selesai melaksanakan shalat 
beliau beristighfar tiga kali." (HR. Muslim)
Jangan Bersandar Pada Amal
Bersandarkan pada amal saja akan melahirkan kepuasan, kebanggaan, dan 
akhlak buruk kepada Allah Ta’ala.  Orang yang melakukan amal ibadah tidak 
tahu apakah amalnya diterima atau tidak. Mereka tidak tahu betapa besar 
dosa dan maksiatnya, juga mereka tidak tahu apakah amalnya bernilai 
keikhlasan atau tidak. Oleh karena itu, mereka dianjurkan untuk meminta 
rahmat Allah dan selalu mengucapkan istighfar karena Allah Mahapengumpun 
dan Mahapenyayang.
Masuk Surga Bukan Karena Amal
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 
'alaihi wasallam bersabda: 
لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ 
اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ 
وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا
"Sungguh amal seseorang tidak akan memasukkannya ke dalam surga." Mereka 
bertanya, "tidak pula engkau ya Rasulallah?" Beliau menjawab, "Tidak pula 
saya. Hanya saja Allah meliputiku dengan karunia dan rahmat-Nya. Karenanya 
berlakulah benar (beramal sesuai dengan sunnah) dan berlakulah sedang 
(tidak berlebihan dalam ibadah dan tidak kendor atau lemah)." (HR. Bukhari 
dan Muslim, lafadz milik al-Bukhari)
Sesungguhnya seseorang tidak akan masuk surga kecuali dengan rahmat Allah. 
Dan di antara rahmat-Nya adalah Dia memberikan taufiq untuk beramal dan 
hidayah untuk taat kepada-Nya. Karenanya, dia wajib bersyukur kepada Allah 
dan merendah diri kepada Allah. 
Tidak layak dia bersandar kepada amalnya untuk menggapai keselamatan dan 
mendapatkan derajat tinggi di surga. Karena  tidaklah dia sanggup beramal 
kecuali dengan taufiq Allah, meninggalkan maksiat dengan perlindungan 
Allah, dan semua itu berkat rahmat dan karunia-Nya. 
Karena  tidaklah dia sanggup beramal kecuali dengan taufiq Allah, 
meninggalkan maksiat dengan perlindungan Allah, dan semua itu berkat 
rahmat dan karunia-Nya.
Seorang hamba tidak pantas membanggakan amal ibadahnya yang seolah-olah 
bisa terlaksana karena pilihan dan usahanya semata, apalagi ada perasaan 
telah memberikan kebaikan untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. Sesungguhnya 
Allah tidak membutuhkan amal ibadah hamba-hamba-Nya. Dia Mahakaya, tidak 
butuh kepada makhluk-Nya.
Allah Ta'ala berfirman dalam hadits Qudsi, "Wahai hamba-Ku, kalau 
orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, dari kalangan manusia 
dan jin, mereka itu bertaqwa seperti orang yang paling bertaqwa di 
antaramu, maka tidak akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun.  Wahai 
hamba-Ku, kalau orang-orang terdahulu dan yang terakhir di antaramu, dari 
kalangan manusia dan jin, mereka itu berhati jahat seperti orang yang 
paling jahat di antara kamu, tidak akan mengurangi kekuasaan-Ku sedikit 
pun juga." (HR. Muslim dari Abu Dzar al Ghifari, dari Rasulullah 
shallallahu 'alaihi wasallam)
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke