emosi jg gw bun.....lebih parah lagi malah, udah gk memenuhi kewajiban sbg seorang suami tuk menafkahi slingkuh pula....

Deasy Christine wrote:
Kalo ceritanya begini emosi nggak :

Suaminya temen gue ternyata punya pacar (2 lagi) sudah terjadi beberapa
tahun, baru ke gap sama temen gue beberapa bulan lalu, yg ironis nya temen gue sampe kena penyakit kelamin untung nggak parah.
70% kebutuhan rumah tangga temen gue yg tanggung, gaji suaminya kecil.
walaupun begitu temen gue tetep hormat ke suaminya.
Yang lebih parah lagi salah satu pacarnya (sudah bersuami) minta ke temen
gue untuk berbagi suami.

Note, temen gue orangnya konservatif sedangkan hobi suaminya nonton bokep.

--- On Thu, 7/1/10, maHen <[email protected]> wrote:

From: maHen <[email protected]>
Subject: ~ aga ~ Kencan Seorang Wanita Yang Telah Menikah
To: [email protected]
Date: Thursday, July 1, 2010, 2:19 PM
*dpt dr milis tetangga, critanya hot
but ellegant
abis baca ini emosi gw jdnya  ama si istri didlm
cerita ini....
==
*

*
Kencan Seorang Wanita Yang Telah Menikah*

Namaku Kevin. Isteriku bernama Amanda, dia selalu membuatku
merasa bangga karena memilikinya. Ya bangga karena semua
pria akan berhasil dia paksa untuk menolehkan kepala jika
dia lewat dihadapan mereka. Kebanyakan temanku mengeluhkan
bagaimana membosankannya isteri mereka dalam urusan seks.

Mereka jarang mendapatkan oral seks, para isteri mereka
sangat jarang berpakaian sexy lagi. Dan kebanyakan dari
mereka, contohnya Tom dan Boby, seks hanya berlangsung
diakhir pekan saja. Itu jauh lebih baik dibandingkan kadang
hanya sekali dalam sebulan saja.

Itu juga terjadi diantara Amanda dan aku sebelum semuanya
berubah akhir-akhir ini. Ketika Boby bertanya padaku minggu
lalu tentang berapa sering kami berhubungan seks, aku
berbohong. Kukatakan padanya kami melakukannya sekali
seminggu.

Dia menjawab hal yang sama, mengungkapkan simpatinya
terhadapku. Aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya
kepadanya. Jika dia mengetahui bahwa sesungguhnya Amanda dan
aku berhubungan seks tiga sampai empat kali dalam seminggu,
dia akan mendesakku untuk mencari tahu apa rahasianya.

Dan tak akan mungkin kukatakan kepadanya kenyataan
sesungguhnya. Bisa kukatakan kepadamu rahasiaku. Ini aman,
karena kamu tak mengenalku ataupun Amanda. Kamu tak tahu
tempat tinggalku atau apapun. Lagipula ini semua terdengar
kurang masuk akal. Bahkan temanku sendiri mungkin tak akan
mempercayaiku, tapi aku tak peduli apa kamu percaya atau
tidak.

Sikap Amanda terhadap seks mulai berubah semenjak malam
itu. Ya, mungkin terlalu berlebihan, yang kumaksudkan
adalah, coba lihat kebelakang, aku menganggap kejadian
tersebutlah penyebab dari perubahan sikapnya. Kejadian apa?
Mungkin itu yang kamu tanyakan. Sebuah kencan. Ya, kencan
biasa dengan pria lain.

Pria lain tersebut klien bisnis perusahaan kami, Mr.
Charles. Aku tak terlalu mengenalnya, tapi kupikir dia
seorang pria paruh baya yang menarik juga. Mungkin bisa
dibilang sedikit gemuk dan rambutnya mulai agak botak
dibagian depannya.

Dia terbang ke kota ini untuk mengurusi sebuah kontrak yang
besar dengan perusahaan kami. Aku bukan termasuk dalam
posisi eksekutif, tapi aku berteman akrab dengan beberapa
direktur utama. Salah satunya bernama Henry, dia bertanya
padaku apakah aku punya kenalan seorang wanita yang bisa
menemani Mr. Charles berkeliling kota selama dia berada
disini. Henry mulai merasa khawatir.

Dia sudah menghubungi semua kolega yang dia tahu tapi tak
ada yang bisa untuk saat itu dan dia mengatakan padaku bahwa
dia akan merasa sangat berterima kasih bila aku bisa
membantunya. Aku coba menghubungi beberapa kandidat yang
kutahu, namun mereka juga sedang sibuk disaat tersebut. Saat
kuceritakan pada Amanda, dia bertanya kenapa syaratnya harus
wanita yang masih single.

"Kamu tidak mencoba untuk mengirim seorang wanita nakal
pada klienmu ini kan?"

"Tidak, hanya seseorang untuk menemaninya berkeliling.
Seseorang yang tahu tempat makan yang enak, tempat yang
layak untuk dikunjungi, sesuatu seperti itulah."
"Kalau ini memang sangat penting untukmu, aku mau
melakukannya."

"Ini bukan seperti penentu hidup atau mati. tapi ini akan
memberikan sebuah penilaian yang sangat baik buatku
dihadapan salah satu bossku. Tapi, sejujurnya, sayangku, Aku
merasa tak nyaman untuk mengijinkanmu melakukannya."
"Kenapa tidak? Aku mengenal setiap bagian kota ini seperti
yang lainnya, dan penampilanku tak mengecewakan untuk
dilihat bukan?"

Kutelan ludah atas statemen terakhir. Amanda sangat indah
dipandang mata. Tubuhnya langsing semampai, buah dada yang
terlihat tepat untuk ukuran tubuhnya, paha yang indah,
pantat menggoda, rambut berombak sebahunya yang tergerai
eksotis.

Tak pernah terlintas dibenakku untuk membayangkan Amanda
yang harus menemani Charles untuk semalam, Tapi seperti yang
dia katakan, kenapa tidak? Dia pilihan yang sempurna. Dia
pintar membangun pembicaraan.

Charles akan dapat menikmati keindahan kota ini dengan
ditemani oleh seorang wanita yang mempesona. Dan itulah yang
terjadi, Amanda serius akan hal tersebut, seperti yang biasa
dia lakukan. Dia terlihat sangat menawan malam itu.

Sesungguhnya, agak sedikit terlalu seksi, kuingat aku
katakan hal tersebut malam itu. Make-up yang dia pakai
sedikit berlebihan dari biasa yang dia pakai
sehari-harinya.

Gaun yang dia kenakan memperlihatkan bentuk payudaranya
yang indah dan kencang serta membungkus perut dan pinggulnya
dengan sangat ketat, serta sepasang stocking dan sepatu
bertumit tinggi. Charles pasti akan sangat senang, tak akan
kuragukan lagi. "Jaga kelakuanmu," kugoda dia. Dahinya
mengernyit, merasa dilecehkan.

Kujelaskan padanya kalau aku hanya bercanda saja. Aku tahu
kalau dia melakukan ini hanya demi aku saja. Dia telah
melihat foto Charles, jadi dia tahu dia bukanlah seorang
buruk rupa meskipun dia juga tahu kalau pria yang akan
ditemuinya nanti bukanlah seorang yang rupawan. Kencan
tersebut akhirnya datang dan terjadi. Sesudahnya, Amanda
menceritakan padaku kalau Charles sangat menikmati malam
tersebut. Akupun akan merasa begitu, dan kudapat sebuah
telephone dari Charles hari Senin keesokan harinya.

"Hey pak, wanita yang bapak kirim untuk menemaniku, si
Amanda, sangat mengagumkan."

Aku tak merasa perlu memberi tahunya kalau yang menemaninya
berkeliling kota adalah isteriku sendiri.

"Wah, dia wanita yang sangat sexy! Tapi aku yakin anda
sudah pasti tahu itu," sambungnya.

Dengan cepat berikutnya kutahu kalau Charles telah mencoba
mengajak Amanda untuk singgah ke kamar hotel bersamanya.

Isteriku menolaknya dengan halus dan mengucapkan terima
kasih.

"Mungkin lain kali jika anda berada dikota ini lagi, kita
bisa saling mengenal lebih dekat lagi. Itu yang dia
katakan.

Sialan! Aku tak sabar menunggunya," Charles menceritakan
padaku, nada suaranya mengisyaratkan betapa semangatnya dia.
Kuceritakan pada Amanda tentang telephone tersebut dan apa
yang dikatakan Charles. Dia menatapku dan menyeringai
lebar.

"Ya, aku memang berkata begitu. Aku tak bermaksud apa-apa.
Aku hanya tak ingin dia merasa sedih dengan dirinya.

Dia terus merayuku sepanjang malam dan aku hanya ingin
membuatnya tak terlalu merasa ditolak. Kamu tahu kan,
kubiarkan dia mengira kalau aku menganggapnya menarik.
Merasa dia bangga dengan dirinya. "Oh, dari yang dia
katakan, kukira kamu sangat sukses." "Well, itu hanya
sedikit godaan yang tak ada ruginya.

Lagipula, aku tak akan bertemu lagi dengannya kan?" Amanda
tertawa. "Kamu tidak jealouskan sayang?" Kuyakinkan dia
bahwa aku tak merasa cemburu dan lalu kusergap lehernya
dengan bibirku. "Apa kita merasa sedikit bergairah malam
ini?" dia tertawa genit, menggapai kebawah untuk memeriksa
kondisi selangkanganku.

Dia temukan jawabannya saat mencengkeramkan jemarinya pada
tonjolan dicelanaku. Berikutnya kami memadu cinta dengan
gairah yang hampir kulupakan, permainan cinta kami memang
terjadi hanya sebagai rutinitas saja dalam tahun belakangan
ini.



***



Hampir satu bulan berikutnya aku dapat sebuah telephone
dari Charles.

Dia akan datang ke kota ini dalam beberapa hari dan dia
menanyakan padaku apakah aku bisa mengusahakan agar Amanda
bisa menemaninya lagi. Kukatakan padanya kalau aku tak yakin
bisa menghubunginya, Amanda sangat sibuk, terangku padanya,
berusaha untuk mencegah isteriku bisa bersamanya lagi.
Khususnya setelah apa yang sudah dia katakan tentang
isteriku.

"Dia tidak memberiku nomer telephone-nya," Charles
mengerang. "Aku sangat berharap dia tidak membohongiku. Aku
benci itu. Saat seorang wanita mengatakan padamu apa yang
ingin kamu dengar, dan dia cuma iseng saja. Apa kamu tak
merasa kesal juga?"

"Ya, aku juga benci diperlakukan seperti itu," jawabku dan
kemudian berjanji untuk berusaha menghubungi 'si sexy
Amanda'.

"Tentu aku mau bertemu dengannya lagi, sayangku," Amanda
mengatakan padaku dengan acuh tak acuh saat dinner malam.

"Apa ruginya? Lagipula dia seorang klien yang penting,
kan?"
"Ya memang. Tapi, aku hanya merasa kalau dia menginginkanmu
agar mau diajak kekamar hotelnya kali ini. Bukankah kamu
membuatnya merasa kalau kamu akan bersedia jika ada
kesempatan lain?"

"Sayang, itu hanya taktik wanita saja. Semua pria suka
disanjung dan digoda. Kamu juga kan? Aku sering melihatmu
dipesta saat ada seorang wanita yang memujimu. Ingat Bertha
yang mengundangmu untuk menggantikan tempat Roger suaminya,
setiap saat suaminya sedang pergi keluar kota?"
"Dia hanya bercanda dan kamu tahu itu."

"Begitu juga aku sayang. Itu poin yang kumaksud."

Akhirnya kuhubungi Charles dan mengatakan padanya kalau
Amanda bisa menemuinya hari Sabtu nanti. Dia sangat senang
sekali. Dan Amanda, yang membuatku terkejut, terlihat
bahagia karena akan berkencan dengannya lagi.

***

"Apa dia seorang yang suka merayu?" tanyaku saat dia sedang
berdandan malam itu. "Semua pria begitu kan?" jawabnya, mencoba memilih gaun
yang akan dipakainya.

Punggungnya menghadap kearahku. Dia berdiri disana dengan
hanya memakai bra dan celana dalam. Sepasang pakaian dalam
yang sexy, berenda dan hampir transparan. Sebuah lingerie
yang aku hampir lupa kalau dia memilikinya.

Biasanya, Amanda memakai pantyhose diatas celana dalamnya.
Kali ini tidak. Kali ini dia memakai sepasang stocking hitam
setinggi paha. Aku akan mulai berkomentar, tapi kupikir dia
hanya akan menganggapku merasa cemburu saja. Sekali lagi dia
terlihat sangat menawan untuk kencannya dengan pria yang
baru saja dia kenal. Gaunnya melekat erat ditiap lekuk tubuh
sexy-nya dan belahan dadanya agak sedikit rendah,
mempertontonkan sedikit belahan buah dadanya. Menggiurkan
dan sexy.

"Jaga dirimu," pesanku, memberinya sebuah kecupan saat dia
mengamati dandanannya, sepatu bertumit tinggi dan
sebagainya, pada sebuah cermin dilorong. "Berhentilah
mengkhawatirkanku, sayang. Aku akan baik-baik saja," dia
meyakinkanku, memberiku pelukan ringan yang menempelkan
payudara kencangnya pada tubuhku.

Jika Charles menyambutnya dengan sebuah pelukan, dia juga
akan merasakan payudara sexy Amanda. Kuterus memikirkan hal
itu sepanjang waktu saat isteriku pergi malam itu. Aku juga
membayangkan paha jenjangnya dan stocking hitamnya dan
pakaian dalam indah dan sexy yang dia pakai. Sebuah paket
yang sangat menggoda, dan itulah yang mencemaskan
perasaanku.

Tapi kemudian aku juga mengingatkan diriku sendiri tentang
seks yang hebat yang kualami bersama Amanda setelah malam
pertama kencannya dengan Charles. Aku berharap kejadian itu
berulang kembali, itulah mungkin sebabnya aku tak begitu
meributkan tentang apa yang dipakai Amanda untuk kencannya
dan kenapa aku mengijinkannya pertama kali. Ya, kenyataannya
memang begitu. Sex dengan Amanda begitu mempesona, dan itu
bahkan lebih panas dari sebelum-sebelumnya.

Aku jatuh tertidur didepan televisi diruang keluarga dan
tak mendengar suara mobilnya diparkirkan. Tapi telingaku
mulai mendengar saat suara tumit sepatunya melangkah
melewati lantai kayu dalam ruang keluarga ini. Kutolehkan
kepala kearahnya, Tu**n, dia terlihat sangat sexy! Gaunnya
terlihat lebih pendek dari yang kuingat. Pinggulnya seakan
menari saat dia berjalan. Dia terlihat lebih muda saat ini.
Terlihat begitu hidup. Payudaranya terayun seiring tiap
langkahnya.

"Jam berapa sekarang?" tanyaku padanya, aku duduk diatas
sofa.
"Kurasa, Setengah dua."
"Aku pasti tertidur menunggumu."
"Sorry, sayang. Mestinya aku pulang lebih awal."
"Ya, mungkin."

Amanda duduk disampingku. "Setelah nonton dan dinner,
Charles mengajak untuk mencoba beberapa club & bar."

"Bagaimana caramu berkilah saat dia mengajakmu kembali
kehotelnya? Dia mengajakmu, kan?" Akupun akan berlaku sama,
Amanda terlihat begitu menggiurkan untuk disantap. Dia
letakkan tangannya dipahaku dan meremasnya pelan. "Wah, dia
sangat gigih, sayang, dan akhirnya aku tak bisa mengelak
lagi, aku mau diajaknya pergi ke kamarnya."

Kupandangi isteriku dengan perasaan yang bercampur baur.

"Sayang, ini bukan seperti kedengarannya. Sama sekali tak
terjadi apapun". "Sama sekali." Amanda tersenyum dan membelai pahaku.

"Sayang, jika aku ingin menyetubuhinya, akan kulakukan saat
itu."
Sudah lama Amanda tak mengucapkan kata persetubuhan, itu
mengejutkanku pertama kalinya.

"Dia menginginkannya. Itu mungkin tak mengejutkanmu, bukan?
" Kugelengkan kepala.
"Kukatakan padanya jangan bertanya tentang sex. Kukatakan
padanya kalau aku sudah menikah."
"Sungguh?"

Amanda memberiku sebuah senyuman iblis kecilnya.
"Apa dia mencoba yang lain? Apa dia mencoba menciummu?"
Kembali Amanda tersenyum. "Memang."

Lalu setelah jeda yang panjang, menambahkan "Dan kubiarkan
dia."
"Kamu biarkan dia menciummu?"
"Ya, sayang. Kupikir setelah dia tak mendapatkan sex yang
dia mau, setidaknya yang bisa kulakukan adalah memberinya
sebuah ciuman."

Kupandangi dia dengan takjub, dan dia membungkuk kearahku,
daging payudaranya menekan tubuhku, dan lalu dia berkata
"Itu hanya sebuah ciuman sayang, seperti ini." Bibirnya
begitu hangat dan sensual. dan sedikit terbuka. Bibir kami
saling melumat dan dengan cepat lidahnya mulai mencari jalan
masuk kedalam mulutku. Ciuman lembut dan erotis berubah
menjadi ciuman yang penuh gairah yang mengirim gelombang
darah ke sepanjang batang penisku. Aroma Amanda begitu
nikmat dan tubuhnya sangat sexy dan mengundang.

"Wow! Seperti ini?" kucoba bertanya setelah kami hentikan
ciumannya.
Amanda tertawa manja. "Kurang lebih."
"Apa dia mencoba menyentuhmu?"
"Hanya dadaku." tawa manja lebih banyak dia perdengarkan.

"Apa reaksimu?"
"Sayang, hanya dadaku saja. Tangannya tidak berada dalam
celana dalamku.atau yang lainnya."
"Jadi kamu biarkan dia. menyentuh payudaramu?"
"Sayang, aku masih memakai gaunku."

Kuangkat tanganku dan membelai payudara isteriku. 'Hmm,
seperti yang kukira."
"Apa?"
"Gaun ini. sangat tipis. bisa kurasakan putingmu tepat
dibaliknya."
Amanda tertawa. "Dan kamu pikir Charles bisa merasakannya
juga?"
"Aku yakin itu. Bukankah dia merasa terangsang?"
"Kenyataannya, begitu."
"Bagaimana kamu tahu? Apakah terlihat?"
"Aku mengetahuinya saat kulakukan ini. " Amanda kemudian
meluncurkan tangannya hingga pangkal pahaku dan mulai
meremas ereksiku.

"Kamu meremas PENISNYA!"
"Sayang, aku hanya menggodamu. Tentu saja tidak. Kamu
suamiku. Satu-satunya pria untukku!" tubuhnya turun keatas
lantai dan menurunkan resleitingku.
Astaga! Sudah sangat lama sekali dia tak bersikap seperti
ini. begitu agresif dan terang-terangan. Amanda menjilat dan
menghisap penisku hingga kuberada dibatas orgasme dalam
mulutnya.
"Ayo ke kamar, sayang," saranku, dan isteriku langsung
menyambutnya.

Keesokan harinya dikantor, aku dihubungi Charles. "Hey
bung, kamu tidak bilang kalau Amanda sudah menikah."
"Aku pikir itu tak jadi masalah, Sorry."
"Oh, tak usah minta maaf. Menikah atau tidak, dia
benar-benar wanita yang sangat hot."

Kata-kata Charles mengguncangkanku. Itu tak sama dengan
versi Amanda malam itu. Aku tak ingin terdengar curiga, tapi
aku harus bertanya "Jadi kalian berdua bersenang-senang tadi
malam?"

"Oh, bung, sangat! Kami jadi pusat perhatian kemanapun kami
pergi. Para pria meminta ijinku untuk bisa berdansa
dengannya, kutolak mereka, tapi dia bilang aku egois dan mau
menang sendiri. Jadi begitulah, dia pergi ke lantai dansa
dan mulai menari dengan dua atau tiga pria berbeda. Aku tak
begitu pintar dansa, jadi dia menikmati tariannya dengan
para pria itu. Dia sungguh menikmati gerakan tubuhnya."

Kudengar ceritanya berulang-ulang tentang bagaimana Amanda
jadi bergairah karena dansanya dan minumannya. "Setiap kali
dia kembali ke meja, dia jadi lebih bergairah. dia remas
pahaku. terus meraba pahaku. membuatku sangat keras!"

"Benarkah?" jawabku, mencoba menahan rasa marahku.
"Oh, iya. Dan kali ini, saat kuajak dia kembali kekamar
hotelku, dia langsung menerimanya."
"Wah, aku senang anda mendapatkan malam yang hebat
Charles."
"Sesungguhnya terhebat dalam hidupku, Kev. Ngomong-ngomong,
kamu kenal Amanda kan? Apa kamu pernah mengencaninya?"

Tentu saja aku bohong.


"Ah, sayang sekali. Wanita ini sungguh istimewa!"
Aku ingin lebih menanyainya, tapi itu akan terlihat
janggal. Aku coba untuk memancingnya, agar dia menceritakan
segalanya, tapi tentu saja dia tak akan mengatakan detail
sesungguhnya dari apa yang terjadi di dalam kamar hotelnya.

Apakah Amanda hebat? Aku ingin bertanya. Apakah dia
pasangan sex yang hebat?

Tapi kata-kata Amanda terus mengiang ditelingaku. Aku
bersikap terlalu berlebihan. Dia hanya bersikap menggoda,
sedikit berlebihan. Tapi hanya itu saja. Charles hanya
merasa sangat gembira karena sudah berkencan dengan isteriku
yang sexy. Dan, menimbang betapa hebat kehidupan sex kami
semenjak isteriku melakukan dua kencan tersebut, aku yakin,
merasa bersukur telah mengijinkannya pergi.

Namaku Amanda, andaikan aku seorang wanita religius, tentu
sudah terlalu banyak menghabiskan waktu dalam bilik
pengakuan dosa.

Suamiku, Kevin memintaku untuk bertemu dengan salah seorang
kliennya yang berada dikota ini. Seorang klien penting yang
sangat menentukan sebuah kontrak besar yang sedang
diperebutkan perusahaannya saat itu. Hanya menjamunya dengan
sebuah dinner bersamanya dan menemaninya berkeliling kota.
Hanya itu saja. Namun semakin kupikirkan itu semakin terasa
pula bagaikan sebuah kencan. Sebuah kencan seperti saat
kubelum menikah. Dan kujawab, ya aku bersedia memenuhi
permintaannya dan aku berdandan secantik dan semenarik
mungkin untuk acara tersebut.

Dan segala yang kubayangkan menjadi kenyataan. Disini
kuberada, dalam sebuah taksi yang tengah menyusuri jalanan
kota dimalam itu dengan seorang pria, mungkin berumur
beberapa tahun lebih tua dari Kevin, namun dia seorang
gentelman sejati. Namanya Charles, berulang kali dia memuji
kecantikan wajahku, betapa dia mengagumi keindahan rambut
sebahuku, gaun yang kukenakan. Dia begitu merayu dan
memperlakukanku layaknya seorang puteri. Semua perlakuannya
sungguh membuatku merasa sangat istimewa.

Dipenghujung malam itu, dia mengundangku singgah ke kamar
hotelnya untuk berbincang sebentar sebelum mengantarku
pulang. "Hanya minum saja," dia coba membujukku. Namun
kutolak ajakannya. Kuingatkan dia, kesannya tak baik jika
aku masuk ke kamar hotelnya dimalam yang telah larut ini.

Jujur aku merasa suka menghabiskan waktu malam tersebut
dengannya dan tak bisa kucegah anganku membayangkan
bagaimana rasanya jika berhubungan seks dengannya. Kevin
adalah pria kedua yang pernah menikmati tubuhku, jadi bisa
dikatakan aku tak memiliki begitu banyak pengalaman dalam
kehidupan seksual. Bayangan itu menggelitik minatku, entah
kenapa aku bisa membayangkan hingga sejauh itu.

Saat aku tiba dirumah malam itu, aku benar-benar berada
dalam mood untuk sebuah permainan cinta dan syukurlah Kevin
juga sedang merasakan hal yang sama pula.

***

Jikalau kisah ini hanya berhenti hanya disini saja, tak
akan banyak yang kuungkapkan dalam pengakuan dosaku, dan
memang ini tak hanya berhenti di malam itu saja. Aku
mempunya janji kencan kedua dengan Charles beberapa minggu
setelahnya, dan untuk sebuah sebab, membayangkan kencan
keduaku bersamanya membuatku sangat bersemangat, bahkan
sedikit bergairah. Kupilih sebuah gaun yang sexy dan bahkan
sepasang pakaian dalamku yang paling nakal, meskipun aku tak
bermaksud untuk mengijinkan Charles untuk melihatnya. Hanya
saja membuatku merasa sexy mengenakannya, itu saja.

Kevin merasa sedikit nervous akan kencan keduaku dengan
kliennya kali ini. Dan jujur saja akupun begitu. Namun,
Charles sekali lagi bersikap sangat begitu sopan dan segera
saja perasaan canggungkupun sirna dan aku merasa sangat
rileks berada didekatnya.

Setelah dinner, kami pergi ke sebuah dance club. Charles
tak begitu lama turun berdansa denganku. Tapi ada beberapa
pria yang memintaku untuk berdansa dan mereka sangat mahir
diatas lantai dansa. Mereka menginspirasiku, mereka dan
minuman yang kukonsumsi saat dinner tadi. Kalau mau berkata
jujur aku aku rasa memang aku sudah terlalu banyak minum.
Kurasa itulah pengakuan dosaku yang pertama.

Pengakuan dosaku yang kedua adalah caraku membiarkan para
pria tersebut menari denganku. Kebanyakan musik yang
mengiringi adalah yang berirama cepat dan menghentak, tipe
musik yang iramanya akan membuat tubuhmu terus bergerak
mengikutinya. Tapi saat irama musiknya berganti dalam irama
yang sendu dan roman mereka tetap memintaku untuk menemani
mereka diatas lantai dansa, kujawab 'kenapa tidak'.

Salah satu dari mereka adalah pria muda yang sepertinya
anak kuliahan berpostur tinggi. Dia dengan 'tak sengaja'
menyentuhkan tangannya pada dadaku beberapa kali. Aku rasa
puting payudaraku tentu tercetak dibalik kain tipis gaun
yang kukenakan. Pria yang lainnya dengan sengaja membelai
tepian payudaraku saat kami menari. Pasangan dansa yang
lainnya memepetkan tubuhku ketubuhnya, menempelkan salah
satu pahanya pada pahaku dan memastikan kalau aku dapat
merasakan ereksi selangkangannya kala kami bergerak
mengikuti irama musik. Aku tidak menjauh, namun sebaliknya
semakin kudorong tubuhku kearahnya. Belum pernah kurasakan
dalam hidupku kesenangan menari seperti ini.

***

Diantara jeda dansa tersebut, aku kembali ke mejaku dan
mengkonsumsi lebih banyak minuman lagi bersama Charles dan
kuajak dia untuk menari denganku, namun dia kembali menolak
dan berkata kalau dia lebih senang melihatku menari. Kevin
tak mengijinkanku melakukan apa yang diperbolehkan oleh
Charles, menjadi diriku sendiri untuk sekali waktu. Kuberi
dia sebuah kecupan dipipi dan berterima kasih padanya karena
tidak mencercaku setelah melakukan 'tarian nakal'. Dia
tertawa dan menoleh saat seorang pria berwajah tampan
meminta ijin padanya untuk mengajakku berdansa.

"Kalau dia mau," jawabnya sambil menoleh kearahku.

Pria ini terlihat yang paling tua diantara pria muda tadi,
penampilannya seperti seorang eksekutif paroh baya. Dia
perkenalkan dirinya sebagai Henry. Dia memiliki sebuah
senyum yang menawan. Kuteguk sekilas minuman yang entah
berjenis apa yang telah dipesan Charles sebelumnya, lalu
kusambut uluran tangan Henry. Pria ini tipe penyuka musik
berirama lambat. Dia tidak begitu merespon saat musik cepat
dimainkan, tapi begitu irama berganti lambat, tangannya
langsung menyergap tubuhku dan merengkuhku mendekat,
menyandarkan kepalaku dibahunya. Mulutnya berada didekat
telingaku dan terus menerus dia memuji betapa aku seorang
penari yang mahir, dan betapa tubuhku terasa nyaman dalam
pelukannya.

"Kekasihmu adalah seorang pria yang sangat beruntung,"
katanya, bibirnya menggesek telingaku. "Aku berani bertaruh
kalau kamu membuatnya merasa sangat bahagia," sambungnya.
Kutatap wajahnya. Pandangan iblisnya mengisyaratkan konotasi
seksual dalam kalimat terakhirnya. Tapi kuberpura-pura
bodoh. "Maksudmu di ranjang?"
"Ya, manis, itu yang kumaksudkan. Aku berani bertaruh kalau
kamu akan membuat orang tua sepertiku bisa mendapatkan
serangan jantung dibalik selimut."

Dalam kondisi normal aku akan merasa dilecehkan oleh
perkataan mesumnya, namun malam itu aku mengalami sebuah
perasaan bebas yang baru dan merasa perkataan kasar dari
pria asing ini lebih terdengar menggairahkan daripada
melecehkan. Dan pengakuan dosaku-pun terus berlanjut .

"Thanks untuk pujiannya, tapi itu tak akan terjadi dibalik
selimut, sayang" jawabku.
"Apa maksudmu?"
"Saat aku bercinta, aku lebih suka di atas." Itu bohong,
tapi kupikir itu terdengar mesum.
"Oh, Baby," dia mengerang ditelingaku. "Kamu sangat hot!"

Irama musik usai setelah itu, dan kulepaskan diriku dari
pelukan kuat Henry dan beterima kasih padanya untuk
dansanya.

Kembali ke mejaku, Charles berkata kalau dia melihatku
mengobrol dengan Henry dan menanyakan apa yang kami
perbincangkan. "Dia pikir kalau aku kekasihmu," jawabku.
"Apa jawabmu?"
"Kujawab memang."
"Apa dia percaya?"
"Ya, kurasa begitu."

"Sini, kita buat dia tak merasa ragu," kata Charles, lalu
dia membungkuk mendekatiku dan menciumku tepat dibibir. Ini
sangat tak kusangka dan untuk sesaat kubiarkan saja dia
mencium bibirku yang bergetar. Namun kala ciumannya tak jua
usai, secara naluriah kumulai balas ciumannya. Dan saat ia
mulai mendesakan lidahnya diantara bibirku, rasanya sangat
alamiah untuk rileks dan membiarkannya. French kiss adalah
sesuatu yang sangat kusenangi, dan segera saja kuimbangi
desakan Charles, mengeksplorasi ciuman basah dengan lidahku,
menyelipkan lidahku ke dalam mulutnya.

Kami habiskan minuman kami dan meninggalkan club. Udara
malam diluar sangat menusuk tulang, namun membuat kondisiku
berangsung pulih dari pengaruh alkohol.

"Aku tak berani berharap untuk dapat mengajak 'kekasihku'
mau menikmati pemandangan kota dari kamar hotelku," katanya
saat kami berjalan dengan bergandengan tangan.

Aku tertawa geli. Aku mendapatkan begitu banyak kesenangan
dan merasa belum ingin kembali ke ruamah, lalu kukatakan
padanya "Kekasihmu akan sangat senang untuk melihat
pemandangannya."

Charles menghentikan sebuah taksi dan kamipun masuk ke
kursi belakang. Tanpa berpikir, aku meringkuk ke pelukannya,
kurasakan bagai bersama suamiku sendiri. Semangat dan
gairahku masih sangat membakar diriku, dan aku hanya ingin
dipeluk dan diperhatikan. Charles memperlihatkan seluruh
perhatiannya dari apa yang kuisyaratkan dan dia memberikan
sebuah ciuman. Kubalas ciumannya, dan kala tangannya
menyentuh payudaraku, kubiarkan saja tangannya tetap berada
di sana. Kami terus berciuman dan dia meremas lembut
payudaraku disepanjang perjalanan menuju ke hotel.

***

Kamar tempatnya menginap berada di lantai 10 dan didepannya
terbentang sebuah sungai. Pemandangannya memang seperti yang
dia janjikan, menakjubkan. Kuberdiri didepan sebuah jendela
kaca berukuran besar, memandangi cahaya dibawah. Charles
berada dibelakangku, tangannya melingkari tubuhku.
Kutolehkan kepala menghadapnya "Pemandangannya indah, ya?"

"Memukau," jawabnya menatap lekat wajahku dihadapannya. Aku
tersenyum dan kuputar tubuhku , dengan tangannya masih
melingkariku. Dia begitu mempesona. Kutatap kedalam matanya,
kedua matanya terasa lembut dan menenangkan. Kucium dia,
dengan bibir terbuka, mengundang lidahnya. Undanganku dia
sambut.

Aku punya pengakuan dosa yang berikutnya.

Aku ceritakan pada Kevin bahwa tak ada yang terjadi malam
itu di kamar hotel. Itu tak sepenuhnya benar. Kuceritakan
padanya kalau aku cium Charles dan membiarkannya membelai
dadaku. Kuceritakan padanya kalau aku hanya membiarkan
Charles menaruh tangannya diluar gaunku. Aku rasa aku
sedikit berbohong.

Kenyataannya kubiarkan saja Charles menyusupkan tangannya
dibalik gaunku dan meremas payudaraku yang terbungkus bra.
Aku tak yakin kalau Kevin bisa menerima kenyataan
sesungguhnya dari kencanku bersama kliennya.

Aku merasa saat kami berciuman disana, di kamar hotelnya,
dan dia meremas dan mempermainkan payudaraku, aku menjadi
sangat terangsang! Kedua putingku segera mencuat keras. Dan
kala Charles menurunkan tali penahan gaunku melewati bahu,
lalu menarik bagian atas dari gaunku hingga pinggang, aku
sadar kalau ini berarti dia ingin membantuku melepaskan bra
yang kupakai, agar dia bisa menyentuh payudaraku, dan
putingku yang keras, daging kenyalku yang telanjang dan
memanas.

Dan tepat disana, disaat itu, itu semualah yang kuinginkan.
Kenyataannya, aku tak hanya menginginkan tangannya saja di
payudaraku, aku inginkan mulutnya juga. Dan aku tak merasa
kecewa.

Berikutnya kutahu kalau ternyata Charles sangat lihai
melepaskan kaitan bra yang kupakai, selihai jilatan dan
hisapannya pada payudaraku. Aku hampir meraih puncak
kenikmatan dengan hanya berdiri disana saat itu. Dan saat
dia mulai melepaskan gaun yang kupakai dari tubuhku
seluruhnya, kubiarkan dia. Dia turunkan melewati pahaku dan
membantuku melangkahkan kaki dari gaunku, menuju
ketelanjanganku ditingkat berikutnya.

Dia berdiri dihadapanku, dia taruh sebelah tangannya pada
kakiku yang terbungkus stocking, membelainya dengan lembut,
bergerak naik melewati lututku, semakin naik melewati bagian
atas stockingku. Begitu pelan, kurasakan ujung jemarinya
merayap menyusuri bagian celana dalam berenda yang
mumbungkus selangkanganku. Dan dia kemudian berdiri
dihadapanku, dengan pakaian masih utuh.Dan aku, telanjang
hingga batas pinggang. Hanya mengenakan stocking, sepatu
bertumit tinggi dan celana dalam berenda saja.

Aku ingin dicium, dan dipeluk kembali. Aku tahu dia bisa
melihatnya dalam mataku saat itu. Karena, dengan cepat dia
merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya dan menciumku kembali.
Payudara telanjangku terhimpit ditubuhnya kala kami
berciuman, mulut kami terbuka, kedua lidah kami terlena oleh
gairah.

Bagaimana mungkin mampu kuceritakan semua itu pada suamiku,
Kevin, tentang bagaimana Charles menelanjangiku hingga hanya
mengenakan celana dalam saja dan melesakkan lidahnya ke
dalam mulutku. Bagaimana mungkin aku harus menceritakan
padanya bahwa aku menikmatinya dan aku menyusupkan lidahku
ke dalam mulut Charles juga. Dan juga, bagaimana aku akan
bisa bercerita padanya kalau Charles tak bertahan lama untuk
berpakaian lagi, setelah ciuman tersebut.

***

Kusaksikan Charles melucuti pakaiannya sembari berbaring
diatas ranjang.Kuamati celana dalamnya memperlihatkan
sesuatu yang besar didalamnya. "Apa aku yang menyebabkan
itu?" tanyaku menggodanya. "Bagaimana menurutmu?"
"Kemarilah," perintahku. "Kurasa aku harus tahu apa
sesungguhnya yang harus kupertanggung jawabkan."

Saat dia berada disamping ranjang, kugapaikan tanganku dan
kubelai bagian depan celana dalamnya. "Astaga! Apa yang
sudah kulakukan?"

Itu membuatnya tertawa. Sekarang aku merasa sangat
penasaran dengan ukuran pria ini, maka kusentakkan celana
dalamnya turun dan batang penisnya langsung saja melompat
keluar. Itu sangat keras dan berdiri mengacung tegak, tepat
kearahku.

Kusentuhkan tanganku padanya, terasa sangat hangat! Dan
sangat, begitu keras! Pandanganku terpaku pada batang
penisnya yang besar saat aku mengocoknya. Aku bawa kencan
kali ini lebih jauh dari yang kurencanakan pada awalnya.
Disanalah aku berada, tubuh tengkurap diatas perut, diatas
ranjang dalam sebuah kamar dilantai kesepuluh, dengan tubuh
hanya berbalut celana dalam berenda dan stocking, sambil
memegangi batang penis keras dan besar milik seorang pria
yang bukan suami sahku. Aku pikir Kevin tak perlu mendengar
tentang detail ini dari 'kencanku' bersama klien-nya .

Kujuga meninggalkan beberapa detail, seperti kenyataan
kalau kugunakan lidahku untuk menjilat batang penis besar
cantik milik Charles, dan bahwa kubiarkan dia menyusupkan
kepala penisnya memasuki mulutku, dan bahwa aku
menghisapnya.

Juga tak kuceritakan pada Kevin kalau kubiarkan Charles
menyusupkan tangannya kebalik celana dalamku. dan memainkan
vaginaku. Lebih baik kuceritakan padanya kalau hal yang
seperti sama sekali tak terjadi. Aku pasti tak menceritakan
padanya kalau akhirnya kubiarkan Charles melepaskan celana
dalam yang kupakai.

Dan pengakuan dosaku yang terbesar.

Kubiarkan Charles menyetubuhiku. Jujur kukatakan hal
tersebut. Kubiarkan pria yang begitu baik ini, seorang pria
ahli mencium dan memperlakukanku dengan sangat genteleman di
atas ranjang, memasukkan batang penisnya yang besar kedalam
vagina yang seharusnya hanya untuk suami yang kunikahi
saja.

Aku jadi begitu basah untuknya. Dia masuk dengan mudahnya,
memasukiku begitu dalam. Meskipun dia begitu besar, dia
mengisiku dalam satu kali hujaman saja, kurasa aku
menggelinjang. Aku biasanya hanya pasif diatas ranjang, tapi
tidak untuk malam itu. Aku begitu tenggelam dalam moment
indah itu. Aku tak ingin bercinta, aku ingin bersetubuh. Aku
mau disetubuhi dan kubisikkan padanya "Puaskan aku. Setubuhi
aku," aku melenguh. "Setubuhi vagina kekasihmu! Lakukan
dengan keras!"

Dan dia mengabulkannya. Oh suamiku tercinta, aku tak
menyangka jika seks terlarang akan terasa begitu nikmat!

***

Kevin tak akan tahu kenyataan sebenarnya dari kencanku
dengan Charles. Dia hanya tahu aku mendapatkan saat yang
menyenangkan. Dia hanya tahu kalau klien-nya tersebut
memperlakukan isterinya dengan sangat-sangat sopan dan
baik.

Aku mencintai suamiku, dan kehidupan seks kami berubah
menjadi lebih menggairahkan setelah kencanku ini. Sangat
jauh lebih menggairahkan dari yang sudah-sudah. Kurasa
karena kebebasan yang kudapatkan bersama Charles dari dua
kencan tersebut.

Apakah aku akan berkencan lagi dengan Charles? Ataukah
dengan pria lain? Mungkin.

Kembali, jauh dalam lubuk hatiku, aku menantinya. Aku
mengharapkannya.

-- you have this email because you join to "aga-madjid"
GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.




--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke