crta sepanjang jalan kenangan tu kok gk logis ya, kek gituan di bus pake desah2an lagi apa gk kedegnaneran tu apa penunmpang lain or kenek bus nya?aya aya wae fantasi yg bikin crita hehehehe

windi irawan wrote:
hehe...dah lama ga baca koran ya..........kasih dah

    ----- Original Message -----
    *From:* ragaj aljambie <mailto:[email protected]>
    *To:* [email protected]
    <mailto:[email protected]>
    *Sent:* Monday, July 05, 2010 1:59 PM
    *Subject:* ~ aga ~ koran koran koran

    hai hai....
    koran koran koran koran...kirim duunk


-- you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
    to post emails, just send to :
    [email protected] <mailto:[email protected]>
    to join this group, send blank email to :
    [email protected]
    <mailto:[email protected]>
    to quit from this group, just send email to :
    [email protected]
    <mailto:[email protected]>
    if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
    or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
    thanks for joinning this group.

--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

------------------------------------------------------------------------

Penelusuran <http://66.34.76.216/cgi-bin/telusur/telusur.cgi?view_search=1>

                
        FAQs <http://66.34.76.216/html/faq.html>          

                
        Statistik <http://s2.TheCounter.com/counter/1095052.vmain>        

        

*17Tahun/.com/ <http://17tahun.com>*

*Temukan:*
gunakan spasi untuk memisahkan kata, contoh: *cerita dewasa*


        

<<-Prev <973.html> | Next->> <759.html>

* *Setengah Baya* <http://66.34.76.216/html/cerita/Setengah_Baya/index.html> : *002* <http://66.34.76.216/html/cerita/Setengah_Baya/002/index.html> : SEPANJANG JALAN KENANGAN*

[ Score: 6.16, Vote: 100 ] - Rating: 6.16

Intermezzo <../../../cute.html>

Para /netters/ tentunya pasti ingat apabila tersebut atau tertulis sebuah kalimat seperti di atas, akan tetapi yang aku alami bukanlah seperti itu. Dan yang aku maksud adalah kisah nyata sepanjang jalan antara Temanggung - Semarang.

Aku adalah lelaki berumur 29 Tahun, namaku sebut saja Andi dan sudah menikah bahkan mempunyai seorang anak laki-laki 3 tahun. Cerita ini berawal ketika aku mengantar istriku dalam rangka liburannya (dia seorang dosen) ke salah satu kabupaten di Karesidenan Banyumas sana dan aku sendiri bekerja sebagai "officer" di salah satu perusahaan PMA di Surabaya. Sekembalinya aku dari Banyumas itu aku lewat jalur Wonosobo karena untuk ke arah Semarang lebih cepat. Saat bus berhenti di agen Temanggung teringatlah aku memory dengan bekas pacarku saat aku kuliah di Semarang dan karena kedua orangtuanya tidak setuju akhirnya kami berpisah secara baik-baik.

Dia adalah gadis di sebuah desa di lereng Gunung Sumbing. Wajahnya bulat cantik, bibirnya mirip penyayi Paramitha Rusadi dan bodinya ambooyy. "Aaah..." aku menghela nafas kembali sejenak melintas bayangan wajah itu, wajah seorang Yunita. Dan aku masih mengenang sebuah "French kiss" perpisahan kami di bentangan kebun teh itu dan berlanjut hingga mahkotanya yang terjaga selama ini diserahkan kepadaku. Diiringi mentari yang menyelimuti dirinya dengan kabut putih beriringan dengan desahan dan lenguhan di antara sejuknya udara kota itu. Ada sedikit tanda merah yang tertinggal di rok dalamnya sebelum aku meminta diri untuk meninggalkan semua yang ada di dirinya.

"Maaf Mas apa kursi ini kosong?" tanya suara itu.
Aku terkejut. Oh Tuhan rupanya aku melamun cukup lama tadi itu, gumamku dalam hati. Belum habis rasa terkejutku aku tersentak ketika aku memalingkan kepada seraut wajah itu.
"Ka... kaa.. mu.. Yunn!" teriakku demikian pula gadis itu.
"Mass.. Andi.." saut Gadis itu yang ternyata adalah Yunita dan ia tidak dapat membendung air matanya dan jatuhlah ia dalam pelukku.
"Aku kangen padamu Yun!" aku membuka perbincangan kami berdua.
"Aku juga kangen Mas!" bisiknya sambil merebahkan pundaknya di bahuku.
Entah siapa yang memulai tiba-tiba bibir kami hanyut dalam kemesraan karena Bus "Patas" yang kami naiki itu kebetulan tidak penuh bahkan beberapa kursi saja yang terisi. Aku yang sudah terangsang sekali karena seminggu belakangan ini tidak bercinta dengan istriku. Kulumat bibirnya yang paling kusukai itu dan desahannya semakin menjadi saat ujung lidahku memainkan belakang kupingnya. Aku mengambil kedua pahanya dan aku tumpukan pada pahaku sementara kepalanya bersandar pada bantal. Tepat disela-sela pantatnya batang kemaluanku yang sedari tadi bangkit setengah tiang dan menyembul mendorong celana /casual/-ku.

Takut dengan penumpang lain, aku buru-buru menyumpali bibirnya dengan bibirku. Tanganku dibimbingnya menuju busungan dadanya (dia seorang Tae Kwon Do-in). Tanpa diperintah aku menelusupkan tanganku ke kedua bukitnya yang kenyal itu.
"Aaakhh..." desahnya tertahan.
"Mass! aku kangeen banget sama Mas Andi," bisiknya saat aku mulai mengecup mesra putingnya.
"Oooukh.. Mass... aku nggaak kuath!" bisiknya.
Sementara aku mangambil bantal satu lagi dan kusandarkan di "legrest" dekat jendela. Dia menjambak rambutku amat kuat saat putingnya kugigit-gigit. Sementara puting satunya kupilin dengan telunjuk dan jempolku. Badanku mulai hangat, demikian pula tubuh Yunita semakin menggelinjang tak karuan. Aku masih saja memberikan sensasi kenikmatan pada kedua putingnya dan ternyata itu merupakan titik didihnya dia.

Sekitar tiga menit kemudian, "Oookkh Maaass... akuu maauu.. sss.. saamp..." desahnya saat aku menyudut kencang payudaranya hingga tenggelam setengahnya di mulutku. Ia menggelinjang pelan dan ia menggosok-gosok kedua pahanya dan celana kulotnya mulai lembab oleh cairan maninya. Sesaat kemudian kupelorotkan celana kulotnya serta CD-nya dan Yunita makin menggelepar hebat dan secepat kilat aku mencium rambut-rambut di bawah pusarnya, hhhmm.. harum sekali. Tiba-tiba kepalaku ditekannya menuju lubang kewanitaannya dan aku bagai kerbau di congok menuruti saja apa yang ia inginkan. Kusibakkan "labia mayora" dan "labia minora"-nya dan tersembullah klitorisnya yang kemerahan dan sekejap lalu kumainkan ujung lidahku di sana. Sementara jari tengahku memainkan liang kemaluannya. kutusuk pelan-pelan dan kukeluar-masukkan degan lembut. Yunita semakin tak menguasai dirinya dan mengambil bantal untuk menutup mulutnya dan aku hanya mendengar suara desahan yang tak begitu jelas. Akan tetapi Yunita bereaksi hebat dan tak lagi menguasai posisinya di pangkuanku. Batang kemaluanku yang sedari tadi tegang rasanya sia-sia kalau tidak aku sarangkan di lubang kemaluan wanita yang kukagumi itu. Aku mengangkat sedikit pinggulnya dan kubuka zipper lalu kukeluarkan batang kemaluanku, sementara aku mulai mengatur posisi Yunita untuk kumasuki.

"Slepph!" dengan mudah kepala batang kemaluanku masuk karena lubang kemaluannya sudah lembab dari tadi. Bersamaan itu Yunita mengernyitkan dahinya dan mendesah, "Aaakkhh... Pelannn dikit Yang... efffmhh... ookhhh..." Yunita menjerit lirih saat semua batang kemaluanku menjejali rongga rahimya yang masih mampu memijit meski seorang "Putri"-nya telah keluar dari rahim itu. Rasanya begitu hangat dan sensasional dan aku membisikkan padanya agar jangan menggoyangkan pantatnya. Kami rindu dan ingin berlama-lama menikmati moment kami kedua yang amat indah, syahdu dan nikmat ini. Aku melipat pahaku dan aku melusupkan dibalik punggungnya agar dia merasa nyaman dan memaksimalkan seluruh batang kemaluanku di rahimnya. Kurengkuh tengkuknya dan kulumat bibirnya dengan lembut bergantian ke belakang telinga dan lehernya yang jenjang. Tangan kiriku memberikan sentuhan di klitorisnya, kutekan dan kugoyang ujung jariku di sana.

"Oookkh... Masss Andiii... aaaku... kann... ngen... " katanya terbata saat aku menciumi belakang lehernya. Tubuhnya mulai menggigil dan Yunita diam sesaat merasakan pejalnya batang kemaluanku mengisi rahimnya, wajahnya menahan sesuatu untuk diekspresikan. Aku merasakan bahwa ia sebentar lagi mendapatkan orgasmenya, lantas buru-buru kubisikkan ditelinganya.
"Tumpahkan semua rindumu Sayang.. aku akan menyambutmu..." bisikku mesra.
"Iiii.. yyaach Masshh..." ia mulai memejamkan matanya untuk sensasi tersebut. Aku membantunya mempercepat tempo permainan ujung jariku di klitorisnya, sementara itu ujung lidahku juga tidak ketinggalan memutar-mutar putingnya dan sesekali menyedotnya lembut.

Hampir lima menit Yunita mulai membuka bibirnya dan kedua matanya dibuka sayu menikmati kemesraan yang ada. "Ookkh... aakhh.. aakkhh... Masss... sshh..." hanya itu yang ia ucapkan. Desahan-desahannya membuatku semakin bernafsu menjelajahi seluruh tubuhnya dengan ujung lidahku dan ketika aku sampai pada ketiaknya buru-buru Yunita menarik kepalaku. Ia lantas melumat bibirku kesetanan bagai tiada hari esok dan semenit kemudian berbisik, "Mmmhh... Mass... ssshhh.. Yunita mmm... mmauu..." lantas aku melumat bibirnya dan kulepas permainanku di klitorisnya. Tangan kiriku kutarik ke atas untuk menstimulasi puting kirinya dan ternyata usahaku tidak sia sia. "Aaa... aakkkh... aakkhh... akkhhh... oohghh..." desah Yunita dalam erat dekapanku. "Oookhh... nikkk... matthh... Saayy.. yang..." bisiknya mengakhiri orgasmenya menandakan kepuasan dari cinta kami berdua. Aku mengambil jaketku dan menutupi bagian pribadi kami yang sempat morat-marit. Meskipun batang kemaluanku masih tertancap dalam-dalam akan tetapi aku tidak ingin mengakhirinya dengan ejakulasiku karena situasi saja yang tidak memungkinkan.

"Aaawww... geli Masss..." desah Yunita geli oleh denyutan batang kemaluanku.
"Baik Nita sayang.. aku akan mencabutnya..."
Bersamaan itu,
"Aaahhh," Nita menjerit lirih kegelian.
Kami pun tertidur bersama hingga sampailah kami di kota Atlas, kota yang penuh kenangan bagi kami berdua dan istriku tercinta.
"Dik Nita sekarang tinggal dimana?" tanyaku sambil mengemasi bawaanku.
Belum sempat Nita jawab HP-ku berbunyi rupanya dari istriku yang menanyakan tentang perjalananku.
"Iya Maa.. aku udah nyampai di Semarang dengan selamat," jawabku singkat.
"Awas kalau mampir-mampir," ancam istriku bercanda.
"OK, Bosss," lantas aku menutup pembicaraan itu.

"Dari Istri Mas?" tanya Nita padaku.
"Hem em," aku malas menanggapi.
Nita dan istriku adalah sama-sama bekas pacarku dan keduanya saling tahu tentang aku bahkan pribadi mereka masing-masing.
"Eh Mas Andi mau kemana sich?" selidik Nita.
"Mau ke rumahmu," jawabku enteng.
"Ee... ee... Enak saja, ketahuan suamiku berabe lho."
"Aku serius lho," desakku.
Nita mengernyitkan dahinya lagi penuh tanda tanya.
"Benar nich," sahutnya.
"Hem emm Sayaangg..." jawabku sambil kukecup bibirnya dan kumainkan ujung lidahku di rongga mulutnya.
"Aaakkh.. udah ach.. maunya yang anget teruss," Nita menepis pelan pipiku.
Aku lantas merangkul dia ke dalam pelukanku. Angan laki-lakiku pun mulai berimprovisasi dan aku telah menemukan retorika tepat untuk dia.

"Nit aku khan belum puas melepas rindu ama kamu, kita lanjutin di Hotel Garden Palace yukk!" ajakku mengharap jawaban iya dari Nita. Tapi Nita diam saja tak bergeming, sialan pikirku. Ketika kondektur berteriak bahwa bus telah sampai di sebuah halte, Nita menegakkan badannya isyarat bahwa ia akan turun maka aku membimbingnya (sebetulnya aku akan turun diterminal Terboyo). Lantas kami pesan taksi dan aku bilang pada supir untuk ke Garden Palace Hotel, saat itulah Nita hendak mengucapkan sesuatu. Buru-buru aku menepisnya dan memainkan ujung lidahku di belakang kupingnya. "Aku masih kangen Nit," kataku berusaha untuk meyakinkannya.

Singkatnya kami segera pesan kamar yang menghadap ke Semarang bawah. Setelah mandi dan makan malam kami terlibat obrolan agak lama tentang masa lalu kami. Kunyalakan channel Video dan malam itu kebetulan di putar Blue XXX. Aku menatap wajah Nita makin gelisah, mungkin ini perselingkuhan pertama bagi dia, meskipun bagiku ini merupakan yang pertama juga. Wajar ia takut suaminya dosa dan keinginannya untuk mendapatkan kehangatan dan kelembutan kasih dariku. Aku merangkul pundaknya.
"Kamu OK saja Nit?" tanyaku membuka pembicaraan kami.
"I.. iiiya.. Mas..." jawabnya.
"Aku pijitin kamu yach," kataku sambil menarik punggungnya membelakangiku.
Aku memijit mulai dari kedua pundaknya, lengan, pinggul dan kembali ke lehernya.
Saat jemariku menelusuri lehernya Nita mendesah lembut.
"Akkkhhh..." desahnya.
"Enak khan Yang?" tanyaku sambil mendekatkan bibirku ke belakang lehernya.
"Oookh... Mashh..." desahnya.
Rupanya pancinganku berhasil, lantas aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan kami berdua.

Kali ini aku sudah dikuasai nafsuku, dengan cepat aku membalikkan tubuhnya menghadapku. Aku mulai menjelajahi seluruh tubuhnya dan satu persatu gaun tidur yang dikenakan kulepaskan dan kini di hadapanku sosok ibu muda yang putih mulus seksi menunggu kehangatan dariku. Kusapu seluruh tubuhnya dengan lidahku. Nita memejamkan matanya dan hanya bisa mendesis melenguh dan mendesah. Tubunhya kini bagai bermuatan listrik beribu-ribu volt. Sumsum tulangnya menjadi nyeri dan permukaan kulitnya terasa geli dan harus disentuh. "Aaakhhh... nimaatthh.. terusss Mass..." teriaknya keras saat aku mulai menjilat klitorisnya dan memainkan ujung lidahku di sana. Aku lantas menelusupkan jari tengahku di liang senggamanya, ia tersentak sebetar lantas menggoyang-goyangkan pinggulnya pelan.
"Emmhhh... oookhhh... cepat Mas masuki aku..." pinta Nita.
"Baik Sayang..." kataku, lantas mengambil sikap untuk siap-siap menyetubuhinya. Kurengkuh tengkuknya, sementara mulutku asyik mengulum dua buah bukit nikmatnya. Dan di bawah perut sana...
"Sleepph..." batang kemaluanku masuk setengahnya.
"Ookh..." Nita mendongak.
Dan satu hentakan lagi batang kemaluanku memasuki dan menyumpal liang kemaluannya. "Oookkh... ookkkh.. aaakkkkhh... sedot terusss Masshhh.. puaskan aku malam iniii.." ceracau Nita tak beraturan. "Aaakkhh... aaakkkhhh... mmppphhh.." Nita mengguman merasakan tubuhnya hangat dan sela selangkangannya amat nikmat.

Aku mulai menggejot perlahan dan seirama gerakan batang kemaluanku Nita mengimbangi dengan goyangan pinggulnya. Lima menit berlalu samapailah Nita pada puncak yang diinginkannya, Nita histeris memanggil-manggil namaku disela-sela desah nafasnya. Aku pun tak ingin menyia-nyiakan waktu itu dan kugenjot lebih keras lagi dan Nita semakin tak beraturan mengatur posisi orgasmenya.
"Nit... aku mau... di dalam attt.. tau..." tanyaku pada Nita.
"Mmpphh... ookkkh... aaakkhh... aakhhh..." Nita semakin dahsyat dan malah mempererat pelukannya. "Aaakkhh..." pekikku tertahan dan kepalaku mendongak mencurahkan birahiku di rahimnya. "Aaawww... aakkh... aaakkk.. Maass.. sshhh..." Nita mencengkeram punggungku saat tetes demi tetes maniku menyembur dinding rahimnya. Kujatuhkan diriku di samping Nita dan kuraih minuman segar lantas kuberikan pada Nita. Kami pun berpelukan mesra dan saling melepas perasaan rindu masing-masing dan malam beringsut, kami pun mengulangi lagi hingga pagi membangunkan kami berdua. Kuantar ia hingga station bus kota itu untuk menuju rumah kontrakannya di Semarang Barat. Aku sendiri melanjutkan perjalananku ke Surabaya dan aku kini kehilangan kontak dengannya.

Demikianlah kisahku dan aku membuka komentar dari para netter. Untuk para ibu muda dan tante-tante, aku membuka kesempatan untuk berkomentar.


*TAMAT*

[Masukkan Bookmark <http://66.34.76.216/cgi-bin/cerita/bookmark.cgi?add=986>] [Baca / Beri Review <http://66.34.76.216/cgi-bin/cerita/review.cgi?ID=986>]


Menurut anda, seberapa bagus cerita diatas:


<<-Prev <973.html> | Next->> <759.html>

Suka kami? Beritahu rekan-rekan anda tentang kami donk, silakan klik* di sini <http://66.34.76.216/cgi-bin/beritahu.cgi>...*
------------------------------------------------------------------------

        


Fortified by *17Tahun* <http://17tahun.com>/.com/ <http://17tahun.com> - Contact Us <mailto:[email protected]>

------------------------------------------------------------------------

Penelusuran <http://66.34.76.216/cgi-bin/telusur/telusur.cgi?view_search=1>

                
        FAQs <http://66.34.76.216/html/faq.html>          

                
        Statistik <http://s2.TheCounter.com/counter/1095052.vmain>        

        

*17Tahun/.com/ <http://17tahun.com>*

*Temukan:*
gunakan spasi untuk memisahkan kata, contoh: *cerita dewasa*


        

<<-Prev <933.html> | Next->> <980.html>

* *Sedarah* <http://66.34.76.216/html/cerita/Sedarah/index.html> : *002* <http://66.34.76.216/html/cerita/Sedarah/002/index.html> : ISTRIKU SELINGKUH DENGAN KEPONAKAN*

[ Score: 6.13, Vote: 114 ] - Rating: 6.13

Intermezzo <../../../cute.html>

Kejadian yang terjadi di rumah tanggaku ini tidak akan terulang lagi, karena istriku sendiri sudah menyadari atas kekilafan yang pernah dia lakukan dan dia pun telah minta maaf dan bersumpah untuk tidak mengulanginya lagi. Sebaliknya aku pun demikian, menyadari bahwa semua itu bukan semata-mata kesalahan istriku saja melainkan aku pun merasa ikut bersalah dan memaklumi kalau ini semua tidak direncanakan sebelumnya dan kami anggap sebagai ujian hidup.

Maksud dan tujuan semua ini aku ceritakan agar dapat dijadikan pegangan dan referensi buat semua orang yang membacanya, supaya kejadian yang kualami tidak terjadi pada orang lain, disamping hal tersebut agar semakin lepas dari sisa beban batin yang mungkin masih ada di diriku.

Kejadiannya memang tidak diduga dan tidak direncanakan. Awalnya hanya sedikit salah paham antara aku dan istriku. Dari kesalah-pahaman itu, aku sedikit merasa sakit hati dan saat itu aku mencoba untuk tidak mau bertegur sapa dengan istriku. Hal itu aku lakukan, karena awalnya aku ingin menggoda sampai dimana ketahanan nafsu seks istriku bila tidak kusentuh selama seminggu. Karena perlu diketahui pembaca, bahwa istriku dan aku umumnya tiga hari sekali rutin melakukan senggama dan itu semua umumnya berakhir dengan cucuran kenikmatan. Memang selama ini kami berdua selalu bervariasi dalam melakukan hubungan seks, dan kami merasa tidak mengalami masalah dalam hal yang satu ini.

Sebelum kulanjutkan cerita ini, kuceritakan dulu perihal keluargaku. Di rumahku tinggal aku (36 tahun, asal pulau Pariwisata), istriku Ayu (nama panggilan istriku sesuai dengan orangnya) yang cantik molek, kulit kuning langsat karena turunan dari kota kembang, rambut lurus hitam lebat dan ini sama dengan bulu kemaluannya yang hitam dan lebat, umurnya baru 34 tahun dan hidung mancung, lalu ada dua orang laki-laki lagi yang tinggal di rumahku, yaitu Dani, anakku yang baru berumur tiga tahun dan Wisne (25 tahun) keponakanku yang awalnya numpang tinggal karena keperluan mencari kerja dan saat ini tidak lagi tinggal di rumahku karena telah aku suruh pulang karena menyangkut perselingkuhan dengan istriku.

Jadi setelah selama tiga hari aku mencoba menggoda benteng ketahanan istriku dengan cara tidak bertegur sapa dan tidak memberikan kebutuhan biologisnya, ada sisi lain yang aku bisa nikmati, yaitu aku melihat perubahan tingkah dari istriku, tingkah laku yang serba salah, tidur tidak tenang dan banyak lagi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah aku lihat. Hal ini entah karena aku yang memberikan ekstra perhatian secara sembunyi-sembunyi atau memang karena akibat dari situasi perseteruan antara aku dan istriku.

Suatu malam, kulihat jam menunjuk di angka sembilan malam, saat itu hari keenam aku membisu, aku sengaja pura-pura tidur duluan dan aku yakin istriku tidak lama pasti menyusul masuk kamar seperti biasanya. Pada jam-jam segitu, umumnya kami masih nonton TV bersama di ruang keluarga termasuk juga Wisne keponakanku. Sebenarnya aku sendiri belum ngantuk tapi aku hanya ingin tahu tingkah laku istriku saja. Beberapa menit aku pura-pura sudah tidur dengan sedikit mengeluarkan suara dengkur dan terlihat bayang-bayang (karena pakai lampu tidur) saat itu istriku susah tidur. Dan aku nyaris tidak percaya dengan apa yang aku lihat bahwa istriku memainkan tangannya di selangkangannya sendiri. Awalnya hanya tangannya yang terlihat bergerak, digesek-gesek naik turun dengan irama yang teratur tapi setelah beberapa saat kemudian, kulihat istriku melepaskan CD-nya dan gerakan tangannya semakin tidak beraturan dibarengi nafas yang semakin ngos-ngosan. Darahku berdesir dan hampir aku tidak bisa menahan nafsuku sendiri ketika melihat istriku terengah-engah karena nikmat yang dibuatnya sendiri. Tapi aku tetap pada pendirianku semula, aku seolah-seolah masih sakit hati dan tidak mau bertegur sapa, jadi saat itu aku hanya menikmati tingkah sensual istriku.

Dua hari berikutnya, aku lakukan hal yang sama, yaitu sekitar jam sembilan aku masuk kamar. Beberapa menit aku tunggu, istriku tidak masuk kamar seperti biasanya dan aku sengaja menunggu reaksi selanjutnya karena aku sendiri belum merasa mengantuk. Sekitar setengah jam, istriku belum masuk juga, tapi aku sayup-sayup mendengar istriku bicara dengan seseorang. Dan beberapa saat kemudian, istriku masuk kamar tapi cuma sebentar dan kemudian keluar lagi dengan menutup pintu secara perlahan tidak seperti biasanya, mungkin dikiranya aku sudah tertidur pulas pada saat istriku masuk kamar. Aku semakin ingin tahu, apa yang akan dilakukan istriku selanjutnya dan bebarapa menit kemudian, aku mendengar pintu kamar sebelah, yaitu kamar Wisne keponakanku ditutup, tapi suara TV masih menyala. Aku pikir keponakanku pergi tidur dan istriku masih nonton TV sendiri. Sekitar lima belas menit, aku ingin melihat apa yang dilakukan istriku dengan cara naik di atas kursi melihat melalui jendela ventilasi, tapi di sekeliling ruangan keluarga tidak terlihat seorang pun, hanya TV yang menyala, lalu aku bertanya dalam hati kemana perginya istriku, mungkinkah ke kamar mandi, tapi sayup-sayup kudengar ada suara-suara yang sedikit mencurigakan.

Dalam hati aku berpikir, mungkinkah istriku masturbasi di kamar mandi. Karena semakin penasaran, maka secara perlahan, aku keluar kamar dan bergerak ala detektif mencari asal suara yang mencurigakan itu. Hampir aku tidak percaya, datangnya suara dari kamar keponakanku. Karena diluar dugaanku, aku harus bertindak cepat untuk mengetahui apa yang dilakukan istriku di kamar keponakanku sendiri, hatiku berdebar-debar dan aku sadar tidak boleh ceroboh dalam bertindak, maka secara perlahan kuambil kursi untuk melihat sedang apa mereka di kamar keponakanku. Astaga apa yang kulihat, istriku sedang berciuman mesra dengan Wisne, hampir aku langsung mendobrak pintu kamar keponakanku, tapi aku gemetar bercampur rasa penasaran dan ada perasaan unik tersendiri begitu melihat istriku bergumul dan bermesraan dengan orang lain, sehingga kuputuskan untuk mengintip perselingkuhan yang dilakukan istriku. Sebenarnya ada rasa ingin marah dan cemburu, tapi di sisi lain, ada perasaan lain yang membuat aku berdebar-debar ingin menyaksikan.

Kulihat mereka masih ciuman sambil bersandar di dinding, tangan kanan istriku telah merogoh batang kejantanan Wisne yang masih pakai celana pendek dan tangan tangan Wisne meremas-remas buah dada istriku yang masih pakai daster. Jantungku semakin berdebar dan tidak terasa aku ikut terangsang karena selama ini aku pun menahan nafsuku. Terlihat keduanya sangat bernafsu, terutama istriku. Sambil tangan kanan tetap meremas dan mengocok batang kemaluan Wisne, tangan kirinya melepaskan kancing dasternya dan dalam beberapa saat, dasternya merosot ke lantai, sedang tangan Wisne terlihat berusaha membuka kaitan BH istriku, lalu mulut Wisne beralih ke putting susu istriku. Terlihat istriku menggeliat keenakan. Dan tangan istriku tidak ketinggalan, membuka kancing celana Wisne dan langsung melorotkan CD Wisne. Terlihat batang kemaluan Wisne telah tegak dengan gagahnya, besar dan panjangnya hampir sama dengan punyaku, hanya punya Wisne agak sedikit bengkok ke atas dan agak lebih kuning dari punyaku, mungkin karena dia masih perjaka dan belum pernah diasah.

Dan setelah kedua-duanya telanjang bulat, mereka bergeser ke arah ranjang dan sambil masih berciuman, istriku direbahkan dengan kaki masih di lantai. Terdengar suara permohonan istriku pada Wisne, "Wisne cepat masukkan barangmu... cepaaat..!" Mereka terlihat terburu-buru. Karena terlalu lebatnya bulu kemaluan istriku, batang kejantanan Wisne tidak bisa langsung masuk, dan tangan Wisne terlihat menyibakkan bulu-bulu kemaluan istriku. Batang kejantanannya digesek-gesekkan ingin masuk, tetapi terlihat agak susah. Perlu diketahui, istriku saat melahirkan Dani dengan cara operasi caesar, jadi hingga saat ini, lubang senggama istriku masih normal dan sempit. Karena agak mengalami hambatan memasukkan batang kejantanannya, lalu istriku sedikit membuka selangkangannya dan, "Blesss..." masuklah kepala batang kejantanan Wisne. Wajah Wisne terlihat nyengir kegelian yang nikmat dan dengan daya tekan ke depan batang keperkasaan Wisne amblass ke liang senggama istriku.

"Ohh... ohhhh..." keluh kenikmatan istriku.
Dengan posisi badan istriku rebah di ranjang dan kaki sedikit diangkat dan kedua tangan istriku dirangkulkan di leher Wisne, sedang Wisne sendiri dengan posisi berdiri dan tangannya bertopang pada ranjang, terlihat mereka menikmati kocokkan-kocokkan yang dibuatnya. Hanya beberapa saat, kocokkan batang kemaluan Wisne semakin cepat dan terlihat mata Wisne meram melek dan istriku memprotesnya. "Jangan dulu Wis... jangan dulu... Aku belum apa-apa Wis..." pinta istriku. Dan terdengar suara rintihan nikmat Wisne, "Ehhh... eeh... creeet... cruuuttt..." Mungkin karena belum berpengalaman, dia tidak bisa mengendaliakan senjatanya dan dalam hati, aku bersyukur bahwa istriku tidak mendapatkan kenikmatan dari Wisne dengan harapan nantinya minta dilanjutkan denganku, suaminya.

Kulihat istriku memukul-mukul pundak Wisne.
"Kamu ini gimana sih..? Baru beberapa menit sudah keluar... Aku belum apa-apa..." kata istriku. Wisne sambil ngos-ngosan menjawab, "Maaf Tante, Wisne belum pengalaman... " Wisne merebahkan diri telentang di ranjang, batang kejantanannya semakin mengendor, lunglai basah kuyup akibat campuran cairan spermanya dan lendir dari liang senggama istriku. Terlihat istriku mengambil kain untuk membersihkan kemaluannya dari semprotan dan tetesan sperma Wisne dan dilanjutkan membersihkan batang kemaluan Wisne. Kupikir berakhirlah adegan ranjang mereka.

Ternyata dengan kelihaian istriku serta nafsu yang masih belum terlampiaskan, batang kejantanan Wisne diusap-usap, dielus dan dikocok-kocok lembut oleh tangan lentik istriku. Akhirnya terlihat mulai mengembang lagi batang keperkasaan Wisne. Biasanya aku kalau habis main dengan istriku, batang kejantananku tidak bisa bangun lagi, mungkin karena tempo permainan yang amat lama dan biasanya istriku langsung terkulai lemas sama seperti aku yang selanjutnya tertidur lelap.

Kini batang keperkasaan Wisne tegak menantang kembali dan istriku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan posisi Wisne tetap telentang, istriku mengatur posisi jongkok, persis di atas batang keperjakaan Wisne. Otomatis, dalam hal ini, istriku yang berperan. Tangan kanannya memegang batang keperkasaan Wisne dan menuntun masuk ke lubang kemaluannya. Selanjutnya, istriku bergerak naik turun. Terlihat pantatnya yang kuning mulus berayun seirama dengan gerakannya. Dalam beberapa menit, terdengar rengekkan nikmat istriku, "Ooohh... ooohhh... ooohhh... ooohhh..." Istriku melenguh nikmat dan kocokannya semakin kencang dan, "Ooohhh... ooohhh... ooohhh..." semakin panjang lengkuhannya.
"Ooohhh... Wisne.., Aku mau keluar Wis... Ooohhh..."
Batang keperkasaan Wisne menancap semua, amblas dan yang terlihat hanya butir-butir kemaluan Wisne. Istriku terkulai lemas di atas dada Wisne. Hal itu dibiarkan saja oleh Wisne, malah kedua tangan Wisne meremas-remas pantat istriku.

Beberapa menit kemudian, Wisne berusaha membalikkan posisi. Istriku ditelentangkan dan Wisne bergantian jongkok tepat di atas liang senggama istriku. Lubang kemaluan istriku terlihat mengkilap karena lendir yang dikeluarkannya. Dengan perlahan, Wisne mulai memompa naik turun dan pinggul istriku ikut menggoyang ke arah kiri dan kanan. "Ooohhh... ooohhh..." terpaksa batang kemaluanku kukocok sendiri karena tidak tahan melihat adegan panas istriku. Kocokan Wisne kali ini lama sekali, tidak berhenti-berhenti dan terdengar istriku minta dipercepat gerakan mengocoknya batang keperkasaan Wisne. "Teruuusss... teruuusss... cepat kocok terus Wis.., cepat lagi Wis..!" sampai terdengar suara kocokan batang kejantanan Wisne di liang senggama istriku, "Pleeekkk... pleeekkk... pleeekkk..."
Wisne mulai melenguh lagi, "Ohhh... eeehhh... ooohhh... eeehhh..."
Istriku tidak ketinggalan, juga ikut mendesah, "eeehhh... eeehhh... eeehhh... eeehhh... teruuusss..! terrruuusss..! Aku mau keluar lagi Wiiisss..! Ooohhh..."

Wisne menekan batang kemaluannya kuat-kuat di lubang kemaluan istriku karena kedua tangan istriku merangkul pantat Wisne untuk ditekankan ke arahnya. Aku pikir, Wisne juga sudah keluar maka batang kemaluanku kukocok terus hingga spermaku muncrat juga.
"Ooohhh... creeettt... crettt..."
Beberapa menit kemudian, terdengar istriku bicara pada Wisne, "Cabut dulu kontolmu Wis..!" Wisne mencabut batang kemaluannya dari jepitan liang senggama istriku. Istriku berbalik tengkurap, mau apa lagi mereka. Ternyata kejantanan Wisne masih terangsang berat.
"Masukkan lagi kontolmu Wis... cepaattt..!" pinta istriku lagi.
Agak sedikit berjongkok, dimasukkan lagi ke liang senggama istriku.
"Ooohhh..." terdengar istriku menikmatinya, "Wis... terasa mengenai dinding rahimku, Wis..!"

Wisne mulai bergerak maju mundur mengaduk-aduk kemaluan istriku lagi
"Ooohhh... nikmatnya memek Tante.., ooohhh enak sekali kalau begini Tante... semakin enak Tante.." Istriku menikmatinya, "Teruuusss... kocok teruusss Wis..! Aku merasakan kontolmu semakin enak saja Wis..! Teruusss... Wis... terusss..!" Semakin Wisne mendapat angin segar, maka dikuatkan kocokkannya dan, "Ploookkk... ploookkk... ploookkk... cleeeppp... cleeppp... ploookkk... ooohhh... oohhh... nikmat Tante. Memek Tante semakin hangeeeetttt Tante, ooohhh.., plokkk... plookkk... cleeeppp... plookkk... cleeepppp... ooohhhh, Wisne mau keluar Tante... ooohhh... ooohhh... Creeettt... creeettt... cruuuttt..."

Itulah kisah perselingkuhan istriku dengan keponakanku, Wisne. Dan bila ada pembaca yang ingin berkomentar, silahkan email saja.


*TAMAT*

[Masukkan Bookmark <http://66.34.76.216/cgi-bin/cerita/bookmark.cgi?add=979>] [Baca / Beri Review <http://66.34.76.216/cgi-bin/cerita/review.cgi?ID=979>] [Oleh: *wirata65* - Kirim Email <http://66.34.76.216/cgi-bin/cerita/mailer.cgi?ID=979> - Daftar Cerita <http://66.34.76.216/cgi-bin/telusur/telusur.cgi?view_records=Tampilkan&ContactName=wirata65>]


Menurut anda, seberapa bagus cerita diatas:


<<-Prev <933.html> | Next->> <980.html>

Suka kami? Beritahu rekan-rekan anda tentang kami donk, silakan klik* di sini <http://66.34.76.216/cgi-bin/beritahu.cgi>...*
------------------------------------------------------------------------

        


Fortified by *17Tahun* <http://17tahun.com>/.com/ <http://17tahun.com> - Contact Us <mailto:[email protected]>


--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected]
thanks for joinning this group.

Kirim email ke