ttg redenominasi ini yg gw bingung tu dulu kn indonesia pernah pnya nominal kecil sprti yg ingin dilakukan skrg
ada Rp1 dst trus knp lalu bs jd sprti skrg ya jd besar gt
apa ntr gk akan keulang lagi , mo diubah jd kecil lagi trus besok2 nominalnya jd besar lagi

kl bs sih kursnya jg bs dikuatin, jd misalnya Rp1 = SGD 1
jd kn balance tuh, bukannya tetep aja Rp 6.5 = SGD 1

ined_mail wrote:
Penyederhanaan rupiah bukanlah hantu yang mesti ditakuti atau ditanggapi dengan panik oleh masyarakat. Gagasan yang tengah digodok oleh Bank Indonesia ini seharusnya dipikirkan secara jernih. Tergesa-gesa bersikap antipati--seperti ditunjukkan kalangan anggota DPR dan sebagian pengamat ekonomi--hanya akan mengaburkan berbagai faedah di balik gagasan ini.

Bank sentral mengkaji redenominasi karena deretan nol pada uang kita termasuk yang terpanjang di dunia. Uang seratus ribu rupiah, yang memiliki lima nol, secara nominal terasa banyak sekali, tapi di beberapa daerah nilainya hanya setara dengan 1,5 kilogram cabai rawit. Adapun uang seribu rupiah, kendati punya tiga nol, saat ini hanya setara dengan sebungkus permen.

Kenapa uang seribu itu tidak diganti saja dengan Rp 1 uang baru yang tetap bisa digunakan membeli sebungkus permen? Inilah inti dari gagasan redenominasi rupiah. Pengurangan tiga nol--bisa pula empat nol, tergantung kesepakatan--membuat pecahan rupiah akan lebih sederhana. Buat membeli cabai rawit, orang tak perlu membawa Rp 100 ribu, cukup Rp 100 uang baru.

Dengan tetap mempertahankan pecahan yang ada selama ini, sejumlah kerepotan terjadi. Misalnya, pencatatan transaksi besar memerlukan waktu lama, memakan biaya besar, dan ada risiko terjadi kesalahan penulisan nominal. Lagi pula Indonesia akan bergabung dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN, maka acuan mata uangnya perlu disetarakan dengan duit negara-negara tetangga, yang umumnya sudah sederhana, kecuali Vietnam.

Publik seharusnya tidak khawatir, karena redenominasi tidaklah sama dengan sanering alias pemotongan nilai uang. Sanering yang pernah dilakukan pemerintah pada 1959 memang membuat nilai uang berkurang sehingga daya beli masyarakat pun menurun. Tapi penyederhanaan rupiah tak merugikan masyarakat, karena nilai uang yang mereka miliki sama sekali tidak berkurang.

Sudah puluhan negara berkembang melakukan redenominasi mata uangnya sepanjang 1960 hingga 2003. Beberapa negara bahkan melakukannya lebih dari satu kali, seperti Bolivia, Peru, Argentina, dan Brasil. Pada 2005 Turki juga melakukan hal serupa dan sukses membawa ekonomi mereka membaik. Cerita sukses redenominasi juga dialami Rumania. Pemerintah Indonesia pun pernah menyederhanakan rupiahnya pada 1965 dengan mengubah pecahan Rp 1.000 menjadi Rp 1.

Meski begitu, Bank Indonesia tetap perlu berhati-hati melangkah. Jika redenominasi benar-benar akan dilaksanakan mulai 2013, rencana ini harus segera dibicarakan secara terbuka dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Apalagi Pasal 23B UUD 1945 tegas menyatakan: macam dan harga mata uang ditetapkan dengan undang-undang. Tak bisa lain, jika redenominasi hendak diwujudkan, Rancangan Undang-Undang Mata Uang harus segera dituntaskan.

Publik pun perlu diberi penjelasan gamblang tentang manfaat dan tahapan penyederhanaan rupiah. Sosialisasi amat menentukan keberhasilan redenominasi, karena masyarakatlah yang akhirnya dibuat sedikit repot oleh perubahan ini. Bersama pemerintah, bank sentral harus memastikan bahwa rakyat memahami dan menerima penyederhanaan rupiah sebelum kebijakan ini diambil.


><><><><><><><
***Dromen zijn het begin van de werkelijkheid.***
regards,
"ined_mail
by:
DENY TRI SURYODINOTO
email  : deny[dot]dino[at]gmail[dot]com

--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit my facebook at [email protected]
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke