*Lailatul Qadar dan
I’tikaf*<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html>

Segala puji bagi Allah atas berbagai macam nikmat yang Allah berikan.
Shalawat dan salam atas suri tauladan kita Nabi Muhammad *shallallahu
‘alaihi wa sallam* kepada keluarganya dan para pengikutnya.



*Bersemangatlah di Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan*

Para pembaca -yang semoga dimudahkan Allah untuk melakukan ketaatan-. Perlu
diketahui bahwa sepertiga terakhir bulan Ramadhan adalah saat-saat yang
penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang melimpah. Di dalamnya
terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Oleh karena itu suri
tauladan kita -Nabi Muhammad *shallallahu ‘alaihi wa sallam*- dahulu
bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepuluh hari terakhir tersebut dengan
berbagai amalan melebihi waktu-waktu lainnya.

Sebagaimana istri beliau -Ummul Mu’minin Aisyah *radhiyallahu ‘anha*-
berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ
الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

*“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada
sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di
waktu yang lainnya.”* (HR. Muslim)

Aisyah *radhiyallahu ‘anha* juga mengatakan,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ
مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

*“Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir
(bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri
beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan
membangunkan keluarganya.”* (HR. Bukhari & Muslim)

Maka perhatikanlah apa yang dilakukan oleh suri tauladan kita! Lihatlah,
Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* bukanlah malah mengisi hari-hari
terakir Ramadhan dengan berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan untuk
persiapan lebaran (hari raya). Yang beliau lakukan adalah bersungguh-sungguh
dalam melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al Qur’an, dzikir, sedekah
dan lain sebagainya. Renungkanlah hal ini!

*Keutamaan Lailatul Qadar*

Saudaraku, pada sepertiga terakhir dari bulan yang penuh berkah ini terdapat
malam Lailatul 
Qadar<http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/lailatul-qadar-dan-itikaf.html>,
suatu malam yang dimuliakan oleh Allah melebihi malam-malam lainnya. Di
antara kemuliaan malam tersebut adalah Allah mensifatinya dengan malam yang
penuh keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3)
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

*“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Qur’an) pada suatu malam yang
diberkahi. dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu
dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”* (QS. Ad Dukhan [44]: 3-4)

Malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar sebagaimana
ditafsirkan pada surat Al Qadar. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

*“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam
kemuliaan.”*(QS. Al Qadar [97]: 1)

Keberkahan dan kemuliaan yang dimaksud disebutkan dalam ayat selanjutnya,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ
وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ
حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ

*“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”* (QS.
Al Qadar [97] : 3-5)

*Catatan:* Perhatikanlah bahwa malam keberkahan tersebut adalah lailatul
qadar. Dan Al Qur’an turun pada bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah
Ta’ala,

شَهْرُ رَمَضَانَ الذي أُنْزِلَ فِيهِ القرآن

*“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran.”* (QS. Al Baqarah [2] : 185)

Maka sungguh sangat keliru yang beranggapan bahwasanya Al Qur’an itu turun
pada pertengahan bulan Sya’ban atau pada 17 Ramadhan lalu diperingati dengan
hari NUZULUL QUR’AN. Padahal Al Qur’an itu turun pada lailatul qadar. Dan
lailatul qadar -sebagaimana pada penjelasan selanjutnya- terjadi pada
sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Renungkanlah hal ini!



*Kapan Malam Lailatul Qadar Terjadi ?*

Lailatul Qadar itu terjadi pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan,
sebagaimana sabda Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam*,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

*“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan
Ramadhan.”*(HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di malam-malam ganjil itu lebih memungkinkan
daripada malam-malam genap, sebagaimana sabda Nabi *shallallahu ‘alaihi wa
sallam*,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ
رَمَضَانَ

*“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di
bulan Ramadhan.”* (HR. Bukhari)

Terjadinya lailatul qadar di tujuh malam terakhir bulan ramadhan itu lebih
memungkinkan sebagaimana hadits dari Ibnu Umar bahwa Nabi *shallallahu
‘alaihi wa sallam* bersabda,

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ –
فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ
الْبَوَاقِى

*“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa
keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang
tersisa.”*(HR. Muslim)

Dan yang memilih pendapat bahwa lailatul qadar adalah malam kedua puluh
tujuh sebagaimana ditegaskan oleh Ubay bin Ka’ab *radhiyallahu ‘anhu*. Namun
pendapat yang paling kuat dari berbagai pendapat yang ada sebagaimana
dikatakan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari bahwa lailatul qadar itu terjadi pada
malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dan waktunya berpindah-pindah dari
tahun ke tahun. Mungkin pada tahun tertentu terjadi pada malam kedua puluh
tujuh atau mungkin juga pada tahun yang berikutnya terjadi pada malam kedua
puluh lima tergantung kehendak dan hikmah Allah Ta’ala. Hal ini dikuatkan
oleh sabda Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam,*

الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ
فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى

*“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada
sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.”* (HR. Bukhari)

*Catatan:* Hikmah Allah menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malam
lailatul qadar di antaranya adalah agar terbedakan antara orang yang
sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena
orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan
bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar
hamba memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut dengan demikian mereka
akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang amat
banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan
ini. *Amin Ya Sami’ad Da’awat.*



*Do’a di Malam Lailatul Qadar*

Sangat dianjurkan untuk memperbanyak do’a pada lailatul qadar, lebih-lebih
do’a yang dianjurkan oleh suri tauladan kita -Nabi Muhammad *shallallahu
‘alaihi wa sallam*- sebagaimana terdapat dalam hadits dari Aisyah.
Beliau *radhiyallahu
‘anha* berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ
الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ
كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

*“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu
malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau
menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni’
(artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang
menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).”* (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani. Lihat *Ash Shohihah*)



*Tanda Malam Lailatul Qadar*

[1] Udara dan angin sekitar terasa tenang. Sebagaimana dari Ibnu Abbas,
Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersabda,

لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً
تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء

*“Lailatul qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu
panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan
nampak kemerah-merahan.”* (HR. Ath Thoyalisi. Haytsami mengatakan
periwayatnya adalah tsiqoh/terpercaya)

[2] Malaikat menurunkan ketenangan sehingga manusia merasakan ketenangan
tersebut dan merasakan kelezatan dalam beribadah, yang tidak didapatkan pada
hari-hari yang lain.

[3] Manusia dapat melihat malam ini dalam mimpinya sebagaimana terjadi pada
sebagian sahabat.

[4] Matahari akan terbit pada pagi harinya dalam keadaan jernih, tidak ada
sinar. Dari Abi bin Ka’ab bahwa Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa
sallam*bersabda yang artinya,
*“Shubuh hari dari malam lailatul qadar matahari terbit tanpa sinar,
seolah-olah mirip bejana hingga matahari itu naik.”* (HR. Muslim)
(Lihat *Shohih
Fiqh Sunnah* II/149-150)



*I’tikaf dan Pensyari’atannya*

Dalam sepuluh hari terakhir ini, kaum muslimin dianjurkan (disunnahkan)
untuk melakukan i’tikaf. Sebagaimana Abu Hurairah mengatakan bahwa
Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam* biasa beri’tikaf pada setiap
Ramadhan selama 10 hari dan pada akhir hayat, beliau melakukan i’tikaf
selama 20 hari. (HR. Bukhari)

Lalu apa yang dimaksud dengan i’tikaf? Dalam kitab *Lisanul Arab*, i’tikaf
bermakna merutinkan (menjaga) sesuatu. Sehingga orang yang mengharuskan
dirinya untuk berdiam di masjid dan mengerjakan ibadah di dalamya disebut
mu’takifun atau ‘akifun. (Lihat *Shohih Fiqh Sunnah* II/150)

Dan paling utama adalah beri’tikaf pada hari terakhir di bulan Ramadhan.
Aisyah *radhiyallahu ‘anha* mengatakan bahwa Nabi *shallallahu ‘alaihi wa
sallam* biasa beri’tikaf pada 10 hari terakhir di bulan Ramadhan sampai
Allah ‘azza wa jalla mewafatkan beliau. (HR. Bukhari & Muslim)

Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* juga pernah beri’tikaf di 10 hari
terakhir dari bulan Syawal sebagai qadha’ karena tidak beri’tikaf di bulan
Ramadhan. (HR. Bukhari & Muslim)



*I’tikaf Harus di Masjid dan Boleh di Masjid Mana Saja*

I’tikaf disyari’atkan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah
Ta’ala,

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

*“(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam
masjid.”* (QS. Al Baqarah [2]: 187)

Demikian juga dikarenakan Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam* begitu
juga istri-istri beliau melakukannya di masjid, dan tidak pernah di rumah
sama sekali.  Menurut mayoritas ulama, i’tikaf disyari’atkan di semua masjid
karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) *“Sedang kamu beri’tikaf
dalam masjid”*. dapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, *“Tidak
ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid”*, hadits ini masih dipersilisihkan
apakah statusnya marfu’ atau mauquf. (Lihat *Shohih Fiqh Sunnah* II/151)



*Wanita Juga Boleh Beri’tikaf*

Dibolehkan bagi wanita untuk melakukan i’tikaf sebagaimana Nabi *shallallahu
‘alaihi wa sallam* mengizinkan istri tercinta beliau untuk beri’tikaf. (HR.
Bukhari & Muslim)

Namun wanita boleh beri’tikaf di sini harus memenuhi 2 syarat: [1] Diizinkan
oleh suami dan [2] Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki). (Lihat
*Shohih Fiqh Sunnah* II/151-152)



*Waktu Minimal Lamanya I’tikaf*

I’tikaf tidak disyaratkan dengan puasa. Karena Umar pernah berkata kepada
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, *“Ya Rasulullah, aku dulu pernah
bernazar di masa jahiliyah untuk beri’tikaf semalam di Masjidil
Haram?”*Lalu Nabi
*shallallahu ‘alaihi wa sallam* mengatakan, *“Tunaikan nadzarmu.”* Kemudian
Umar beri’tikaf semalam. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan jika beri’tikaf pada malam hari, tentu tidak puasa. Jadi puasa bukanlah
syarat untuk i’tikaf. Maka dari hadits ini boleh bagi seseorang beri’tikaf
hanya semalam, *wallahu a’lam.*



*Yang Membatalkan I’tikaf*

Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf adalah: [1] Keluar dari masjid tanpa
alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan yang mubah yang mendesak (misalnya
untuk mencari makan, mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid),
[2] Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di
atas. (Lihat *Shohih Fiqh Sunnah* II/155-156)

Perbanyaklah dan sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan tatkala
beri’tikaf seperti berdo’a, dzikir, dan membaca Al Qur’an. Semoga Allah
memudahkan kita untuk mengisi hari-hari kita di bulan Ramadhan dengan amalan
sholih yang ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi *shallallahu ‘alaihi wa
sallam*.

*Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala
nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke