Selasa, 10 Agustus 2010
Mustika Hikmawati Buka Warung Amal untuk Kaum Duafa
Makan Secukupnya, Bayar Seikhlasnya
Banyak cara untuk berbuat mulia. Salah satunya yang dilakukan Mustika
Hikmawati. Dia membuka Warung Amal untuk kaum duafa. Cukup bayar Rp
1.500, pembeli bisa menikmati sepiring nasi, lengkap dengan
lauk-pauknya, plus air minum.
---
MEJA makan ukuran sedang, dilengkapi tempat lauk-pauk dan beberapa kursi
plastik, ditata rapi di teras rumah berukuran sekitar 4 x 4 meter.
Sebuah spanduk cantik dibeber di depan teras, bertulisan Warung Amal,
Makan Secukupnya, Bayar Seikhlasnya. Cukup Bayar Rp 1.500.
Tentu saja, pemberitahuan itu bisa diibaratkan undangan bagi orang yang
sehari-hari berlalu lalang di Jalan Darmo Kali, tempat warung tersebut
berada. Utamanya kalangan tukang becak, pengamen, atau pengangguran.
Dalam sehari sekitar 70 orang datang ke warung yang buka pukul 09.00
sampai 14.30 itu. Menunya sederhana: pecel, rawon, sayur lodeh, sayur
asem, sup, juga soto ayam. "Sekitar pukul 14.00 makanan sudah habis
semua," kata Ninis Churati, salah seorang di antara empat relawan di
warung tersebut.
Meski sederhana, warung itu cukup dikenal di kalangan kaum duafa. Dengan
uang Rp 1.500, pengunjung bisa menikmati sepiring makanan nikmat plus
segelas air putih. "Sebelumnya sekali makan cuma bayar Rp 1.000. Karena
harga-harga naik, sejak pertengahan Juni lalu, kami ikut naik jadi Rp
1.500,'' ujar Ninis.
Tetap murah. Sebab, sesuai dengan namanya, warung tersebut didirikan
memang dengan niat mulia, membantu kaum duafa (tak mampu). "Terlalu
berlebihan, Mas, kalau saya disebut sebagai orang mulia. Saya hanya
mengelola warung," tutur Mustika, pengelola Warung Amal. "Merekalah
(relawan warung, Red) yang lebih mulia," lanjutnya ketika ditemui Jumat
sore, 6 Agustus.
Perempuan 44 tahun itu mengungkapkan, ide untuk mendirikan warung
tersebut bermula dari kakaknya, Satria Dharma, yang tinggal di
Balikpapan. Pada awal tahun ini, dia berbincang dengan kakaknya. Saat
itu Satria mengemukakan konsep membantu kaum duafa.
Sang kakak menyarankan perempuan kelahiran Surabaya tersebut membuka
Warung Amal seperti yang dijalaninya di Balikpapan. Konsep yang
dicetuskan Satria itu tentu saja bukan warung komersial yang lebih fokus
mencari untung. Namun warung makan yang harga menunya terjangkau oleh
kaum duafa. Karena itu, harga makanan juga harus sesuai dengan kantong
mereka tanpa mengurangi kenikmatan rasa dan gizinya.
"Maka, saya pun membuka warung ini pada Februari lalu," ucap Mustika.
"Tapi, sekali lagi, saya hanya mengelola. Di lapangan saya dibantu empat
ibu (Ninis dkk, Red) itu. Sedangkan bahan makanannya di-support kakak,"
lanjutnya.
Tiap bulan Satria mengiriminya uang untuk belanja bahan pokok, seperti
beras dan minyak. Selain dari Satria, Mustika mendapatkan bantuan dari
kakaknya yang lain, Rohyati Wahyuni, dosen Universitas Airlangga (Unair).
Dia tidak hanya membantu keuangan warung, tapi juga menyosialisasikan
Warung Amal tersebut lewat jejaring sosial untuk menarik para donatur.
"Hasilnya nyata. Saya sering kali mendapatkan sumbangan dari beberapa
pihak," ungkap Mustika.
Dari sumbangan itulah Mustika menjalankan warungnya. Setiap hari dia
tinggal belanja keperluan lauk-pauk. Setelah belanja, perempuan yang
bekerja di sebuah pabrik farmasi tersebut menyerahkan semuanya kepada
empat ibu yang menjalankan warungnya itu. Selain Ninis, ada Umi,
Cholifah, dan Nunuk.
Mereka bekerja dengan keikhlasan tinggi, tanpa dibayar serupiah pun.
"Wong beliau saja mau membantu dengan pengeluaran yang tak sedikit,
tenaga dan uang, masak saya yang hanya modal tenaga tidak mau, Mas,"
ujar Ninis. "Istilahnya, saya di sini untuk mencari bekal ke akhirat,"
tambahnya.
Karena harga di warung itu disesuaikan dengan kantong kaum duafa, tentu
saja pendapatannya lebih kecil daripada pengeluarannya. Jika semua
makanan habis (sekitar 70 porsi), warung tersebut hanya mendapatkan Rp
105 ribu. "Hari ini (Jumat lalu, Red) kami hanya dapat sekitar Rp 80
ribu," kata Ninis. Pendapatan itu tak bisa diukur dengan jumlah
pengunjung. ''Sebab, kadang ada yang nambah,'' ucapnya.
Dalam sehari, Warung Amal menyiapkan sekitar 4-5 kg beras. Bahkan,
ketika harga masih seribuan, mereka sampai menghabiskan beras 7-8 kg per
hari. Karena beras sudah disuplai dari Satria, Mustika tinggal belanja
sayur, ikan, daging, dan lauk-pauk lainnya. "Seperti konsep awalnya,
kami memang tidak memikirkan keuntungan. Kami hanya ingin membantu
mereka (kaum duafa)," tegas Mustika.
Namun, selama bulan Ramadan, kaum duafa yang tidak menjalani ibadah
puasa harus mencari warung lain. "Selama bulan Ramadan kami tidak buka,"
terang ibu tiga anak itu.
Di kalangan warga sekitar, keluarga Mustika dikenal suka beramal.
Menurut Ninis, setiap bulan keluarga tersebut selalu menyantuni warga
sekitar. Tak kurang dari seratus orang selalu mendapatkan bantuan 5 kg
beras, 1 kg gula pasir, dan 1 kg minyak goreng. "Beliau (Mustika, Red)
sudah begitu baik. Karena itu, kami pun berusaha membantunya dalam usaha
warung ini, Mas," ungkap Ninis. (*/c9/cfu)
http://jawapos. co.id/metropolis /index.php? act=detail&nid=149576
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.