Berdoa Atau Menyuruh Tuhan?

 

Ketika kita berdoa saat duduk diantara dua sujud, kita mengucapkannya dengan 
cepat:

Rabbighfirlii, warhamnii, wajburni, warfa'ni, warzuqnii, wahdinii, wa'afinii, 
wa'fuani.

Delapan permohonan kita sampaikan tanpa jeda. Lalu tanpa basa-basi kita 
langsung sujud. Seolah-olah kita tidak butuh dengan apa yang kita mohonkan....

 

 
<http://www.facebook.com/photo.php?pid=191071&fbid=140981119272328&op=1&view=all&subj=426084249525&aid=-1&auser=0&oid=426084249525&id=100000813212723>
 
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs380.snc4/44349_140981119272328_100000813212723_191071_2312042_n.jpg

 

Padahal yang kita minta Ketika kita berdoa saat duduk diantara dua sujud itu 
meliputi semua :

 Rabbighfirlii (ampuni aku)

Warhamnii (sayangi aku)

Wajburnii (tutupi aib-aibku)

Warfa'nii (angkat derajatku)

Warzuqnii (beri aku rizki)

Wahdinii (beri aku petunjuk)

Wa'afinii (sehatkan aku)

Wa'fuani (maafkan aku).

 

 Dan selama ini kita ternyata tidak bersungguh-sungguh, kecuali membacanya 
dengan cepat, agar sholat kita segera selesai...

Sangat kontras apabila kita minta pertolongan pada manusia, bak pejabat memohon 
pada presiden misalnya :

 

> 

Pak Presiden, ampuni kesalahan saya....

(sambil melihat ekspresi wajahnya dengan harap-harap cemas, mudah-mudahan 
Beliau tidak marah dan tersenyum).

 

Sayangi rakyatmu ini ......

(sambil membungkuk mengharapkan Presiden membelai kepala dan pundak kita)

 

Mohon jangan diumumkan kekhalayak ramai keburukan saya

(sambil kita memasang muka yang memelas)

 

Mohon Paduka naikkan pangkat dan jabatan saya

(sambil kita menggenggam erat tangan Presiden)

 

Mohon Paduka juga menaikkan gaji saya agar dapat mencukupi kebutuhan rumah 
tangga dan ada sedikit sisa untuk simpanan

(ekspresi muka dibuat semakin memelas)

 

Mohon petunjuk Pak Presiden untuk menyelesaikan urusan kami

(sambil tersenyum simpatik berusaha meyakinkan)

 

Mohon bantuan obat-obatan dan biaya rumah sakit agar kami dapat mengobati 
penyakit-penyakit kami

(sambil menujukkan bagian tubuh kita yang sakit dan bekas luka)

 

Maafkan kami Paduka

(lalu beringsut mengundurkan diri dengan penuh sopan santun lalu).

< 

 

Coba bandingkan dengan sikap kita ketika berdoa. Betapa seringkali kita 
menyepelekan Allah. Mentang-mentang Allah tidak kelihatan, kita suka bersikap 
seenaknya. Dalam kondisi ini pun sebenarnya Allah selalu merespon pujian dan 
permohonan kita, karena Dia Maha Dekat, Maha Pemaaf, Maha Tahu, Maha Cepat dan 
selalu menepati janji Nya.

Sebenarnya dengan sikap yang tidak patut itu, kita sendiri yang rugi. Kita 
tidak mampu lagi menangkap jawaban Allah atas doa kita, karena kita terlalu 
sibuk dan terburu-buru ketika menyampaikan permintaan. Lalu setelah 
menyampaikannya, kita langsung saja meninggalkan Allah. Kita tidak peduli 
ketika Allah memberikan jawaban Nya. Kita banyak meminta, tetapi tidak 
mempersiapkan diri untuk menerima apa yang kita minta.

 

Ya Allah,  Ampuni Kesombongan Kami...... :(

 

 

Warm Regards,

 

 

Rochmad Sigit

 

[ Rasa kecilnya diri ini saat berhadapan dengan masalah, 

bukan disebabkan oleh besarnya masalah, 

tetapi oleh kecilnya tujuan hidup. ]

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke