السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
semoga bermanfaat
wass....zainal
Mengapa Manusia Rugi ?
 

'Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. 
Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat 
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya 
menetapi kesabaran.' (QS: 103:1-3) 

Pada dasarnya, Allah Swt cinta dan sayang kepada manusia, apalagi bila 
mereka beriman kepada-Nya. Salah satu bukti kecintaan itu adalah Allah Swt 
mengemukakan faktor-faktor yang menjadi penyebab manusia menjadi rugi. Ada 
banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang perlu kita kaji untuk mengetahui apa 
saja yang menjadi faktor penyebab kerugian manusia. Hal ini perlu kita 
kaji agar kita tidak termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang rugi, 
baik di dunia maupun di akhirat kelak. 

Secara harfiyah, Al-Qur’an menggunakan kata khusr untuk menyebut kerugian, 
khusr itu sendiri artinya berkurang, rugi, sesat, celaka, lemah, tipuan, 
dll, semuanya dengan makna negatif. Yang menjadi persoalan kita kemudian 
adalah, apa saja faktor-faktor yang membuat manusia menjadi rugi yang 
disebutkan di dalam Al-Qur’an, inilah sesuatu yang amat penting untuk kita 
telaah.
Mendustakan Hari Akhir

Beriman kepada akhir akhir merupakan salah satu keimanan yang sangat 
penting, karenanya Al-Qur’an dan Hadits seringkali merangkai penyebutan 
iman kepada Allah dengan iman kepada hari akhir. Kehidupan hari akhir 
merupakan hasil yang sesungguhnya dari apa yang dilakukan manusia dalam 
kehidupannya di dunia, baik maupun buruk. Kehidupan hari akhir juga 
kesempatan emas untuk bisa berjumpa langsung dengan Allah Swt, karena itu 
amat rugi orang yang mendustakaan hari akhirat dan perjumpan dengan 
Tuhannya, Allah Swt berfirman yang artinya: Sungguh telah rugilah 
orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga 
apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: : 
“Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat 
itu”, sambil memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah 
buruk apa yang mereka pikul itu (QS 6:31). 

Akibat dari pengingkaran manusia terhadap hari akhirat membuat manusia 
tidak memperoleh petunjuk dari Allah Swt, bukan karena Allah tidak 
memberinya petunjuk, tapi karena pemberian Allah itu tidak mau diambil, 
sehingga tidak ada yang mereka dapatkan kecuali kerugian dalam kehidupan 
di dunia dan akhirat, Allah berfirman yang artinya: Sesungguhnya rugilah 
orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka 
tidak mendapat petunjuk (QS 10:45). 

Disamping tidak memperoleh petunjuk, orang yang tidak beriman pada 
kehidupan akhirat akan membuat mereka menganggap kehidupan di dunia ini 
lebih baik, padahal kehidupan dunia ini hanya permainan dan senda gurau, 
dunia adalah sarana bukan tujuan sebagaimana permainan dan senda gurau itu 
sendiri sarana bagi pencapaian tujuan tertentu, Allah Swt berfirman yang 
artinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda 
gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang 
yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS 6:32).

Salah satu yang harus kita waspadai terhadap orang yang menjadikan dunia 
sebagai tujuan adalah apapaun yang dilakukannya, meskipun hal itu 
merupakan sesuatu yang sangat buruk dia akan menganggapnya sebagai sesuatu 
yang baik sehingga keburukan itu sudah dikemas dengan kata-kata yang indah 
seperti wanita yang memakai pakaian primitif dibilang modern, wanita yang 
berzina dan melacur dibilang tuna susila dll, Allah telah mensinyalir 
kemungkinan hal ini di dalam firman-Nya yang artinya: Sesungguhnya 
orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka 
memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka bergelimang (dalam 
kesesatan). Mereka itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang 
buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi(QS 
27:4-5).
Kebodohan

Menjadi orang bodoh bukan hanya tidak menyenangkan, tapi juga bisa 
membahayakan, karenanya kebodohan akan membawa manusia pada kerugian yang 
nyata. Dalam bahasa Arab, kebodohan diistilahkan dengan kata “jahl”, kita 
sering mendengar istilah zaman jahiliyah, suatu zaman dimana manusia 
begitu bodoh, bukan karena tidak tahu, tapi tidak mau menerima kebenaran 
yang datang dari Allah Swt dan Rasul-Nya. Pada masa jahiliyah itulah, 
kebodohan telah membuat manusia membunuh anaknya sendiri, hanya karena 
anak itu berjenis kelamin perempuan. Sementara jauh sebelum Nabi Muhammad 
Saw, ada seorang raja yang bernama Fir’aun yang sedemikian bodoh sehingga 
ketakutan akan kemungkinan adanya pemimpin selain dirinya membuat dia 
menginstruksikan kepada setiap orang tua untuk membunuh bayi berjenis 
kelamin laki-laki dan itupun dilaksanakan oleh rakyatnya yang bodoh. 

Disamping itu, kebodohan juga membuat mereka mengharamkan apa-apa yang 
telah dirizkikan oleh Allah Swt atas mereka, padahal Allah telah 
menghalalkannya, inilah kerugian yang nyata baik di dunia maupun di 
akhirat, ini semua membuat mereka semakin jauh dari petunjuk, Allah Swt 
berfirman yang artinya: Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak 
mereka karena kebodohan semata, tanpa ilmu dan mengharamkan apa yang Allah 
telah rizkikan kepada mereka dengan dengan semata-mata mengada-adakan 
terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka 
mendapat petunjuk (QS 6:140).
Mengikuti Syaitan

Sejak awal keberadaan manusia, syaitan telah menunjukkan ketidaksukaannya, 
apalagi dengan kelebihan yang dimiliki manusia yang dalam hal ini Adam As, 
syaitan harus sujud (hormat) kepada manusia. Karenanya syaitan terus 
berusaha untuk menyesatkan manusia. Namun sayangnya, manusia seringkali 
tidak menyadari hal ini sehingga syaitan yang seharusnya dianggap dan 
diperlakukan sebagai musuh tapi malah dijadikan sebagai pemimpin yang apa 
saja perintah dan keinginan serta bisikan-bisikannya dituruti dan ini 
membuat manusia menjadi rugi dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di 
akhirat, Allah Swt berfirman yang mengemukakan tentang tekad syaitan untuk 
menyesatkan manusia: Dan saya (syaitan) benar-benar akan menyesatkan 
mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan akan 
menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka 
benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (merobah ciptaan 
Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya. Barangsiapa yang menjadikan 
syaitan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita 
kerugian yang nyata (QS 4:119). 

Apabila manusia telah menjadikan syaitan sebagai pelindung dan 
pemimpinnya, maka manusia akan dikuasai oleh syaitan sehingga ia menjadi 
golongan syaitan dan memenuhi segala kemauan syaitan karena memang sudah 
mengabaikan dan melupakan Allah Swt, hal ini terdapat dalam firman Allah 
yang artinya: Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa 
mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa 
sesungguhnya golongan syaitan itulah golongan yang merugi (QS 58:19). 

Apabila manusia tidak mau mengikuti syaitan, disamping harus menunjukkan 
sikapnya yang tegas terhadap syaitan dengan selalu bermusuhan, manusia 
juga harus berlindung kepada Allah dari kemungkinan syaitan menggodanya. 
Perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan menunjukkan bahwa kita 
memang bisa tergoda oleh syaitan, sehingga untuk membaca Al-Qur’an yang 
sudah jelas baiknya saja kita masih harus berlindung kepada Allah dari 
godaan-godaan syaitan yang terkutuk.

Akhirnya, masih banyak ayat yang harus kita kaji berkenaan dengan usaha 
kita untuk terhindar dari segala bentuk kerugian di dunia maupun di 
akhirat. 

“ Dan diantara manusia ada yang menyembah kepada Allah dengan berada di 
tepi, maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, 
dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. 
Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang 
nyata”. (QS. 22:11) 

Sebagai manusia, kita tentu tidak ingin mengalami kerugian, baik di dunia 
maupun di akhirat. Ada banyak sebab yang membuat seseorang menjadi rugi, 
karenanya di dalam Al-Qur’an, Allah Swt menyebutkan apa saja faktor yang 
membuat manusia menjadi rugi. Pada tulisan terdahulu sudah kita bahas 
beberapa ayat yang menyebutkan faktor-faktor yang menyebabkan manusia 
menjadi rugi seperti mendustakan hari akhir, kebodohan (kejahiliyahan) dan 
mengikuti syaitan. Pada tulisan ini akan kita kemukakan lagi faktor-faktor 
kerugian bagi manusia yang disebutkan di dalam Al-Qur’an.
1. Tidak Konsisten. 

Salah satu faktor yang membuat kita beruntung dalam hidup kita di dunia 
dan akhirat adalah karena keimanan dan pengabdian kita kepada Allah Swt. 
Dengan itulah, kehidupan kita akan berjalan dan terarah dengan sebaik-baik 
dan selurus-lurusnya. Namun hal itu kita lakukan dengan kendala yang 
banyak, salah satunya adalah tidak dimilikinya konsistensi atau 
keistiqomahan sehingga pengabdian kepada Allah tidak berkesinambungan. 
Manakala pengabdian itu bisa mendatangkan keuntungan duniawi, kita akan 
terus mengabdi kepada Allah dan bila malah mendatangkan resiko yang tidak 
menyenangkan, maka kitapun jauh dari pengabdian kepada-Nya. Sikap seperti 
ini merupakan bagian dari kemunafikan yang sangat tercela.

Di dalam Islam, sikap seperti itu tidaklah berguna, karenanya seseorang 
tidak mendapatkan nilai apa-apa dari Allah Swt meskipun ia mengabdi, 
karena niatnya tidak ikhlas karena Allah dan ini merupakan kerugian yang 
nyata, Allah Swt berfirman yang artinya: Dan diantara manusia ada orang 
yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika ia memperoleh 
kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu 
bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. 
Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata (QS 22:11). 

Oleh karena itu, menjadi amat penting bagi kita untuk memiliki sikap 
istiqomah (memiliki pendirian yang kuat) dalam keimanan dan pengabdian 
kita kepada Allah Swt. Enak dan tidak enak, senang dan sengsara, dipuji 
maupun dicela, menguntungkan atau malah merugikan semuanya tidak 
menggoyahkan kita dalam pengabdian kita kepada Allah Swt, karena inilah 
yang akan menguntungkan dan membawa ketenangan dalam jiwa kita, Allah Swt 
berfirman yang artinya: Sesungguhnya orang yang mengatakan: “Tuhanku 
Allah”, kemudian mereka istiqamah, maka tidak ada rasa takut atas mereka 
dan merekapun tidak berduka cita (QS 46:13). 
2. Melakukan Kebathilan.

Secara harfiyah, bathil berarti tidak terpakai, tidak berfaedah, rusak dan 
sia-sia. Ini berarti perbuatan yang bathil adalah perbuatan yang terlepas 
atau gugur dari ketentuan syari’at sehingga tidak berguna bahkan 
mengakibatkan kerusakan. Oleh karena itu perbuatan seseorang disebut 
bathil apabila bertentangan dengan aqidah, tidak ada faedahnya dan tidak 
sesuai dengan tuntunan syari’at Islam, ini berarti kebathilan merupakan 
perbuatan yang sangat buruk. Bagi seorang muslim, jangankan melakukan 
kebathilan, mencampuradukkan antara kebenaran dengan kebathilan saja sudah 
tidak dibenarkan, baik dalam bentuk melakukan kebenaran yang disertai 
dengan melakukan kebathilan atau melakukan kebthilan untuk mencapai tujuan 
yang haq atau benar. Dari kebathilan ini, manusia akan mengingkari Allah 
Swt dan apa yang datang dari-Nya. Karena itu, manakala manusia mempercayai 
segala bentuk kebathilan yang menyebabkannya menjadi ingkar kepada Allah 
Swt, maka ia akan menjadi orang yang rugi, Allah Swt berfirman yang 
artinya: Dan orang-orang yang percaya kepada yang batil dan ingkar kepada 
Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi (QS 29:52). 

Meskipun Allah dan Rasul-Nya beserta para penerus perjuangan da’wah telah 
mengingatkan agar manusia tidak melakukan kebathilan, tetap saja banyak 
manusia yang melakukannya, bahkan meskipun peringatan dalam bentuk azab 
dan bencana belum juga bisa menyurutkannya dari jalan yang bathil, 
karenanya mereka baru betul-betul agar merasakan kerugiaan yang besar 
dalam kehidupan di hari akhirat nanti, mereka tidak akan bisa mengelak 
dari kerugian yang nyata, Allah Swt berfirman yang artinya: Dan hanya 
kepunyaan Allah kerajaan langit dan bumi. Dan pada hari terjadinya 
kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan 
kebatilan (QS 45:27). 

Karena kebathilan merupakan sesuatu yang hanya akan mendatangkan kerugian, 
maka meskipun seseorang berkorban dengan hartanya yang banyak, tetap hal 
itu akan menjadi penyesalan di dunia yang sangat dalam karena tidak ada 
hasil yang mereka peroleh, sedangkan di akhirat akan mereka peroleh 
penyesalan yang tiada terkira karena dimasukkan ke dalam neraka, Allah 
berfirman yang artinya: Sesungguhnya orang-orang kafir membelanjakan 
hartanya untuk merintangi agama Allah, maka mereka tetap akan 
membelanjakan hartanya, kemudian akan menjadi sesalan bagi mereka, 
kemudian mereka pasti kalah, sedang orang kafir pasti dikumpulkan dalam 
neraka jahannam. Untuk memisahkan yang jahat dari yang baik dan Allah akan 
menjadikan yang jahat setengahnya berkumpul (bertumpuk) dengan 
setengahnya, lalu dijadikan satu dan dilempar ke dalam jahannam, merekalah 
orang-orang yang rugi (QS 8:36-37). 
3. Kafir Sesudah Beriman.

Ketika seseorang telah menyatakan dirinya beriman kepada Allah Swt, salah 
satu yang harus dibuktikannya adalah menerima hukum-hukum yang datang dari 
Allah Swt. Manakala Allah mengharamkan perkawinan antara muslim dengan non 
muslim, maka seorang muslim tidak akan menikah dengan orang kafir, begitu 
juga dengan pengharaman riba, maka seorang muslim tidak akan 
menghalalkannya, sedangkan bila Allah mengharamkan binatang sembelihan 
orang kafir, ia pun tidak akan memakannya dan begitulah seterusnya. Sikap 
ini menjadi begitu penting agar pengakuan seseorang sebagai mu’min diakui 
keimanannya oleh Allah Swt.

Disamping itu, seorang mu’min juga harus dengan senang hati dan siap 
menerima Rasulullah Saw sebagai hakim yang memutuskan perkara diantara 
kaum mu’minin atas berbagai persoalan yang mereka hadapi berdasarkan 
hukum-hukum Allah Swt, tanpa ada rasa berat sedikitpun di dalam hati 
mereka, manakala seseorang yang sudah mengaku beriman tapi tidak mau 
menerima hukum-hukum Allah, maka dia tidak bisa diakui keimanannya oleh 
Allah Swt sebagaimana firman-Nya yang artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka 
tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau hakim dalam perkara yang 
mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapatkan rasa keberatan 
dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka 
menerima dengan penerimaan sepenuhnya (QS 4:65). 

Manakala seseorang berlaku demikian, maka dia akan termasuk orang orang 
yang rugi, baik di dunia maupun di akhirat, di dunia dia tidak mencapai 
martabat sebagai seorang mu’min, bahkan tidak memperoleh keuntungan yang 
bersifat duniawi, sedangkan di akhirat kerugiannya sudah pasti, karena 
Allah tidak menyukainya sehingga apapun amal yang dilakukannya di dunia 
meskipun nampaknya baik, tidak akan mendapat nilai dan imbalan yang baik 
dari Allah Swt, karena amalnya menjadi sia-sia saja, Allah berfirman yang 
artinya: Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima 
hukum-hukum Islam), maka hapuslah amal-amalnya dan di akhirat termasuk 
orang-orang yang merugi (QS 5:5). 

Dari keterangan beberapa ayat di atas, menjadi amat penting bagi kita 
untuk selalu mewaspadai hal-hal yang membuat seseorang menjadi rugi dalam 
kehidupan di dunia dan akhirat agar dengan demikian kita tidak memilikinya 
hal-hal yang membuat kita menjadi rugi. 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke