Pelatihan Holistik Bernama Ramadhan

Oleh Ahmad Mukhlis Yusuf

Pernahkah Anda bayangkan apa yang terjadi bila beberapa tetes tinta hitam
dituangkan ke sebuah gelas berisi air bening? Bisa diduga, beningnya air
akan berubah menjadi hitam, bukan?

Bayangkan pula bila sejumlah tinta yang sama kita teteskan ke lautan luas?
Tak berpengaruh sama sekali.

Itulah perumpamaan kaitan antara persoalan hidup dan hati kita. Saat hati
lapang seluas lautan, tetes-tetes persoalan hanya dirasakan sebagai
titik-titik kecil dalam garis panjang kehidupan kita. Dapat dilalui dengan
mudah. 

Sebaliknya, saat hati sedang seukuran gelas, tetes-tetes masalah itu
berwujud malaikat pencabut nyawa. Tak tampak secelah ruang pun untuk
berkelit.

Problem is a gift, kata seorang bijak. Andai hidup adalah perlombaan babak
utama, beragam persoalan merupakan rangkaian latihan yang harus dijalani
agar kita tangguh, teruji, sehingga berhasil meraih kemenangan sejati.

Saya teringat kata-kata seorang penulis terkenal Naquib Mahfoudz dalam
novelnya Autum Quail; "sometimes a disaster will hit us in such a way as to
lead us unawares along the right path", terkadang suatu bencana akan menimpa
kita dengan cara tertentu yang mengarahkan kita tanpa sadar ke jalan yang
benar.

Saat mempunyai persoalan, kita pandang dengan tatapan jauh ke depan. Kita
hadapi dengan keyakinan, nun di sana terhampar tujuan yang jauh lebih besar
yang sedang diperjuangkan.

Setiap persoalan pasti ada jalan keluarnya, demikian janji Allah SWT. Namun,
kita sering merasa kesulitan melampaui berbagai persoalan yang dihadapi
lantaran mata kita kecil ketika menatapnya. Nampaknya, ini soal keyakinan
dan cara pandang juga.

Palgunadi Setyawan, seorang spiritualis yang saya kagumi, pernah bercerita
tentang masalah yang dihadapi cucu seorang sahabatnya. Anak itu punya
masalah kelambanan refleks tangan saat berusia 11 tahun. Sang anak tak
bereaksi sigap saat menerima gelas atau sesuatu dari orang lain.
Cengkeramannya sering tak erat. Ia kerap menjatuhkan barang yang
dipegangnya.

Dari sesi wawancara seorang dokter ahli dengan kedua orang tua sang anak,
diketahui ternyata anak itu tidak pernah mengalami masa merangkak saat masih
balita. Sang anak langsung bisa berdiri setelah bisa duduk. Menurut kedua
orang tuanya, mereka sempat membanggakan kemampuan buah hatinya itu. Namun,
ternyata "lompatan" kemampuan itu mengabaikan sunatullah, yang seharusnya
dialami oleh seorang anak untuk tumbuh sempurna.

Fisioterapis lantas memberikan terapi merangkak yang harus dijalani rutin
oleh anak itu untuk membangkitkan syaraf yang diperlukan agar ia dapat
melakukan refleks tangannya dengan normal.

Kisah ini membuat kita semakin yakin, segala sesuatu pasti ada jalannya, ada
takarannya. Tak mungkin Tuhan memberikan persoalan tanpa jalan keluar yang
menyertainya. 

Mengubah cara pandang kita tentang suatu masalah, dapat membawa pada kondisi
baru. Pribadi yang lebih efektif  bagi diri, bagi lingkungan, dan dalam
melayani orang.

Seorang sahabat dari Dunamis, Agi Rachmat, pernah berpesan; "Lakukan apa
yang bisa dilakukan dalam pengaruhmu". Ajakannya sungguh mulia dan positif
agar kita melakukan sesuatu dalam jangkauan tangan kita. Mari kira lakukan
itu, sembari disertai kelapangan hati seluas lautan. Tak mungkin pula, kita
mengabaikan sunatullah tanpa belajar dari proses kehidupan yang sejatinya
makin mendewasakan kita.  "Sesuatu akan indah pada waktunya," pesan sahabat
saya yang lain, Hadi Satyagraha.
 
Hati yang lapang, jiwa yang kuat, cara hidup sehat, dan pikiran yang positif
adalah rangkaian keseimbangan yang menyeluruh, saling menguatkan.
Keseimbangan ini harus diperjuangkan. Bukan hadiah dari orang lain,
pendamping hidup kita sekalipun. Keseimbangan di dasar lautan saja didapat
setelah terjadi gempa bumi. Begitulah alam mengajarkan.

Kini, Ramadhan kita jelang. Bagi seorang muslim, Ramadhan diyakini sebagai
bulan yang amat istimewa. Selain adanya Lailatul Qadar, malam yang lebih
baik dari seribu bulan,  Ramadhan adalah fasilitas bagi manusia untuk
menemukan kembali kesejatiannya. Jalan agar manusia menemukan kembali
keseimbangannya.

Saat berlatih menahan diri dari makan dan minum, terasa diri ini lebih dekat
dengan mereka yang kerap bertanya; "apa yang kita makan hari ini, ayahku?".
Ada nilai-nilai kepedulian kepada mereka yang harus ditolong, yang sejatinya
dimiliki oleh siapapun pemilik suara hati. 

Saat menghitung dan menyempurnakan kewajiban zakat, infaq dan sedekah,
termasuk zakat fitrah yang diwajibkan menjelang Idul Fitri nanti, terbayang
betapa ada hak orang lain yang melekat pada apa yang diamanahkan Allah SWT
pada kita. 

Saat kita mendekatkan diri pada Nya melalui tambahan ibadah-ibadah ritual
dan kegiatan silaturahmi, akan terasa ruhani ini makin dekat dengan Dia. 

Demikian sebaliknya, saat kita memaknai Ramadhan ini dengan kering dan
datar, boleh jadi bathin ini pun tak akan sedikit pun bergetar. 

Ramadhan bagi seorang muslim adalah momentum penyucian diri, bulan dimana
terdapat peluang memperoleh rahmat, pengampunan dan pembebasan dari api
neraka. Bulan dimana kita melatih diri agar menjadi sahabat terbaik bagi
siapa saja, sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW.  

Sang Nabi adalah pemimpin dan sahabat kaum Yahudi dan Nashrani yang hidup
berdampingan secara damai kala itu.

Ramadhan memberi peluang, Ramadhan menyediakan kesempatan, agar setiap kita
menjadi pemenang. Ramadhan adalah bulan pelatihan holistik agar seorang
muslim menjadi pribadi yang lebih berbudi pekerti, menjadi sahabat terbaik
bagi lingkungannya. 

Terpulang pada diri, akankah semua fasilitas yang menanti, dimanfaatkan
sepenuh hati. (***)



 

Warm Regards,

 

 

Rochmad Sigit

 

[ Rasa kecilnya diri ini saat berhadapan dengan masalah, 

bukan disebabkan oleh besarnya masalah, 

tetapi oleh kecilnya tujuan hidup. ]

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke