Makanan Mentah
[ Bondan Winarno - wisata kuliner ]
« on: 19 May
2008, 09:46:22 AM »
Senin, 19 Mei 2008 | 07:59 WIB
Jangan berhenti
membaca! Ini bukan bizzare food, melainkan tentang sayur-mayur yang dimakan
mentah tanpa dimasak.
Sekitar 20 tahun yang lalu, saya menginap di rumah
Prof. Nader Shooshtari, seorang gurubesar ilmu ekonomi di Universitas Montana.
Malam-malam, sambil mengobrol, dia mengambil dua botol bir dan satu kotak
tupperware dari dalam lemari es. Di dalam kotak itu terdapat berbagai sayur
potong. Ada brokoli, kembang kol, wortel, batang seledri besar. Sambil minum
bir, camilannya adalah sayur-mayur mentah itu. Tanpa dicocol salad dressing
maupun salsa.
Apa enaknya? Pada masa itu, lidah saya belumlah secerdas
dan secanggih sekarang. Saya cuma ikut-ikutan dan mencoba menikmati brokoli
mentah yang rasanya langu. Juga wortel mentah terasa langu. Duh, sengsara
banget
jadi orang modern, ya?
Nader bukanlah seorang pemalas yang enggan memasak
dan menyuguhkan sayuran mentah. Itu adalah gaya hidupnya. Gaya hidup bugar –
fit lifestyle. Ketika kami seasrama di Hale Manoa, Universitas Hawaii, Nader
selalu memaksa saya turun dari tempat tidur dan ikut dia melakukan push up
duapuluh kali dan sit up duapuluh kali pula. Dia sendiri melakukannya sampai
hitungan seratus.
Makan sayur mentah mestinya tidak merupakan tantangan
berat bagi orang Indonesia. Kuliner Nusantara juga mengenal banyak sayur
mentah.
Karedok, misalnya, adalah kumpulan sayur mentah. Begitu juga trancam dan
berbagai lalapan mentah. Tetapi, brokoli, kembang kol, paprika, dan wortel
memang memerlukan acquired taste. Saya sendiri melatih lidah saya dengan makan
sayur-sayur mentah itu dicocol blue cheese atau salad dressing maupun salsa.
Sekarang, semua sayur mentah sudah dapat saya nikmati tanpa cocolan apapun.
Tekstur dan crunchiness dari masing-masing sayur merupakan sensasi tersendiri
yang sangat dapat dinikmati.
Pernah makan sup gazpacho dari Spanyol? Sup
ini sebetulnya merupakan jus sayuran – paprika, timun, bawang bombai, tomat
– dengan sedikit bumbu. Sama sekali tidak dimasak. Lebih baik lagi bila
disimpan semalam di lemari es.
Belum lama ini saya sempat singgah di
sebuah restoran yang khusus menyajikan makanan mentah. Namanya “Juliano’s
Raw†di pojokan Broadway dan 6th Avenue, Santa Monica, dekat Los Angeles,
California. Tempatnya sederhana. Tetapi, ternyata sudah banyak selebritis –
antara lain Demi Moore – yang melanggani restoran ini.
Juliano tidak
pernah menyebut nama belakangnya. Mungkin sekali dia keturunan Italia. Tetapi,
di Italia, nama seperti itu dieja sebagai Giuliano. Ia selalu tampil dengan
gairah yang luar biasa. Bicara dengan mata membelalak dan kedua tangannya
bergerak mendukung setiap kata-katanya.
Juliano “berdakwah†tentang
living food (makanan hidup), yaitu sayur-mayur dan buah-buahan yang mengandung
the power of procreation. Sayur segar bisa ditanam lagi untuk menghasilkan
sayur
segar beberapa kali lipat. Demikian juga biji yang dikandung buah segar dapat
ditanam untuk menghasilkan buah-buahan segar berlipat ganda. Itulah yang
dimaksudnya sebagai the power of procreation. Karena itu, manusia yang hanya
makan sayur-mayur dan buah segar akan menjadi “lebih
hidupâ€.
Sebaliknya, sayur-mayur dan buah akan mati bila dimasak. Karena
itulah Juliano selalu menganjurkan agar sayur-mayur dan buah tidak dimasak,
agar
tidak kehilangan daya alamiahnya yang luar biasa bagi kehidupan manusia.
“Dead
foods are dead. They spoil and rot deep in your guts, finally becoming some
cancer which in a delivery of excruciating pain eats you from the inside out,â€
tulis Juliano dalam buku-buku yang sudah diterbitkannya tentang living
foods.
“If we eat wrong, no doctor can cure us. If we eat right, no
doctor is needed,†itu adalah petuah lain dari Juliano. Ia menjamin bahwa
semua makanannya mentah. Bila pun sempat dimasak, dipastikan tidak melalui
pemanasan di atas 40 derajat Celcius. Itu dilakukan karena menurut teori,
pemanasan bahan makanan di atas 80 derajat Celcius akan mematikan semua enzim
yang dikandung. Yang jelas, memasak bahan pangan berarti “memeras†cairan
yang dikandung. Padahal, tubuh kita sangat membutuhkan enzim dan
cairan.
Oke, maka kami pun mulai meneliti daftar makanan di kartu menu
untuk melihat makanan apa saja yang kira-kira akan memuaskan. Kami memesan
beberapa menu untuk dicoba.
Ternyata, makanan yang datang jauh di luar
dugaan kami. Misalnya, burrito yang kami pesan ternyata tidak dibungkus
tortilla
yang biasanya dibuat dari gandum atau tepung jagung, melainkan dibungkus nori
(rumput laut). Lasagna yang kami pesan pun ternyata tidak memakai pasta.
Satu-satunya makanan yang dimasak adalah yang terbuat dari campuran berbagai
macam kacang.
Beberapa bahan yang banyak dipakai dalam hidangan Raw
adalah wijen, wijen hitam, bit, kubis ungu, daun ketumbar, guacamole (dari
avocado), krim kocok (whipped cream), rumput laut, dan berbagai jenis bunga
yang
dapat dimakan. Krim kocok untuk makanan maupun dessert dibuat dari Irish moss
seaweed (sejenis rumput laut). Keju dibuat dari kacang-kacangan. Pasta dibuat
dari zucchini. Minyak zaitun yang digunakannya juga minyak khusus yang diproses
dengan panas yang tidak melebihi 35 derajat Celcius.
Rasanya? Saya tidak
bohong. Betul-betul mak nyuss! Begitu segar, begitu unik, begitu khas. Saya
sendiri heran betapa makanan dari bahan-bahan mentah dapat disajikan sedemikian
enak. Luar biasa!
Di restorannya, Juliano hanya menyajikan makanan yang
disebutnya sebagai living cuisine. Juliano™ food comes straight from the garden
to your plate - demikianlah slogan restoran yang juga menjanjikan 100%
organic itu. Juliano bahkan menantang tamunya agar membawa sisa makanan pulang
ke rumah dan kemudian meletakkannya di tanah. Tiga hari kemudian, pasti akan
tampak tanda-tanda kehidupan dari tanaman baru. Itulah bukti nyata tentang
slogan living food. Bandingkan dengan daging yang Anda buang di tanah. Tiga
hari
kemudian yang akan bermunculan adalah belatung.
Satu hal lagi yang saya
'pelajari' di Raw adalah bahwa ternyata pada umumnya wine adalah minuman yang
tidak vegan-friendly. Raw, sebaliknya, menyajikan wine khusus yang
vegan-friendly, yaitu wine yang dalam proses pembuatannya tidak memakai putih
telur, casein, dan gelatine yang merupakan produk hewani.
Bahan makanan
yang disajikan "Raw" sebetulnya tidak hanya seratus persen organik, melainkan
juga seratus persen veganik. Veganik berarti semua tanaman itu dipupuk dengan
rumput laut dan abu vulkanik - tanpa pupuk dari kotoran hewan, apalagi pupuk
kimia. Bahkan pencucian semua alat-alat dapur maupun alat-alat saji di "Raw"
tidak memakai deterjen, melainkan dengan jeruk lemon dan cuka. Juliano
barangkali memang orang yang paling fanatik dalam menjalani doktrin
veganik.
"All of our foods - fruits, vegetables, sprouted
grains - have been gently and lovingly tranformed into delicious
food," kata Juliano dengan mata membelalak dan kedua tangannya 'beterbangan' ke
mana-mana. Diam-diam saya menyimpan kekahawatiran, jangan-jangan kalau saya
jadi
veganik juga akan menjadi 'hiper' seperti Juliano - bicara dengan mata
membelalak, suara tinggi, dan kedua tangan heboh ikut bicara.
"Doktrin"
Juliano ini mau tidak mau mengingatkan saya pada prinsip yang dianjurkan oleh
Dokter Chris Teo di Penang. Di kliniknya, Dokter Teo menyembuhkan pasien kanker
secara veganik dan kebiasaan hidup sehat. Ia bahkan menganjurkan agar orang
tidak menjalani kemoterapi yang menurut dia justru bertentangan dengan hukum
alam.
Seorang visioner agung Alfred Einstein pernah berkata bahwa masa
depan dunia ini akan lebih terjamin bila makin banyak orang beralih dari
kesukaan makan produk hewani ke disiplin makan sayur-mayur dan
biji-bijian.
Selamat Waisak bagi teman-teman Buddhis yang sebagian besar
menganut vegetarian. Sabe satta bhavantu sukhitata. Semoga semua mahluk
berbahagia.
Bondan Winarno
Kompas.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.