5 Level Kepemimpinan Sejati
Oleh: Anthony Dio Martin

Sebuah perusahaan di Jepang, sedang merugi besar. Saham perusahaan juga anjlok 
karena perusahaan sparepart otomotif ini, terpeleset di bisnis properti.

Tanpa pengalaman, SDM yang andal serta ditimpa krisis dunia, perusahaan ini 
nyaris rontok. Saham perusahaan anjlok dan karyawan yang marah serta 
menyalahkan pimpinannya.

Akhirnya, pertemuan pimpinan dan karyawan dilakukan. Karyawan siap menye­rang, 
menjatuhkan si pemimpin mereka.

Saat si pimpinan masuk, tidak ada sambutan tepuk tangan dan penghormatan. 
Ketika diberikan kesempatan untuk bicara, si pimpin­an serta-merta berlutut ke 
lantai, membungkukkan badannya dalam-dalam dan berkata, "Saudara-saudara 
sekeluarga di perusahaan ini. Saya minta maaf. Saya sungguh ingin minta maaf. 
Saya mengambil keputusan salah yang menyebabkan saham perusahaan kita anjlok."

Namun, lanjutnya, jika diizinkan, saya akan melakukan langkah apa pun yang 
diperlukan untuk membangun kejayaan perusahaan kita kembali, saya bersedia 
membayar ongkosnya dengan kerja keras saya.

Serentak, semua karyawan tertunduk, ikut membungkuk dalam-dalam dan banyak di 
antaranya yang menangis!

Kisah di atas mirip de­ngan kisah yang diceritakan Martin L. Johnson dalam 
Chicken Soup for the Soul at Work, tentang CEO Pioneer Hi-Bred International, 
karena membeli Norand, sebuah usaha IT, mereka akhirnya justru rugi besar.

Hal yang tak pernah terlupakan bagi karyawannya, adalah tatkala, dengan rendah 
hati, Tom Urban, CEO-nya meminta maaf de­ngan tulus serta mengambil tanggung 
jawab atas kesalahannya. Itulah contoh-contoh kepemimpinan yang sungguh 
menginspirasi.

Pertanyaan paling pokok di sini adalah, bagaimana kita bisa sampai ke level 
kepemimpin­an yang bisa menginspirasi banyak orang?

John C. Maxwell, membagi kepemimpinan menjadi lima level yang harus dilewati. 
Menurutnya, jika kepemimpinan itu diibaratkan seperti anak tangga, terdapat 
lima tangga utama yang harus dilewati oleh para pemimpin­an di dalam organisasi.

Cobalah Anda evaluasi dan refleksikan, bagaimanakah posisi kepemimpinan Anda 
dan orang-orang di sekitar Anda, dan yang paling penting, coba perhatikan 
sampai di level manakah kepemimpinan Anda saat ini?

Level pertama, adalah level posisi (position). Inilah level kepemimpinan yang 
paling rendah. Pada dasarnya, orang mengikuti Anda karena 'kebetulan' mereka 
tidak punya pilihan sebab Andalah yang dipercaya untuk memegang posisi tersebut.

Pada level ini, otoritas seorang pemimpin hanya terbatas di posisi ini. Bawahan 
merasa hanya perlu berinteraksi sekadar untuk mendapatkan tanda tangan dan 
persetujuan.

Namun, di level ini, banyak bawahan tidak merasa dimiliki oleh atasannya, 
sehingga tak heran di belakang mereka sering mengata-ngatai bos mereka ini.

Saya pernah mendapatkan sebuah e-mail, dari seorang peserta pelatihan yang 
berkisah tentang bos-nya, "Pak, saya di perusahaan konsultan. Pimpinan saya 
diangkat karena jualannya bagus dan sangat pandai negosiasi."

Namun, lanjutnya, kami tidak pernah respek karena dia sendiri nggak pernah 
menganggap kami. Ia maju sendiri dan marah kalau dari kami ada yang kontak 
dengan pimpinan. Semua harus lewat dia. Di kantor, ia memiliki kami tetapi hati 
kami tidak bersama dia.

Pada kenyataannya, ada banyak pemimpin yang bertahun-tahun di posisi ini, 
tetapi tetap tidak pernah naik ke level berikutnya.

Nah, pada level kedua, adalah level di mana telah terjadi hubungan dan 
kesediaan (permission). Di sinilah orang mulai mengikuti bukan karena 'harus' 
tetapi karena mereka 'ingin'.

Di level inilah, pengaruh Anda sebagai pimpin­an mulai kelihatan. Sebenarnya, 
ketika memasuki level ini, sudah terjadi kontak batin serta mulai ada chemistry 
antara orang yang dipim­pin dengan yang memimpin.

Proses interaksi mulai terjadi dan hubungan pun mulai terbangun. Hanya saja, 
jika seorang pemimpin terlalu lama di tangga ini, bisa jadi ia menjadi sangat 
populer di mata bawahannya, hubungan baik tetapi hasil dan output-nya bisa 
kurang memuaskan. Itulah sebabnya seorang pemimpin tidak boleh terlalu lama di 
tangga ini.

Tangga kedua ini sebenarnya mengingatkan kita pada Edward Liddy, mantan 
Chairman dan CEO AIG, yang reputasinya anjlok setelah ia membagikan bonus besar 
kepada karyawannya.

Di mata karyawan mungkin saja tindakan itu dianggap populer, tetapi secara 
bisnis langkah ini tentu saja tidak strategis. Untuk selamat saja, AIG konon 
harus menerima dana bailout dari pemerintah AS sebesar US$84 miliar.

Berikutnya, level ketiga dari kepemimpinan adalah level menghasilkan 
(production). Kalau level kedua banyak berbicara mengenai pandang­an tentang 
Anda di mata karyawan level ketiga ini mulai berbicara mengenai pandangan Anda 
di mata manajemen.

Masalahnya, di sinilah orang mulai melihat bagaimana output team yang Anda 
hasilkan, setelah Anda mulai memimpin suatu tim. Jika seorang pemimpin sudah 
berhasil sampai di level ini, selain terdapat kontak batin yang baik antara 
pemimpin dan anak buahnya, juga terdapat hasil yang bisa dibanggakan.

Mengembangkan dan menginspirasi

Kemudian, level berikutnya adalah level pengembangan orang (people 
development). Di sinilah, seorang pemimpin tahu bahwa ia tidak bisa menjadi 
sukses sendirian, atau hanya dirinya yang mampu sementara anak buahnya 
bergantung adanya.

Dalam level inilah, maka seorang pemimpin mulai banyak meluangkan waktunya 
untuk melakukan proses coaching dan counseling ataupun mentoring untuk mendidik 
orang-orang di bawahnya agar mampu.

Sayangnya, banyak pemimpin yang terlambat sekali tiba di level ini. Baru-baru 
ini, dalam acara makan malam dengan seorang CEO yang sudah tua, dia mengatakan, 
"Pak Anthony. Saya agak terlambat menyiapkan orang-orang untuk menggantikan 
saya. Sekarang, saya sudah sakit-sakitan. Saya mulai membagikan semua ilmu yang 
saya miliki untuk orang-orang yang diproyeksikan akan memimpin bisnis ini di 
masa depan. Saya tidak tahu, apakah waktu saya masih akan mencukupi untuk itu"

Akhirnya, di ujung level kepemimpinan, terdapatlah level kepemimpinan yang 
tertinggi yang kita sebut sebagai level kepemimpinan yang sungguh menginspirasi.

Hebatnya kepemimpinan model ini setelah pemimpin tersebut tidak ada, ataupun 
telah lama meninggalkan dunia ini, semangat dan nilai kepemimpinannya masih 
dapat dirasakan.

Di sinilah, seorang pemimpin dapat menginspirasi seseorang dengan nilai serta 
filosofi hidup yang dimilikinya. Seperti kisah kita di awal tulisan ini, 
seorang pemimpin di level ini mulai menginspirasi melalui karakter, nilai dan 
perbuatan yang tidak diucapkannya. Namun, orang pada akhirnya akan melihatnya.

Menurut Maxwell, tidak banyak pemimpin yang bisa sampai di level kepemimpin­an 
ini. Mahatma Gandhi adalah salah satu contoh kepemimpinan yang termasuk di 
kategori ini.

Boleh saja, ada orang yang membencinya hingga akhirnya ia ditembak mati. Namun, 
nilai dan filosofi hidupnya justru tetap tumbuh dan berkembang, jauh hari 
setelah dia meninggal. Itulah contoh kepemimpinan di level terting­gi ini.

Dengan memahami kelima level kepemimpin­an tersebut, ada beberapa pertanyaan 
yang akan saya tinggalkan sebagai pekerjaan rumah bagi Anda yang membaca 
tulisan ini: kira-kira sampai di level manakah kepemimpinan Anda saat ini?

Bagaimanakah pandangan tentang Anda di mata karyawan? Bagaimana caranya supaya 
kepemimpinan Anda bisa naik kelas ke level berikutnya? Lakukan sesuatu untuk 
membuat kepemimpinan Anda bermakna!

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke