Boleh Bu, Boleh...

by Vanny Unmehopa on Thursday, September 23, 2010 at 4:39pm

Tadi malam (seperti malam-malam sebelumnya), saya pulang dari kantor bersama 
pria yang sudah menjadi teman tidur resmi saya selama hampir 7 bulan ini.Kami 
melewati jalan-jalan padat merayap yang menghiasi keletihan ibukota.

 

Sambil menunggu giliran kami untuk meneruskan perjalanan yang mengantri sedari 
tadi, saya bergumam, saya dan Sang Hati tepatnya. Saya ingin sekali berhenti 
dari rutinitas dan mengerjakan hal-hal yang baru diluar pekerjaan & kegiatan 
yang selama ini saya jalani.

 

Secara egois saya bercerita kepada Sang Hati. Apa yang saya dapat dgn bangun 
tiap pagi, menundukkan kepala sebentar berkomat-kamit mengucapkan syukur karena 
sudah dijagaNya, mandi, menyandangkan pakaian, menyiapkan sedikit kudapan, lalu 
berangkat ke gedung berlantai 8 di jajaran Jakarta Pusat. Tidak berhenti di 
situ saja, sesampainya di kantor, bekerja, makan siang, bekerja lagi, makan 
malam, pulang, melewati jalan yg sama seperti waktu pergi dari rumah, tiba di 
rumah, kadang-kadang mandi kadang-kadang tidak, mengganti sandang, browsing 
atau menonton film atau membaca karya penulis-penulis hebat, berdoa berdua 
memohon perlindungan sang Khalik, lalu terlelap hingga tidak tahu bahwa 
matahari sudah mengintip disela-sela kaca jendela.

 

Ya, hampir setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun, selalu 
berulang, menghantarkan sejumput kejenuhan, memproklamasikan segelintir 
kebosanan.

 

Sang Hati diam saja, tekun mendengarkan dan tidak mencoba untuk menjawab. 
Mungkin dia sedang berempati dengan apa yg saya rasakan.

 

Saya sedikit tersentak, ketika ada seorang pengemudi sepeda motor yang mencoba 
mengambil alur kami dengan kasar. Lamunan saya buyar, percakapan saya dengan 
Sang Hati pun terhenti.

 

Sesampainya di rumah saya memang melakukan hal-hal 'kerumahan' saya. Hanya 
saja, malam ini saya harus menambah 1 daftar pekerjaan yg sebetulnya tidak saya 
rencanakan sebelumnya.

 

Saya pergi ke tempat pembuangan sampah sementara yang tidak terlalu jauh dari 
rumah kami. Sambil membawa beberapa sampah basah yg saya tenteng di dalam 
plastik, saya juga mengikutsertakan kardus-kardus bekas hadiah pernikahan kami.

 

Sewaktu saya ingin meletakkan sampah-sampah itu, saya bertemu dengan seorang 
ibu paruh baya, menggunakan pakaian yg lusuh, dan di tangannya beliau menenteng 
sebuah karung plastik. Tadinya, saya berpikir ibu ini akan membuang sampahnya 
juga, ternyata tidak. Yang beliau lakukan benar-benar terbalik 180 derajat 
dengan apa yang akan saya lakukan. Beliau mengais-ngais sampah yang terbuang 
untuk dimasukkan ke dalam karung plastiknya.

 

Saya terdiam, dan ya, saya masih memegang sampah saya. Saya memandang beliau, 
walaupun samar karena tidak ada penerangan. Saya menyempatkan diri untuk 
bertanya kepada Sang Hati. Mengapa selarut ini beliau masih mengumpulkan sampah 
yang mungkin akan ditukarnya dgn uang untuk makan? Apakah beliau tidak punya 
seseorang yg bisa mencarikan nafkah untuknya? Apakah beliau tidak punya anak 
untuk membantunya berbahagia menikmati masa tuanya? Dimana mereka?

 

Sang Hati masih saja diam, tidak bergeming, seperti saya yg tidak juga beranjak 
dan berusaha menjaga bulir-bulir air mata saya agar tidak jatuh keroyokan 
membasahi pipi.

 

"Maaf Neng, Neng mau buang sampah ya?"

Ucapan beliau dengan suara yg bergetar disertai pandangan yg sedikit ragu 
menyadarkan saya dari lamunan.

"Iya bu..." 

"Kardusnya juga mau dibuang Neng?"

"Iya bu, saya udah ga pake lagi kardusnya."

"Boleh ibu ambil neng sampah ama kardusnya?"

"Oh, boleh bu, boleh (sambil melihat matanya yg nanar)."

"Terimakasih ya neng."

"Saya yang terimakasih bu."

 

Saya memberikan sampah saya kepada beliau dan tersenyum padanya. Cepat-cepat 
saya membalikkan tubuh saya, karena air mata saya sudah jatuh.

 

Saya berjalan pelan menuju rumah sambil mendengarkan Sang Hati berbicara, 
seolah menuntut gilirannya untuk didengarkan.

"Kamu pasti belajar sesuatu tadi, kamu pasti belajar bahwa bersyukur itu 
penting & sakral, walaupun harus bersyukur di atas kejenuhan kamu akan 
rutinitas atau hidup yang menurut kamu begitu-begitu saja. Berkacalah pada 
sosok yang mengambil sampahmu tadi, saya tahu beliau sangat lelah dan 
kedinginan, tidak seperti kita yang sebentar lagi akan menikmati pulau kapuk. 
Kita tidak pernah tahu berapa ribu langkah lagi yang akan beliau tempuh untuk 
sampai di rumahnya. Bersyukurlah bahwa kita diberikan sesuatu yang lebih..."

 

Sang Hati benar. Saya harus bersyukur. Saya harus menghargai bahwa kejenuhan 
juga bagian dari hidup, bagian yang memberi warna supaya tidak monoton.

 

Ya, bersyukur.

 

 

Jakarta, Sep 2010, V.



 
<http://www.facebook.com/photo.php?pid=31728183&fbid=1614205512192&op=1&view=all&subj=148747371828471&aid=-1&auser=0&oid=148747371828471&id=1147933422>
 
http://sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc4/hs709.snc4/62927_1614205512192_1147933422_31728183_7799014_n.jpg

 

 

Warm Regards,

 

 

Rochmad Sigit

 

[ Rasa kecilnya diri ini saat berhadapan dengan masalah, 

bukan disebabkan oleh besarnya masalah, 

tetapi oleh kecilnya tujuan hidup. ]

 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke