Nature
Nafsu Dunia dan Kemuliaan Akhirat 
oleh Ustadz Abu Ridha

Dua alam ciptaan Allah, alam dunia dan alam akhirat, mutlak berbeda dalam 
karakteristik dan esensi wujudnya. Walaupun begitu setiap manusia pasti 
memasuki dan bergumul di dalamnya.

Tak seorang pun dapat menghindar dari keberadaan di dalam alam dunia dan alam 
akhirat. Oleh karena kedua alam, baik secara realitas sejatinya ataupun 
karakteristiknya berbeda, setiap manusia diberikan potensi untuk dapat 
menyempurnakan eksistensi dirinya di dalam kedua alam tersebut sehingga dapat 
meraih puncak kesempurnaannya. Meskipun pada kenyataannya sebagian besar 
manusia justru mengalami kegagalan sebelum merealisasikan kesempurnaannya 
secara utuh..

Alam dunia, dengan segala watak dan karakteristiknya, adalah sebuah perjalanan 
sedangkan alam akhirat adalah persinggahan terakhir kita, kampung halaman, dan 
rumah kita yang abadi. Oleh karena itu meskipun kita dilahirkan di dunia, dan 
dunia menjadi tempat tinggal kita sekarang ini, namun realitas sejatinya, 
setidak-tidaknya secara spiritual, sedang berjalan jauh menuju tempat kembali 
hakiki kita, alam keabadian, alam akhirat. Di sanalah kita akan dihadapkan 
kepada berbagai peristiwa eskatologis yang belum pernah kita jumpai selama 
hayat kita.

Di tempat kembali itu masing-masing individu benar-benar akan merasakan sebagai 
makhluk moral yang harus mempertanggungjawabkan seluruh sepak terjang kita 
selama di dunia. Di sana pula akan terbukti jati diri kita yang sebenarnya, 
menjadi individu yang sejatinya terhormat mencapai kebaikan tertinggi atau 
bahkan menjadi hina dina terjerembab ke dalam lumpur keburukan.

Allah Swt telah menunjuki manusia jalan agar dapat mencapai tempatnya yang 
layak dalam penciptaan, di surga-Nya. Sebagai manusia bahkan kita diperintahkan 
agar menempuh jalan-Nya meskipun harus berjalan mendaki lagi sukar. Tidak 
sepatutnya di dunia yang fana ini menjadi tumpuan hidup.

Tidak sepatutnya pula kita bermegah-megah karena tunduk kepada pesonanya dan 
tidak menjadikannya sebagai medan perjuangan untuk menghimpun aset untuk 
kembali ke rumah asalnya. ”Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia 
menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?” (QS, al-Balad [90]: 11).

Bukan harta yang akan menjadi aset kehidupan akhirat kita. Bisa jadi harta 
menjadi simbol kemuliaan dunia. Akan tetapi di balik simbol itu ada nilai 
tanggungjawab moral yang harus ditunaikan. Dalam satu riwayat dikatakan, Nabi 
Muhammad Saw bersabda, “Kemuliaan umur dan waktu lebih bernilai dibandingkan 
dengan kemuliaan harta.”

Bahkan, harta bisa memperbudak orang yang mencintainya. Orang yang menjadikan 
kekayaan harta benda sebagai standar keagungan seseorang akan membenci 
kematian. Padahal kematian itu adalah pintu pertemuan dengan Allah Swt yang 
pasti akan diketuk oleh setiap manusia. Bahkan karena cintanya kepada harta ia 
tidak rela berpisah darinya.

Oleh sebab itu orang-orang berakal mencela dan merendahkan orang yang serakah 
dalam mengumpulkan harta. Sebaliknya mereka sepakat untuk mengagungkan orang 
yang bersikap zuhud terhadap harta, tidak mau menumpuk-numpuknya, dan tidak 
menjadikan dirinya sebagai budak harta. Meski demikian, harta selalu menjadi 
perburuan demi mendapatkan kemudahan, keberhasilan, kesuksesan, serta mencapai 
kemuliaan dalam hidup ini.

Di zaman sekarang ini, mengejar kekayaan dan meraih kekuasaan materi, seolah 
telah menjadi mindset dan orientasi hidup, sehingga seringkali untuk 
mendapatkannya orang tidak peduli lagi memikirkan cara yang benar atau tidak, 
layak atau tidak layak dengan status sosial dan kemanusiaannya.

Padahal Allah menjelaskan bahwa amal salih kitalah aset sejati bagi kehidupan 
di akhirat nanti. Amal shalih pula yang menjadi kendaraan perjalanan jauh kita 
menuju haribaan-Nya. Setiap perjalanan, lebih-lebih perjalanan jauh dan 
menentukan, memerlukan kendaraan dan bekal.

Oleh sebab hakikat hidup di dunia adalah sebuah perjalanan jauh menuju alam 
akhirat dan medan perjuangan meraih kebahagiaan sejati, maka kita harus mampu 
melintasi segala rintangan yang mungkin terhampar di tengah jalan. Rasulullah 
Saw mengingatkan, ”Jalan menuju surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak 
diisukai, sedangkan jalan menuju neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan 
syahwati.” (HR, Muslim)


Sumber : 
http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/ustadz-abu-ridha-nafsu-dunia-dan-kemuliaan-akhirat.htm


Thanks,
Titik_Luph

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

<<attachment: Nature_Bkgrd.jpg>>

Kirim email ke