-----
aep.saepuloh
1. Keagungan Ilmu Asma’ wa Shifat
Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, sungguh ilmu tentang Allah ‘
Azza wa Jalla adalah ilmu yang paling mulia. Tidak ada jalan untuk
mengenal Allah melainkan hanyalah melaui nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Berikut beberapa hal yang menunjukkan keagungan ilmu tentang asma’ wa
shifat (nama dan sifat Allah).
Pertama
Tidak diragukan lagi bahwa ilmu mengenai tauhid asma’ wa shifat merupakan
ilmu yang paling mulia dan paling utama, paling tinggi kedudukannya serta
merupakan perkara yang paling penting. Kemuliaan dan keutamaan ilmu
tergantung dari kemuliaan obyek yang dipelajari. Tidak ada yang lebih
mulia dan lebih utama daripada ilmu yang berkaitan dengan nama dan sifat
Allah yang terdapat dalam al Quran dan as Sunah. Oleh karena itu,
menyibukkan diri untuk memahaminya dan mengilmuinya serta membahasnya
merupakan tujuan yang paling mulia dan maksud yang utama.
Kedua
Sesungguhnya mengenal Allah dan mengilmui tentang Allah akan menghantarkan
hamba kepada kecintaan, penghormatan dan pengagungan, rasa takut dan
harap, serta rasa ikhlas beramal untuk-Nya. Kebutuhan seorang hamba
terhadap ilmu tersebut dan memperoleh buah dari lmu tersebut merupakan
kebutuhan yang paling besar, paling utama, dan paling mulia. Ibnul Qoyyim
rahimahullah mengatakan, “Tidak ada kebutuhan bagi jiwa yang lebih besar
daripada mengenal Dzat yang telah Menciptakannya, kemudian untuk
mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan merasa senang dengan pengenalannya
tersebut, serta mencari wasilah terhadap-Nya dan kedekatan di sisi-Nya.
Tidak ada jalan untuk mencapai hal itu kecuali dengan mengenal
sifat-sifat-Nya dan nama-nama-Nya. Semakin seorang hamba mengilmui tentang
nama dan sifat Allah, dia akan lebih mengetahui tentang Allah dan semakin
dekat dengan-Nya. Sebaliknya, semakin seorang hamba mengingkari nama dan
sifat Allah, dia akan semakin bodoh terhadap Allah dan akan semakin benci
dan jauh dari-Nya. Allah Ta’ala akan menempatkan (mengingat) seorang hamba
di sisi-Nya tatkala seorang hamba memberi tempat bagi Allah dalam
jiwanya”. Tidak ada jalan untuk mencapainya kecuali dengan mengenal nama
dan sifat-Nya serta mempelajari dan memahami maknanya.
Ketiga
Sesungguhnya tujuan Allah menciptakan makhluk dan menjadikan mereka dari
tidak ada, menciptakan langit dan bumi serta segala yang ada di antara
keduanya adalah untuk mengenal-Nya dan untuk beribadah kepada-Nya semata.
Allah Ta’ala menjelaskan dalam firman-Nya,
اللهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ اْلأَرْضِ مِثْلَهُنَّ
يَتَنَزَّلُ اْلأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ
شَىْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَىْءٍ عِلْمًا {12}
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.
Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar
meliputi segala sesuatu.” (QS. At Thaalaq:12).
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَمَاخَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنسَ إِلاَّلِيَعْبُدُونِ {56}
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzaariyat:56).
Tujuan penciptaan makhluk adalah untuk hal tersebut (mengenal Allah dan
beribadah kepada-Nya semata) dan Allah menciptakan mereka untuk
merealisasikannya. Maka kesibukan untuk mengetahui nama dan sifat Allah
merupakan kesibukan terhadap tujuan penciptaan makhluk, dan
meninggalkannya merupakan pengabaian terhadap tujuan pencitaan makhluk.
Tidak selayaknya bagi seorang hamba (melalaikan) terhadap keutamaan Allah
yang agung ini dan nikmat yang besar ini, dia bodoh terhadap Rabb-Nya
dengan berpaling dari mengenal-Nya
Keempat
Salah satu rukun iman yang enam, bahkan merupakan yang paling utama dan
paling pokok adalah iman kepada Allah. Dan bukanlah yang dimaksud iman itu
hanya sekadar perkataan seseorang bahwa “Aku telah beriman” semata tanpa
mengenal Rabb-Nya. Bahkan hakikat iman yang sebenarnya adalah mengenal
Rabb-Nya dan bersungguh-sungguh dalam mengenal nama dan sifat-Nya sampai
mencapai derajat yakin. Sebatas pengenalan seorang hamba terhadap Allah
maka sebatas itu pula keimanannya. Semakin bertambah pengenalan terhadap
nama dan sifat-Nya, semakin bertambah pula pengenalan seorang hamba
terhadap Rabb-Nya dan semakin bertambah pula imannya. Sebaliknya, semakin
kurang pengenalan seorang hamba terhadap nama dan sifat-nya semakin
berkurang pula imannya. Allah Ta’ala berfirman,
…إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاؤُا … {28} ِ
” Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah
para ulama” (QS. Faathir:28).
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Maksudnya yang takut dengan rasa
takut yang sebenarnya adalah para ulama yang mengenal Allah. Karena
semakin mengenal Allah Al ‘Adziim, Al Qadiir, Al ‘Aliim yang disifati
dengan sifat yang sempurna dan dengan nama yang indah dan mulia, maka
semakin sempurnalah pengenalan terhadap Allah dan semakin sempurna pula
ilmu tentang nama dan sifat-Nya, rasa takut yang timbul akan semakin besar
dan semakin bertambah”. Seorang ulama salaf mengungkapkan hal ini dalam
perkatannya, ”Barangsiapa yang paling mengenal Allah, maka dia yang paling
takut kepada-Nya”.
Kelima
Ilmu tentang Allah Ta’ala merupakan pokok dari segala sesuatu. Sehingga
orang yang mengenal-Nya dengan pengenalan yang hakiki akan mendapatkan
petunjuk dalam berbuat dan melaksanakan syariat dengan pengenalannya
terhadap sifat dan perbuatan-Nya tersebut. Karena Allah Ta’ala tidaklah
berbuat kecuali merupakan konsekuensi dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Seluruh perbuatan Allah dipenuhi dengan sikap adil, keutamaan, dan
hikmah. Oleh karena itu Allah tidaklah menetapkan syariat kecuali sesuai
dengan tuntutan keadilan dan hikmah. Seluruh berita yang Allah khabarkan
benar dan juju, dan seeluruh perintah dan larangannya mengandung keadilan
dan hikmah.
Pembaca yang semoga dirahmati oleh Allah, kelima hal di atas menunjukkan
keutamaan ilmu asma’ wa shifat dan besarnya kebutuhan hamba terhadap ilmu
tersebut. Bahkan tidak ada kebutuhan yang lebih penting daripada
kebutuhan seorang hamba untuk mengenal Rabbnya yang telah menciptakannya,
yang menguasainya, yang mengatur segala urusannya, yang menentukan rezeki
baginya, yang tidak butuh terhadap mereka sedikitpun. Dan tidak ada jalan
untuk meluruskan dan memperbaiki hal tersebut kecuali dengan mengenal-Nya,
beribadah kepada-Nya, dan beriman hanya kepada Allah semata. Kebahagiaan
yang didapat seorang hamba sesuai dengan pengilmuannya terhadap Allah
Ta’ala dan pengamalannya dengan ilmunya tersebut, yaitu dengan
mentadabburi nama dan sifat Allah yang terdapat dalam al Quran dan as
Sunnah, kemudian memahaminya dengan pemahaman yang benar. Tidak
menyelewengakan maknanya, menolaknya, atau menyerupakannya dengan sifat
makhluk. Segala puji bagi Allah, nama-nama-Nya yang baik dan mulia serta
sifat-sifat-Nya agung.[1]
Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat.
Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki
Artikel www.muslim.or.id
2. Ar-Raqiib, Yang Maha Mengawasi
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Posted: 16 Jul 2010 06:00 PM PDT
http://muslim.or.id/aqidah/ar-raqiib-yang-maha-mengawasi.html
Nama Allah Ta’ala yang maha agung ini disebutkan dalam tiga ayat al-Quran,
{إنَّ اللهَ كان عَلَيْكُمْ رقيباً}
Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kamu sekalian (QS an-Nisaa:1).
{وكان اللهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيْباً}
Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu (QS al-Ahzaab:52).
{وكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيْداً ما دُمْتُ فِيْهِمْ, فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي
كُنْتَ أنْتَ الرَّقِيْبَ عَلَيْهِمْ, وأنْتَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٍ}
Dan akulah yang menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara
mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah Yang Maha
Mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu
(QS al-Maa-idah:117).
Makna ar-Raqiib secara Bahasa
Ibnu Faris menjelaskan bahwa asal kata nama ini menunjukkan makna yang
satu, yaitu berdiri (tegak) untuk mengawasi/memperhatikan sesuatu[1].
Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa nama ini secara bahasa berarti pengawas,
penunggu dan penjaga[2].
Ibnul Atsir dan Ibnu Manzhur menjelaskan bahwa nama Allah al-Raqiib
berarti
Maha Penjaga/Pengawas yang tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya[3].
Penjabaran makna nama Allah al-Raqiib
Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat pertama di atas, beliau
menjelaskan bahwa makna ar-Raqiib adalah zat yang maha mengawasi semua
perbuatan dan keadaan manusia[4].
Syaikh Abdurrahman as-Sadi berkata: ar-Raqiib adalah zat yang maha
memperhatikan dan mengawasi semua hamba-Nya ketika mereka
bergerak(beraktifitas) maupun ketika mereka diam, (mengetahui) apa yang
mereka sembunyikan maupun yang mereka tampakkan, dan (mengawasi) semua
keadaan mereka[5].
Di tempat lain beliau berkata: ar-Raqiib adalah zat yang maha mengawasi
semua urusan (makhluk-Nya), maha mengetahui kesudahannya, dan maha
mengatur
semua urusan tersebut dengan sesempurna-sempurna aturan dan sebaik-sebaik
ketentuan[6].
Maka makna ar-Raqiib secara lebih terperinci adalah: zat yang maha
memperhatikan/mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada/hati manusia,
yang
maha mengawasi apa yang diusahakan setiap diri manusia, yang maha
memelihara semua makhluk dan menjalankan mereka dengan sebaik-baik aturan
dan sesempurna-sempurna penataan, yang maha mengawasi semua yang terlihat
dengan penglihatan-Nya yang tidak ada sesuatupun yang luput darinya, yang
maha mengawasi semua yang terdengar dengan pendengaran-Nya yang meliputi
segala sesuatu, yang maha mengawasi/memperhatikan semua makhluk dengan
ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu[7].
Pengaruh Positif dan Manfaat Mengimani Nama Allah Ar-Raqiib
Pengaruh positif yang paling utama dengan mengimani nama Allah yang agung
ini adalah senantiasa merasakan muraaqabatullah (pengawasan dari Allah
Ta’ala) dalam semua keadaan kita, dan timbulnya rasa malu yang
sesungguhnya
di hadapan-Nya, yang ini semua akan mendorong seorang hamba untuk selalu
menetapi ketaatan kepada-Nya dan menjauhi semua perbuatan maksiat, di
manapun dia berada[8].
Muraaqabatullah (selalu merasakan pengawasan Allah Ta’ala) adalah
kedudukan
yang sangat tinggi dan agung dalam Islam, sekaligus termasuk tahapan utama
untuk menempuh perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah dan negeri
akhirat.
Hakikat muraaqabatullah adalah terus-menerusnya seorang hamba merasakan
dan
meyakini pengawasan Allah Ta’ala terhadap (semua keadaannya) lahir dan
batin, maka dia merasakan pengawasan-Nya ketika berhadapan dengan
perintah-Nya, untuk kemudian dia melaksanakannya dengan sebaik-baiknya,
dan
ketika berhadapan dengan larangan-Nya, untuk kemudian dia berusaha keras
menjauhinya dan menghindarinya[9].
Seorang penyair mengungkapkan makna ini dalam bait syairnya[10]:
Jika suatu hari kamu sedang sendirian maka janganlah kamu berkata:
Aku sendirian, akan tetapi katakanlah: ada (Allah) yang Maha Mengawasiku
Dan janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa Dia akan lalai sesaatpun
Dan (jangan mengira) sesuatu yang tersembunyi akan luput dari
(pengawasan)-Nya
Inilah makna al-Ihsan yang disebutkan dalam hadits Jibril ‘alaihis salam
yang terkenal, yaitu sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
أن تعبد الله كأنكَ تراه, فإنْ لَمْ تَكُنْ تراه فإنه يراك
(al-Ihsan adalah) engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya, kalau kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia
melihatmu[11].
Syaikh Abdurrahman as-Sadi berkata, Muraaqabatullah (selalu merasakan
pengawasan Allah Ta’ala) adalah termasuk amalan hati yang paling tinggi
(keutamaannya dalam Islam), yaitu menghambakan diri (beribadah) kepada
Allah dengan (memahami dan mengamalkan makna yang terkandung dalam)
nama-Nya ar-Raqiib (Yang Maha Mengawasi) dan asy-Syahiid (Yang Maha
Menyaksikan). Maka ketika seorang hamba mengetahui/meyakini bahwa semua
gerakan (aktifitas)nya yang lahir maupun batin, tidak ada (satupun) yang
luput dari pengatahuan-Nya, dan dia (senantiasa) menghadirkan keyakinan
ini
dalam semua keadaannya, ini (semua) akan menjadikannya (selalu berusaha)
menjaga batin (hati)nya dari (semua) pikiran (buruk) dan angan-angan yang
dibenci Allah, serta menjaga lahir (anggota badan)nya dari (semua) ucapan
dan perbuatan yang dimurkai Allah, serta dia akan beribadah/mendekatkan
diri (kepada Allah) dengan kedudukan al-ihsan, maka dia akan beribadah
kepada Allah seakan-akan dia melihat-Nya, kalau dia tidak bisa melihat-Nya
maka sesungguhnya Allah melihatnya[12].
Kalau kita merenungkan dengan seksama ayat-ayat al-Quran yang menerangkan
luasnya ilmu Allah Ta’ala dan bahwasanya tidak ada sesuatu pun yang luput
dari pengetahuan dan pengawasan-Nya, baik yang tampak di mata manusia
maupun tersembunyi, seperti ayat-ayat berikut:
{واعلموا أن الله يعلم ما في أنفسكم فاحذروه}
Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahi apa yang ada dalam hatimu, maka
takutlah kepada-Nya (QS al-Baqarah:235).
{يستخفون من الناس ولا يستخفون من الله وهو معهم إذ يبيتون ما لا يرضى من
القول, وكان الله بما يعملون محيطاً}
Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari
Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka
menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah
Maha
Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan (QS an-Nisaa:108).
{يعلم خائنةَ الأَعْيُنِ وما تُخْفِي الصُدور}
Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan
dalam hati (QS al-Mumin:19). Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan
ayat-ayat tersebut, merenungkan dan menghayati semua itu akan
membangkitkan
dalam diri seorang hamba muraaqabatullah dalam semua perbuatan dan
keadaannya. Karena muraaqabatullah adalah termasuk buah yang manis dari
keyakinan seorang hamba bahwa Allah Ta’ala maha mengawasi dan
memperhatikan
dirinya, maha mendengarkan apa yang diucapkan lisannya, serta maha
mengetahui semua perbuatannya setiap waktu, setiap tarikan nafas, bahkan
setiap kedipan matanya[13].
Penutup
Dengan penjelasan di atas, kita memahami bagaimana agungnya manfaat dan
keutamaan membaca al-Quran dengan merenungkan dan menghayati kandungan
maknanya, karena dengan itulah kita bisa mengambil petunjuk agung yang
terdapat di dalamnya dengan sempurna[14], untuk membawa kita mencapai
kedudukan dan tingkatan yang tinggi di hadapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala
berfirman,
{كتاب أنزلناه إليك مبارك ليدبروا آياته وليتذكر أولوا الألباب}
Ini adalah kitab (al-Quran) yang kami turunkan kepadamu, penuh dengan
berkah, supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (QS Shaad:29).
Akhirnya, kami akhiri tulisan ini dengan memohon kepada Allah dengan
nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar
dia menganugerahkan kepada kita semua kedudukan muraaqabatullah yang agung
dan mulia ini, serta semua kedudukan yang tinggi dalam agama-Nya,
sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan hamba-Nya.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين, وآخر دعوانا أن
الحمد
لله رب العالمين
Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 13 Syawwal 1430 H
Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA
Artikel www.muslim.or.id
[1] Kitab Mujamu maqaayiisil lughah (2/353).
[2] Kitab al-Qamus al-muhith (hal. 116).
[3] Kitab an-Nihayah fi gariibil hadits wal atsar (2/609) dan Lisaanul
Arab
(1/424).
[4] Kitab tafsir Ibni Katsir (1/596).
[5] Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan (hal. 90).
[6] Ibid (hal. 487).
[7] Lihat kitab Fiqhul asma-il husna (hal. 159).
[8] Lihat Kitab Tafsir Ibni Katsir (1/596) dan Taisiirul Kariimir Rahmaan
(hal. 90).
[9] Lihat kitab Fiqhul asma-il husna (hal. 160).
[10] Dinukil oleh Imam Ibnu Hibban al-Busti dalam kitab Raudhatul uqala
(hal. 26).
[11] HSR Muslim (no. 8).
[12] Tafsiiru asma-illahil husna (hal. 55).
[13] Lihat kitab Fiqhul asma-il husna (hal. 160).
[14] Lihat keterangan imam Ibnul Qayyim dalam Ighaatsatul lahfan min
masha-yidisy syaithaan (1/44).
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.