Nice email, I like this.

So touching story.


aga madjid

-----Original Message-----
From: Edy Haryanto <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 8 Oct 2010 09:17:40 
To: AGA Millist<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: ~ aga ~ [KASKUS INFO] Mantan masinis kereta tragedi bintaro 1987 di
 hari tuanya


Mantan masinis kereta tragedi bintaro 1987 di hari tuanya
18 hours ago.

sebelomnya mohon maaf agan² kalo ane
kalo emang bener  jangan dikasih  ya gan...

langsung aja ya gan...
ane mau share..



SM/Nur Kholiq

MENDERITA: Slamet Suradio (71), masinis kereta api lokal (KA 225) yang  
bertabrakan dengan kereta api cepat (KA 220) pada 19 Oktober 1987 dan  
dikenal dengan tragedi Bintaro. Setelah divonis pidana penjara dan  
diberhentikan dengan tidak hormat, dia kini hidup sengsara di RT 02 RW  
02 Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo.



*Sisa Kesedihan dari Tragedi Bintaro 1987

Mantan Masinis Kereta Maut itu Kini Hidup Sangat Sengsara



KECELAKAAN kereta api di Petarukan memang mengingatkan masyarakat  
terhadap tragedi kecelakaan terburuk sepanjang sejarah perkeretaapian  
di Indonesia. Kecelakaan yang kemudian lebih dikenal dengan tragedi  
Bintaro 1987 itu masih menyisakan kisah sedih. Bukan saja bagi para  
keluarga korban, tapi juga masinis yang dulu menjalankan kereta maut  
tersebut. Berikut laporan Wartawan Suara Merdeka, Nur Kholiq yang  
berhasil menelusuri keberadaan mantan masinisnya.



TIDAK mudah melacak keberadaan Slamet Suradio (71), mantan masinis  
kerata api (KA 225) yang bertabrakan dengan KA cepat (KA 220). Laki- 
laki yang pernah menggemparkan dunia ini seperti hilang ditelan  
sejarah seiring dengan umurnya yang mulai menua. Tapi namanya kembali  
disebut-sebut dalam pemberitaan media setelah terjadinya kecelakaan  
kereta di Petarukan, Pemalang. Stasiun Kutoarjo yang diharapkan  
memiliki data alamat tempat tinggal Slamet justru terkejut begitu  
diberi tahu bahwa kereta maut itu dimasinisi warga Purworejo. Nyaris  
putus asa mencari alamat, akhirnya Suara Merdeka berspekulasi mencari  
alamat Slamet ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.



Alhamdulillah, setelah dilacak menggunakan sistem administrasi  
kependudukan online, nama Slamet Suradio muncul dan tercatat sebagai  
warga RT 01 RW 02 Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan  
Gebang, Purworejo. Saat didatangi ke rumahnya, laki-laki yang oleh  
warga sekitar lebih akrab disaba Slamet Bintaro ini sedang tidak ada.  
Tetangganya menyebutkan dia sedang bekerja berjualan rokok keliling di  
perempatan besar dekat BRI Cabang Kutoarjo. Saat didatangi tempat dia  
mangkal jualan, juga tidak ada. Tukang becak di dekat lokasi  
menyebutkan Slamet baru saja pulang.



"Itu mbah Slamet," ujar salah satu tukang becak dengan menunjukan  
jarinya ke arah seorang laki-laki renta yang mengenakan baju biru dan  
topi biru berjalan tertatih-tatih di trotoar. Tanpa pikir panjang,  
Suara Merdeka mengejarnya dan menawarkan tumpangan pulang untuk  
wawancara mengenai tragedi yang menjadi awal kesengsaraan hidupnya.



Saat singgah di sebuah warung untuk makan siang, Slamet mulai  
berkisah. Sembari lahap menyantap nasi sayur sop, dia secara jujur  
mengatakan, tragedi kecelakaan kereta yang terjadi pada Senin Pon, 19  
Oktober 1987 pukul 07.30 itu menjadi awal dimulainya kehidupan dia  
yang sengsara dan menderita tanpa dia tahu harus mengadu ke mana.



"Karena tragedi yang sebenarnya juga tidak saya kehendaki itu,  
pengabdian saya di PJKA (sekarang PT KAI, red) berpuluh tahun seperti  
tidak ada artinya. Saya diberhentikan dengan tidak hormat sehingga  
saya tidak dapat uang pensiun," keluhnya.



"Di umur yang se tua ini, saya masih harus banting tulang memeras  
keringat dengan jualan rokok eceran keliling yang setiap harinya hanya  
memberikan saya pendapatan tidak lebih dari Rp 5.000," tuturnya dengan  
menyeka air mata yang mulai menetes. Slamet mengakui hatinya merinding  
begitu mendengar berita terjadinya kecelakaan di Petarukan. Dia yang  
sudah pernah merasakannya langsung berpikir, pasti masinis kereta yang  
akan menanggung semua beban kesalahan, meskipun sebenarnya banyak  
pihak terkait yang ikut bersalah.



"Saya kok yakin pasti masinis itu masuk ke dalam jalur setelah dia  
mendapatkan sinyal aman dari PPKA (pemimpin perjalanan kereta api).  
Bertahun-tahun saya jadi masinis, tidak akan berani masuk ke jalur  
kalau tidak ada sinyal aman dari PPKA," katanya.    Dia pun berkisah  
dari kecelakaan yang dialaminya. Waktu itu, katanya, dia bersama  
kondektur Adung Syafei menjalankan KA 225 jurusan Rangkasbitung-Tanah  
Abang ditarik lok BB306 16. Menurut versi dia, KA 225 memang mengalami  
keterlambatan sekitar 5 menit saat sampai di stasiun Sudimara Tangerang.



Apabila tepat waktu, KA 225 seharusnya datang pukul 06.40 dan menunggu  
KA 220 yang lewat pada pukul 06.49. Di jalur 2 sudah ada KA barang  
yang menunggu. Karena Stasiun Sudimara hanya punya 3 jalur, dan jalur  
1 kondisinya agak rusak, maka KA 225 dimasukkan ke jalur 3.



Karena penuh, kegiatan persilangan jadi mustahil. Otomatis persilangan  
terpaksa dipindahkan ke stasiun Kebayoran. Menurut peraturan, untuk  
memindahkan persilangan ke Kebayoran, PPKA harus meminta izin dulu ke  
Kebayoran. Setelah diizinkan, baru PPKA membuat surat PTP (Pemindahan  
Tempat Persilangan) ke masinis KA 225. Tapi yang terjadi malah  
sebaliknya. PPKA membuat PTP dan memberikannya ke masinis, baru  
meminta izin ke Kebayoran."Intinya saya memberangkatkan kereta setelah  
ada perintah dari PPKA dan kondektur saya juga sudah memberikan tanda  
aman," katanya.



Pada saat KA 225 berangkat dari stasiun Sudimara, bersamaan dengan itu  
KA 220 juga berangkat dari Kebayoran. Tabrakan tak akhirnya tidak bisa  
terhindarkan dan 139 penumpang tewas. "Jarak 10 meter saya baru tahu  
dari arah berlawanan ada kereta. Saya sudah berusaha mengerem tapi  
tetap saja tidak bisa. Kecepatan sekitar 40 km per jam," katanya.



Begitu kecelakaan terjadi, Slamet tidak sadar dan baru mengetahui  
setelah dibawa ke rumah sakit (RS) Pelni. Tulang tungkainya retak 5  
sentimeter, kaki kananya patah, dan semua giginya rontok. Dari RS  
Pelni, dia dipindah ke rumah sakit Cipto. Saat di rumah sakit inilah  
ada ancaman dia akan diculik oleh keluarga korban, sehingga harus  
dipindahkan ke RS Kramat Jati oleh petugas kepolisian. Dia di rawat  
selama tiga bulan ICU RS Kramat Jati. Dalam perawatan itu, dia mulai  
disidik untuk dimintai keterangan setelah ditetapkan sebagai tersangka.



"Saat disidik itu, saya dipaksa mengakui kecelakaan itu terjadi karena  
kelalaian saya sepenuhnya. Bahkan saya sempat ditodong pistol oleh  
penyidik yang bernama Mayor Hidayat. Saya bilang silakan saja saya  
ditembak kalau saya harus mengakui kesalahan yang tidak saya lakukan,"  
katanya.



Dia menduga ada konspirasi terselubung untuk menimpahkan semua  
kesalahan kepada pegawai rendahan seperti dirinya. "Saya diminta  
menandatangani berita acara yang tidak boleh saya baca terlebih  
dahulu. Akhirnya dalam persidangan saya divonis lima tahun dari  
tuntutan yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU) selama 14 tahun  
penjara. Vonis itu dikuatkan terus hingga dia mengajukan peninjauan  
kembali," katanya.



Slamet mengatakan, dirinya hanya menjalani hukuman selama 3,5 tahun  
kemudian bebas setelah mendapatkan remisi. Di sela-sela menjalani  
hukuman itulah, istrinya bernama Kasni direbut temannya sendiri yang  
juga seorang masinis. Sekitar tahun 1993 akhir dia sudah keluar dari  
Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang kemudian masuk kantor lagi tapi  
sehari-harinya hanya diisi dengan kegiatan apel. Hingga akhirnya tahun  
1996 dia mendapat surat pemberhentian dengan tidak hormat dengan dasar  
kasus kecelakaan tersebut. Otomatis dia tidak mendapatkan uang  
pensiun. Padahal Slamet sudah mulai mengabdi di PJKA sejak tahun 1964  
dan mulai tahun 1971 menjadi masinis setelah dirinya lulus tes masinis.



Slamet menuntut keadilan agar dirinya diberikan uang pensiun. Sebab  
istrinya saat ini, Tuginem (45) juga bukan keluarga berada. Sehari- 
hari hanya menjadi buruh tani. Padahal masih ada tiga anak yang  
ditanggungnya, yaitu Untung Sariono (16), Suroso (14), dan Safitri  
(9). "Saya belum tahu kalau nanti saya mati, mereka nasibnya seperti  
apa," katanya. Slamet mengatakan, setiap kali ada kecelakaan kereta  
hatinya miris teringat peristiwa 1987. Namun dia kerap rindu dan  
terkenang saat menjadi masinis. Untuk mengobati kerinduannya, tidak  
jarang dia pergi ke stasiun kereta Kutoarjo hanya untuk menyaksikan  
kereta yang melintas. (Nur Kholiq)






sumber : http://www.fa*cebook.com/note.php?note_id=123252457728659&id=1268509963
NB : tanda * dihilangkan dulu...

kalo ga keberatan dirate dulu yang belom bisa iso, bagi yang sudah  
bisa iso tolong disontek dikit




Sent from my iPhone 3Gs

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke