BAHASA "ACTION"

Eileen Rachman & Sylvina Savitri


EXPERD


Leadership Retreat Program


Dimuat di Kompas, 2 Oktober 2010

Pergantian pucuk pimpinan beberapa lembaga tinggi negara yang perannya
sangat strategis telah menyedot perhatian kita dalam beberapa minggu
terakhir ini. Tidak habis-habis diulas, dikupas, dibahas kualitas dan
kompetensi pemimpin yang perlu dimiliki oleh sosok yang nantinya akan
mengisi jabatan tersebut. Apakah pemimpin perlu tahu segala hal sampai
ke detil? Ataukah lebih baik yang sekedar paham "big picture"-nya saja?
Apakah lebih tepat yang cepat ambil tindakan ataukah lebih baik yang mau
mendengarkan berbagai pendapat dan membuat pertimbangan yang matang
dalam tiap langkah? Bagaimana komposisi yang "pas"? Tidak hanya di
tingkat negara, namun di banyak perusahaan pun kita kerap melihat
sulitnya memilih dan menentukan sosok yang bisa mewakili harapan banyak
pihak.

Dalam pembahasan mengenai leadership, kita kerap membaca ulasan mengenai
bedanya "manajer" dan "leader". Di lapangan dan di atas kertas, kita
memang melihat bahwa pemimpin punya "derajat" yang lebih tinggi dari
manajer. Manajer lebih dipandang sebagai ahli dalam pelaksanaan dan
motor untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sementara, pemimpin
dipandang memiliki peran yang lebih strategis. Ia harus punya visi ke
masa depan, menentukan arah, memilih strategi dan sekaligus memiliki
kemampuan persuasi untuk membawa orang-orang yang dipimpinnya bergerak
ke arah yang diinginkan. Ahli manajemen, Peter F. Drucker pun
berkomentar "Management is doing things right; leadership is doing the
right things." Pertanyaannya, apakah kita membutuhkan pemimpin dengan
kemampuan manajerial yang kuat atau manajer dengan kepemimpinan yang
kuat?

Meramu Kompetensi Manajerial dan Kepemimpinan

Banyak nasehat yang beredar mengenai teknik kepemimpinan untuk lebih
melihat permasalahan secara menyeluruh, dari sudut pandang helicopter
dan melihat jauh ke depan. Padahal, di sisi lain, kita tahu Xerox tidak
akan selamat dari keterpurukan bila Anne Mulcahy tidak membenahi setiap
detil perusahaan itu, pada masa-masa awal kepemimpinannya. Di samping
mimpi dan visi yang jauh dan progresif, jagoan-jagoan seperti Francis
Ford Coppola atau Steve Jobs pun ternyata adalah orang-orang yang sangat
mendalami industri dan keahlian yang diperlukan dalam lini bisnisnya dan
selalu mempelajari semua persoalan secara in-depth. Ini berarti
pemisahan antara fungsi kompetensi manajerial dan kepemimpinan sudah
tidak bisa kita lakukan secara ekstrim. Bahkan, perlu kita akui bahwa di
samping kapasitas kepemimpinan yang harus digali dari seorang manajer,
seorang pemimpin juga perlu mewarnai kapasitas memimpinnya dengan
hal-hal yang berbau "how it will be done".

Saya jadi teringat nasehat seseorang yang sudah bisa tergolong begawan
di dalam lini bisnis telekomunikasi. Ketika seorang CEO baru berkunjung
dan mempertanyakan kegagalan-kegagalan pendahulunya. senior ini hanya
menganjurkan untuk berkunjung ke 'pasar' dan mendapatkan 'rasa' dan
'pengalaman pelanggan' yang sesungguhnya. Nasihat ini tentu menyadarkan
bahwa pemimpin tidak akan bisa membuat terobosan dan keputusan yang
tajam, bila ia tidak menjiwai, merasakan dan menghayati kebutuhan anak
buah dan "pelanggan" di lapangan.

Harus kita akui, banyak sekali pemimpin yang dianggap oleh anak buahnya
sebagai "ahli teori", namun tidak mengenal keadaan anak buahnya sama
sekali. Pemimpin tipe "big picture only" ini mungkin saja tersandung
pembuatan keputusan yang hanya berdasarkan data di kertas, namun tidak
mempunyai akses pada realita di lapangan. Tak heran bila kita pun sering
mendengar komplain adanya keputusan yang kaku dan "tidak mau tahu". Ini
juga tampaknya yang mendasari tuntutan agar para pemimpin harus
senantiasa ingat untuk "walk the talk". Tidak bisa sekedar memberi
instruksi perubahan atau pengembangan di atas kertas, namun harus
senantiasa mengikuti sampai implemetasinya. Bukankah ini juga yang bisa
kita pelajari dari Steve Jobs. Secara teratur ia mendatangi Apple store
di setiap kota yang dia kunjungi. Kedekatan dan pemahaman dengan kondisi
di lapangan inilah yang membuatnya bisa senantiasa mengambil keputusan
dan tindakan progresif yang terbukti membawa perusahaannya menjadi
terdepan.

"Action"Tidak Bisa dipertukarkan dengan Konsep

Seringkali pemimpin berhadapan dengan masalah, berkutat membahas,
menganalisanya berhari-hari. Pada saat menyusun action plan, entah
karena habis tenaga atau memang menganggap bahwa action itu mudah dan
'taken for granted', perumusan tindakan pun digambarkan seadanya saja.
Padahal action plan pun harus ditelaah kembali, perlu betul-betul
dipastikan apakah memang akan bisa membawa perubahan signifikan atau
tidaknya. Action plan juga dbutuhkan untuk menjamin follow up dan
mempermudah pengecekan. Bisa kita lihat sendiri betapa kebijakan
kebijakan yang dibuat oleh penguasa negara sering tidak berbuah
perubahan, karena tindak lanjut yang tak jelas.

Dari sebuah simulasi kegiatan pada pelatihan kepemimpinan, tidak satu
pun kelompok yang mendapat tugas merancang perubahan, menyertakan time
frame dan action plan yang mendetil. Di sini kita bisa berkaca bahwa
sosok pemimpin yang dibayangkan  seringkali adalah sosok yang tidak
perlu 'go into details'. Padahal  jarak antara perancangan dan tindakan
ini bagaikan jurang yang dalam yang bahkan terkadang misterius. Dengan
tidak diterjemahkannya konsep ke dalam 'action', kita tidak bisa melihat
nilai, konflik bahkan ketakutan-ketakutan apa yang menghambat
pelaksanaan perubahan. Setiap anak buah pastinya menunggu-nunggu
pernyataan pemimpin untuk menggerakkan perbaikan proses,sumberdaya
manusia, infrastruktur dan mental di lembaga yang dipimpinnya. Semakin
nyata instruksi mengenai sasaran, tindakan apa yang perlu dilakukan,
kapan dan seberapa besar cakupannya, akan semakin bisa kita menjamin
adanya langkah perubahan dan perbaikan proses. Sehebat-hebatnya visi
pemimpin, arahan tindakannya harus jelas.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
if you wanna know me, please visit to www.facebook.com/aga.madjid
or add me in Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke