Rabu, 27/10/2010 13:47 WIB
*YLKI Temukan 11 Merk Air Minum Kemasan Mengandung Bakteri Berlebih  *
*Lia Harahap* - detikNews

*Jakarta* - Semakin tahun, produksi air minum dalam kemasan (AMDK) gelas
semakin tak terhitung jumlahnya. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia
melakukan penelitian untuk meneliti kadar bakteri yang terkandung dalam
minuman kemasan tersebut.

"Dari 21 merk minuman kemasan gelas yang kita uji, 11 di antaranya ditemukan
nilai bakteri yang bermasalah," ujar peneliti YLKI, Ida Marlinda Loenggana,
dalam jumpa pers mengenai hasil uji AMDK di Kantor YLKI, Jl Pancoran Barat,
Duren Tiga, Jakarta, Rabu (28/10/2010).

Produk air minuman kemasan yang diteliti YLKI, menurut Ida, tidak terfokus
pada produk yang sudah mempunyai nama saja. YLKI juga mengambil sampel dari
merk-merk yang jarang terdengar di pasaran.

Penelitian ini, lanjut Ida, dilakukan YLKI pada sejak bulan Maret hingga Mei
2010. Sampel produk-produk air minuman itu mereka dapatkan dari pasar
tradisional, swalayan, dan juga mal-mal.

"Dan daerah itu kita pilih tersebar tapi ada juga yang sampai di Cilincing,
Penggilingan, yang umum di sekitar utara dan timur (Jakarta)," kata Ida.

Dari 11 merk air minum kemasan yang bermasalah tersebut, lanjut Ida,
ditemukan total bakteri mencapai 10 ribu sampai 100 ribu koloni/mL. Padahal,
menurut Standar SNI 01-3553-2006 kandungan mikrobiologi untuk air minum itu
mulai dari 100 sampai dengan 100 ribu koloni/mL.

"Dari 11 ini, kita menemukan 9 yang mendekati yaitu Pretige, Top Aqua, Air
Max, Caspian, Club, Pasti Air,Vit, Prima, De As. Sedangkan 2 yang melebihi
batas itu ada Ron88 dan Sega. Dengan tanggal kadaluarsa yang beragam. Ada
yang Januari 2011 sampai Oktober 2011," imbuhnya.

"Tapi kalaupun tanggal kadaluarsanya masih jauh, tapi sudang mengandung
bakteri lagi bagaimana ke depannya," lanjut Ida.

Terhadap 11 merk ini, YLKI menurut Ida sudah mencoba meminta klarifikasi.
Tapi hanya merk yang mempunyai alamat langkap dan memberikan tanggapan.

"Sedangkan yang dua lagi tidak punya alamat padahal mereka punya nomer
registrasi," jelasnya.

Ida mengatakan, dari berbagai tanggapan yang diterima YLKI banyak yang
positif terhadap penelitian yang dilakukan YLKI ini. Namun sayangnya, pihak
produsen umumnya lebih menyalahkan nilai bakteri yang berkembang itu
bertambah setelah usai masa produksi.

"Banyak yang positif, tapi ada juga yang negatif, kalau negatifnya, mereka
umumnya menyalahkan pada saat proses distribusi dan proses penyimpanan dan
penempatan pada saat prosuk tersebut sampaik ke penjual. Penjual yang
membiarkan terkena matahari pasti bakteri akan berkembang," tegas Ida.

YLKI berharap dengan penelitian ini, pihak produsen lebih bertanggung jawab.
Karena sistem pengawasan produk mutlak sampai ke tangan konsumen. YLKI juga
berpesan pada masyarakat untuk lebih mempertimbangkan pemilihan produk air
minum kemasan.

"Produsen bertanggung jawab memenuhi standar keamanan dan keselataman.
Masyarakat juga jangan karena memilih yang murak tapi tidak mempertimbangkan
aspek kandungannya. Dan kepada penegak hukum jika ada produsen nakal yang
tidak memperbaiki dan bertanggung jawab kita berharap diberikan sanksi yang
menjerakan," tandasnya.
*(lia/lrn)*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke