*MANUSIA : ASET ATAU BIAYA? * *Eileen Rachman & Sylvina Savitri* *EXPERD
* *Leadership Retreat Program *
Dimuat di KOMPAS, 23 Oktober 2010
Bila dalam perusahaan ada wacana mengenai *cost center* dan *profit center*,
beberapa divisi tentu akan merasa sedikit kecil hati, karena dianggap sebagai
*cost center* dan bukan ‘*breadwinner*‘ perusahaan. Misalnya saja, divisi IT
yang hampir eksis di setiap perusahaan, meskipun “jasa”-nya tidak sedikit,
biasanya dianggap sebagai “orang belakang”, karena kontribusinya tidak
langsung terlihat dalam mencetak keuntungan. Bagaimana dengan divisi sumber
daya manusia? Jelas-jelas dalam neraca, ‘*cost*’ terbesar dari perusahaan
adalah gaji. Bahkan, tak jarang biaya sumber daya manusia bisa mencapai 65%
dari keseluruhan biaya perusahaan. Tentunya tidak mungkin biaya-biaya
pengembangan sumberdaya manusia, mulai dari gaji, rekutmen, training dan
fasilitas karyawan dimasukkan dalam ‘*profit center*’, bukan? Dengan kondisi
ini, di mana letak HRD? Apakah lebih dipandang sebagai “beban”? Atau, sudah
berperan sebagai “pahlawan” penggerak produktivitas? Dengan besarnya biaya
yang dikelola oleh divisi HR, kita tentu berharap divisi ini bisa secara
nyata memberi, bahkan melipatgandakan “keuntungan” yang telah dikeluarkan,
bagi kemajuan individu dan pertumbuhan organisasi.
Di satu sisi, semua orang setuju bahwa “manusia adalah aset terbesar
perusahaan”. Tanpa manusia, perusahaan tidak akan jalan. Mari kita evaluasi,
apakah divisi HRD di organisasi kita sudah diperlakukan sebagai pusat
strategi perusahaan? Apakah perusahaan meletakkan kebijakan dan strategi
pengembangan sumber daya manusia di atas strategi dan manuver lain? Apakah
dalam visi pimpinan perusahaan digambarkan tipe manusia dan perilaku manusia
nya di 10 tahun mendatangnya? Bagaimana bisa menjamin inovasi, pengembangan
ketrampilan dan pengetahuan bila divisi SDM hanya dianggap sebagai divisi
yang mengurus ketertiban, gaji dan kenaikan pangkat? Betapa kita sering
mengalami, seorang yang sedang berada di kelas pelatihan, “dipaksa”
meninggalkan kelas karena urusan ‘urgent’ menyangkut soal bisnis.
Bukankah pelatihan
juga sering dianggap sebagai upaya menghabiskan budget di akhir tahun dan
bukan sebagai upaya utama di awal tahun? Kita juga bisa melihat bahwa
ketidakmampuan
manajer untuk melakukan ‘coaching’ tidak dianggap sebagai hal yang krusial
untuk diperbaiki dibandingkan dengan menghasilkan angka penjualan. Apa yang
menyebabkan pernyataan dan keyakinan bahwa “manusia adalah aset terbesar di
perusahaan” sering tidak dibarengi dengan sikap terhadap pengembangan
sumberdaya manusianya sendiri?
*Manusia Pencipta “Values” *
Sudah demikian banyak teori manajemen dan pemasaran yang menekankan
pentingnya menciptakan ‘value’ dalam bisnis, bila kita tidak mau tergilas.
Kita sendiri pasti juga menghargai betapa hasil pemikiran yang sekarang
sering disebut sebagai ‘software’ dihargai dengan mahal. Sepintar-pintarnya
komputer, kita sendiri sangat sadar bahwa yang mengadakan inovasi dan
manuver baru tetap manusia. Berarti manusia adalah *value-producing
asset *yang
perlu menjadi fokus bisnis dan bukan dianggap sebagai beban. Ini tentu
prinsip yang senantiasa perlu dipegang dan diterjemahkan dalam strategi,
sistem, prosedur, inisiatif dan perilaku sehari-hari, tidak hanya oleh
divisi SDM, tapi juga pimpinan perusahaan dan para manager. Kita pun perlu
senantiasa mengecek dan mengevaluasi, apakah perusahaan dan HRD sudah
berhasil menciptakan “values” dari manusia yang ada.
Kemampuan organisasi berkreasi, mencari jalan lain yang berbeda dengan yang
‘biasa’, hanya mungkin dilakukan oleh sumberdaya manusia yang ‘tidak biasa’.
Inilah pekerjaan divisi Sumber Daya Manusia. Para eksekutif di divisi SDM
perlu tahu apa visi dan masa depan perusahaan dan sekaligus perlu sering
memantau perkembangan kondisi manusia di lapangan, sehingga bisa membentuk
dan mengasah manusia di organisasi, demi masa depan tersebut. Eksekutif SDM
harus bisa membuktikan bahwa mereka betul-betul serius menjadi ‘strategic
partner‘ yang paling utama dari manajemen puncak perusahaan. Berpikir
strategis ke masa depan dan sekaligus menterjemahkan strategi ke dalam tindakan
tindakan pengembangan yang efektif. Sudah tidak masanya lagi divisi SDM hanya
berfokus mengurus administrasi personalia karyawan. Divisi HRD memang harus
diisi oleh orang-orang yang profesional dan ahli, serta memiliki “*passion*”
terhadap *people* dan juga bisnis, karena para ahli *human capital* ini
perlu me-“*re**-engineer*” *business process* dan aktif mendengarkan
aspirasi karyawan, sehingga komitmen dan kapabilitas karyawan tersalur
dengan positif.
*Bukan “Embel-embel”*
Bila ada karyawan bermasalah, baik itu kinerja maupun sikap kerjanya, tak
jarang yang ditunjuk bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini
adalah HRD, bukan? Berapa banyak orang yang masih berpandangan divisi HRD
ibarat guru BP (Bimbingan Penyuluhan) yang ada di sebuah sekolah menengah?
Jika HR masih semata dituntut untuk berkutat menterapi atau memberi rasa “*
comfort*” kepada karyawan, tentu saja perusahaan akan segera memanen
masalah, baik itu moral dan produktivitas, karena fungsi penting HR modern
tidak dijalankan.
Perusahaan dan karyawan, perlu sadar bahwa divisi HRD tidak bisa hanya
berpikir “*here and now*” saja, tapi perlu jeli untuk meramalkan kebutuhan
manusia dalam menjawab tantangan bisnis berpuluh tahun ke depan. Dengan
demikian, yang diciptakan bukan sekedar kekuatan sumber daya manusia, tetapi
justru kekuatan intelektual dan mental manusianya. Kita tahu, menurut Dave
Ulrich, peran HR yang perlu diperkuat di organisasi adalah menjadi “*change
leader*”. Namun, tentu saja HR sendiri pertama-tama perlu bisa menggerakkan
dan menjalankan perubahan di tubuhnya sendiri lebih dulu. Bila dulu
manajemen bisa dipuaskan dengan program-program training dan rekrutmen yang
dikelola oleh divisi SDM, maka yang sekarang perlu dihasilkan adalah kekuatan
hubungan interpersonal dan spirit manusianya. Bila dulu substansi yang
digarap adalah disiplin, tunjangan atau remunerasi karyawan, di masa
sekarang tuntutannya adalah mengelola *mindset* dan prespektif karyawan. Tanpa
terobosan, cara-cara baru dan perubahan, mustahil peran ini bisa dimainkan
dengan optimal. Bila divisi keuangan sering dianggap sebagai urat nadi
perusahaan, kini saatnya divisi HRD membuktikan peran sebagai
“otak”perusahaandan bukan lagi sekedar beban dan embel-embel di
perusahaan.
*EXPERD CONSULTANT*
*Adding value to business results*
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax. 021-7590 6442
*http://www.experd.com*
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.