*KERJA MASA DEPAN*
* * * * *Eileen Rachman & Sylvina Savitri* *EXPERD       * *Leadership
Retreat Program   *

Dimuat di KOMPAS, 30 Oktober 2010

Pentingnya pendidikan memang tidak perlu diperdebatkan. Kita tahu bahwa
hampir semua orang tua berusaha untuk mencari sekolah terbaik bagi anak-anak
mereka. Tujuannya tentu untuk mempersiapkan masa depan. Kita berharap
sekolah akan membantu memberi arah agar individu bisa lebih siap memasuki
dunia kerja. Namun, kita sadar betapa dunia kerja semakin lama semakin
kompleks, semakin bervariasi. Seorang kepala sekolah sebuah sekolah di
Jakarta, mengatakan bahwa manajemen sekolah perlu menegakkan disiplin keras,
tidak hanya disiplin waktu namun sampai ke cara berpakaian siswa. Setiap
anak harus menjaga agar baju atasan selalu rapi dan dimasukkan. Apa
hubungannya disiplin sekolah dengan mempersiapkan siswa untuk pekerjaan di
masa depan? Sang kepala sekolah mengatakan, “Kami menjaga komunikasi
intensif, memperkuat dan mengembangkan cara pandang global, nilai, karakter,
keyakinan dan cara menilai dari anak didik kita. Ini semua demi persiapan
mereka menghadapi masa depan, karena kita para pendidik dan orang tua
tidakpernah bisa tahu
apa bentuknya masa depan.”

Ya, dua puluh tahun lalu, kita tidak pernah berpikir akan ada pekerjaan
seperti *computer programmer, network engineer, wedding organizer*
atau *financial
consultant*. Nandan M. Nilekani managing director Infosys
Technologiesbahkan memperkirakan akan
terciptanya 20.000 jabatan baru di tahun 2015! Bagaimana kita yang sudah
“nyemplung” di dunia kerja mempersiapkan hal ini? Sekolah seperti apa yang
perlu kita cari? Training apa yang perlu kita ikuti? Bagaimana sekolah
mempersiapkan lulusan “siap pakai”, sementara jenis pekerjaan di masa depan
belum jelas bentuk dan variasinya?

Kalau sebelum ini, kita mengkhawatirkan bahwa dengan globalisasi, tenaga
asing akan menguasai pekerjaan pekerjaan yang sebetulnya bisa dikerjakan
orang lokal, sekarang kita perlu melihat ancaman dalam pekerjaannya sendiri.
Apakah dalam model bisnis di masa depan pekerjaan saya masih perlu
dikerjakan secara manual? Inovasi perbankan telah menciptakan ATM sehingga
orang tidak perlu lagi repot antri di bank untuk menarik, mentransfer,
bahkan menyetor uang. Bagaimana kalau kita bekerja di bidang seperti
“investment banking’ yang tiba-tiba punah dalam setahun? Apa yang akan
terjadi bila mahasiswa memilih bidang yang populer dan tiba-tiba terjadi
surplus pada tenaga kerja, karena pekerjaannya menyusut? Kita juga perlu
mempertanyakan, apakah industri tempat kita bekerja masih diperlukan
masyarakat? Apakah kehadiran saya di kantor memang memberikan konstribusi
yang signifikan?

*Siaga dalam Bekerja*

Kita memang tidak hidup di generasi orang tua kita di mana pendidikan dan
pekerjaan seperti garis linear, bisa diprediksikan dan mantab. Bukankan kita
sadar bahwa pendidikan pertanian di negara kita menghasilkan sarjana ahli
pertanian dan perikanan yang handal tetapi kemudian bekerja sebagai bankir,
analis ‘finance’ atau pekerjaan yang sama sekali bertolak belakang dengan
pendidikannya misalnya manajer *marketing* susu formula? Terlepas dari
tanggung jawab berprofesinya dan tidak tersedianya lapangan pekerjaan yang
menjanjikan, dari sini sebetulnya kita bisa memahami bahwa kemampuan belajar
dan beradaptasi adalah kunci keberhasilan di masa depan.

Seorang jagoan IT direkrut sebagai manajer di sebuah perusahaan besar.
Bawahan yang trampil dan akuntabel membuat manajer ini bisa sedikit
bersantai dan tinggal me-’*manage*’ anak buah saja. Tanpa disadari, dalam
perkembangannya, manajemen merasa bahwa manajer ini sudah tidak mampu
membuat terobosan-terobosan baru dalam ‘*knowledge management*’ dan
teknologi informasi, sehingga terpaksa menggantikannya dengan seseorang yang
dianggap lebih ahli* *dan kreatif. Kemampuan teknis yang kita rasakan cukup
dalam waktu singkat bisa tidak memadai lagi. Manajer ini lupa bahwa kita
tidak bisa puas dengan apa yang sudah kita miliki. Banyak hal baru yang
perlu dipelajari. Bukan hanya paham, tapi juga harus mendalam. Bukan hanya
terkait keahlian teknis, tapi juga kreativitas, wawasan dan interpersonal.
Ini tentu membangkitkan kewaspadaan kita agar selalu bisa cair beradaptasi,
fleksibel dan siap menerima perubahan dengan cepat. “*Careers will come and
go, as do businesses and industries View a job as a temporary gig and learn
how to springboard to the next emerging opportunities and needs”
*demikian ungkap
seorang futuris.*  *

*Ubah **P**aradigma terhadap **P**ekerjaan*

Dulu kita sering terpukau dengan titel pekerjaan, seperti dokter, insiyur,
banker, manager, bahkan direktur. Namun dalam dunia kerja yang kompleks ini,
kita tahu titel pekerjaan menjadi tidak terlalu berarti lagi. Kita perlu
melihat pekerjaan sebagai ‘*set of skills*’ yang diaplikasikan dengan
kombinasi yang berbeda-beda terhadap situasi kerja yang berbeda. Seorang
dokter perlu memilih apakah ia akan menjadi ahli jamur, parasit ataupun hal
yang lebih spesifik lagi. Seorang insinyur juga perlu memilih bidang
automotif, mekatronik atau bidang spesifik lainnya. Bila kita bekerja di
sebuah perusahaan besar, kita lebih baik mulai melihat tugas kita sebagai
proyek-proyek atau kontrak-kontrak yang harus tuntas dan bernilai tambah.

Tidak peduli pada bagian lain, alias *‘cilo’**-ing*, sebenarnya adalah sikap
bunuh diri yang sudah tidak bisa diterapkan lagi. Dengan melakukan *
networking* secara kontinu, di dalam maupun di luar perusahaan, kita justru
mendapat kesempatan untuk membuka wawasan dan melihat kesempatan untuk
perbaikan. Kita juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak semata
menjalankan tugas sesuai *job description* karena pedoman kerja itu juga
bisa menjebak kita memandang pekerjaannya sebagai tugas dan bukan ajang ‘*value
creating*’ yang fresh, unik dan bisa berkembang sesuai dengan tantangan dan
tuntutan pasar. Gejala mengejar jabatan dan merasa lega ketika mencapainya
justru sekarang sudah dianggap sebagai  paradigma kuno, bahkan merupakan
awal dari stagnasi karir. Jabatan perlu disikapi secara
*entrepreneurial*untuk menciptakan kesempatan lebih lanjut.

*EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results*
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax.  021-7590 6442
*http://www.experd.com*

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke