Sent: Tuesday, October 19, 2010 5:08 PM
Subject: Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai
 




Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai 
  
Allah menciptakan kita, tidaklah untuk dibiarkan begitu saja. Tidaklah 
kita diciptakan hanya untuk makan dan minum atau hidup bebas dan gembira 
semata. Akan tetapi, ada tujuan yang mulia dan penuh hikmah di balik itu 
semua yaitu melakukan ibadah kepada Sang Maha Pencipta. Ibadah ini bisa 
diterima hanya dengan adanya tauhid di dalamnya. Jika terdapat noda-noda 
syirik, maka batallah amal ibadah tersebut. 
  
Tauhid adalah Syarat Diterimanya Ibadah 
  
Perlu pembaca sekalian ketahui bahwa ibadah tidak akan diterima kecuali 
apabila memenuhi 2 syarat : Pertama, memurnikan ibadah kepada Allah semata 
(tauhid) dan tidak  melakukan kesyirikan. Kedua, mengikuti tuntunan 
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibadah apapun yang tidak 
memenuhi salah satu dari kedua syarat ini, maka ibadah tersebut tidak 
diterima. 
Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan,”Sesungguhnya apabila suatu amalan sudah 
dilakukan dengan ikhlas, namun tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah 
maka amalan tersebut tidak diterima. Dan apabila amalan tersebut sudah 
sesuai dengan tuntunan Rasulullah, namun tidak ikhlas, maka amalan 
tersebut juga tidak diterima, sampai amalan tersebut ikhlas dan sesuai 
dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Jaami’ul Ulum 
wal Hikam) 
  
Ada permisalan yang sangat bagus mengenai syarat ibadah yang pertama yaitu 
tauhid. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam 
risalahnya yang berjudul Al Qawa’idul Arba’. Beliau rahimahullah berkata,”
Ketahuilah, sesungguhnya ibadah tidaklah disebut ibadah kecuali dengan 
tauhid (yaitu memurnikan ibadah kepada Allah semata, pen). Sebagaimana 
shalat tidaklah disebut shalat kecuali dalam keadaan thaharah (baca: 
bersuci). Apabila syirik masuk dalam ibadah tadi, maka ibadah itu batal. 
Sebagaimana hadats masuk dalam thaharah.” 
  
Maka setiap ibadah yang di dalamnya tidak terdapat tauhid sehingga jatuh 
kepada syirik, maka amalan seperti itu tidak bernilai selamanya. Oleh 
karena itu, tidaklah dinamakan ibadah kecuali bersama tauhid. Adapun jika 
tanpa tauhid sebagaimana seseorang bersedekah, memberi pinjaman utang, 
berbuat baik kepada manusia atau semacamnya,  namun tidak disertai dengan 
tauhid (ikhlas mengharap ridha Allah) maka dia telah jatuh dalam firman 
Allah yang artinya,”Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu 
Kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.” (Al Furqon : 23). (
Abrazul Fawa’id) 
  
Tanpa Tauhid, Amal Ibadah Tidaklah Bernilai 
Syaikh rahimahullah membuat permisalan yang sangat mudah dipahami dengan 
permisalan shalat. Tidaklah dinamakan shalat kecuali adanya thaharah yaitu 
berwudhu. Apabila seseorang tidak dalam keadaan berwudhu lalu melakukan 
shalat yang banyak, memanjangkan berdiri, ruku’, dan sujudnya, serta 
memperbagus shalatnya, maka seluruh kaum muslimin sepakat shalatnya tidak 
sah. Bahkan dia dihukumi telah meninggalkan shalat karena agungnya syarat 
shalat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Allah tidak 
akan menerima shalat seseorang di antara kalian apabila dia berhadats 
sampai dia berwudhu.”(Muttafaqun ‘alaihi). 
  
Sebagaimana shalat dapat batal karena tidak adanya thaharah, maka ibadah 
juga bisa batal karena tidak adanya tauhid di dalamnya. Namun syarat 
ikhlas dan tauhid agar ibadah diterima tentu saja jauh berbeda jika 
dibanding dengan syarat thaharah agar shalat diterima. Apabila seseorang 
shalat dalam keadaan hadats dengan sengaja, maka terdapat perselisihan 
pendapat di antara ulama tentang kafirnya orang ini. Akan tetapi, para 
ulama tidak pernah berselisih pendapat tentang kafirnya orang  yang 
beribadah pada Allah dengan berbuat syirik kepada-Nya (yaitu syirik akbar) 
yang dengan ini akan menjadikan tidak ada satu amalnya pun diterima. 
(Lihat Syarhul Qawa’idil Arba’, Syaikh Sholeh Alu Syaikh) 
  
Syirik Akbar Akan Menghapus Seluruh Amal 
  
Ingatlah saudaraku, seseorang bisa dinyatakan terhapus seluruh amalnya 
(kafir) bukan hanya semata-mata dengan berpindah agama (alias: murtad). 
Akan tetapi, seseorang bisa saja kafir dengan berbuat syirik yaitu syirik 
akbar, walaupun dalam kehidupannya dia adalah orang yang rajin melakukan 
shalat malam. 
  
Apabila dia melakukan satu syirik akbar saja, maka dia bisa keluar dari 
agama ini dan amal-amal kebaikan yang dilakukannya akan terhapus. Allah 
Ta’ala berfirman yang artinya,”Seandainya mereka mempersekutukan Allah, 
niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Al 
An’am: 88). Apabila dia tidak bertaubat darinya maka diharamkan baginya 
surga, sebagaimana firman-Nya yang artinya,”Sesungguhnya orang yang 
mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan 
kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang 
zalim itu seorang penolongpun.” (Al Maidah: 72) 
  
Contoh syirik akbar adalah melakukan tumbal berupa sembelihan kepala 
kerbau, kemudian di-larung (dilabuhkan) di laut selatan agar laut tersebut 
tidak ngamuk (yang kata pelaku syirik: tumbal tersebut dipersembahkan 
kepada penguasa laut selatan yaitu jin Nyi Roro Kidul).  Padahal 
menyembelih merupakan salah satu aktivitas ibadah karena di dalamnya 
terkandung unsur ibadah yaitu merendahkan diri dan tunduk patuh. Allah 
Ta’ala berfirman yang artinya,”Sesungguhnya shalatku, sembelihanku, 
hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al An’am: 
162). Barangsiapa yang memalingkan perkara ibadah yang satu ini kepada 
selain Allah maka dia telah jatuh dalam perbuatan syirik akbar dan 
pelakunya keluar dari Islam. (Lihat At Tanbihaat Al Mukhtashot Syarh Al 
Wajibat) 
  
Syirik Ashgar Dapat Menghapus Amal Ibadah 
  
Jenis syirik yang berada di bawah syirik akbar dan tidak mengeluarkan 
pelakunya dari Islam adalah syirik ashgar (syirik kecil). Walaupun 
dinamakan syirik kecil, akan tetapi tetap saja dosanya lebih besar dari 
dosa besar seperti berzina dan mencuri. Salah satu contohnya adalah riya’ 
yaitu memamerkan amal ibadah untuk mendapatkan pujian dari orang lain. 
Dosa ini yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat khawatirkan akan 
menimpa para sahabat dan umatnya. Pada kenyataannya banyak manusia yang 
terjerumus di dalam dosa syirik yang satu ini. Banyak orang yang 
mengerjakan shalat dan membaca Al Qur’an ingin dipuji dengan 
memperlihatkan ibadah yang mulia ini kepada orang lain. Tatkala orang lain 
melihatnya, dia memperpanjang ruku’ dan sujudnya dan dia memperbagus 
bacaannya dan menangis dengan dibuat-buat. Semua ini dilakukan agar 
mendapat pujian dari orang lain, agar dianggap sebagai ahli ibadah dan 
Qori’ (mahir membaca Al Qur’an). 
  
Wahai saudaraku, waspadalah terhadap jerat setan yang dapat membatalkan 
amal ibadahmu ini!! Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang 
artinya,”Allah berfirman: Aku itu paling tidak butuh sekutu. Barangsiapa 
melakukan suatu amalan lantas dia mencampurinya dengan berbuat syirik di 
dalamnya dengan selain-Ku, maka Aku akan tinggalkan dia bersama amal 
syiriknya itu.” (HR. Muslim). 
  
Apabila ibadah yang dilakukan murni karena riya’, maka amal tersebut batal
. Namun apabila riya’ tiba-tiba muncul di pertengahan ibadah lalu 
pelakunya berusaha keras untuk menghilangkannya, maka hal ini tidaklah 
membatalkan ibadahnya. Namun apabila riya’ tersebut tidak dihilangkan, 
malah dinikmati, maka hal ini dapat membatalkan amal ibadah. 
  
Wahai saudaraku, bersikaplah sebagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihis salam 
-kekasih Allah yang bersih tauhidnya dari perbuatan syirik-. Beliau masih 
berdo’a kepada Allah :”Jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah 
berhala-berhala.” (Ibrahim: 35). Jika beliau yang sempurna tauhidnya saja 
masih takut terhadap syirik, tentu kita semua yang miskin ilmu dan iman 
tidak boleh merasa aman darinya.  Ibrahim At Taimi berkata: ”Dan siapakah 
yang lebih merasa aman tertimpa bala’ (yaitu syirik) setelah Nabi 
Ibrahim.” Tidaklah seseorang merasa aman dari syirik kecuali dia adalah 
orang yang paling bodoh tentang syirik. (Fathul Majid) 
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedang kami 
mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu atas sesuatu yang kami 
tidak mengetahuinya. 
  
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal 
 



 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke