Telah dimuat pada Majalah Forum Keadilan No. 26/25-31 Oktober 2010

*Menggulingkan SBY **
*Oleh Victor Silaen

     Isu penggulingan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bergulir sejak
beberapa waktu lalu, tapi mencapai klimaksnya pada 20 Oktober lalu, tepat
setahun ia menjadi Orang Nomor 1 di republik ini untuk kedua kalinya. Lalu,
bagaimana hasilnya? SBY bergeming, tak tergulingkan.


    Pertanyaannya, apakah kita harus menggulingkan SBY? Ya, kalau ia
terbukti melakukan pelanggaran serius terhadap Pancasila dan UUD 45. Tidak,
kalau pelanggaran tersebut tak terbukti. Sebab, menurunkan presiden di
tengah masa kekuasaannya merupakan kerja politik yang berbiaya besar dari
segi ekonomi dan non-ekonomi. Katakanlah wakil presidennya langsung naik
menempati kursi Orang Nomor 1 yang kosong itu. Namun, demi legitimasi,
pemilu presiden harus segera diselenggarakan. Selain biayanya yang besar,
risiko menanti dan gejolak bisa terjadi. Bukankah kita sudah lelah dengan
itu?


    Sesungguhnya, apa penyebab berkembangnya wacana publik untuk
menggulingkan SBY? Diduga kuat adalah akumulasi kekecewaan publik terhadap
kinerjanya sebagai pemimpin. Begitu burukkah kinerja SBY sehingga ia harus
diberhentikan di tengah jalan? Sulit menjawabnya secara tuntas, karena
setiap orang niscaya akan menilainya dari paradigma dan perspektifnya
sendiri. Apalagi, meski popularitas SBY kian melorot belakangan ini, tetap
saja ia masih didukung banyak pihak dan kalangan. Lantas, apa alasan kuat
untuk menuntutnya mundur?


     Beberapa waktu lalu, di sebuah milis, isu tentang pembakaran Al-Quran
muncul kembali. Seorang anggota mempertanyakan: mengapa SBY protes dan
berkirim surat kepada Presiden Obama atas rencana pembakaran Al-Quran oleh
Pastor Terry Jones, sementara peristiwa pembakaran Al-Quran di pemukiman
warga Jamaah Ahmadiyah Indonesia di Cisalada, Bogor, 3 Oktober lalu tak
dikomentarinya sedikit pun?

     Pasca-peristiwa Ciketing 12 September lalu, seorang aktivis
pro-kebebasan beragama menulis esai singkat yang intinya menyesalkan sikap
SBY sebagai presiden yang dinilai lebih mementingkan karir daripada
mengurusi rakyat. Ia menutup esainya tersebut dengan sebuah kalimat pendek:
“Go to hell pemimpin pencitraan!!!” Itulah ekspresi kegeraman seorang rakyat
biasa menyikapi kinerja pemimpinnya. Sejujurnya, bukankah kita pun ingin
bertanya, mengapa sikap SBY selaku pemimpin, terkait dengan pelbagai isu
maupun masalah, akhir-akhir ini kian membingungkan sekaligus menggemaskan?


     Menjelang Pileg 2009, dalam sebuah acara panel diskusi politik, seorang
seniman yang juga ketua umum sebuah partai politik mengatakan begini tentang
SBY. “Is he a good man? Yes. Is he a good leader? No.” Alasannya, menurut
dia, pemimpin identik dengan risk taker. “SBY bukanlah seorang risk taker,”
kata seniman sekaligus politikus itu. Saya yang semeja dengannya sebagai
panelis saat itu langsung berespon di dalam hati: “Benar.”


     Saya setuju dengan pendapat tersebut. Memang, ada banyak definisi
tentang kepemimpinan dan kriteria pemimpin yang baik yang bisa dijadikan
referensi. Tapi satu hal yang pasti, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang
berani membuat keputusan demi kebaikan, meski ada risiko yang akan
dihadapinya. Mungkin saja sang pemimpin bukan tipikal seorang pemberani.
Namun, demi kebaikan orang banyak yang dipimpinnya, dia berani mengambil
sebuah keputusan yang berisiko. Dia rela dan siap berkorban untuk sesuatu
yang diyakininya baik.


     Selama ini mungkin hanya dua kali SBY menunjukkan sikap tegasnya secara
terbuka terkait isu-isu penting yang menjadi sorotan publik. Pertama, dalam
kasus tewasnya seorang praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (2007).
Kedua, dalam kasus diculiknya bocah Raisya (2007). Terkait
peristiwa-peristiwa lainnya, SBY memang bicara juga, tapi cenderung kurang
atau bahkan tidak tegas. Mungkin lantaran itulah maka mantan Gubernur DKI
Jakarta Sutiyoso pernah mengatakan, diperlukan nyali luar biasa untuk
menjadi pemimpin bangsa di masa mendatang. “Kalau tidak maka tidak bisa
membenahi negeri bermasalah ini,” katanya dalam sebuah diskusi politik
menjelang Pileg 2009.


     Terkait ancaman terhadap kebebasan beribadah yang telah berulang kali
dialami jemaat gereja HKBP di Ciketing maupun GKI di Bogor, apakah SBY
pernah berkomentar keras? Tidak. Bahkan setelah jemaat HKBP melaksanakan
kebaktian di depan Istana Merdeka, Jakarta, Minggu 15 Agustus lalu, yang
dihadiri pula oleh pelbagai komunitas pendukung kebebasan beragama dan
beribadah, SBY tetap bergeming.  Tapi herannya, ia sampai tiga kali
mengomentari kasus beredarnya video porno dua sejoli yang mirip Ariel-Luna
Maya dan Ariel-Cut Tari.

     Begitulah sang presiden pilihan rakyat langsung dengan perolehan suara
lebih dari 60 persen itu. Pengelolaan kesan (impression management) seakan
menempati urutan teratas dalam skala prioritasnya. Tujuannya, tentu saja,
demi pencitraan dirinya sebagai pemimpin. Tak heran jika terkait isu-isu
yang sebenarnya tak terlalu penting namun tengah menjadi sorotan publik,
semisal video porno tadi, SBY menyempatkan diri untuk mengeluarkan
pernyataan politik.


     Tatkala Indra Azwan, seorang pencari keadilan dari Kota Malang (yang
anaknya tewas ditabrak seorang perwira polisi) berjalan kaki ke Jakarta
untuk menemui SBY, adakah sang presiden terketuk hatinya untuk menemui Indra
barang beberapa menit saja? Tidak. Tetapi, begitu Indra menjadi sorotan
publik lantaran ia kemudian “mengadu” kepada patung gorila di Ragunan dan
aksinya ditayang secara khusus oleh stasiun teve swasta, SBY langsung
memerintahkan stafnya untuk memanggil Indra.


     Menurut Karl Rove, penasihat strategi pencitraan mantan Presiden George
W. Bush, taktik jitu untuk mengalahkan lawan politik adalah “menyerang
kekuatannya, bukan kelemahannya”. Bukankah dalam konteks SBY, apa yang
dikatakan Rove itu benar? Citra diri yang positif sebagai pemimpin yang
“tenang, santun, simpatik, berwibawa” merupakan kekuatan yang selama ini
selalu diandalkan SBY. Boleh jadi karena didorong oleh obsesi untuk terus
mempertahankan citra diri seperti itulah maka SBY lebih kerap terlihat
lambat daripada cepat dalam bersikap dan bertindak terhadap pelbagai masalah
krusial. Bukankah “kelemahan” itu yang kemudian dimanfaatkan Jusuf Kalla,
dalam kampanye Pilpres 2009, dengan mengklaim dirinya sebagai sosok pemimpin
yang “lebih cepat lebih baik”?


     Pencitraan sesungguhnya baik dan positif jika ia bersifat alami, dalam
arti tak secara sengaja dibangun. Itulah yang oleh Wooden (2006) disebut
innate image, sesuatu yang berkaitan dengan karakter. Sebaliknya, pencitraan
menjadi tak baik dan negatif jika orang yang bersangkutan secara sadar
mengelolanya demi tujuan meraih reputasi atau meningkatkan popularitas. Ia
bahkan menjadi sesuatu yang palsu, jika ternyata tidak didukung dengan
fakta-fakta sesuai dengan apa yang hendak digambarkan oleh citra yang
dimaksud. Menurut Covey (1989), citra diri seperti itu tak ubahnya topeng.
Itulah yang disebut Wooden sebagai social image: sesuatu yang terlihat dari
luar bagus tapi tidak otentik sekaligus tidak jujur, dan karenanya juga
tidak sejati.

     Di tengah kehidupan bersama, sesuatu yang palsu di dalam diri seseorang
lambat-laun niscaya terungkap juga. Seiring makin terbukanya hal-hal yang
asli di balik topeng itu, reputasi atau popularitas orang yang bersangkutan
pun akhirnya melorot, karena pada saat bersamaan orang banyak mulai
meninggalkannya atau melihatnya tak lagi sebaik dan sepositif sebelumnya.


     Terkait SBY, kian lama kian banyak pihak dan kalangan yang secara tegas
mengatakan “stop pencitraan” terhadap dirinya. Di sisi lain, SBY kerap
terlihat goyah dan sensitif terhadap kritikan dari sana-sini. Contohnya,
ketika suatu kali seorang aktivis muda membawa-bawa seekor kerbau dalam aksi
demonya, SBY meresponinya secara khusus dalam sebuah rapat terbatas di
Istana Cipanas dengan mengatakan hal itu “tidak sopan”. Padahal, saat
bersamaan, ketika kader Partai Demokrat yang juga anggota DPR, Ruhut
Sitompul, berkata “bangsat” dan “burung” dalam sidang wakil rakyat yang
terhormat, SBY tak berkomentar sedikit pun.


     Contoh lain, ketika Adjie Suradji, seorang anggota TNI AU aktif menulis
opini di sebuah media massa yang berisi kritikan terhadap Presiden, SBY
meresponinya secara khusus dalam pidatonya di Istana Negara, 8 September
lalu. Herannya, isu ”opini Adjie Suradji” menempati peringkat kedua dalam
delapan isu yang dibahas SBY. Begitu pentingkah kritikan Adjie di mata SBY?
Tidakkah lebih pantas ”persoalan kecil” itu diselesaikan secara internal
saja di institusi TNI?


     Boleh jadi SBY punya pertimbangan sendiri: Adjie sudah ”menyerang”
citra dirinya selaku pemimpin yang di lingkungan militer sebenarnya tabu
dikritik secara terbuka. Setali tiga uang, Adjie pun punya pertimbangan
sendiri: sang panglima tertinggi lebih mementingkan pencitraan daripada
menyelesaikan pelbagai masalah yang mampu dibereskan dengan cepat asalkan
ada keberanian dan ketegasan. Karena itulah Adjie, dengan kesiapan
menanggung risiko, akhirnya memutuskan ”melanggar” tabu tersebut.

* Dosen FISIP Universitas Pelita Harapan.

============================================

From: *Etha Oprah*


*Sumpit Ini Tertanam di Perut Selama 28 Tahun*


Remahan sumpit yang sudah jadi bubur berwarna hitam mengendap di lambung
pria asal China.

Zhang, seorang pria 50 tahun asal China, menjalani operasi untuk
mengeluarkan sumpit dari lambungnya, awal pekan ini. Sumpit itu tertanam di
lambungnya selama 28 tahun.

Seperti dilaporkan China Daily, pria itu melakukan operasi setelah merasakan
sakit tak tertahankan di bagian perut. Bahkan, rasa sakit itu tak jarang
membuatnya pingsan.

Zhang tak mengira sakit misterius itu muncul akibat sumpit yang ditelannya
28 tahun lalu. Sebab selama ini, perutnya tak pernah bermasalah. Ia anggap
sumpit itu sudah tercerna sempurna oleh lambungnya.

Ia baru tersadar sumpit itu menjadi biang masalah di perutnya saat melihat
hasil pemeriksaan dokter. Ia melihat remahan sumpit yang sudah menjadi bubur
berwarna hitam mengendap di lambungnya.

"Sisa-sisa sumpit itu tidak bisa dicerna," kata Zhang Dongwei, ahli bedah di
Rumah Sakit Tongji, Shanghai, yang menangani kasus ini, kepada koran The
Oriental Morning Post, seperti dikutip dari laman Telegraph.

Dokter kemudian membuat sayatan kecil di perut Zhang untuk menyingkirkan
endapan sumpit kayu itu. Hanya, sejumlah media setempat tidak menjelaskan
latar belakang mengapa Zhang menelan sumpit itu. (pet)

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke