السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
semoga bermanfaat
wass....zainal
MENGAPA MUSIBAH SELALU MENDERA?
Oleh; Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid al Halabi
Sesungguhnya kami memuji Allah Tabaraka wa Ta'ala atas apa yang telah Dia 
siapkan, berupa kesempatan yang baik ini. Yaitu, kami berkumpul di dalam 
kesempatan ini dengan ikhwan kami seagama dan dalam satu manhaj (jalan); 
mengikuti Kitabullah, dan Sunnah Rasulullah, serta pemahaman para Salaf 
yang shalih. Walaupun kita berada dalam batas geografi yang berbeda, dan 
tempat yang saling berjauhan, namun kemuliaan manhaj ini, kesempurnaan dan 
kebaikannya, tidaklah memecah-belah antar kita. Maka, jadilah pertemuan 
ini dalam bagian sejumlah perjumpaan yang telah mengumpulkan kami bersama 
saudara-saudara kami di negara ini, sejak beberapa tahun yang lalu, lewat 
ceramah-ceramah dan kajian-kajian ilmiah bersama. Kami bersyukur kepada 
Allah Rabbil 'Alamin atas nikmat ini. Betapa berharganya kenikmatan ini.

Rasa terima kasih juga kami haturkan kepada orang-orang yang memiliki jasa 
(andil) yang diberkahi dalam mengatur dan menyiapkan pertemuan-pertemuan 
ini. Khususnya, saudara-saudara (panitia) atau Ta'mir Masjid Istiqlal yang 
telah memberikan kesempatan ini. Dan ini termasuk dalam bingkai saling 
menolong yang terpuji secara syar'i. Allah Ta'ala berfirman : “Artinya : 
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa” [Al- 
Maidah : 2]

Maka kami ucapkan kepada mereka terima kasih yang banyak. Nabi kita 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Artinya : Orang yang tidak bisa 
berterima kasih kepada manusia, dia tidak akan bisa bersyukur kepada 
Allah” [1]

Karena itu, ungkapan syukur kita kepada orang yang berhak menerimanya [2], 
merupakan bentuk syukur kepada Allah. Allah Ta'ala berfirman: “Artinya : 
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) 
kepadamu” [Ibrahim : 7].

Selanjutnya, syukur kita kepada Rabb kita, akan menambah nikmat Rabb kita 
kepada kita, dan memperbanyak karunia-Nya kepada kita. Allah Ta’ala 
berfirman : “Artinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari 
Allah-lah (datangnya)” [An-Nahl : 53]

Dan sebagaimana firman-Nya: “Artinya : Dan jika kamu menghitung-hitung 
nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya” [An-Nahl :18]

Jauhnya jarak kita dari sikap syukur kepada Rabb, menjadi ukuran sejauh 
mana keburukan, celaka dan kesesatan serta perbuatan jelek yang melanda 
umat, sehingga Allah menimpakan adzab-adzab-Nya. Sebuah siksaan yang 
hampir-hampir tidak akan hilang, kecuali dengan kembali sepenuhnya kepada 
agama Allah, mensyukuri nikmat-Nya kembali, dan memperbaharui kepada 
keteguhan di atas perintah Allah Azza wa Jalla.

Karena, syukur nikmat merupakan sebab turunnya rahmat Allah, dan jalan 
menuju keridhaan-Nya. Sebaliknya, mengingkari nikmat menjadi faktor 
pencetus datangnya siksa dan merupakan jalan menuju kemurkaan-Nya. 
Selanjutnya, siksaan dan kemurkaan-Nya ini pasti akan menyebabkan umat 
menjadi lemah, terbelakang, dan terpuruk.

Orang yang melihat sembari merenung, dan orang yang memperhatikan sambil 
berpikir, akan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa kondisi 
umat ini, umat Islam, pada zaman ini, berada dalam kehinaan dan tidak 
lurus. Umat Islam berada atau hampir berada di bagian belakang kafilah, 
setelah dahulunya mereka menjadi pengendali dan terdepan [3]. Padahal, 
umat Islam adalah umat yang memiliki harta kekayaan, sumber daya manusia, 
fasilitas-fasilitas, kuantitas yang banyak, dan potensi-potensi.

Akan tetapi, kemunduran masih terus terjadi, menjadi umat yang paling 
rendah, terlemah dan terburuk. Mereka dikuasai (musuh), seolah-olah pedang 
berada di atas leher (mereka). Apakah sebabnya? Apakah penyakitnya? Dan 
apakah obat penyembuhnya? 

Tidak mungkin yang menjadi penyakitnya adalah karena sedikitnya harta, 
atau kekurangan sumber daya manusia, maupun sedikitnya sumber penghasilan. 
Karena, semua ini melimpah. Jadi, apakah sebenarnya penyakit umat ini? 
Adakah jalan untuk mengetahui obatnya, hingga bisa dimanfaatkan, dan 
digunakan, selanjutnya kita pun bisa keluar dari keadaan-keadaan yang 
berat dan susah ini, keadaan yang buruk, yang sedang menyelimuti umat ini 
dan hampir-hampir tidak bisa lepas darinya, kecuali dengan curahan taufik 
Allah Azza wa Jalla bagi umat ini. 

Wahai saudara-saudara seagama, 
Kenyataannya memang pahit. Sesungguhnya, ada beberapa sebab dan 
bermacam-macam penyakit, hal itulah yang menjerumuskan umat ke dalam 
musibah-musibah, bencana-bencana dan ujian-ujian ini. Umat tidak akan 
dapat keluar dan melepaskan diri dari semua musibah ini, kecuali dengan 
taufik Allah Azza wa Jalla , dengan tambahan karunia dan kenikmatan 
dari-Nya. 

Permasalahan besar seperti ini tidak mungkin diselesaikan secara parsial, 
hanya melalui seminar-seminar, ceramah, kajian, dengan satu atau beberapa 
kalimat. Semua ini kami sampaikan, untuk tujuan saling menasihati dalam 
kebenaran dan kesabaran, dalam rangka mengajak untuk berpegang teguh 
dengan tali Allah, dalam upaya menjalin ta'awun (saling menolong) di atas 
kebajikan dan takwa. Maka, kami ingin mengatakan sebagai peringatan, 
sesungguhnya sebab-sebab yang telah menjerumuskan umat ini ke dalam 
belitan bencana dan ujian ini banyak, bahkan sangat beragam. Akan tetapi, 
secara global bermuara pada dua bahaya besar yang telah menimpa agama umat 
ini. Padahal, agama merupakan sebab kelestarian umat ini, petunjuk bagi 
umat dalam menangani urusan mereka. Bila penyebab ini tiada, maka 
pengaruhnya pun sirna. 

Saya hanya ingin menyebutkan dua penyakit saja, yang pertama adalah 
penyakit kebodohan, tidak mengerti din (agama); dan tidak mengetahui 
syari'at Rabbul 'Alamin. Saya akan menyebutkan sebagian dalil-dalil 
tentang hal ini, insya Allah. 

Dalam Shahihain (dua kitab Shahih), Shahih Imam Bukhari dan Shahih Imam 
Muslim, dari sahabat yang agung, ‘Abdullah bin 'Amr bin al 'Ash, dia 
mengatakan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : 
Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu (dari manusia) secara 
langsung, tetapi Dia mencabut ilmu dengan mematikan ulama. Sehingga ketika 
tidak tersisa seorang 'alimpun, orang-orang mengangkat pemimpin-pemimpin 
yang bodoh, lalu orang-orang bertanya kepada mereka, lalu mereka berfatwa 
tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan” [4]

Mereka (para pemimpin yang bodoh itu) menjadi orang-orang yang sesat atas 
ulah mereka ini. Tidak hanya sampai di sini saja, bahkan mereka juga 
menjadi orang-orang menyesatkan. Jadi, petunjuk hadits ini begitu jelas, 
maknanya sangat gamblang, bahwa kedangkalan ilmu (agama) dan berkurangnya 
jumlah ulama (yang baik) termasuk penyakit terbesar dan penyakit terparah 
yang menimpa umat di halaman rumahnya sendiri, dan menimpa penduduknya, 
terutama cengkeraman musuh (atas diri kita). 

Wahai saudara-saudaraku.
Sungguh, mengetahui penyakit ini akan membuat kita berhasil mengetahui 
inti dari permasalahan ini, sehingga kita akan memahaminya berdasarkan 
ilmu, agama, dan realita, untuk mengetahui penyakit dan obatnya; daripada 
mengkaji satu masalah yang tidak benar atau mengungkap sesuatu yang tidak 
sesuai fakta. Jika demikian, justru penyakit itu akan semakin parah, dan 
pemberian obatnya pun keliru. Dampaknya, umat tidak akan merasakan 
manfaatnya, bahkan musibah dan ujian akan semakin meningkat. 

Ilmu syar'i (agama) yang sarat kebijaksanaan ini bukanlah ibarat hiburan, 
dan bukan pula perkara yang hukumnya sekedar mustahab (dianjurkan) saja. 
Akan tetapi hukumnya adalah fardhu 'ain (kewajiban individu) atas setiap 
muslim, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : 
Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim”.
Dan tidak diragukan lagi, bahwa kata muslim (dalam hadits ini, Red.) 
mencakup laki-laki dan wanita. Oleh karena itu, ilmu syar'i merupakan 
tonggak umat, memiliki peran serta dan penjaga eksistensinya. Allah Ta'ala 
berfirman: “Artinya : Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu 
kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka 
sendiri”[Ar-Ra'd :11]

Sungguh, Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum, yang sebelumnya 
memiliki kemuliaan, ketahanan, kekuatan, dan memiliki peran, serta 
keteguhan, menjadi kaum yang lemah, penuh kekurangan, tercabik-cabik dan 
terpuruk, sampai mereka sendiri mau merubah keadaan yang ada pada diri 
mereka, yang berupa gejala-gejala buruk dalam menyikapi agama. Yang 
terburuk adalah kebodohan (terhadap agama), dan yang paling parah yaitu 
kedangkalan ilmu, sampai mereka kembali kepada masa lalunya yang mulia dan 
reputasinya terdahulu.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan kejadian ini, 
mengisyaratkan kepada kenyataan, yang tidak ada seorang pun yang 
menolaknya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:  “Artinya : 
Sesungguhnya menjelang hari Kiamat terdapat tahun-tahun yang menipu, orang 
yang berkhianat diberi amanat, orang yang terpercaya dianggap khianat, 
orang yang berdusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, dan 
ruwaibidhah akan berbicara,” para sahabat bertanya,"Apakah ruwaibidhah, 
wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,"Seorang yang hina dan bodoh berbicara 
tentang urusan orang banyak".[5]

Seorang yang tafih/safih (hina, bodoh) ini, tanda dan sifat pertamanya 
adalah bodoh, tidak memiliki ilmu dan tidak memiliki pemahaman. Maka, 
marilah kita renungkan keadaan tabib (dokter) ini, dia mengobati orang 
lain, padahal dia sendiri sakit. Nabi SAW  bersabda tentang tabib yang 
mengobati badan :  “Barangsiapa mengobati, sedangkan dia (sebelumnya) 
tidak dikenal (dengan) keahlian dalam pengobatan, maka dia 
menanggung.”[6].  (Jika ini berkaitan dengan masalah pengobatan jasmani, 
Red.), maka bagaimana dengan terapi pengobatan (yang berhubungan dengan 
masalah-masalah) agama? Bagaimana mereka ini (berani) mengeluarkan fatwa 
kepada umat, berupa fatwa-fatwa yang menenggelamkan umat dalam kelalaian 
dan menambah keterpurukannya, serta menghalangi dari sebab kebangkitannya? 


Semua ini dilakukan atas nama ilmu, padahal demi Allah, itu merupakan 
kebodohan. Semua itu dengan disampaikan atas nama agama, padahal demi 
Allah, itu merupakan kelalaian. Semua itu dikatakan atas nama petunjuk, 
padahal demi Allah, itu merupakan kesesatan. Adakah setelah kebenaran 
selain kesesatan saja? 

Dahulu, ketika para ulama membimbing dan memimpin, umat berada di atas 
kebaikan, umat berada di depan dan menjadi maju. Namun, ketika para ulama 
itu mengalami kemunduran, umat pun terpengaruh. Tatkala Syaikhul Islam 
Ibnu Taimiyah rahimahullah memimpin, dan tatkala ilmi berada di puncak 
pimpinan, keadaan itu menyebabkan kemajuan duniawi. 

Setiap orang mengetahui bahwa jihad Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 
rahimahullah tidak hanya melalui penyebaran ilmu saja, dengan membantah 
ahli bid'ah dan ahli ahwa' (orang-orang yang melakukan bid'ah dan 
mengikuti hawa-nafsu), menyanggah orang-orang yang menyimpang dan 
orang-orang yang rusak keyakinannya. Akan tetapi, jihad beliau itu sangat 
kompleks dan luas. Beliau berjihad dengan pedang dan tombak, sebagaimana 
beliau berjihad dengan pena dan penjelasan. Inilah Syaikhul Islam, yang 
memimpin tentara, lasykar-lasykar Islam dan di front depan dalam 
pertempuran Syaqhab di Damaskus pada abad ke-8. Beliau rahimahullah 
memerangi musuh-musuh Allah, yaitu bangsa Tartar dan para pembela mereka 
yang hendak menyerang umat Islam di daerahnya sendiri. Beliau menghadang 
mereka dengan kuat, dengan sikap yang agung, yang besar, dan indah. 
Sejarah selalu menyebutnya dan mempersaksikannya, karena beliau 
rahimahullah memandang ilmu dengan setinggi-tingginya. Beliau bernaung di 
bawah bendera sulthan, dalam ketaatan kepada Allah, dan dalam perkara yang 
ma'ruf (baik). Bukan bertolak dari sekedar semangat yang kosong dan 
perasaan yang membinasakan, sebagaimana dilakukan oleh banyak orang yang 
mengaku ingin berjihad tanpa ilmu belakangan ini. Mereka ini tidaklah 
menegakkan ilmu dengan sebenarnya, tidak mengerti kedudukan ilmu dengan 
bentuk sebenarnya. Akibatnya, mereka sesat dan menyesatkan, walaupun 
dengan menamakan agama, walaupun dengan nama jihad, walaupun dengan nama 
syari'at; mereka ibarat jauh panggang dari api. 

Sekarang telah datang Tartar yang baru (yakni orang-orang kafir Barat, 
Red.). Dewasa ini, mereka menyerang umat di halaman rumahnya sendiri. 
Mereka menyerang wawasan umat, sejarahnya, dan kemuliannya, serta 
menerjang negara-negara kaum Muslimin. Akan tetapi, umat ini -sangat 
disayangkan- belum bisa melahirkan Ibnu Taimiyah yang lain, tidak mampu 
memunculkan seorang ulama yang agung, yang disegani lagi cerdas, yang 
menempatkan hak kepada pemiliknya, dan mengagungkan kedudukan syari'at. 
Karenanya, umat terus-menerus tidak beranjak dari tempatnya, yaitu 
kelemahan dan kemundurannya, sampai Allah mengizinkan datangnya 
(kemuliaan) yang baru melalui sikap kembali secara kuat menuju manhaj 
Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Tidak ada jalan ke arah sana 
kecuali dengan ilmu, kecuali dengan ilmu, kecuali dengan ilmu. Dan, hal 
ini tidak akan terwujud, melainkan dengan taufik Allah Azza wa Jalla . 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:  “Artinya : Jika kamu bertakwa kepada 
Allah, Dia akan memberikan furqan (pembeda antara al haq dengan kebatilan) 
kepadamu” [Al-Anfal : 29]  “Artinya : Dan barangsiapa yang bertakwa kepada 
Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” 
[Ath-Thalaq : 4]

Oleh karena itu, ilmu merupakan batu pertama untuk melakukan ishlah 
(perbaikan), pada sebuah istana yang besar; yang pertama kali dimulai 
adalah dengan batu bata ini, agar ilmu agama ini menjadi asas yang menjadi 
landasan kebaikan manusia. 

Akan tetapi, ilmu yang sedang kita bicarakan ini, dan selalu kita 
sampaikan, bagaimanakah ciri khasnya? Apakah tanda-tandanya? Apakah sebuah 
ilmu yang merujuk pikiran dan hawa nafsu belaka, berdasarkan persangkaan 
dan perkiraan semata, ataukah ilmu tersebut yang berasaskan al Kitab dan 
as-Sunnah? 

Ilmu yang tegak di atas cahaya, petunjuk terbaik dan perilaku paling 
sempurna adalah ilmu yang telah disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:  “Artinya : Aku telah tinggalkan pada 
kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang kepada 
keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnahku” 8]

Inilah ilmu yang dimaksud. Inilah cahaya-cahaya dan pengaruh-pengaruhnya. 
Dengan ilmu, kebodohan akan hilang. Seiring dengan sirnanya kebodohan, 
maka siang menjadi nampak, cahayanya bersinar, dan malam pun menghilang 
bersama dengan kegelapan dan kesuramannya. 

Bukankah waktunya sudah dekat? Benar, demi Allah. Akan tetapi, hal ini 
menuntut adanya kebangkitan ilmiyah, jiwa perintis yang kuat, tidak 
berhenti dan tidak lemah dari diri kita. Membutuhkan kebangkitan ilmu yang 
tegak di atas Kitab Allah dan Sunnah Nabi. 

Saudara-saudaraku seagama., demikianlah penyakit pertama, yaitu kebodohan. 
Sedangkan obatnya adalah ilmu. 

Adapun penyakit kedua yaitu penyakit bid'ah, dan obatnya adalah Sunnah, 
penawarnya adalah ittiba` (mengikuti) Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman tentang beliau:
“Artinya : Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk” 
[An-Nur : 54]

Jadi, umat ini akan bisa meraih hidayah dengan ilmu yang berasaskan 
Sunnah, sehingga semua bid'ah bisa dijauhi dengan segala kotorannya, 
kesesatannya, dan kegelapannya. Inilah yang akan dibicarakan oleh yang 
mulia Syaikh Salim al Hilali pada pembahasan berikutnya. 

Semoga shalawat, salam dan berkah dilimpahkan kepada Nabi kita Shallallahu 
‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau dan para sahabat beliau semuanya. 
Akhir perkataan kami adalah alhamdulillah Rabbil-'Alamin. 

[Disunting dari muhadharah di Masjid Istiqlal Jakarta, Sabtu, 22 Muharram 
1428H/10 Februari 2007M, Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Isma’il Muslim 
Al-Atsari]
__________
Foote Note
[1]. Hadist ini kami dapati dengan lafazh : “Barangsiapa tidak mensyukuri 
manusia, dia tidak mensyukuri Allah”. [HR Ahmad, Ibnu Abi Ashim, dan Ibnu 
Baththah, dari sahabat An-Nu’man bin Basyir. Dishahihkan oleh Syaikh 
Al-Albani di dalam Ash-Shahihah no. 6677]
[2]. Yaitu kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita
[3]. Kafilah berasal dari bahasa Arab “Qafilah”, yaitu rombongan banyak 
orang yang bergerak pulang dari safar atau memulai safar. Rombongan ini 
membawa binatang tunggangannya, barang-barangnya dan perbekalannya. 
Maksudnya, bahwa kaum muslimin dahulu menjadi pemimpin bangsa-bangsa, 
namun sekarang terbelakang.
[4]. Hadits ini disampaikan oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul 
Hamid Al-Asari –hafizhahullah- secara makna. Adapun sebagian lafazhnya 
yang termaktub dalam Shahih Al-Bukhari : “ Sesungguhnya Allah tidak akan 
mencabut ilmu dari hamba-hamba secara langsung, tetapi dia mencabut ilmu 
dengan meafatkan ulama. Sehingga ketika Allah pun tidak menyisakan seorang 
alim pun, lalu mereka itu ditanya, lantas berfatwa tanpa ilmu. Akibatnya, 
mereka sesat dan menyesatkan” [HR Bukhari, no. 100]
[5]. ]. Hadits ini disampaikan oleh Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul 
Hamid Al-Asari –hafizhahullah- secara makna. Adapun lafazh hadits yang 
kami dapati adalah, salah satunya : “ Akan datang kepada manusia 
tahun-tahun yang menipu, orang yang berdusta dibenarkan, orang yang benar 
di dustakan, orang yang berkhianat diberi amanat, orang yang amanat 
dianggap khianat, dan Ruwaibidhah akan berbicara pada masa itu’. Beliau 
ditanya : ‘Apakah Ruwaibidhah?’ Beliau menjawab, ‘Seorang yang hina lagi 
bodoh (berbicara tentang) urusan orang banyak” [HR Ibnu Majah, no. 4036 
dari Abu Hurairah. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani]
[6]. Yakni, menanggung jika ada kebinasaan atau semacamnya. HR Abu Dawud 
no. 4586, An-Nasai no. 4830, Ibnu Majah no. 3466. Dihasankan oleh Syaikh 
Al-Albani.
[7]. Syaqhab adalah nama desa kecil di dekat Damaskus, di perbatasan 
Hauran. Jaraknya dengan Damaskus adalah 37km. Dinukil dari Muqif Ibni 
Taimiyyah minal Asy’irah, hal.164
[8]. Hadits shahih lighairihi dengan penguatnya. Riwayat Malik 2/899, no. 
1661 dengan lafzh : “Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu 
tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya : Kitab Allah dan Sunnah 
NabiNya. Silahkan lihat At-Ta’zhim wal Minnah di Intisharis Sunnah, hal. 
13-14, karya Syaikh Salim Al-Hilali.

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke