-

السلام عليكم ورحمته الله وبركا تها
 semoga bermanfaat
wass....zainal
Seruan Kepada Mereka Yang Mengatasnamakan Tuhan

Khutbah pertama 
Amma ba’du : 
Ya ibadallah ! Bertakwalah kepada Allah, Tuhan anda semua. Taatlah 
kepadanya rasakanlah selalu pengawasannya, dan jangan pernah durhaka 
kepadaNya. Bertakwalah kepadanya dengan takwa yang sebenar-benarnya. 
Karena tanpa takwa, tidak ada tali yang kuat untuk anda dan tidak ada lagi 
asa yang tersisa . 
Ayyuhal muslimun ! Salah satu tujuan terbesar syari’at kita yang cemerlang 
ialah memelihara agama orang-orang mukallaf. Dan ini melalui dua sisi : 
seperti kata Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi : sisi wujudiyah yang meliputi 
pengadaan dan pembentukan serta sisi adamiyah yang meliputi pemeliharaan 
dan perawatan . 
Salah satu yang disepakati oleh orang-orang yang beriman secara benar, 
ialah sumber pengambilan agama setiap muslim baik dalam konteks akidah, 
ibadah, muamalah, prilaku, halal-haram, maupun hukum tidak lain adalah 
Kitab Allah ( Al-Qur’an ) dan Sunnah RasulNya. Bila Allah adalah 
satu-satunya yang menciptakan dan mengatur makhluk maka dialah sau-satunya 
yang berhak memerintah dan melarang. Sebagaimana firman Allah Subhanahu 
Wata’ala .


أَلاَلَهُ الْخَلْقُ وَاْلأَمْرُ تَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ 
‘’Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah. Maha suci 
Allah, Rabb semesta alam. (QS. Al-A’raf :54)


أَمْ لَهُمْ شُرَكَآؤُاْ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَالَمْ يَأْذَن بِهِ 
اللهُ 
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari'atkan 
untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ? (QS. Asy-Syura :21) 
Ikhwatal Islam! Betapa persendian menggigil, hati bergetar, dan terlihat 
guratan-guratan penolakan di wajah, ketika orang-orang Islam diperingatkan 
agar menghindari Syirik, pembunuhan, riba, zina, dan dosa-dosa besar 
lainnya . Sebab, hal-hal semacam itu tidak bisa disambut dengan wajah yang 
ceria. Karena semua itu adalah dosa-dosa yang diancam oleh Allah dengan 
ancaman hukuman yang keras di dunia dan akhirat. Juga karena semua itu 
memiliki efek yang sangat krusial dalam merusak kehidupan umat dan 
menjerumuskannya ke dalam jurang penderitaan dan kebinasaan . tidak 
mengherankan, karena perbuatan maksiat adalah sarana untuk merusak dan 
menghancurkan. Hanya, perbuatan maksiat itu bermacam-macam dan 
bertingkat-tingkat. 
Ibadallah! Jika demikian adanya, tahukah anda apa yang lebih berbahaya 
dari pada itu semua ? Apa pangkal syirik dan kufur ? Apa dasar bid’ah dan 
maksiat ? Apa yang lebih berat dan lebih jahat dari itu, bahkan lebih 
buruk daripada semua jenis perbuatan keji, dosa, kejahatan, kesesatan, dan 
pelanggaran ? Ia adalah pangkal kejahatan secara keseluruhan. Yaitu 
berbicara atas nama Allah tanpa dilandasi ilmu . 
Perhatikan bagaimana Allah menyebut tindakan berbicara atas nama Allah 
tanpa dilandasi ilmu bersamaan dengan menyebut perbuatan syirik, tindakan 
sesat, dosa, dan perbuatan keji. Bahkan keempat hal yang diharamkan itu 
disebutkan secara berurutan sesuai dengan tingkat kejahatannya dari bawah 
ke atas, Yang disebut pertama adalah yang paling ringan, dan yang paling 
berat adalah yang paling akhir. Ini tidak mengherankan, karena 
menyekutukan Allah ( syirik) tidak lain adalah bagian dari berbicara atas 
nama Allah tanpa dilandasi ilmu . 
Mengomentari firman Allah Subhanahu Wata’ala :


وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَالاَتَعْلَمُونَ 
Dan mengada-adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui. (QS. 
Al-A’raf :33) 
Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata : ‘ Maksudnya adalah mengada-ada dan 
berdusta. Seperti mengklaim bahwa Allah mempunyai anak dan sebagainya yang 
tidak anda ketahui ilmunya .’’ 
Ikhwatal imann ! Penetapan halal dan haram adalah hak prerogatif Allah . 
Maka yang halal adalah apa yang dihalalkan oleh Allah dan yang haram 
adalah apa yang diharamkan oleh Allah. Allah Subhanahu Wata’ala telah 
menolak perbuatan orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai sumber 
penetapan halal dan haram. Allah berfirman :


وَلاَتَقُولُوا لِمَاتَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلاَلٌ وَهَذَا 
حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ 
عَلَى اللهِ الْكَذِبَ لاَيُفْلِحُونَ مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ 
أَلِيمٌ 
Dan janganlah kamu mengatakan terhadapa apa yang disebut-sebut oleh 
lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan 
kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan 
kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (itu adalah) kesenangan yang 
sedikit; dan bagi mereka azab yang pedih.( Qs. An-Nahl: 116-117) 
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :


قُلْ أَرَءَيْتُم مَّآأَنزَلَ اللهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ 
حَرَامًا وَحَلاَلاً قُلْ ءَآللهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللهِ 
تَفْتَرُونَ وَمَاظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ يَوْمَ 
الْقِيَامَةِ إِنَّ اللهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ 
أَكْثَرَهُمْ لاَيَشْكُرُونَ 
Katakanlah:"Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah 
kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal". 
Katakanlah:"Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau 
kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" Apakah dugaan orang-orang yang 
mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat Sesungguhnya 
Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, 
tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya). (QS. Yunus :59-60) 
Salah satu kejahatan terbesar ialah memberanikan diri untuk menetapkan 
halal dan haram di dalam agama Allah tanpa dilandasi ilmu dan pengetahuan 
yang memadai. Perbuatan semacam ini di samping merupakan kejahatan 
terbesar adalah perbuatan yang ‘kurang ajar ‘ (tidak etis) kepada Allah 
Subhanahu Wata’ala. Karena orang tersebut maju kehadapan Allah lalu 
berbicara tentang agama dan syari’at tanpa dilandasi ilmu. Demi Allah, itu 
adalah tanda lemahnya iman dan minimnya ketakwaan, bahkan kurangnya akal 
dan tata karma. 
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang notabene merupakan orang yang 
paling banyak ilmunya di dalam umat ini dan sekaligus pemimpin umat ini 
ketika ditanya tentang sesuatu yang belum diterangkan di dalam wahyu yang 
turun dari Allah, beliau selalu menunggu sampai ada wahyu yang turun 
kepadanya. Dan ayat-ayat yang berbunyi ( Mereka bertanya kepadamu ) di 
dalam Al-Qur’an tidak sedikit jumlahnya . 
Begitu pula dengan Sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam 
yang mulia. Abu Bakar Radiyallahu Anhu berkata: ‘ langit mana yang mau 
menaungiku dan bumi mana yang mau menampungku jika aku berbicara tentang 
Kitab Allah tanpa ilmu’’. 
Sementara Umar bin Khaththab Radiyallahu Anhu ketika dihadapkan pada 
masalah baru, ia mengumpulkan sahabat-sahabat senior dan meminta pendapat 
mereka tentang masalah tersebut . Ibnu Sirin Rahimahullah mengatakan : ‘’ 
Setelah Nabi Shallahu Alaihi Wasallam tidak ada orang yang lebih takut 
berbicara tanpa dilandasi ilmu selain Abu Bakar Radiyallahu Anhu. Dan 
setelah Abu Bakar, tidak ada orang yang lebih takut berbicara tanpa 
dilandasi ilmu selain Umar. 
Ibnu Mas’ud Radiyallahu ‘Anhu berkata : ‘ Sesungguhnya orang yang 
memberikan fatwa kepada masyarakat dalam setiap masalah yang mereka 
tanyakan kepadanya adalah orang yang benar-benar gila.’’ 
Allah telah merahmati Imam Asy-Syafi’i ketika ditanya tentang suatu 
masalah lalu ia menjawab: ‘ Aku tidak tahu’’ Lalu murid-murid setianya 
berkata : ‘ Sesungguhnya kami merasa malu karena ketika ditanya tentang 
sesuatu anda sering menjawab: Aku tidak tahu.’’ Lalu Asy-Sya’bi berkata : 
‘ Tetapi malaikat tidak malu ketika berkata: ‘ Maha suci engkau, tidak ada 
yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada 
kami.’’(QS. Al-Baqara: 32) 
Atho’ bin Rabah pernah berkata : ‘ Aku tidak tahu adalah separuh ilmu.’ 
Sebagian ulama’ berkata : Jika seorang ulama tidak mau mengatakan ‘aku 
tidak tahu’ ia telah terjebak di dalam perangkap kematianya.’’ 
Tentang keengganan berfatwa dan kecaman terhadap orang yang tergesa-gesa 
melakukannya, Abdurrahman bin Abi Laila Rahimahullah berkata : ‘ Aku 
pernah bertemu dengan 120 orang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi 
Wasallam. Ternyata setiap ahli Hadits di antara mereka berharap agar 
saudarnya bisa mewakilinya dalam menyampaikan Hadits. Dan setiap mufti ( 
ahli fatwa) berharap agar saudaranya bisa mewakilinya dalam memberikan 
fatwa .’’ 
Imam Darul hijrah (Malik bin Anas) Rahimahullah pernah didatangi oleh 
seseorang dari tempat yang jauh. Orang itu mengajukan 40 pertanyaan 
kepadanya, lalu ia menjawab empat pertanyaan dan mengatakan: ‘’ Allahu 
a’lam’’ (Allah lebih tahu) untuk 36 pertanyaan lainnya. Orang itu berkata 
: ‘’Anda adalah Malik bin Anas. Orang-orang naik unta untuk menemui anda. 
Dan mereka datang dari segala penjuru ke tempat anda. Lalu anda mengatakan 
: Allahu a’lam . Apa yang harus kukatakan kepada orang-orang di negriku 
jika aku kembali kepada mereka ? ‘’Malik menjawab :’’katakan kepada mereka 
bahwa malik mengatakan : ‘Allahu a’lam,’’ 
Imam ahmad Rahimahullah seringkali ditanya lalu berhenti menjawab, atau 
mengatakan : ‘’Aku tidak tahu’’atau semacamnya . 
Suhnun bin Said Rahimahullah berkata : ‘’Orang yang paling berani berfatwa 
adalah orang yang paling sedikit ilmunya. Orang tersebut menguasai satu 
bab ilmu dan mengira bahwa semua kebenaran ada di situ. 
Bisyr Al-Hafi Rahimahullah berkata : ‘’ Orang yang ingin ditanya adalah 
orang yang tidak layak ditanya.’’ 
Al-Khotib Al-Baghdadi Rahimahullah berkata: ‘’Orang yang rajin berfatwa, 
bergegas mengeluarkannya, dan bersikeras melakukannya adalah orang yang 
sedikit taufiknya dan labil kondisinya. Jika ia tidak menyukai hal itu 
tidak sengaja memilihnya, tidak menemukan jalan untuk melepaskan diri 
darinya, atau melimpahkannya kepada orang lain, maka pertolongan Allah 
akan lebih banyak diterimanya, dan potensi kebenaran fatwa atau jawabannya 
akan lebih besar . 
Ma’syiralmuslimin ! Bila para ulama besar itu memilih berhati-hati dan 
cenderung enggan untuk berfatwa, bagaimana kondisinya sekarang ? Allahul 
musta’an. 
Malik berkata : ‘’Aku pernah diberi tahu oleh seseorang bahwa dirinya 
pernah masuk kerumah Rabi’ah. Lalu ia mendapatinya sedang menangis. 
Kemudian ia bertanya : 
‘’Apa yang membuatmu menangis ? Apakah ada musibah yang menimpamu ? 
Rabi’ah terus menangis lalu ia berkata : ‘’Tidak. Tatapi karena ada orang 
yang tidak berilmu dimintai fatwa dan muncul perkara besar di dalam Islam. 
Sungguh sebagian orang yang berfatwa disini lebih pantas dipenjara 
ketimbang para pencuri , ‘’kata Rabi’ah . 
Sebagian Ulama berkata : ‘’Bagaimana seandainya Rabi’ah melihat apa yang 
terjadi di zaman kita ? 
Saya berkata : ‘’Bagaimana seandainya ulama tersebut melihat apa yang 
terjadi sekarang ini ? 
Dalam hadits shahih diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash Radiyallahu 
‘Anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam . 
‘’Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, Tetapi 
dia mencabut ilmu dengan cara mencabut nyawa para ulama. Hingga ketika Dia 
tidak menyisakan seorang ulama pun maka manusia mengangkat 
pemimpin-pemimpin yang bodoh. Lalu merka ditanya (tentang sesuatu) 
kemudian mereka berfatwa tanpa dilandasi ilmu . Sehingga mereka pun sesat 
dan menyesatkan .’’( HR. Al-Bukhari, 100,Muslim,2673) 
Betapa banyak kita melihat orang-orang yang singgah di tempat-tempat ilmu 
dan pengetahuan, padahal mereka sama sekali bukan bagian dari situ. 
Kebiasaan mereka adalah terlalu berani mengumbar fatwa dan terlalu percaya 
diri dalam memutuskan halal dan haram. Mereka membicarakan sesuatu yang 
mereka tidak ketahui. Mereka berbicara secara gelobal dan tidak bisa 
berbicara secara rinci . mereka suka mengobral pujian dan mendramatisir 
masalah. Padahal mereka adalah orang yang paling bodoh tentang hukum-hukum 
syari’ah . kalau anda mendengar salah satu dari mereka berbicara, anda 
akan merasa seolah-olah ia telah menerima wahyu. Karena ia berbicara 
secara tegas dan lugas, tanpa ada kehati-hatian. Dan tidak jarang mereka 
menisbahkan pendapatnya kepada Islam. Bahkan ada yang berani menjawab 
masalah-masalah besar yang diandaikata masalah-masalah itu diajukan kepada 
Umar Bin Khothab, niscaya ia akan mengumpulkan ahli badar untuk 
membahasnya. Anda akan diliputi rasa heran yang luar biasa ketika anda 
mendengar ungkapan-ungkapan yang mengagung-agungkan dan menyanjung diri 
sendiri. 
Kamus mereka adalah ‘’Kami berpendapat’’ Tarjih kami’’ pendapat yang kami 
pilih’’. Menurut hemat kami peribadi’’. Dan sebagainya . 
Mereka berkata : ‘’ini menurut kami tidak boleh.’’ Siapakah anda, sehingga 
anda berhak punya pendapat ? 
Mereka tidak menyadari bahwa terlalu berani berfatwa berarti terlalu 
berani terhadap neraka. Mereka tidak tahu bahwa kecerobohan dalam berfatwa 
berarti menceburkan diri ke dalam kubangan bakteri neraka. Wal’iyazubillah 
! bahkan orang -orang awam pun saling berfatwa satu sama lain, 
perbincangan tentang ilmu-ilmu syari’ah telah menjadi komoditas semua 
orang yang sok tahu dan dungu. Bahkan jumlah mereka sebanyak penjual 
sayur. Orang-orang kerdil pun berani berbicara dan memposisikan diri 
sebagai ulama dan fuqaha. Mereka mengangkat masalah-masalah yang baku dan 
prinsip. Lalu mejadikannya sebagai masalah-masalah yang bisa dirubah dan 
direvisi dengan dalil bahwa fatwa bisa berubah seiring dengan perubahan 
zaman. Bahkan ada orang yang melepaskan dirinya dari fatwa dengan hal-hal 
yang nyata-nyata diharamkan oleh agama. Dan banyak sekali rekayasa 
terhadap syari’ah . 
Mereka mengulurkan tangan yang pendek untuk berfatwa, kebanyakan mereka 
bilang ‘’Begitulah’’kalau berfatwa. 
Celakalah orang yang memaksakan diri menaiki tangga yang sulit ini 
kemudian menyesatkan sekelompok umat. Ia akan termasuk di antara mereka 
yang harus menanggung dosa orang-orang yang disesatkan disamping dosanya 
sendiri.Allah ta’ ala berfirman : 
Dan sesungguhnya mereka akan ditanya pada hari kiamat tantang apa yang 
dahulu mereka ada-adakan . (QS, Al-Ankabut: 13) 
Seharusnya untuk menjaga pokok ajaran Islam dan mempertahankan hukum-hukum 
dan perundang-undangannya setiap orang yang tidak kapabel dilarang 
(dicekal) berbicara tantang syari’ah ( halal –haram). Karena pencekalan 
dalam rangka melindungi agama lebih perlu dilakukan, dibanding pencekalan 
dalam rangka melindungi harta benda dan tubuh manusia . rasa cemburu 
terhadap syari’ah adalah sesuatu yang lebih mulia dan lebih utama 
dibanding rasa cemburu terhadap istri. Demi Allah , orang yang tidak mampu 
memahami Al-Qur’an dan tidak menguasai Sunnah dan Atsar benar-benar haram 
mencapai puncak tangga ilmu dan menempati posisi tersepan di bidang fatwa 
. suyan Ats-Tsauri Rahimahullah prnah ditanya tentang hal itu, lalu beliau 
menjawab : kalau anak buah kapal terlalu banyak, kapal akan tengekam. 
Orang-orang semacam itu hendaknya tahu bahwa dengan berbicara tentang 
syari’ah (halal-haram) itu berarti mereka telah membubuhkan tanda tangan 
atas nama Allah . hendaknya mereka mengetahui bahwa fatwa adalah api yang 
menyala-nyala . anda tentu sering mendengar fatwa-fatwa yang tidak 
terkendali dan tidak terkontrol . yaitu fatwa-fatwa yang dibangun 
berdasarkan kenekatan bukan kehati-hatian dan tidak berdiri diatas 
kebenaran . sehingga menyusahkan dan meresahkan umat. Kerena itu, umat 
pantas dilindungi dari kesulitan-kesulitan yang bisa mereka timbulkan . 
juga diperingatkan agar waspada terhadap ulah mereka yang kelewatan. 
Bila hidung banyak orang terlihat kotor 
Ucapkanlah :’’ya tuhanku, jangan engkau kotori hidung yang lain .’’ 
Ibnu Sirin menceritakan bahwa umar pernah berkata kepada Abu Mas’ud 
Al-Badri:”Aku diberi tahu bahwa engkau berfatwa.padahal engkau 
pejabat.serahkan segala sesuatu kepada ahlinya.” 
Imam Adz-Dzahabi di dalam kitab siyar a’lam an-nubala’ menyatakan :”Ini 
menunjukkan bahwa imam (Kepala Negara) berhak mencekal orang yang berfatwa 
tanpa izin.” 
Al-Khotib Al-Baghdadi meriwayatkan dari Hammad bin Zaid, ia pernah 
mendengar seruan dari seseorang di Madinah yang menyatakan: “tidak ada 
yang boleh berfatwa di Masjid Rasululloh kecuali Malik.” 
Karena tugas itu harus dilaksanakan oleh orang-orang yang ahli,bukan 
orang-orang yang sok pandai dan harus ditangani oleh orang-orang yang asli 
(mukim)bukan pendatang.Tujuannya tidak lain adalah untuk memelihara agama 
umat,menyatukan kata mereka,dan memberikan panduan yang jelas bagi arah 
dan perjalanan mereka.Agar semuanya terbangun berdasarkan Al-quran dan 
As-Sunnah menurut apa yang dipahami oleh para pendahulu umat ini.Dengan 
demikian, umat akan sselamat dari ancaman malapetaka dan pemicu fitnah.Dan 
dengan izin Allah akan ada benteng-benteng yang bisa melindungi umat dari 
hantaman badai kejahatan yang sangat ganas,yaitu berbicara atas nama Allah 
tanpa ilmu yang memadai. 
Kita berlindung kepada Alloh dari kekeliruan,keburukan dan kesalahan.dan 
kita memohon kepadaNya agar berkenan memberi kita ilmu yang bermanfaat dan 
amal yang salih.karena inilah harapan kita yang paling besar.



بارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ 
وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ 
قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ 
الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، 
فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 
Khutbah Kedua


َاَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ 
لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، 
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إله إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ 
وَرَسُوْلُهُ، 
قَالَ الله تَعَالَى: يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ 
تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ 
اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. 
أَمَّا بَعْدُ 
Amma ba’du : 
Ibadallah ! Jika penyebab masalah mengatakan sesuatu atas nama Allah tanpa 
ilmu ini ditelusuri maka yang penting ialah lemahnya kontrol diri, 
kerebohan didalam takwa dan iman, pelanggaran terhadap ketentuan tuhan, 
dan tidak adanya metode yang benar dalam belajar dan menunutut ilmu. 
Disamping penyakit gila popularitas dan ingin menonjol, semakin parahnya 
sifat sok tahu yang tercela, dan keengganan orang-orang yang mumpuni untuk 
menyampaikan ilmu dan memberikan penjelasan. Jangan sekali-kali 
kehati-hatian yang palsu dan penelitian yang beku menghalangi orang-orang 
yang mempuni ( baca: para ulama) untuk menyampaikan agama Allah yang 
diketahuinya. Karena sikap hati-hati terhadap apa yang tidak diketahui 
tidak bertentangan dengan tindakan menyampaikan apa yang diketahui. 
Penyakit ini dapat diberantas dengan cara memantapkan iman dan rasa takut 
kepada Allah di dalam jiwa, mengikuti metode-metode yang benar dalam 
menuntut ilmu, belajar dari para ahli ilmu, dan menjadikan mereka sebagai 
rujukan untuk meminta keterangan dan penjelasan. Terutama dalam 
masalah-masalah yang rumit. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُوْلِى اْلأَمْرِ مِنْهُمْ 
لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ 
Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara 
mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan 
dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). (QS. 4:83) 
Cara ini memberantas penyakit ini ialah membaca biografi para ulama salaf, 
mematuhi etika berbeda pendapat, bersikap rendah hati, dan sangat 
berhati-hati. Namun sebelum dan sesudah itu harus ada keikhlasan niat 
kepada Allah, memohon pertolongannya. Dan meminta petunjuknya . 


إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا 
الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا 
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai 
orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah 
salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab :56) 
  
Oleh Yusuf Al-Lomboky 
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke