---

Kiriman Ustadz Fariq,
semoga bermanfaat
wass
zainal

---------- Forwarded message ----------
From: Fariq 
Date: 2010/12/31
Subject: Kisah Nyata, "Perjalanan yang Jauh"




Perjalanan Yang Jauh
 
Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti 
biasa, ia masih membaca Al-Qur’anul Karim. Tika ingin menemuinya, pergilah 
ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku’, sujud dan 
menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di 
tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.

Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, 
tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tak pernah beranjak dari 
video. Bahkan, aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Setiap video 
diputar pasti di situ ada aku. Karena ‘kesibukanku’ ini, banyak kewajiban 
yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka meninggalkan shalat. Setelah 
tiga jam berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan 
oleh suara adzan yang berkumandang dari masjid dekat rumahku.
Sekonyong-konyong malas menggelayuti semua persendianku, maka aku pun 
segera menghampiri tempat tidur. Nurah memanggilku dari mushallanya.
 
Dengan berat sekali, aku menyeret kaki menghampirinya. “Ada apa Nurah?,” 
tanyaku. “Jangan tidur sebelum shalat Shubuh!”, ia mengingatkan. “Ah. 
Shubuh kan masih satu jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama” 
Begitulah, ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, 
sampai akhimya ia terbaring sakit. Ia tergeletak lemah di tempat tidur.
“Hanah!,” panggilnya lagi suatu ketika. Aku tak mampu menolaknya. Suara 
itu begitu jujur dan polos. “Ada apa saudariku?”, tanyaku pelan.
“Duduklah!” Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening…Sejenak kemudian 
Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu. “Tiap 
jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah 
disempumnkan pahalamu.” (Al Imran: 185) Diam sebentar, lalu ia bertanya: 
“Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?” “Tentu saja percaya!”
“Apakah kamu tidak percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang 
besar maupun yang kecil?” “Percaya. Tetapi bukankah Allah Maha Pengampun 
dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!” 
“Ukhti, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah 
Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. 
Lihat pula si fulanah…Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi 
kematian seseorang. Aku menjawabnya penuh ketakutan.
Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku. 
“Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan 
kematian ? Di mana aku akan tidur nanti ?” Jiwa asliku yang amat penakut 
betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri aku benusaha tegar dengan 
mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.
“Oh ya, kukira ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi 
bersama?”, pancingku. “‘Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi 
jauh, ke tempat yang jauh… mungkin… umur ada di tangan Allah, Hanah”, ia 
lalu terisak. Suara itu bergetar, aku ikut hanyut dalam kesedihan. 
Sekejap, langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. 
Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah.
Menurut analisa medis, para dokter sudah tak sanggup, dan itu berarti 
dekatnya kematian. Tetapi, siapa yang mengabarkan ini semua padanya?, atau 
ia memang merasa sudah datang waktunya?, “Mengapa ternenung? Apa yang 
engkau lamunkan?”, Nurah membuyarkan lamunanku. “Apa kau mengira, hal ini 
kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku lebih 
panjang dari umur orang-orang sehat. Dan kamu, sampai kapan akan terus 
hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau…Lalu apa setelah itu? Kita 
tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka. 
Apakah engkau belum mendengar ayat: “Barangsiapa dijauhkan dari Neraka 
dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah beruntung” ( Ali Imran: 
185). “Sampai besok pagi,” ia menutup nasihatnya.
Aku bergegas meninggalkannya menuju kamar. Nasihatnya masih 
tergiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, 
jangan lupa shalat!” Pagi hari…Jam dinding menunjukkan angka delapan 
pagi.Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. “Pada jam ini biasanya aku 
belum mau bangun” pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang 
banyak terisak. “Ya Rabbi, apa yang tejadi?” “Mungkin Nurah…?, “firasatku 
berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah 
sakit.
 
Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang 
sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap 
cemas. Tepat pukul satu siang, telepon di rumah kami berdering. Ibu segera 
mengangkatnya. Suara ayah di seberang, ia menelpon dari rumah sakit. 
“Kalian bisa pergi ke rumah sakit sekarang!,” demikian pesan ayah singkat. 
Kata ibu, tampak sekali ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari 
biasanya. “Mana sopir…?” kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir 
menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat 
bila aku menikmatinya dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panj ang, 
panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nantikan 
sehingga aku bisa menengok ke kanan-kiri, cuci mata, kini terasa 
menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo’a untuk keselamatan Nurah. “Dia anak 
shalihah. Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin 
beribadah”, ibu bergumam sendirian.
Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para 
pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara 
rintihan. Ada yang baru saja masuk karena kecelakaan mobil, ada yang 
matanya buta, ada yang mengerang keras. Pemandangan yang membuat bulu 
kudukku merinding. Kami naik tangga eskalator menuju lantai atas. Nurah 
berada di ruang perawatan intensif. Di depan pintu terpampang papan 
peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!” Kami terperangah. 
Tak lama kemudian, seorang perawat datang menemui, kami. Perawat 
memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik, setelah beberapa saat 
sebelumnya tak sadarkan diri.
Di tengah kerumunan para dokter yang merawat, dari sebuah lubang 
keciljendela yang ada di pintu, aku melihat kedua bola mata Nurah sedang 
memandangiku. Ibu yang berdiri di sampingnya tak kuat menahan air matanya. 
Waktu besuknya habis, ibu segera keluar dari ruang perawatan intensif. 
Kini tiba giliranku masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak 
mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit. “Assalamu ‘alaikum!, 
bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang 
terjadi denganmu?”, aku menghujaninya dengan pertanyaan. “Alhamdulillah, 
aku sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum.
“Tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” aku menyelidik.
Aku duduk di pinggir dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera 
menjauhkannya dari jangkauanku. “Ma’af, kalau aku mengganggumu!”, aku 
tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah Ta’ala: “Dan 
bertaut betis(kiri) dengan betis(kanan), kepada Tuhanmullah pada hari itu 
kami dihalau”. (Al-Qiyamah: 29-30) Nurah melantunkan ayat suci Alquran. 
Aku menguattkan diri. Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis 
dihadapan Nurah, aku membisu.” Hanah, berdoalah untukku. Mungkin sebentar 
lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama 
kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali”. 
Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah 
mengkhawatirkan keadaanku. Sebab mereka tak pernah melihatku menangis 
seperti itu.
 
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal 
dunia…. Suasana begitu sepat berubah. Seperti baru beberapa menit aku 
bebincang-bincang dengannya. Kini ia telah meninggalkan kami buat 
selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu lagi dengan kami. Tak 
akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh Nurah…Suasana 
dirumah kami digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah 
oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan 
melawat. Aku tidak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak 
pula apa yang mereka percakapan. Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya 
Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada diriku? Aku 
tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan 
terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium 
keningnya. Kini, tak ada sesuatu yang kuingat seai satu hal. Aku ingat 
firman Allah yang dibacakannya kepadaku menjelang kematiannya. “Dan 
bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan)”. Aku kini benar-benar paham 
bahwa,”Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau” “Aku tidak tahu, 
ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya.
Malam ini, aku sendirian di mushalla almarhumah. terbayang kembali saudara 
kembarku, Nurah yang demikian baik kepadaku. Dialah yang senantiasa 
menghibur kesedihanku, ikut memahami dn merasakan kegalauanku, saudari 
yang selalu mendo’akanku agar aku mendapat hidayah Allah, saudari yang 
senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang 
selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan….ya Allah!
 
Malam ini adalah malam pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah 
dia, terangilah kuburnya. Ya Allah, ini mushaf Nurah, …ini sajadahnya…dan 
ini..ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya padaku, bakal dijadikan 
kenangan manis pernikahannya. Aku menangisi hari-hariku yang berlalu 
dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa berhenti. Aku berdo’a 
kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendo’akan 
Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia 
begitu sering dan suka mendo’akanku. Tiba-tiba aku tersentak dengan 
pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah aku? 
Bagaimana kesudahanku?” Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku 
memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi. Allahu Akbar, Allnhu 
Akbar…Adzan fajar berkumandang. Tetapi, duhai alangkah merdunya suara 
panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang 
mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera kuhamparkan lipatan 
sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti keadaan orang 
yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan terakhir 
kali dari saudari kembarku Nurah.Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu 
waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.
 
(Dari buku "Wahai Saudariku, "Apa yang menghalangimu untuk berhijab?"
Oleh: Abdul Hamid Al Bilali)







-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke