Widiyarto 












 Ibu : Selalu Tercium Aroma Rindu
Kamis, 23/12/2010 05:40 WIB | email | print | share
Oleh bidadari_Azzam

Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu berkata: 
Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan? Beliau 
bersabda, "Ibumu." Aku bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau bersabda, 
"Ibumu." Aku bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau bersabda, "Ibumu." 
Aku bertanya lagi, "Kemudian siapa?" Beliau bersabda: "Ayahmu, lalu yang 
lebih dekat, kemudian yang lebih dekat." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) 

Hadits itu selalu tertanam dalam hati ini, namun sosok ibu yang mendidikku 
bukanlah ibu yang 'kege-eran' dengan kalimat indah itu. Beliau selalu 
menasehati kami untuk bersikap adil dan jujur dalam kegiatan sehari-hari, 
termasuk saat memposisikan diri berdiskusi di depan ayah dan ibu, tak 
melulu harus menaati bulat-bulat perintah ayah dan ibu, apalagi jika kami 
memiliki alasan dengan sudut pandang berbeda—orang tuaku sangat menghargai 
masukan dan ide dari anak-anaknya.

Jadi, kalimat bahwa "Saya sekarang adalah ibu, yang harus selalu terus 
belajar tentang kesabaran dan keikhlasan, terutama belajar dari anak-anak 
sebagai amanah dari Rabbku", bukanlah sebait kata yang baru muncul di era 
modern ini, melainkan sebuah kalimat yang merupakan warisan turun-temurun, 
sosok ibuku adalah salah satu ibu yang mewariskan kesejatian resapan makna 
kalimat itu.

Ibuku tersayang, dulu di usia ke enam tahun, saya menangis terus-terusan, 
di rumah, di taman, di sekolah, hingga para guru dan teman-teman bertanya 
ada apa gerangan? Jawabku, "ibuku di rumah sakit, hu..hu...hu...." kenapa 
saya tidak boleh ikutan berada di rumah sakit, begitu pikirku. Namun 
ternyata tiga hari dari situ, saya dan kakak-kakakku diajak menengok ibu, 
namun hanya mengintip dari jendela ruangan, ternyata ibu sehat-sehat, 
perut gendutnya sudah rata, dan keesokan harinya beliau pulang ke rumah 
bersama hadiah baru buat kami, yaitu adinda yang jelita. Lucu sekali, dulu 
saya benar-benar tak mengerti akan hal itu, dan memutuskan untuk mejadi 
pengamat saja. Kuamati betapa telatennya ibu menimang, mengganti popok, 
menyusui adik. Dan berarti waktu saya masih bayi, sebegitu pula merepotkan 
ibu.

Peristiwa bergulir setiap hari, dan ibu selalu ada di sisi ini. Al-Ummu 
Madrasah (ibu adalah sekolah), benar-benar hal itu telah kualami sendiri. 
(maafkan jika ada teman yang jadi cemburu akan kebahagiaanku ini), bahkan 
ibuku sendiri tak mengalami kebersamaan yang lama dengan ibu kandungnya. 
Nenekku meninggal dunia tatkala ibu masih balita. Dan saya tahu beratnya 
hari-hari ibu sepeninggal almarhumah, ibu melalui masa-masa penjajahan, 
juga masa saat komunis berjaya, untungnya pemuda-pemuda kampung beliau 
sangatlah cinta pada Islam, masih menjaga dan memagari diri dari jeratan 
paham komunis. Namun di dua kampung sebelahnya, setiap malam ada 'pesta 
neraka', begitu cerita ibu, laki-laki dan perempuan membuka busana dan 
menikmati minuman keras. Sehingga orang kampung tersebut tidak diizinkan 
memasuki kampung ibu.

Ibu menceritakan segala hal padaku, mendongeng sebelum tidur, menemani 
belajar malam, dan di tiap sela waktu berbelanja, atau saat bepergian 
selalu ada saja ilmu baru yang beliau sampaikan. Ibu pernah menjalani hari 
bersama beberapa ibu tiri, ibu asrama yang super cerewet, juga dengan bibi 
yang kurang berakhlaq baik. Namun semua orang itu menyatakan salut dan 
bangga akan kesabaran dan keuletan ibuku saat melalui hari bersama mereka. 
Bahkan sebelum saya menikah, ayahku sendiri yang mengatakan terus terang, 
saat itu ayah dan saya hanya bercakap berduaan, “Ibumu adalah favorit. 
Ibumu adalah mbak favourite, adik favourite, mantu favourite... semua 
orang dalam keluarga besar kita selalu mem-favouritekan beliau”, seolah 
ayah mengiringi pesan agar mencontoh ibu bila ingin dicintai seisi 
keluarga.

O, ibu... Puji syukur pada Allah SWT, engkau ada di sisiku hingga 
mengantarkan diri ini menjadi seorang ibu pula. Ibu, bukan guru kelas 1 SD 
yang mengajariku Alphabet ABC pertama kalinya, melainkan engkau, bu... 
Bukan pula para ustadzah di masjid yang mengajariku alif, baa, taa, 
melainkan engkau bu... Di era 80-an, para tetanggaku banyak yang memiliki 
anak banyak, dan sejujurnya ada rasa salut pada semua ibu tetanggaku itu. 
Bayangkan, ada yang punya anak 20 orang, tapi sekarang anaknya semua jadi 
orang sukses! Ragam profesi sang anak, dokter, pengusaha, insinyur, bahkan 
menjadi gubernur, dll. Ibuku juga pernah berdiskusi pada kami 
anak-anaknya, di zaman ini sudah berbeda, sebagai contoh media massa, 
elektronik, kecanggihan teknologi yang memiliki sisi mudharat pula, bisa 
mengakibatkan hancurnya keluarga kecil yang 'hanya punya anak dua'. Banyak 
contoh nyata di lingkungan sekitar kita. Sehingga ibu menyarankan untuk 
benar-benar mengoptimalkan peran sebagai orang tua yang telah diamanahi 
anak-anak olehNYA.

O, ibu... Keenam anakmu telah berjauhan, barulah sekarang saya mengerti 
kalimat kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah, untuk 
menikmati masa bersama ibu, kami anakmu harus mengatur jadwal cuti dulu! 
Hiks, padahal dulu waktu kami kecil, ibu selalu ada di sisi kami ini. 
Ibuku multitalenta. Ibu yang membuat baju-baju kami sendiri, semua bajuku 
dan kakakku sedari bayi sampai usia kanak-kanak, ibulah yang menjahitnya. 
Bahkan saat kami sudah dewasa, terkadang dijahitkan baju pula olehnya. 
Kalau lem-ku untuk kerajinan tangan habis, ibu membuat lem sendiri dengan 
tepung. Lem memang sering habis karena sejak SD hingga SMU saya memiliki 
ribuan sahabat pena, lem dipergunakan untuk membuat kartu-kartu dan 
amplop.

Ibu bisa memasak semua jenis makanan, terutama pempek kapal selam kesukaan 
kami. Ibu rajin membuat kudapan, maklumlah anak-anaknya doyan makan. 
Tangan ibu bagiku adalah super hebat, lebih dari sekedar tangan superwoman 
yang di film kartun itu! Tangan beliau yang hanya dua, namun menguruskan 
isi perut anggota keluarga berdelapan, bekal-bekal kerja ayah dan bekal 
makan siang kami di sekolah, ibu yang menyiapkannya. Saat kakak-kakak 
sudah lebih besar, ibu ajarkan untuk membantu beliau mengoordinir para 
adik, subhanalloh ibuku pandai 'ilmu management!' Ibu yang mengajari kami 
membaca qur’an dengan tartil, menghafal juz amma sedari balita, dan kalau 
kami sudah khatam qur’an, ibu akan membuat nasi komplit dengan lauk yang 
enak serta dibagi-bagikan pula pada tetangga.

Kalau keadaan perekonomian kurang baik, maklumlah saat semua anak harus 
sekolah dan les tambahan sementara gaji ayah pas-pasan, dulu ibu turun 
tangan menjajakan kue-kue di beberapa kedai, menerima pesanan makanan, dan 
jahitan busana muslim, walhamdulillah hal ini sukses besar. Dan ayah 
sendiri yang meminta ibu untuk berhenti jualan setelah beberapa lama 
kemudian karena melihat betapa padatnya jadwal ibu dan tentulah khawatir 
keletihan. Ibuku pandai menyesuaikan diri dalam kondisi apapun.

Walaupun kami pernah bandel, misalnya saat saya dan kakak bersembunyi di 
bawah kolong tempat tidur karena tidak hafal suatu surat dalam Al-Qur’an 
dan takut 'disabet rotan', maka ternyata hingga sore ibu bukanlah marah... 
melainkan beliau menangis tersedu-sedu karena mengkhawatirkan kami, oh, 
ibu... padahal kami di kolong tempat tidur, sibuk makan biskuit tanpa 
memperdulikan kekhawatiranmu. Contoh lain saat kakakku berantem dan nilai 
sekolahnya merosot, ibu tetaplah dengan lemah-lembut memberikan nasehat. 
Sikap-sikap lembut ibu serta kesabarannya bagi kami adalah 'ketegasan 
sejati', 'ilmu psikologi' yang hadir dari cinta sejati seorang ibu!

Ibuku tak pernah sekali pun mengatakan, "masa’ sih kamu gak bisa...?", 
walaupun secara fakta banyak hal yang saya tidak bisa, dalam arti tidak 
memiliki keahlian sehebat dirinya. Saya tidak bisa menjahit baju-baju buat 
cucumu, ibu... namun kata ibu, "yah, zaman sekarang kan baju-baju yang 
dijual tuh lucu-lucu, harganya juga murah meriah, gak apa-apa beli aja, 
nak...", dengan ringannya kalimat itu menghiburku. Saya tidak lincah di 
dapur, kalau motong-motong —sering terkena pisau, kalau menggoreng— sering 
terpercik minyak, motong bawang—banjir air mata, mengupas sayur dan buah 
pun 'acak-acakan', selain itu memang ada rasa takut melihat beberapa benda 
di dapur, namun ibu menyemangati, “Semua bisa dipelajari... pelan-pelan 
aja, trus kan sekarang juga sudah ada alat pemotong bawang, alat-alat 
memasak sudah banyak yang modern, yang penting masaklah dengan bumbu 
cinta, pasti enak deh...”, dan memang kenyataannya apapun masakanku, laris 
manis dihabiskan oleh semua anggota keluarga, Alhamdulillah.

Ooh, ibu... saya paling ingat akan nasehatmu, bahwa seorang ibu memiliki 
posisi penting dalam kemajuan generasi. Ibu dan ayah adalah teman sejati 
yang bekerja sama menuju keridhoanNYA, ayah mengurus hal-hal di luar 
rumah, ibu mengatur hal-hal di dalam rumah, namun seringnya ada 
peristiwa-peristiwa yang juga mengharuskan ayah atau ibu saling membantu 
urusan keduanya. Salah besar jika ada orang yang mencemooh profesi 
full-time mom. Sosok tersebut memang harus selalu mondar-mandir dapur, 
sumur, kasur, namun pernahkah kalian terbayang bahwa ketiga tempat itu 
memang tempat paling nyaman dalam rumah tangga? Ibu harus menjaga halalan 
thoyyiban segala jenis makanan di dapur, nantinya akan dimakan oleh 
seluruh anggota keluarga. Salah satu efek jika dapur tidak terjaga 
kehalalannya, ingatlah Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah tumbuh daging 
dari makanan haram, kecuali neraka lebih utama untuknya." (HR At Tirmidzi)

Ibulah yang mengatur keuangan keluarga, ternyata ibuku juga 'akuntan' yang 
baik. Kalau urusan sumur, alias cucian tidak beres, baju sekolah, baju 
kantor ayah, dll, pastilah tidak rapi. Penampilan ayah dan anak-anak yang 
rapi, bersih pakaian sedari topi atau kerudung hingga kaos kaki dan 
sepatu, semua jadi kinclong bersinar karenamu, ibu. Ruangan kamar mandi 
harus rajin disikat, disiram pembersih agar bakteri-bakteri kabur, betapa 
pentinganya 'sumur' mejaga kesehatan keluarga. Kadang-kadang kami malas 
membantu ibu, maafkan kami yah bu… Dan saat telah menjadi seorang ibu, 
betapa Saya merasakan 'beratnya' tugasmu, duhai Ibu...

Urusan kasur alias ruangan kamar yang jadi tempat ternyaman buat seisi 
keluarga melepas lelah pun diperhatikan dengan teliti oleh ibu. Ruang 
kamar harus selalu bersih, harum, rapi terutama dibereskan sebelum tidur 
dan saat bangun pagi. Dahulu seprai kasurku sering terkena coretan pena 
dan pensil, sebab saya hobi mengerjakan Pe-Er di kasur, sering tak sengaja 
menumpahkan minyak angin atau tinta pula, dan ibu dengan cekatan 
membersihkannya. Salut padamu, duhai ibu, sementara saya saat ini 
mengandalkan 'jasa laundry' kalau kesusahan mengurusi kain-kain kotor. Dan 
ibu berujar, “baguslah... kan kalau jaket dan jas memang lebih baik 
di-laundry, seprai dan selimutmu juga tebal-tebal, dananya juga ada, 
hitung-hitung khan bantuin tukang laundry juga dalam mencari rezeki...”, 
tak pernah habis kutulis tentang sosok beliau, sebab sosok ibuku adalah 
pengukir hidupku, sentuhan cintanya tak dapat kurangkum melalui kata-kata 
belaka.

Sembilan tahun lalu, sosok sholeh calon pendampingku berkata pada ibu, 
"bu... saya punya ibu yang berbeda denganmu. Ibuku harus berkarir karena 
keadaan menuntut hal itu, Saya tak pernah disusui, tak pernah diajari 
sholat, puasa, bahkan mengaji, Saya tidak merasakan hal yang sama seperti 
yang anak-anakmu rasakan. Maka saat ini ketika keadaan saya sudah memahami 
cahaya Islam dengan baik, saya mohon supaya ibu ridho jika istriku ini 
kelak tidaklah bekerja di kantor sesuai gelar sarjananya, karena saya 
hanya ingin anak-anakku kelak tidak bernasib sama sepertiku...", air mata 
mereka mengalir bersama, tidaklah semua wanita berjiwa 'IBU', dan ibu 
mengangguk setuju serta meyakinkan calon menantunya bahwa selama 
kepemimpinan kepala keluarga adalah sejalan dengan aturan Allah SWT, maka 
sang istri harus menaatinya.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, "Kaum wanita datang menghadap 
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bertanya, 'Ya Rasulullah, kaum 
pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah 
perbuatan bagi kami yang dapat menyamai ’amal para mujahidin di jalan 
Allah?' Maka Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda, 
'Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya 
ia telah menyamai ’amal para mujahidin di jalan Allah'.” (HR. Al-Bazzar)

Oh, ibu... syukurku padaNYA atas keberadaan ibu disisiku, hingga hari ini 
masih terus mengajari banyak hal padaku, saat sosok lain runtuh, maka 
engkau tetap kokoh dan teguh. Saat yang lain berbual, maka engkau tetap 
memelihara kejujuran. Saat yang lain tergoda, maka engkau tetap setia. 
Saat yang lain penuh prahara, maka dengan kesabaran dan keikhlasan engkau 
perbaiki senyum mereka. Saat yang lain mengumbar pengorbanan dan jasa, 
engkau malah hanya diam dan mengukir senyum ikhlas. Selalu tercium aroma 
do’a malammu, selalu merindu nuraniku akan pelukan hangatmu, semoga Allah 
SWT memberikan kekuatan padaku untuk menjadi sosok ibu sejati sepertimu, 
amiin.

(Buat mamandaku tersayang, bidadari_Azzam Krakow, 22 desember 2010)
_______________________________________________

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke