السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
semoga bermanfaat
wass....zainal
ANTARA ZAKAT DAN RIBA
(MEMPERSEMPIT KESENJANGAN ANTARA SI KAYA DENGAN SI MISKIN)
Oleh: Abdurrahman Nuryaman
KHUTBAH PERTAMA:
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ
تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا، أَمّا بَعْدُ ...
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ
مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا،
وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي
النّارِ.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Sudah terlalu sering kita mendengar seruan untuk memper-sempit jurang
pemisah antara si kaya dengan si miskin. Sudah lelah kita menerima
selogan-selogan yang diusung oleh berbagai kala-ngan untuk melipat
kesenjangan antara mereka yang berharta dan sanak saudara kita yang
melarat. Kebijakan demi kebijakan terus bergulir atas nama kemanusiaan,
dan undang-undang silih berganti ditetapkan atas nama kebijakan yang
memihak rakyat kecil.
Tentu semua itu tidak sia-sia, akan tetapi sesungguhnya ma-salah yang
paling besar yang selama ini telah menciptakan kesen-jangan antara orang
yang memiliki modal dengan mereka yang hanya bertumpu pada nasib adalah
sistem ekonomi riba.
Mari sejenak kita cermati masalah yang satu ini, semoga Allah memberikan
pelajaran yang bermanfaat bagi kita semua.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Riba adalah sistem yang zhalim dan merusak. Riba inilah yang telah
menyebabkan negeri-negeri Muslim selalu terkalahkan dalam sistem ekonomi
dunia, dan menyebabkan kaum Muslimin selalu menjadi orang nomer dua dalam
persaingan. Dan tentu akan sangat tidak memadai untuk menjelaskannya di
sini dalam kapasitas khutbah yang memang disunnahkan untuk dipersingkat
ini.
Gambaran mudahnya kira-kira sebagai berikut:
Semua kita tentu mengerti bahwa pada zaman dahulu, orang-orang melakukan
transaksi jual beli dengan menukarkan barang dengan barang, yang kita
kenal dalam istilah ekonomi dengan barter. Belakangan kemudian mulai
muncul alat transaksi, berupa jenis-jenis tertentu dari logam dan batu
mulia. Dan setelah itulah, kemudian emas dan perak menjadi alat transaksi
yang paling dikenal sebagai alat transaksi oleh hampir semua bangsa di
dunia, termasuk di zaman Rasulullah a yang saat itu dikenal dengan dinar
dan dirham.
Akan tetapi berbelanja dalam jumlah yang besar menjadi ken-dala dari alat
transaksi emas dan perak ini, karena membawanya ke sana kemari dalam
jumlah besar adalah masalah besar. Di sini-lah awal munculnya ide
menggunakan uang kertas; ialah dengan menyimpan uang emas dan
diterbitkanlah uang kertas yang pada mulanya hanya berfungsi sebagai
semacam kuitansi bergambar rumit, sebagai bukti bahwa si fulan memiliki
emas berjumlah sekian. Tapi di belakang hari, uang kertas itu sendiri
disahkan sebagai harta yang tidak lagi memiliki hubungan dengan nilai
riil, yaitu emas. Lebih parah lagi kemudian bahwa antara satu mata uang
dengan mata uang lainnya, tidak lagi berlaku satu banding satu, akan
tetapi ditentukan oleh lingkaran setan riba yang zhalim. Kalau kita
seder-hanakan, orang-orang yang paling malas sekalipun dapat menjadi orang
kaya raya dengan jual beli mata uang secara haram, tanpa harus bekerja
keras menciptakan hasil kerja riil atau pun jasa; di mana di pagi hari
hanya butuh menghidupkan komputer lalu me-masuki alam maya, cyber global
dan berjudi dengan hanya mempertaruhkan sesuatu yang hakikatnya tidak ada.
Yang sangat mengerikan adalah bahwa sistem keuangan ribawi ini telah
menjadi kekuasaan bayangan yang sangat kejam, sehingga dapat mempengaruhi
sistem politik, mengendalikan ke-bijakan suatu pemerintahan, dan yang
paling menyakitkan adalah semakin memiskinkan orang-orang miskin.
Coba mari kita kenang kembali ketika tahun 1997 mata uang rupiah jatuh
terhadap dolar Amerika, dalam prosentase yang sangat besar. Sebelum itu
orang-orang yang berpenghasilan Rp. 500.000-, sudah termasuk kelas ekonomi
cukup mapan saat itu, tapi dalam waktu sekejap menjadi orang-orang yang
jauh dari cukup. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang secara ekonomi di
bawah itu? Harga barang langsung melonjak tak terkendali. Sekian juta
masyarakat Indonesia tiba-tiba jatuh miskin, bukan karena mereka
terbelakang, bukan karena mereka berhenti bekerja, bukan karena malas;
tapi karena dimiskinkan oleh sistem. Para petani tetap ber-tani, pada
pedagang terus berdagang, para karyawan negeri atau swasta tidak berhenti
bekerja; tapi hasil kerja keras mereka yang seharusnya cukup, menjadi
anjlok tak punya nilai dalam sekejap, dan itu berlangsung dalam waktu yang
cukup lama, sampai per-ekonomian kembali stabil. Inilah gambaran sederhana
dari kezha-liman sistem ribawi.
Kezhaliman sistem riba sesungguhnya telah diisyratkan Allah dalam
al-Qur`an. Cobalah perhatikan Surat al-Baqarah dari ayat 275 sampai dengan
ayat 281. Setelah Allah merinci tentang riba, Allah kemudian berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ
الرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ{278} فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ فَأْذَنُواْ
بِحَرْبٍ مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ
أَمْوَالِكُمْ لاَ تَظْلِمُونَ وَلاَ تُظْلَمُونَ{279} وَإِن كَانَ ذُو
عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَن تَصَدَّقُواْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن
كُنتُمْ تَعْلَمُونَ{280} وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى
اللّهِ ثُمَّ تُوَفَّى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ
يُظْلَمُونَ{281}
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan
sisa riba (yang belum kalian ambil) jika kamu orang-orang yang beriman.
Maka jika kamu tidak mengerjakan (mening-galkan sisa riba), maka
ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu, dan jika kamu
bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
menzhalimi dan tidak (pula) dizhalimi. Dan jika (orang berhutang itu)
dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan
menyedekah-kan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika
kamu mengetahui. Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari
yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian
masing-masing diri diberi balasan yang sempurna ter-hadap apa yang telah
dikerjakannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya." (Al-Baqarah:
278-281).
Karena itu, adalah naif jika ada di antara pemikir kaum Muslimin yang
mengatakan bahwa apabila dalam prosentase kecil, maka riba itu tidak
apa-apa dan dapat dianggap sebagai biaya operasi transksi. Atau ada lagi
yang mengatakan, bahwa riba yang diharam-kan al-Qur`an adalah yang
merugikan salah satu pihak, tapi apa-bila masing-masing pihak mendapat
keuntungan, maka itu adalah riba yang boleh-boleh saja. Ini adalah asumsi
batil yang rapuh yang sama sekali tidak didasari oleh semangat syariat
Islam, yang menye-barkan keadilan untuk setiap individu, dan bertentangan
dengan ruh ar-Risalah al-Muhammadiyah untuk menciptakan suatu orde sosial
yang saling menguntungkan antara semua komponen.
Masalahnya, riba tidak hanya terbatas antara seorang dengan seorang, atau
antara sebuah bank dengan sejumlah nasabah, atau antara sejumlah PT dengan
sebuah perbankan, sebagaimana yang dibayangkan oleh mereka yang
membenarkan riba tersebut. Yang menjadi masalah adalah bahwa sistem riba
ini merugikan penghi-dupan banyak orang, yang sebenarnya sama sekali tidak
terlibat dalam mewujudkannya, menzhalimi masyarakat luas, dan mendatangkan
perekonomian yang tidak mendatangkan berkah Allah.
Karenanya, setelah isyarat itu tadi, pada ayat 281 Allah Ta’ala
mempertegas peringatanNya. FirmanNya,
"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu
itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri
diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang
mereka sedikit pun tidak dizhalimi (dirugikan)."
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Sebelum kedua ayat di atas, Allah Ta’ala merinci tentang riba dan orang
yang mengambil riba. Coba mari kita lebih perhatikan apa kata al-Qur`an
sebelum kedua ayat di atas.
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لاَ يَقُومُونَ إِلاَّ كَمَا يَقُومُ الَّذِي
يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُواْ
إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ
الرِّبَا فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا
سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ
النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit
gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata
(berpendapat), 'Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah
telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah
sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari
mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum
datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang
kem-bali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka;
mereka kekal di dalamnya." (QS. al-Baqarah: 275).
Dalam kitab al-Kaba`ir Imam al-Hafizh adz-Dzahabi mengomentari ayat
"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan
seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit
gila', dengan mengatakan, "Maksudnya, mereka (yang memakan riba tersebut)
akan bangun dari kubur-kubur me-reka pada Hari Kiamat seperti orang-orang
yang kesurupan dan kerasukan setan. Dan itu menimpa mereka "Adalah
disebabkan me-reka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama
dengan riba."
Riba sama dengan jual beli? Sungguh perkataan yang sangat keji dan kias
yang tidak saja rusak tapi juga merusak.
Asy-Syaikh al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mengomentari
perkataan mereka yang menyamakan riba dengan jual beli ini dalam syarah
beliau terhadap al-Kaba`ir, dengan menga-takan, "Kias mereka ini adalah
persis seperti kias iblis ketika Allah memerintahkannya untuk bersujud
kepada Nabi Adam j, iblis berkata, sebagaimana yang diabadikan Allah; agar
dapat diambil hikmahnya oleh kita semua,
أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
"Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api,
sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (Shad: 76).
Mereka telah melakukan analogi yang rusak, sehingga pada ayat itu juga
Allah langsung menyanggah analogi mereka dengan FirmanNya, "Allah telah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba." Kata asy-Syaikh
al-Utsaimin, "Allah tidaklah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba,
kecuali karena antara kedua jenis (tran-saksi) tersebut terdapat perbedaan
yang sangat besar, dan bahwa keduanya sama sekali tidak sama."
Pada ayat 276 dari surat al-Baqarah, yang merupakan kelan-jutan dari ayat
di atas, Allah Ta’ala berfirman,
يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ
كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ
Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai
setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa."
(Al-Baqarah: 276).
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Riba adalah salah satu dosa yang paling berbahaya bagi seorang Muslim di
dunia dan akhirat. Seperti itu tadi bahaya dan kerusakan yang ditimbulkan
oleh sistem riba di dunia, maka pantaslah Allah Ta’ala dan Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam mengancam dengan ancaman yang sangat
mengerikan di akhirat nanti. Di samping ayat-ayat Allah tadi,
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam juga begitu keras
memperingat-kan riba. Di antaranya Rasulullah a bersabda mengisahkan
perja-lanan Isra' dan Mi'raj beliau bersama kedua malaikat yang membawa
beliau,
حَتَّى أَتَيْنَا عَلَى نَهَرٍ مِنْ دَمٍ فِيْهِ رَجُلٌ قَائِمٌ، وَعَلَى
وَسَطِ النَّهَرِ رَجُلٌ بَيْنَ يَدَيْهِ حِجَارَةٌ، فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ
الَّذِيْ فِي النَّهَرِ فَإِذَا أَرَادَ الرَّجُلُ أَنْ يَخْرُجَ رَمَى
الرَّجُلُ بِحَجَرٍ فِي فِيْهِ فَرَدَّهُ حَيْثُ كَانَ، فَجَعَلَ كُلَّمَا
جَاءَ لِيَخْرُجَ رَمَى فِي فِيْهِ بِحَجَرٍ فَيَرْجِعُ كَمَا كَانَ،
فَقُلْتُ: مَا هَذا؟ فَقَالَ: الَّذِي رَأَيْتَهُ فِي النَّهَرِ آكِلُ
الرِّبَا.
"… sampai kami mendatangi sebuah sungai dari darah, yang di tengahnya
terdapat seorang laki-laki yang tengah berdiri, dan di tengah-tengah
sungai tersebut terdapat pula seorang laki-laki yang di tangannya terdapat
batu. Orang yang ada di sungai itu menda-tanginya, dan bila orang tersebut
ingin keluar (dari sungai), laki-laki yang satunya tersebut melemparkan
batu ke mulutnya, sehingga mengembalikannya ke tempat berdirinya semula;
maka setiap kali dia berusaha untuk keluar dari sungai itu, maka laki-laki
itu melemparnya dengan batu ke mulutnya, sehingga dia kembali ke tempatnya
semula, maka aku bertanya (kepada Jibril), 'Apa ini?' Maka dia menjawab,
'Laki-laki yag engkau lihat di sungai itu adalah orang yang makan
(mengambil) riba." (Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan
lainnya).
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bahkan
menempatkan riba sebagai salah satu di antara tujuh dosa besar yang
membinasakan. Sabda beliau,
اِجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوْبِقَاتِ! قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّهِ،
وَمَا هُنَّ؟ قَالَ: اَلشِّرْكُ بِاللّهِ وَالسِّحْرُ وَقَتْلُ النَّفْسِ
الَّتِيْ حَرَّمَ اللّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَكْلُ الرِّبَا وَأَكْلُ مَالِ
الْيَتِيْمِ وَالتَّوَلِّيْ يَوْمَ الزَّحْفِ وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ
الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ.
"Kalian jauhilah tujuh dosa yang membinasakan!" Mereka bertanya, 'Apa saja
wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Mempersekutukan Allah, sihir,
membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar,
memakan riba, memakan harta anak yatim, me-larikan diri pada saat
pertempuran, dan menuduh perempuan yang menjaga diri, yang beriman, yang
sedang lengah melakukan zina." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).
Dalam hadits lain, dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya
beliau berkata,
لَعَنَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا
وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ، وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ.
"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memakan
(menggunakan) harta riba, orang yang memberikannya, yang menjadi juru
tulis (dalam transaksi) riba, dan dua orang yang menjadi saksi." Dan
beliau bersabda, "Mereka semua adalah sama". (Diriwayatkan oleh Ahmad dan
Muslim).
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Semoga khutbah singkat ini dapat menyadarkan kita untuk tidak mendekati
riba dalam bentuk apa pun. Mari kita lawan sistem riba dengan sistem
Islami yang diridhai Allah, dan tinggalkan perekonomian ribawi yang penuh
kezhaliman. Mari kita merubah cara pandang kita terhadap suatu sistem,
niscaya kita akan mampu menghadapi segala hal yang selama ini menjadi
pertimbangan berat kita meninggalkan riba. Jika Anda menabung, maka
pilihlah bank yang bernuansa Syari'ah.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ,
إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah yang kedua
إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ
وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ
يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ وَصَلَّى اللَّّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Apabila riba harus diperangi, lain halnya dengan zakat yang merupakan
kebalikannya. Riba adalah azab dan kezhaliman, sedangkan zakat adalah
rahmat dan keadilan. Solusi paling tepat untuk mempersempit kesenjangan
antara si kaya dengan si miskin adalah zakat. Secara logika sederhana kita
dapat katakan, "Semakin kaya seseorang, maka orang-orang miskin semakin
senang, karena akan semakin banyak zakat hartanya. Dan semakin banyak
orang kaya, maka orang-orang miskin juga semakin senang, karena sema-kin
banyak pula orang yang mengeluarkan zakat."
Bagi kita kaum Muslimin, zakat tidak hanya sekedar sebagai solusi problem
sosial, tidak hanya membagi kasih kepada sesama, bukan hanya sebatas
kepedulian sosial. Zakat adalah kewajiban asasi bagi kita, dan salah satu
rukun Islam. Cobalah Anda perhati-kan, bagaimana Allah dalam banyak ayat
merangkai zakat dengan shalat. Karena itu, kita yakin bahwa tonggak sebuah
masyarakat Islam tidak akan berdiri, kecuali dengan shalat dan zakat,
serta tentu saja ditunjang dengan kewajiban-kewajiban lainnya.
Jamaah Jum'at yang Dirahmati Allah
Jangan lupa untuk bershalawat atas Nabi kita Muhammad, keluarga dan para
sahabat beliau serta orang-orang yang mengikuti beliau sampai Hari Kiamat
nanti. Allah telah mengingatkan ini di dalam Al-Qur`an. FirmanNya,
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ
عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ
وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ
رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا
لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا
عَذَابَ النّارِ. وَصَلىَّ اللهُ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ
تَسْلِيمًا كَثِيرًا وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ اْلحَمْدُ لِلهِ رَبِّ
اْلعَالمَِينَ.
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.