السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
Semoga Bermanfaat
Wass.......zainal
Mengingat Maut
Oleh ; Ustadz Abu Isma’il Muslim Al Atsari
Jika Anda pernah mendengar kisah mengenai orang-orang yang hidup kekal di
dunia ini, sesungguhnya itu hanya dongeng yang batil. Sebagian orang
beranggapan ada orang-orang yang hidup kekal di dunia ini, seperti Khidhir
Alaihissalam, Dzulqarnain atau lainnya. Keyakinan seperti ini tidak
dikenal dalam Islam. Karena, tidak ada manusia yang hidup kekal di dunia
ini.
Kematian, sesungguhnya merupakan hakikat yang menakutkan, akan menghampiri
semua manusia. Tidak ada yang mampu menolaknya. Dan tidak ada seorangpun
kawan yang mampu menahannya.
Kematian datang berulang-ulang, menjemput setiap orang, orang tua maupun
anak-anak, orang kaya maupun orang miskin, orang kuat maupun orang lemah.
Semuanya menghadapi kematian dengan sikap yang sama, tidak ada kemampuan
menghindarinya, tidak ada kekuatan, tidak ada pertolongan dari orang lain,
tidak ada penolakan, dan tidak ada penundaan. Semua itu mengisyaratkan,
bahwa kematian datang dari Pemilik kekuatan yang paling tinggi. Meski
sedikit, tak seorang pun manusia memiliki wewenang atas kematian.
Hanya di tangan Allah semata pemberian kehidupan. Dan hanya di tanganNya,
mengambil kembali yang telah Dia berikan pada ajal yang telah digariskan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ
فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". [Ali
Imran:185].
Maut merupakan ketetapan Allah. Seandainya ada seseorang yang selamat dari
maut, niscaya manusia yang paling mulia pun akan selamat. Namun maut
merupakan SunnahketetapanNya atas seluruh makhluk. Allah berfirman:
إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ
"Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) akan
mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)" [Az Zumar:30].
Tidak ada manusia yang kekal di dunia ini.
وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ
الْخَالِدُونَ {34} كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم
بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ {35}
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu
(Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan
dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada
Kamilah kamu dikembalikan" [Al Anbiya:34, 35].
MENGHINDAR DARI KEMATIAN?
Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan kematian
atas diri manusia. Sehingga bagaimanapun manusia berupaya menghindar
darinya, kematian itu tetap akan mengejarnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala
berfirman:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ
مُشَيَّدَةٍ
"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu
di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh" [An Nisa’:78].
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ
ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم
بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata,
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [Al Jumu’ah:8].
وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ
"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu
selalu lari dari padanya" [Qaaf:19].
Kematian sebagai bukti nyata kekuasaan Allah, dan siapapun tidak ada yang
dapat mengalahkanNya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ
"Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak
dapat dikalahkan". [Al Waqi’ah:60]
Allah menantang kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka tidak
dikuasai oleh Allah, dengan mengembalikan nyawa orang yang sekarat, jika
memang mereka benar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَلَوْ لآ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ {83} وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ
{84} وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ {85}
فَلَوْ لآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ {86} تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ
صَادِقِينَ
"Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu
melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak
melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak
mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang
yang benar." [Al Waqi’ah:83, 84, 85, 86, 87]
Manusia tidak akan lepas dari ajal, bahkan ajal itu meliputinya. Imam
Bukhari telah meriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ
خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ
مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا
أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ
أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ
هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا (خ 5938)
"Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat
garis segi empat, dan Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya.
Beliau membuat garis-garis kecil kepada garis yang ada di tengah ini dari
sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini manusia, dan ini
ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini
adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah.
Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya. Jika ini luput darinya, ini
pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].
Jika demikian, maka bagaimana mungkin manusia dapat lari dan selamat dari
kematian? Ketahuilah, sesungguhnya umur kita di dunia ini terbatas dan
hanya sebentar. Orang yang berakal, sepantasnya tidak tertipu dengan
gemerlapnya dunia, sehingga melupakan bekal menuju akhiratnya.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى
السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ (جة 4236,ت 3550, الصحيحة
757, وهو حديث حسن)
"Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah n bersabda: “Umur umatku
antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang
melewati itu.” [HR Ibnu Majah, no. 4.236; Tirmidzi, no. 3.550. Lihat Ash
Shahihah, no. 757].
ANJURAN MENGINGAT KEMATIAN
Banyak hadits-hadits yang mengingatkan tentang kematian, agar manusia
selalu ingat bahwa hidup di dunia tidaklah kekal. Agar manusia bersiap
siaga dengan perbekalan yang dibutuhkannya saat perjalanannya yang panjang
nanti. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian" [HR Ibnu
Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].
Dalam riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ
يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ ,
وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ
"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena
sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya,
kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang
itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya),
kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang
itu" [Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333]
Syumaith bin ‘Ajlan berkata:
مَنْ جَعَلَ الْمَوْتَ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, لَمْ يُبَالِ بِضَيْقِ الدُّنْيَا
وَلاَ بِسَعَتِهَا
"Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli
dengan kesempitan dunia atau keluasannya. [Mukhtashar Minhajul Qashidin,
hlm. 483, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi].
Orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan iman yang
shahih (benar), tauhid yang khalish (murni), amal yang shalih (sesuai
dengan tuntunan), dengan landasan niat yang ikhlas, itulah orang-orang
yang paling berakal.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ
فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا
وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ (جة
4259, حديث حسن, الصحيحة 1384)
"Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasululloh Shallallahu 'alaihi
wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian
mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dia
bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling
utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia
bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?”
Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka,
dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu
orang-orang yang cerdik.” [HRR Ibnu Majah, no. 4.259. Hadits hasan. Lihat
Ash Shahihah, no. 1.384].
Marilah kita renungkan sabda Nabi yang mulia :
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ
يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ
وَيَبْقَى عَمَلُهُ (خ,م,ت2379,ن)
"Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali,
satu akan tetap. Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan
amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan
tetap".[HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa-i].
PENYESALAN ORANG KAFIR SAAT KEMATIAN
Janganlah seseorang menolak keimanan dan meremehkan amal shalih, karena
suatu saat pasti akan menyesalinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99}
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ
قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: "Ya, Rabbku.
Kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap
yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah
perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai
hari mereka dibangkitan".[Al Mukminun:99, 100]
SEGERA BERAMAL SEBELUM DATANG KEMATIAN
Janganlah seseorang selalu menunda dalam berbuat amal shalih karena
kesibukan duniawinya. Karena, selama manusia masih hidup, ia tidak akan
lepas dari kesibukan. Orang yang berakal akan mengutamakan urusan akhirat
yang pasti datang, dan mengalahkan urusan dunia yang pasti ditinggalkan.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ
أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ
الْخَاسِرُونَ {9} وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن
يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْ لآ أَخَّرْتَنِي إِلَى
أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ {10} وَلَن
يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian,
maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari
apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah
seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya, Rabbku. Mengapa Engkau tidak
menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku
dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih”. Dan Allah
sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang
waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan". [Al
Munafiqun: 9, 10, 11]
Oleh karena itu, seseorang hendaklah memanfaatkan hidupnya dengan
sebaik-baiknya, mengisinya dengan amal shalih sebelum datang kematian.
Imam Bukhari meriwayatkan:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ
يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ
فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ
حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ (خ 5937)
"Dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa
sallam memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini
seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir.” Dan Ibnu Umar
mengatakan: “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti
sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh.
Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk
matimu.” [HR Bukhari, no. 5.937]
Hendaklah setiap orang waspada terhadap angan-angan panjang umur, sehingga
menangguhkan amal shalih. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ
الْعُمُرِ (خ 5942)
"Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya:
cinta harta dan panjang umur". [HR Bukhari, no. 5.942, dari Anas bin
Malik].
Sesungguhnya, masa 60 tahun bagi seseorang sudah merupakan waktu yang
panjang hidup di dunia ini, cukup bagi seseorang merenungkan tujuan hidup,
sehingga tidak ada udzur bagi orang yang telah mencapai umur tersebut.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ
سِتِّينَ سَنَةً (خ 5940)
"Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau
bersabda: “Allah meniadakan alasan seseorang yang Dia telah menunda
ajalnya sehingga mencapai 60 tahun. [HR Bukhari, no. 5.940]
PENUTUP
Mengakhiri tulisan ini, berikut kami bawakan pernyataan Hamid Al Qaishari,
sebagai berikut:
“Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang
bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi
kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini
adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya!
Maka terhadap apa kamu bergembira? Kemungkinan apakah yang kamu nantikan?
Kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan
membawa kebaikan atau keburukan. Wahai, saudara-saudaraku! Berjalanlah
menghadap Penguasamu (Allah) dengan perjalanan yang bagus”. [Mukhtashar
Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi].
Semoga tulisan ini mengingatkan kita, betapa penting mempersiapkan diri
menghadapi kematian, yang merupakan masalah besar yang dihadapi setiap
insan. Imam Ibnu Majah meriwayatkan:
عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى
بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا
Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam pada suatu jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian
Beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu Beliau bersabda:
“Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini,!”
[HR Ibnu Majah, no. 4.190, dihasankan oleh Syaikh Al Albani].
Demikian sedikit tentang dzikrul maut, semoga bermanfaat. Terakhir kami
katakan: Wahai, saudara-saudaraku! Persiapkanlah dirimu menghadapi
kematian!” Wallahu Al Musta’an.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
--
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.