السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
Semoga Bermanfaat
Wass.......zainal
 Mengingat Maut
Oleh  ;  Ustadz Abu Isma’il Muslim Al Atsari


Jika Anda pernah mendengar kisah mengenai orang-orang yang hidup kekal di 
dunia ini, sesungguhnya itu hanya dongeng yang batil. Sebagian orang 
beranggapan ada orang-orang yang hidup kekal di dunia ini, seperti Khidhir 
Alaihissalam, Dzulqarnain atau lainnya. Keyakinan seperti ini tidak 
dikenal dalam Islam. Karena, tidak ada manusia yang hidup kekal di dunia 
ini.

Kematian, sesungguhnya merupakan hakikat yang menakutkan, akan menghampiri 
semua manusia. Tidak ada yang mampu menolaknya. Dan tidak ada seorangpun 
kawan yang mampu menahannya. 

Kematian datang berulang-ulang, menjemput setiap orang, orang tua maupun 
anak-anak, orang kaya maupun orang miskin, orang kuat maupun orang lemah. 
Semuanya menghadapi kematian dengan sikap yang sama, tidak ada kemampuan 
menghindarinya, tidak ada kekuatan, tidak ada pertolongan dari orang lain, 
tidak ada penolakan, dan tidak ada penundaan. Semua itu mengisyaratkan, 
bahwa kematian datang dari Pemilik kekuatan yang paling tinggi. Meski 
sedikit, tak seorang pun manusia memiliki wewenang atas kematian. 

Hanya di tangan Allah semata pemberian kehidupan. Dan hanya di tanganNya, 
mengambil kembali yang telah Dia berikan pada ajal yang telah digariskan. 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ 
الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ 
فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari 
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka 
dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan 
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". [Ali 
Imran:185].

Maut merupakan ketetapan Allah. Seandainya ada seseorang yang selamat dari 
maut, niscaya manusia yang paling mulia pun akan selamat. Namun maut 
merupakan SunnahketetapanNya atas seluruh makhluk. Allah berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

"Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam) akan 
mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)" [Az Zumar:30].

Tidak ada manusia yang kekal di dunia ini. 

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِّن قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِّتَّ فَهُمُ 
الْخَالِدُونَ {34} كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم 
بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ {35}

"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu 
(Muhammad), maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? Tiap-tiap 
yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan 
dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada 
Kamilah kamu dikembalikan" [Al Anbiya:34, 35].

MENGHINDAR DARI KEMATIAN?
Kekuasaan Allah meliputi segala sesuatu. Dia telah menetapkan kematian 
atas diri manusia. Sehingga bagaimanapun manusia berupaya menghindar 
darinya, kematian itu tetap akan mengejarnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala 
berfirman:

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ 
مُشَيَّدَةٍ

"Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu 
di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh" [An Nisa’:78]. 

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاَقِيكُمْ 
ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم 
بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ 

"Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka 
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan 
dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, 
lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan". [Al Jumu’ah:8].

وَجَآءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

"Dan datanglah sakaratul maut yang sebenar-benarnya. Itulah yang kamu 
selalu lari dari padanya" [Qaaf:19].

Kematian sebagai bukti nyata kekuasaan Allah, dan siapapun tidak ada yang 
dapat mengalahkanNya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ

"Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali tidak 
dapat dikalahkan". [Al Waqi’ah:60]

Allah menantang kepada orang-orang yang menyangka bahwa mereka tidak 
dikuasai oleh Allah, dengan mengembalikan nyawa orang yang sekarat, jika 
memang mereka benar. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَلَوْ لآ إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ {83} وَأَنتُمْ حِينَئِذٍ تَنظُرُونَ 
{84} وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنكُمْ وَلَكِن لاَّ تُبْصِرُونَ {85} 
فَلَوْ لآ إِن كُنتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ {86} تَرْجِعُونَهَا إِن كُنتُمْ 
صَادِقِينَ

"Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu 
melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu.Tapi kamu tidak 
melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah). Kamu tidak 
mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang 
yang benar." [Al Waqi’ah:83, 84, 85, 86, 87]

Manusia tidak akan lepas dari ajal, bahkan ajal itu meliputinya. Imam 
Bukhari telah meriwayatkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَطَّ النَّبِيُّ صَلَّى 
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا مُرَبَّعًا وَخَطَّ خَطًّا فِي الْوَسَطِ 
خَارِجًا مِنْهُ وَخَطَّ خُطَطًا صِغَارًا إِلَى هَذَا الَّذِي فِي الْوَسَطِ 
مِنْ جَانِبِهِ الَّذِي فِي الْوَسَطِ وَقَالَ هَذَا الْإِنْسَانُ وَهَذَا 
أَجَلُهُ مُحِيطٌ بِهِ أَوْ قَدْ أَحَاطَ بِهِ وَهَذَا الَّذِي هُوَ خَارِجٌ 
أَمَلُهُ وَهَذِهِ الْخُطَطُ الصِّغَارُ الْأَعْرَاضُ فَإِنْ أَخْطَأَهُ 
هَذَا نَهَشَهُ هَذَا وَإِنْ أَخْطَأَهُ هَذَا نَهَشَهُ هَذَا (خ 5938)

"Dari Abdullah, dia berkata: Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membuat 
garis segi empat, dan Beliau membuat garis di tengahnya keluar darinya. 
Beliau membuat garis-garis kecil kepada garis yang ada di tengah ini dari 
sampingnya yang berada di tengah. Beliau bersabda,”Ini manusia, dan ini 
ajal yang mengelilinginya, atau telah mengelilinginya. Yang keluar ini 
adalah angan-angannya. Dan garis-garis kecil ini adalah musibah-musibah. 
Jika ini luput darinya, ini pasti mengenainya. Jika ini luput darinya, ini 
pasti mengenainya.” [HR Bukhari, no. 5.938].

Jika demikian, maka bagaimana mungkin manusia dapat lari dan selamat dari 
kematian? Ketahuilah, sesungguhnya umur kita di dunia ini terbatas dan 
hanya sebentar. Orang yang berakal, sepantasnya tidak tertipu dengan 
gemerlapnya dunia, sehingga melupakan bekal menuju akhiratnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ قَالَ أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى 
السَّبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ (جة 4236,ت 3550, الصحيحة 
757, وهو حديث حسن)

"Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah n bersabda: “Umur umatku 
antara 60 sampai 70 tahun. Dan sangat sedikit di antara mereka yang 
melewati itu.” [HR Ibnu Majah, no. 4.236; Tirmidzi, no. 3.550. Lihat Ash 
Shahihah, no. 757].

ANJURAN MENGINGAT KEMATIAN
Banyak hadits-hadits yang mengingatkan tentang kematian, agar manusia 
selalu ingat bahwa hidup di dunia tidaklah kekal. Agar manusia bersiap 
siaga dengan perbekalan yang dibutuhkannya saat perjalanannya yang panjang 
nanti. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ

"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian" [HR Ibnu 
Majah, no. 4.258; Tirmidzi; Nasai; Ahmad].

Dalam riwayat Ath Thabrani dan Al Hakim terdapat tambahan: 

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ 
يَذْكُرْهُ أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , 
وَلاَ ذَكَرَهُ فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena 
sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, 
kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang 
itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), 
kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang 
itu" [Shahih Al Jami’ush Shaghir, no. 1.222; Shahih At Targhib, no. 3.333]

Syumaith bin ‘Ajlan berkata: 

مَنْ جَعَلَ الْمَوْتَ نُصْبَ عَيْنَيْهِ, لَمْ يُبَالِ بِضَيْقِ الدُّنْيَا 
وَلاَ بِسَعَتِهَا

"Barangsiapa menjadikan maut di hadapan kedua matanya, dia tidak peduli 
dengan kesempitan dunia atau keluasannya. [Mukhtashar Minhajul Qashidin, 
hlm. 483, tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi].

Orang yang banyak mengingat kematian dan mempersiapkannya dengan iman yang 
shahih (benar), tauhid yang khalish (murni), amal yang shalih (sesuai 
dengan tuntunan), dengan landasan niat yang ikhlas, itulah orang-orang 
yang paling berakal. 

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ 
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى 
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ 
اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ 
فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا 
وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ (جة 
4259, حديث حسن, الصحيحة 1384)

"Dari Ibnu Umar, dia berkata: Aku bersama Rasululloh Shallallahu 'alaihi 
wa sallam, lalu seorang laki-laki Anshar datang kepada Beliau, kemudian 
mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu dia 
bertanya: “Wahai, Rasulullah. Manakah di antara kaum mukminin yang paling 
utama?” Beliau menjawab,”Yang paling baik akhlaknya di antara mereka.” Dia 
bertanya lagi: “Manakah di antara kaum mukminin yang paling cerdik?” 
Beliau menjawab,”Yang paling banyak mengingat kematian di antara mereka, 
dan yang paling bagus persiapannya setelah kematian. Mereka itu 
orang-orang yang cerdik.” [HRR Ibnu Majah, no. 4.259. Hadits hasan. Lihat 
Ash Shahihah, no. 1.384].

Marilah kita renungkan sabda Nabi yang mulia :

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثٌ فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ 
يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ 
وَيَبْقَى عَمَلُهُ (خ,م,ت2379,ن)

"Mayit akan diikuti oleh tiga perkara (menuju kuburnya), dua akan kembali, 
satu akan tetap. Mayit akan diikuti oleh keluarganya, hartanya, dan 
amalnya. Keluarganya dan hartanya akan kembali, sedangkan amalnya akan 
tetap".[HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa-i].

PENYESALAN ORANG KAFIR SAAT KEMATIAN
Janganlah seseorang menolak keimanan dan meremehkan amal shalih, karena 
suatu saat pasti akan menyesalinya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتَ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ {99} 
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلآ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ 
قَآئِلُهَا وَمِن وَرَآئِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang 
kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata: "Ya, Rabbku. 
Kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang shalih terhadap 
yang telah aku tinggalkan”. Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah 
perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai 
hari mereka dibangkitan".[Al Mukminun:99, 100]

SEGERA BERAMAL SEBELUM DATANG KEMATIAN
Janganlah seseorang selalu menunda dalam berbuat amal shalih karena 
kesibukan duniawinya. Karena, selama manusia masih hidup, ia tidak akan 
lepas dari kesibukan. Orang yang berakal akan mengutamakan urusan akhirat 
yang pasti datang, dan mengalahkan urusan dunia yang pasti ditinggalkan. 
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلآ 
أَوْلاَدُكُمْ عَن ذِكْرِ اللهِ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ 
الْخَاسِرُونَ {9} وَأَنفِقُوا مِن مَّا رَزَقْنَاكُم مِّن قَبْلِ أَن 
يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْ لآ أَخَّرْتَنِي إِلَى 
أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ الصَّالِحِينَ {10} وَلَن 
يُؤَخِّرَ اللهُ نَفْسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَا وَاللهُ خَبِيرٌ بِمَا 
تَعْمَلُونَ 

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu 
melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang melakukan demikian, 
maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Dan belanjakanlah sebagian dari 
apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah 
seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya, Rabbku. Mengapa Engkau tidak 
menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku 
dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shalih”. Dan Allah 
sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang 
waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan". [Al 
Munafiqun: 9, 10, 11]

Oleh karena itu, seseorang hendaklah memanfaatkan hidupnya dengan 
sebaik-baiknya, mengisinya dengan amal shalih sebelum datang kematian. 
Imam Bukhari meriwayatkan:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أَخَذَ 
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ كُنْ 
فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ 
يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرْ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ 
فَلَا تَنْتَظِرْ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَمِنْ 
حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ (خ 5937)

"Dari Abdullah bin Umar, dia berkata: Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa 
sallam memegang pundakku, lalu bersabda,”Jadilah engkau di dunia ini 
seolah-olah seorang yang asing, atau seorang musafir.” Dan Ibnu Umar 
mengatakan: “Jika engkau masuk waktu Subuh, maka janganlah engkau menanti 
sore. Jika engkau masuk waktu sore, maka janganlah engkau menanti Subuh. 
Ambillah dari kesehatanmu untuk sakitmu. Dan ambillah dari hidupmu untuk 
matimu.” [HR Bukhari, no. 5.937]

Hendaklah setiap orang waspada terhadap angan-angan panjang umur, sehingga 
menangguhkan amal shalih. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ 
الْعُمُرِ (خ 5942)

"Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: 
cinta harta dan panjang umur". [HR Bukhari, no. 5.942, dari Anas bin 
Malik].

Sesungguhnya, masa 60 tahun bagi seseorang sudah merupakan waktu yang 
panjang hidup di dunia ini, cukup bagi seseorang merenungkan tujuan hidup, 
sehingga tidak ada udzur bagi orang yang telah mencapai umur tersebut. 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 
قَالَ أَعْذَرَ اللَّهُ إِلَى امْرِئٍ أَخَّرَ أَجَلَهُ حَتَّى بَلَّغَهُ 
سِتِّينَ سَنَةً (خ 5940)

"Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau 
bersabda: “Allah meniadakan alasan seseorang yang Dia telah menunda 
ajalnya sehingga mencapai 60 tahun. [HR Bukhari, no. 5.940]

PENUTUP
Mengakhiri tulisan ini, berikut kami bawakan pernyataan Hamid Al Qaishari, 
sebagai berikut: 

“Kita semua telah meyakini kematian, tetapi kita tidak melihat orang yang 
bersiap-siap menghadapinya! Kita semua telah meyakini adanya surga, tetapi 
kita tidak melihat orang yang beramal untuknya! Kita semua telah meyakini 
adanya neraka, tetapi kita tidak melihat orang yang takut terhadapnya! 
Maka terhadap apa kamu bergembira? Kemungkinan apakah yang kamu nantikan? 
Kematian! Itulah perkara pertama kali yang akan datang kepadamu dengan 
membawa kebaikan atau keburukan. Wahai, saudara-saudaraku! Berjalanlah 
menghadap Penguasamu (Allah) dengan perjalanan yang bagus”. [Mukhtashar 
Minhajul Qashidin, hlm. 483, tahqiq: Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi].

Semoga tulisan ini mengingatkan kita, betapa penting mempersiapkan diri 
menghadapi kematian, yang merupakan masalah besar yang dihadapi setiap 
insan. Imam Ibnu Majah meriwayatkan: 

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى 
بَلَّ الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Dari Al Bara’, dia berkata: Kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam pada suatu jenazah, lalu Beliau duduk di tepi kubur, kemudian 
Beliau menangis sehingga tanah menjadi basah, lalu Beliau bersabda: 
“Wahai, saudara-saudaraku! Maka persiapkanlah untuk yang seperti ini,!” 
[HR Ibnu Majah, no. 4.190, dihasankan oleh Syaikh Al Albani].

Demikian sedikit tentang dzikrul maut, semoga bermanfaat. Terakhir kami 
katakan: Wahai, saudara-saudaraku! Persiapkanlah dirimu menghadapi 
kematian!” Wallahu Al Musta’an.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12/Tahun VIII/1426H/2005. 
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke