السلام عليكم ورحمته الله وبركا ته
Semoga Bermanfaat
Wass.......zainal
Ketundukan Alam Kepada Kita Tidak Gratis 

Ketundukan (sam’an wa tha’atan) lahir, berbanding lurus dengan keadilan 
dan kasih sayang pemimpin

Oleh: Shalih Hasyim

SESUNGGUHNYA kehadiran manusia di muka bumi ini di samping sebagai 
abdullah, pula sebagai khalifatullah (mandataris Allah SWT). Tugas pertama 
menegakkan nilai-nilai agama (iqamatud din). Tugas ini jika berjalan 
dengan baik, berefek pada kehidupan yang berkualitas secara lahir dan 
batin, dalam skala kehidupan individu (hayatan thayyibah), keluarga (
sakinah, mawaddah wa rahmah), masyarakat (qaryah mubarakah), negara (
baladan amina), dan kumpulan beberapa negara (global state) (baldatun 
thayyibatun wa rabbun ghafur).

Islam hadir menjaga enam kebutuhan primer manusia. Yaitu menjaga jiwa, 
akal, harta, agama, keturunan, dan kehormatan diri dari kontaminasi 
penyimpangan. Islam bersahut-sahutan dengan fitrah manusia. Fitrah manusia 
senang dengan sesuatu yang dikenali hati (ma’ruf), kejujuran, kesantunan, 
kesejukan, dan lain-lain. Dan mengingkari sesuatu yang diingkari hati (
mungkar), kebohongan, kepalsuan, kekerasan, dan lain-lain.

Tugas yang kedua adalah sebagai wakil Allah SWT (khalifah), untuk 
mengelola dan memakmurkan alam semesta dan isinya (siyastud dunya) agar 
berjalan secara harmonis. Bersahabat, bahkan tunduk kepada manusia.

Jika kita merujuk Al-Quran dan Al-Hadits, ada beberapa istilah 
kepemimpinan, yang menunjukkan fungsi yang diembannya sekaligus.

Pertama, Imam. Dari kata imam berkembang menjadi umm (yang dirujuk, 
diteladani, induk). Kemudian lahir kata amam (yang selalu berada di 
depan). Istilah pertama mengajarkan sejatinya menjadi pemimpin itu 
dituntut mengedepankan keteladanan. Kemudian lahir pula kata ummat. 
Berarti pemimpin yang legitimed itu bukan sebatas konstitusional formal, 
juga berpihak kepada masyarakat bawah. Sehingga keberadaannya dirindukan 
dan dicintai.

Kedua, Khalifah. Dari istilah ini menggambarkan bahwa pemimpin yang ideal 
itu memiliki komitmen untuk menggulirkan proses regenerasi. Tidak 
mempertahankan status qua. Hal ini karena umur pemimpin itu hanya seputar 
60-70 tahun. Jika terlambat dalam mewariskan nilai dan amal kepada 
generasi pelanjut, akan terjadi kemandekan, stagnan.

Ketiga, waliyyul amr. Wali artinya mencintai dan melindungi. Amr maknanya 
urusan penting bawahannya. Istilah ini melukiskan bahwa pemimpin itu 
mencintai yang dipimpinnya dan melayani (berkhidmah) serta memetakan dan 
mengurai kerumitan urusan yang mereka hadapi.

Keempat, ra’in. Rain secara kebahasaan artinya menggembala. Artinya, 
kualitas kepemimpinan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh 
seringnya berdiplomasi dan berorasi (katsratur riwayah), tetapi diukur 
dari katsratur ri’ayah (mutu pelayannanya), dan katsratul istima’ (banyak 
mendengar keluhan yang dipimpinnya).

Taskhir

Keempat fungsi kepemimpinan di atas jika diimplementasikan dalam 
lingkungan sosial, akan melahirkan taskhir (ketundukan yang dipimpinnya). 
Ketundukan (sam’an wa tha’atan) lahir, berbanding lurus dengan keadilan 
dan kasih sayang pemimpin. Jadi, ketundukan itu tidak datang secara 
tiba-tiba (instan), tetapi melalui proses yang panjang (konstan). Taskhir 
(ketundukan alam semesta kepada manusia) sebagai khalifah, terdapat dalam 
al-Quran surat al-Hajj (22) : 65 juga bersyarat.

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang 
ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. Dan 
dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? 
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada 
manusia.”

Konsep taskhir pada ayat di atas perlu dijadikan pelajaran moral. Karena 
akhir-akhir ini kita kenyang dengan bencana yang bersumber dari udara, 
laut dan darat, bahkan di perut bumi (dengan kejadian tanah longsor). 
Akhirnya dalam hati kita menyisakan pertanyaan penting, di manakah letak 
ketundukan alam terhadap tuannya (manusia)? Mengapa akhir-akhir ini alam 
berubah menjadi tidak bersahabat?

Ternyata, taskhir dalam Islam tidak lahir secara instan (kebetulan), tanpa 
syarat. Ketundukan alam kepada manusia, tidak secara cuma-cuma (gratis). 
Alam semesta ini tunduk selama manusia menjalankan fungsi kekhalifahannya 
dengan cara yang benar. Manakala manusia tidak mengelola alam dengan baik, 
bahkan mengeksploitasinya secara berlebih-lebihan tanpa mengindahkan 
rambu-rambu, bahkan menumpahkan darah dan air mata, maka tidak ada jaminan 
alam mempertontonkan ketundukan.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan 
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari 
(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” 
(QS. Ar Rum (30) : 41).

Menurut Shofwatut Tafasir oleh Syaikh Ali Ash Shabuni, yang dimaksud 
dengan kalimat “bimaa kasabat aidinnas” adalah disebabkan oleh dosa-dosa 
yang dilakukan oleh manusia.

Jadi ketundukan kita kepada ketentuan Allah SWT yang tertulis (
kalimatullah) akan berefek pada keharmonisan lingkungan sosial kita (
khalqullah). Suka bersedekah bisa dicintai yang diberi dan menolak 
bencana. Banyak membaca Al-Quran bisa menghindarkan kepikunan di masa tua. 
Tua-tua berbudi, makin tua makin mengabdi. Yang senang silaturrahim 
memiliki umur kedua dan kekayaannya berlimpah. Suka main perempuan 
mempercepat ketuaan. Yang suka memberi akan mendapatkan ganti yang lebih 
baik. Yang menanam kebaikan akan memanen. Yang senang beramal shalih akan 
meninggikan derajat pemiliknya, menghapus dosanya, membantunya dalam 
mengurai kerumitan hidup.Yang suka minum-minuman keras, syaraf-syaraf 
otaknya mengalami disfungsi. Yang senang berjudi, melahirkan mental 
pemalas, dan lain-lain.

Manakala para pemimpin, pejabat, penggede negeri, dimana pun dan kapan 
saja, tidak lagi memihak kepada umat (akar rumput), tidak mengedepankan 
keadilan, kemaslahatan publik, mengabaikan akal sehat dan hati nurani, 
para pebisnis menghalalkan segala cara, para ulama dan umara sudah 
kehilangan obyektifitas, dan mempertontonkan subyektifitas untuk 
kepentingan pemodal dan yang memiliki akses khusus dengan kekuasaan, saat 
itu bencana akan mengintai manusia, baik pada pagi malam hari ketika 
istirahat, pada pagi hari ketika sedang bermain-main, pada siang hari 
ketika berusaha.

“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan 
siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? 
Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan 
Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalah naik ketika mereka sedang 
bermain?” (QS. Al Araf (7) : 97-98).

Bencana wabah kerapkali dipicu oleh berbagai penyimpangan, pelanggaran 
pola pikir dan perilaku manusia. Perilaku alam raya makrokosmos berbanding 
lurus dengan perilaku manusia mikrokosmos. Kehancuran bangsa-bangsa besar 
yang pernah jaya pada zaman dahulu disebabkan oleh pelanggaran yang mereka 
lakukan.

Ummat Nuh yang keras kepala ditimpa bencana banjir.

“Dan kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang 
paling zalim dan paling durhaka.” (QS. An Najm (53) : 52).

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur [*] telah memancarkan air, 
Kami berfirman: "Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing 
binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang 
telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang 
beriman." dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.” (QS. 
Hud (11) : 40)

Yang dimaksud dengan dapur ialah permukaan bumi yang memancarkan air 
hingga menyebabkan timbulnya taufan.

Bangsa Saba’ yang semula makmur, tetapi tidak pandai mensyukurinya, 
diganti oleh Allah SWT dengan banjir besar. Pohon yang menghasilkan buah 
yang ranum diganti dengan pohon cemara dan bidara.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat 
kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah 
kiri. (Kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang 
(dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) 
adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". 
Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang 
besar [meruntuhkan bendungan Ma’rib] dan Kami ganti kedua kebun mereka 
dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon 
Atsl dan sedikit dari pohon Sidr [Atsl sejenis pohon cemara, Sidr sejenis 
pohon bidara].” (QS. Saba (34) : 15-16).

 Umat Nabi Shalih yang hedonistik dan menerapkan pola hidup serba boleh, 
ditimpa virus yang ganas dan gempa bumi.

“Adakah kamu akan dibiarkan tinggal disini (di negeri kamu ini) dengan 
aman, Di dalam kebun-kebun serta mata air, Dan tanam-tanaman dan 
pohon-pohon korma yang mayangnya lembut. Dan kamu pahat sebagian dari 
gunung-gunung untuk dijadikan rumah-rumah dengan rajin.” (QS.Asysyu’ara’ 
(26) : 146-149).

Ummat Luth yang hobi perilaku homoseksual ditimpa gempa yang dahsyat.

“Dan datanglah kepadanya kaumnya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu 
mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang keji [homoseksual]. Luth 
berkata: "Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih Suci bagimu, 
maka bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu mencemarkan (nama)ku 
terhadap tamuku ini. tidak Adakah di antaramu seorang yang berakal?." (QS. 
Hud (11) : 78).

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa Kami tidak mempunyai 
keinginan [syahwat terhadap wanita ] terhadap puteri-puterimu; dan 
sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya Kami kehendaki." 
(QS. Hud (11) : 79).

 “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di 
atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari 
tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS. Hud (11) : 82).

Demikian pula kaum ‘Ad, mereka terpuruk, ketika kejahatan yang mereka 
lakukan mencapai grafik yang tinggi, pemimpin mereka terdiri dari 
orang-orang yang zhalim dan berbuat kerusakan di negeri, tiada seorang pun 
yang merdeka melakukan kebaikan.

“Dan itulah kisah kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Allah, 
Tuhan mereka, dan mereka mendurhakai para rasul-Nya dan mematuhi perintah 
para penguasa mereka yang berlaku sewenang-wenang lagi menentang 
kebenaran.” (QS. Hud (11) : 59).

Bangsa Bani Israil yang suka membangkang, berbuat kriminal, memalsu kitab 
suci, ditimpa berbagai bencana, kehinaan di dunia ini dalam waktu yang 
lama. Ketika kesewenang-wenangan Fir’aun telah mencapai puncaknya, 
berlakulah kuasa Allah untuk menghancurkan kesulitan mereka dan mengangkat 
martabat bangsa ini (Israel) yang selama ini mereka hinakan. Kehendak 
Allah pun terwujudlah melalui kelahiran seorang anak laki-laki yang 
bernama Musa di kalangan Bani Israil. Dan kehendak dan pengaturan Allah 
pula manakala anak ini mesti dibesarkan oleh keluarga Fir’aun dan dididik 
di istananya.

 Maka ketika ia diangkat menjadi Rasul, Allah menetapkan janji agar ia 
menyelamatkan kaumnya dari perbudakan yang dilakukan oleh bangsa Mesir 
itu. Musa pun lalu memberi advis kepada Fir’aun dengan lemah lembut, namun 
Fir’aun ternyata tidak sudi dinasehati. Selanjutnya datanglah peringatan 
Allah secara berulang-ulang kepada Fir’aun dan kaumnya yang diikuti dengan 
munculnya bahaya kelaparan, badai dan topan, banjir darah, merajalelanya 
belalang yang memangsa ladang-ladang mereka, serta munculnya wabah berupa 
kutu dan katak yang amat merepotkan mereka. Kendatipun demikian, semuanya 
itu ternyata tidak mengurangi pembangkangan dan kesombongan mereka 
sedikitpun.

“Maka Kami kirimkan kepada mereka taufan, belalang, kutu, katak dan darah 
sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka tetap menyombongkan diri dan 
mereka adalah kaum yang berdosa.” (QS. Al Araf (7) : 133).

 Ketika hujjah (argumentasi) yang disampaikan kepada mereka itu telah 
dianggap cukup, maka turunlah adzab Allah. Musa as berhasil keluar dari 
Mesir dengan izin Allah, sedangkan Fir’aun bersama kaumnya ditenggelamkan 
di lautan, dan sejak itu terbawa tenggelam pula keperkasaan bangsa Mesir 
yang telah berjalan berabad-abad itu tanpa mampu tegak kembali.

“Maka Kami hukumlah Fir`aun dan bala tentaranya, lalu Kami lemparkan 
mereka ke dalam laut. Maka lihatlah bagaimana akibat orang-orang yang 
zalim.” (QS. Al Qashash (28) : 40).

Sesudah itu datanglah masa-masa kejayaan bagi Bani Israil. Sesudah mereka 
memperoleh kemenangan atas bangsa Mesir ini, kekuasaan atas dunia inipun 
kini berada di tangan mereka – suatu kekuasaan yang mereka peroleh setelah 
sekian lamanya mereka dihina dan dilecehkan.

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri 
bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah 
padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) 
untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang 
telah dibuat Fir`aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (QS. 
Al Araf (7) : 137).

Allah pun telah melebihkan mereka atas umat-umat yang lain. Dan Kami 
lebihkan kamu sekalian atas seluruh penghuni alam semesta ini, tetapi 
pewarisan dan kelebihan yang diberikan kepada mereka itu disertai dengan 
persyaratan agar mereka tetap berbuat baik. Allah Swt berfirman melalui 
ucapan Musa as: Kamu sekalian akan diberi pusaka di bumi ini, tetapi Allah 
akan mencermati apa yang akan kalian lakukan. Ini merupakan persyaratan 
yang tidak saja berlaku atas Bani Israil, melainkan berlaku pula atas 
semua bangsa yang dipusakai kejayaan di muka bumi.

“Kemudian Kami jadikan pengganti-pengganti mereka di muka bumi sesudah 
mereka, untuk Kami lihat apa yang akan kalian lakukan.” (QS. Yunus (10) : 
14).

Dan ketika mereka mengingkari perintah Tuhan mereka dengan melakukan 
manipulasi Kalam Allah, mengganti yang haq dengan kebatilan, mengikuti 
perilaku para pendusta, berkhianat, memakan barang haram, merusak janji, 
mendewasakan emas dan perak, rakus dan tamak, pengecut, senang 
berfoya-foya membunuh Nabi-nabi mereka tanpa hak, menentang orang-orang 
yang menyerukan kebenaran, dan lebih mentaati orang-orang yang mengajak 
kejahatan daripada para pemimpin yang menyeru kebajikan, Allah pun 
mencabut pertolongan-Nya kepada mereka dan mengambil kembali pusaka itu, 
sehingga mereka pun menjadi sasaran anak panah penguasa-penguasa Iraq, 
Yunani dan Romawi, serta terusir dari negeri mereka, untuk kemudian 
selamanya terlantar di belahan bumi yang manapun: putus asa dan menderita, 
dan bahkan tidak akan lagi bisa menetap dengan aman di bagian bumi yang 
manapun untuk selamanya. Satu di antara laknat Allah yang ditimpakan 
kepada mereka semenjak seribu tahun ini mereka belum pernah sekalipun 
menemukan tempat yang baik untuk mereka diami. Sehingga, sekarang ini 
mereka berusaha merampok bumi Palestina.

Alam Menjadi Ganas

Hujan yang tadinya sebagai sumber air bersih dan pembawa rahmat, tiba-tiba 
menyebabkan banjir yang melululantahkan areal kehidupan manusia. Rahmat, 
yang mendatangkan kebaikan berbalik menjadi laknat, menjauhkan dari 
maslahat.

Dan dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan 
dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari 
tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman 
yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai 
tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan 
pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. perhatikanlah 
buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. 
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi 
orang-orang yang beriman (QS. Al Anam (6) : 99).

“Lalu orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang 
tidak diperintahkan kepada mereka. sebab itu Kami timpakan atas 
orang-orang yang zalim itu dari langit, karena mereka berbuat fasik.” (QS. 
Al Baqarah (2) : 59).

Angin yang semula berperan dalam proses penyerbukan dalam dunia 
tumbuh-tumbuhan dan mendistribusi awan, tiba-tiba tampil ganas membabat 
segala sesuatu yang dilewatinya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam 
dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi 
manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan 
air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di 
bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang 
dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda 
(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al Baqarah 
(2) : 164).    

“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa 
hari yang sial, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan 
yang menghinakan dalam kehidupan dunia. dan Sesungguhnya siksa akhirat 
lebih menghinakan sedang mereka tidak diberi pertolongan.” (QS. Fushshilat 
(41): 16).

Laut yang tadinya jinak (harmonis) melayani dan tunduk terhadap mobilitas 
manusia, tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilewatinya.

“Apakah kamu tiada melihat bahwasanya Allah menundukkan bagimu apa yang 
ada di bumi dan bahtera yang berlayar di lautan dengan perintah-Nya. dan 
dia menahan (benda-benda) langit jatuh ke bumi, melainkan dengan izin-Nya? 
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada 
manusia.” (QS. Al Hajj (22) : 65).

Dan apabila lautan dijadikan meluap (QS. At Takwir (81) : 6).

Disparitas flora dan fauna yang tadinya tumbuh berkembang mengikuti 
hukum-hukum ekosistem, tiba-tiba berkembang menyalahi pertumbuhan deret 
ukur kebutuhan manusia, sehingga kesulitan memenuhi koposisi kebutuhan 
karbohidrat dan proteinnya secara seimbang. Ini semua menjadi isyarat 
bahwa taskhir tidak sepatutnya membuat manusia congkak dan arogan. Taskhir 
hanyalah titipan dari Allah SWT.
 
“Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada Kami 
untuk menyihir Kami dengan keterangan itu, maka Kami sekali-kali tidak 
akan beriman kepadamu." (QS. Al Araf (7): 132).

Ahli hikmah mengatakan : Apabila kamu menggotong mayat ke kuburan, 
ingatlah suatu saat kamu akan digotong. Dan apabila kamu diserahi urusan 
kamu, ingatlah suatu saat engkau akan dimakzulkan (dilengserkan). Dari 
perkataan bijak tersebut mengajarkan, ternyata kehidupan di dunia ini, 
jabatan yang melekat, termasuk jiwa manusia, hanya hak guna (tidak 
permanen), ada masa akhir.
 

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke