-

Widiyarto 







Kiamat; Antara Tangisan Dan seruling
Jumat, 21/01/2011 07:28 WIB | email | print | share
Oleh Abdul Mutaqin

Pernahkah sahabat menemukan hal istimewa dari anak-anak kita? Aku yakin 
pernah, meskipun varian, intensitas, volume, segmen dan emosi yang 
berbeda-beda. Dan menyaksikan keistimewaan dalam kepolosan jiwa mereka, 
inilah yang aku katakan istimewa.

Pernahkah menyaksikan anak-anak kita menangis? Pasti sering. Tapi, apa 
yang membuat mereka menangis? Pasti pula banyak macam ragamnya.

Di suatu sore, diantara bau keringat sisa lelah mengajar. Debu masih 
menempel berbaur dengan minyak alami kulit wajahku. Kepenatan masih 
mencubit-cubit pinggang, punggung dan kedua belah tangan dari 
mengendalikan bebek besi yang setia mengantar pulang dan pergi mengais 
rizki. Baru saja kubenamkan bokong di atas kursi plastik, anakku; Rayyan 
bercerita.

”Ayah, tadi aku nangis”, hi hi hi, lucu. Melihat mimik wajahnya aku 
tersipu. Ya Tuhaan, aku seperti melihat bayangan wajahku sendiri. 
Seolah-oleh aku tengah diajak berdialog dengan jiwaku. Rayyan tak ubahnya 
aku diusianya sekarang. Mirip. Isteriku pernah mengadu padaku, banyak guru 
SDnya menyebut Rayyan dengan “Abdul Kecil”.

“Nangis? Memang kenapa mas?”. Aku biasa memanggilnya dengan menambah kata 
mas; mas Rayyan, mengikuti budaya bundanya yang orang Jawa. Memang 
terdengar agak ganjil. Lazimnya, sebutan mas diakhiri nama dengan vokal o. 
Mas Parto, mas Joko, mas Tarmo, mas Trisno dan sebagainya. Lha ini, mas 
Rayyan. Ah biarlah, sing penting pantes.

”Itu, kakak Mikal cerita tentang kiamat. Kakak ceritanya sambil nangis. 
Aku ikut nangis. Rafi juga nangis”, lhaa..., tiga bocah kecil nangisin 
soal kiamat. It’s amazing.

”Coba-coba, ceritain lagi, ayah penasaran apanya yang bikin mas Rayyan 
nangisin kiamat”. Ahaaa ..., tubuhku segar kembali seolah telah mandi. 
Rasa penatku bagaikan debu menempel di atas batu licin dihempas angin. 
Buzzzzzzzzzz ...., hilang semua.

Ini adalah golden opportunity meminjam istilahnya bu Neno Warisman. Tokoh 
yang dulu pernah sempat aku menjadi wali kelas anaknya; Ghiffari Zaka 
Waly, siswa cerdas yang jarang disadari kecerdasannya oleh gurunya sendiri 
waktu itu. Golden opportunity adalah kesempatan emas yang tidak boleh 
dilepas tanpa memberikan apa-apa kepada mereka. Saatnya mencelup jiwa 
Rayyan dengan warna celupan Allah melalui pintu kiamat. Aku tak ingin 
melewatkan tangisan kiamat anakku Rayyan menguap tanpa bekas. Harus. Hanya 
saja, kadang aku dan kita tidak terlalu peka menangkap golden opportunity 
yang diciptakan anak-anak kita. Kita sering abai walau tidak terlalu salah 
karena mungkin energi kita sudah habis diterkam lelah sepanjang waktu.

Eh alaaa, Rayyan berkaca-kaca. Dia benar nangis lagi.

”Habis, aku takut. Ceritanya serem. Kata kakak, nanti langit pecah Yan, 
bumi bergoyang-goyang. Matahari engga ada sinarnya lagi. Hancur semuanya. 
Ayah sama bunda berpisah. Aku tidak kenal kakak lagi. Terus kakak nangis, 
ya aku nangis. Rafi juga nangis”, Aku tersentuh. Hatiku seperti melayang 
ke alam bawah sadar mengembara diantar oleh tiga anak kecil kelas 1, 2 dan 
3 SD.

“Mas Rayyan percaya, Allah sayang pada kita?”, kataku mulai mengarahkan 
nalarnya. Rayyan mengangguk dan mulutnya mengatakan ya. ”Jika Allah sudah 
sayang sama mas Rayyan, sayang sama mba Mikal dan Rafi. Sayang pada kita 
semua, kiamat itu tidak akan menyakiti kita. Kita akan diselamatkan oleh 
Allah yang menyayangi kita. Oke?”

”Aku ingin di sayang Allah terus”, anakku Rayyan bergumam. Nah ... umpanku 
dicaploknya. Aku berbinar. Hatiku girang tidak alang kepalang. Ini yang 
aku tunggu-tunggu.

”Mas, kita semua bisa disayang Allah selamanya. Tetapi agar kita disayang 
Allah ada syaratnya”, aku pancing lagi ingin tahunya.

”Apa yah syaratnya?”, gooooooool. Aku mendapatkannya.

”Mas Rayyan sudah punya kok syaratnya, cuma masih harus ditambah. Kemarin, 
mas Rayyan sudah puasa Ramadhan sebulan kurang sehari karena sakit. Mas 
Rayyan sudah mau ngaji lagi. Allah pasti sayang. Tapi jika mas Rayyan 
solatnya juga rajin, hmmmm, Allah pasti sayang terus sama mas Rayyan. Tapi 
jika kita semua tidak mau puasa, tidak mau ngaji, tidak mau solat, Allah 
juga tidak mau sayang sama kita”. Ya Rabb, semoga ini membekas dalam 
kalbunya.

Aku senang bisa melukis tauhid di atas kanvas jiwa Rayyan. Harapanku, 
semoga lukisan iman itu lebih mempertegas syahadat di hadapan Rabbnya saat 
ia di alam rahim. Dan semoga, lukisan itu akan dibawanya sampai mati, 
sampai dibangkitkan dan menjadi bekalnya saat kiamat nanti. Aku kira, 
semua orang tua akan senang melakukannya.

Aku bersyukur masih ada anak yang menangis karena kiamat di zaman ini. 
Dunia sekarang adalah dunia lawakan, dunia sinteron dan dunia musik serta 
hiburan. Dunia seperti itu jarang mengajarkan tetesan air mata dan rasa 
takut pada Tuhan. Bahkan berita tentang kiamatpun diiringi gitar, gendang, 
perkusi, seruling dan goyangan. Pada akhirnya, berita tentang kiamat yang 
dihantarkan oleh musik tidak menggerakkan manusia mengingat kuburan, 
tetapi larut dalam kesyahduan suara seruling dan perkusi serta kesenangan.

Aku sempat melihat di televisi sang raja musik khusyu membawakan lagu 
kiamat. Tetapi tak ada satupun yang menangis. Bahkan walau dengan 
malu-malu, masih ada juga yang bergoyang. Tapi mungkin masih 
nyerempet-nyerempet relevan, sebab nanti di hari kiamat manusia bergoyang 
seperti mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Hiii, serem lagi.

”(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah 
semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah 
kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan 
mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu 
sangat keras”.(terjemah QS. Al Hajj [22]: 2)

Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),

pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,

dari ibu dan bapaknya,

dari istri dan anak-anaknya.

Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup 
menyibukkannya.(terjemah QS. Abasa [80]: 33-37)

Bagaimana kita tidak tersentak memahami berita dahsyat di atas? Bagaimana 
mungkin dahsyatnya kiamat dihiburkan dengan seruling, gendang dan perkusi? 
Sedangkan generasi terbaik ummat ini tidak kering-kering air matanya 
membayangkan kerasnya yaumul qiyaamah. Astaghfirullah.

Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya aku 
melihat sesuatu yang tak bisa kalian lihat, mendengar apa yang tak kalian 
dengar, yaitu langit telah retak dan sudah semestinya langit berderak. Di 
sana tiada suatu tempat untuk empat jemari kecuali telah ada malaikat yang 
menyungkurkan dahinya bersujud kepada Allah. Seandainya kalian mengetahui 
apa yang aku ketahui niscaya kalian pasti sedikit tertawa dan banyak 
menangis. Kalian juga tidak akan bersenang-senang dengan istri di tempat 
tidur, kalian tentu akan keluar ke jalan-jalan untuk memohon perlindungan 
kepada Allah” lalu mata Abu Dzar pun berlinangan tangis dan berkata: “demi 
Allah, seandainya bisa, lebih baik aku menjadi pohon saja yang diambil 
daunnya”(HR Tirmidzi: 2312).

Mikal, Rayyan, Rafi, semoga tangis kalian tidak sia-sia.

Depok, Januari 2011

abdul_mutaqin

_______________________________________________

-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke