"I am the KING to my own UNIVERSE that rule my MIND, BODY and SOUL !!!"

-----Original Message-----
From: "friska" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Mon, 24 Jan 2011 10:03:14 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Konsultasi-Kesehatan] Fw: Andi F Noya mengusir Dewi Motik?

      Beritanya lagi ramai di internet.
      Ini dia catatannya.
      -----


      “Kami Tak Sudi Diperintah Untuk bertepuk Tangan Atas Bencana Yang Kami 
Tangisi”.

      Malam ini, Rabu 19 Januari 2011 saya mendapat pembelajaran hidup yang 
luar biasa hebat. Peristiwa yang menjadi guru nan bijak bestari, dan tak 
mungkin akan terlupakan.

      Sejak tadi SMS, dering telepon di HP dan rumah beberapa kali berbunyi 
menanyakan keadaan saya setelah diusir Andi F Noya dari Metro TV, dalam tapping 
acara Kick Andy (KA) tadi.

      Lalu terpikirlah kini, ketimbang saya harus menceritakan kejadian yang 
sama berulang-ulang, mending saya tulis saja mumpung peristiwanya masih segar 
dalam ingatan.

      “Hah, mama diusir ? seriuuuuus ?” tanya anak-anak tak percaya.

      “Hehehe ga apa-apa diusir, asal setelah itu orang-orang menyadari, dan 
menjadi lebih sensitif, mengapa kita mau diperintah, harus bertepuk tangan 
untuk bencana yang kita tangisi?”. Saya berusaha cengengesan.

      Hmmm…Ceritanya berawal ketika hari minggu siang 16 Januari 2011, pejuang 
anak dan ketahanan keluarga psikolog Elly Risman, mengirim pesan singkat kepada 
Ibu Inke Maris (praktisi media, Ibu Wirianingsih (mantan ketua PP Salimah, Ibu 
Masnah Sari(Mantan Ketua KPAI, Shakina( Direktur Lembaga Manajemen Pendidikan 
Indonesia) dan saya sebagai pengurus ASA Indonesia, agar kami berkenan datang 
ke Metro TV, Rabu untuk mensupport Ibu Elly yang diundang sebagai nara sumber 
dalam acara “KA”. Pada awalnya saya sudah mengatakan tak bisa hadir karena 
sudah ada agenda rapat. Namun karena Bu Inke Maris tiba-tiba kecelakaan, maka 
bu Elly lagi-lagi meminta saya untuk berkenan hadir, paling tidak 
memperlihatkan kekompakan kita.

      Waktu itu kami semua berfikir dan membayangkan Ibu Elly Risman pimpinan 
Yayasan Kita dan Buah Hati, sahabat seperjuangan kami dalam mendirikan 
organisasi perlindungan anak ASA INDONESIA, akan dihadirkan sebagai tokoh 
pejuang anak dan perempuan, yang menginspirasi banyak orang dan layak jadi 
teladan, sebagaimana “Pahlawan di jalan sunyi” lain yang sebelumnya kerap 
dihadirkan di KA.

      Meski kami sudah mengusahakan hadir 30 menit sebelum tapping jam 17.00 
seperti yang dijadwalkan, ternyata acara molor 2 jam lebih, toh undangan 
berusaha ikhlas demi mensupport pejuang sekaliber Ibu Elly. Saya juga melihat 
begitu banyak petinggi dari berbagai organisasi termasuk institusi/lembaga 
negara seperti Depkes, Menkokesra, Menpora, dan lain-lain. (Semua tokoh yang 
saya tanyakan mengaku hadir untuk mensupport Ibu Elly, bukan atas undangan 
pihak Metro TV). Tentu mereka mengorban waktu mereka yang demikian berharga.

      Sebelum acara dimulai, seperti biasa, floor manager ( tak taulah kalau di 
KA istilahnya apa) memberikan pengarahan yang antara lain, harus bertepuk 
tangan dengan antusias kalau dia mengaba-aba, mengawali tepuk tangan.

      Sessi pertama Andi Noya menghadirkan seorang gadis remaja yang sejak usia 
16 tahun sudah terbiasa melakukan seks bebas dan kini menjadi PSK. Kawan-kawan 
dari berbagai organisasi wanita di samping dan belakang saya mulai 
berbisik-bisik dan mengungkapkan kekecewaan, kenapa Andy justru mengeksplor 
masalah ke”terjerumusannya”, bukan alert tentang bahaya seks bebas dan 
pornografi. Banyak ungkapan-ungkapan miris si gadis justru ditanggapi dengan 
joke oleh Andi yang memberi kesan seolah membenarkan kebiasaan buruk si gadis. 
Misalnya Andy bertanya “Apakah bunga ( nama samaran si gadis) memilih-milih 
orang yang menerima jasanya(yang disebutnya sebagai klien). Lalu si gadis 
menggeleng. Terus Andy mencecar terus, jadi ga apa-apa kalau yang datang tipe 
begini, begitu…termasuk…”Jadi orang kribo juga boleh?”, tanyanya nakal sambil 
ngakak menunjukkan ke ‘kriboan’nya.

      Dan banyak lagi joke-joke yang sangat tidak pantas dilontarkan jika kita 
memang MEMPRIHATINKAN masalah tersebut.

      Yang lebih mengecewakan, Ibu Elly Risman yang diundang sebagai nara 
sumber, ternyata hanya didudukkan di kursi audience, lalu ditanya singkat, 
tanpa mempertajam “MATERI”, yang menyangkut peringatan atas sesuatu yang selama 
ini selalu disebut bu Elly sebagai “Bencana Kemanusiaan” . Ibu Elly tak lebih 
hanya dijadikan sebagai “Asesoris” , pelengkap dan pemanis suatu acara…..dan 
sebagai alasan untuk suatu show yang seimbang karena menghadirkan pakar.

      Sampai selesai wawancara dengan PSK remaja perempuan tadi, tak sekalipun 
Andy menanyakan dampak atau mudharat yang diterima si anak. Semua 
pertanyaan-pertanyaan hanya memancing jawaban yang seolah-olah memberikan pesan 
“Bahwa seks bebas adalah sesuatu yang lumrah bagi remaja, dan BETAPA MUDAHNYA 
MENCARI UANG DENGAN MENJUAL DIRI”. Yang lebih miris, Andy memancing apa benar 
si gadis juga dipakai pejabat penting ? Lalu tertawa-tawa ketika si gadis 
mengiyakan sembari menyebut-nyebut pelanggannya dari berbagai lembaga terhormat 
negara seperti DPR dan BIN. ( Kata-kata itu, lalu diulang-ulang dan diperdalam 
dalam canda tawa) Agaknya memang dalam segala situasi dan program, sudah 
menjadi rahasia umum, Metro TV senantiasa teramat BERSEMANGAT, mencoreng wibawa 
pemerintah. Dan kebencian kepada pemerintah itu rupanya harus dipupuk dan 
diekspresikan di setiap tayangan.

      Babak demi babak berlalu tanpa ada penekanan bahwa ini adalah sesuatu 
yang harus diprihatinkan, maka diundang pula nara sumber kedua, seorang PSK 
laki-laki berusia 19 tahun. Andy kian berani dengan canda vulgarnya, dan 
berusaha terus mengilik si remaja untuk blak-blakan menceritakan kisahnya 
sebagai PSK laki-laki dan gigolo dengan pasar 40 % perempuan dan 60% laki-laki 
( Tapi versi narator di film pendek yang diputar 70% pelanggannya adalah 
laki-laki). Andi dengan leluasa mengekspresikan ke’kagumannya’ atas “bualan” si 
anak yang katanya biasa dibayar 2-15 juta perorang, dan sehari ia biasa 
melayani sekitar 3 orang. Tragisnya lagi, cerita MENGERIKAN yang diungkapkan si 
anak yang merupakan berita duka untuk bangsa ini, justru harus diberi applause 
saban si nara sumber selesai mengobral kisah yang itu kian seru dan kian seru. 
Andi tak malu-malu mengumbar canda bahwa ia ngiri dengan gigolo bau kencur ini, 
dan ini adalah sesuatu yang ia juga impikan di masa muda, di saat masuk dalam 
obrolan bagaimana mereka ‘main dalam mobil dengan beberapa orang gadis. 
Sungguh-sungguh ini lawakan yang menjijikkan, dan sangat melukai perasaan kita 
sebagai orang tua, dan tentunya melukai perasaan orang-orang beragama dan 
BERADAB.

      Saya benar-benar gelisah di antara tawa gaduh ratusan mahasiswa dan anak 
muda yang diundang hadir, sembari sesekali menatap kawan-kawan, termasuk bu 
Elly yang juga tak dapat menyembunyikan kegelisahan beliau. Saat break, ketua 
Kowani Ibu Dewi Motik mengingatkan Andy, bahwa sangat tak layak meminta orang 
bertepuk tangan untuk sesuatu yang memprihatinkan. Berulang-ulang beliau 
mengatakan merasa didzalimi. Saya juga meminta Andy untuk lebih memberi ruang 
kepada bu Elly sebagai peringatan kepada masyarakat, terutama anak-anak, agar 
tidak melakukan kesalahan yang sama. (Saya malahan berharap kehadiran 
kawan-kawan aktifis yang juga berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit 
kelamin dapat dijadikan sebagai info tambahan, bagaimana situasi dan data-data 
mengerikan di balik ruang prakteknya ).

      Ekspektasi saya waktu itu, sebagai host yang bijak, Andy akan meminta 
masukan dari para pakar yang banyak hadir, bagaimana baiknya ending acara ini 
agar tidak disalah pahami, dan pesan yang disampaikan membawa manfaat untuk 
masyarakat, terutama anak mudanya agar jangan sekali-sekali meniru dan 
mengulangi kesalahan yang sama.

      Duh….Alih-alih meminta saran, rasanya sungguh tak percaya, Andy terkenal 
dengan citranya yang ‘baik’malah mengusir saya dari ruangan. Waktu Ibu Dewi 
Motik meninggalkan ruangan sembari mengucapkan kata-kata yang kurang lebih 
seperti ini…. “Maaf Andy, saya terpaksa meninggalkan ruangan ini, karena saya 
dizalimi. Saya pikir yang jadi nara sumber Ibu Elly, tapi ternyata anda memaksa 
kami untuk bertepuk tangan di tengah cerita yang menyedihkan dari anak-anak PSK 
ini “. Saya lihat Andy Noya dengan wajah tegang mempersilakan bu Dewi Motik 
yang memang sudah berjalan pergi, untuk meninggalkan ruangan. Lalu sutradara 
mengingatkan “Lihatlah acara ini dengan utuh”. Ibu Elly Risman juga berusaha 
menenangkan dengan mengatakan bahwa nanti di babak akhir acara beliau akan 
mengingatkan masyarakat.

      Biar ruangan tidak semakin gaduh, saya mencoba menyabarkan diri dengan 
bilang “Ya sudah kalau begitu, saya tetap akan di sini, dan berharap semoga 
acara berjalan seperti yang dijanjikan”

      Tak dinyana tak diduga, eh Andy dengan kasar justru berulang-ulang bilang 
“Ibu juga ….Ibu harus pergi dari sini, kan ibu sudah tak tahan kan…ibu harus 
pergi…Ibu harus pergi !!”[

      Otomatis sayapun mengikuti langkah Dewi Motik, disusul 2 orang petinggi 
Kowani lainnya, setelah memohon pamit kepada Ibu Elly Risman dan mensupport 
agar beliau tidak lupa menyampai pesan, betapa bahayanya pornografi dan seks 
bebas.

      Di perjalanan pulang, kami berempat tak henti-hentinya beristighfar dan 
bersyukur kepada Allah, atas kekuatan yang diberikanNYA untuk menyampaikan 
kebenaran ini. Kami tahu, sebagai host acara yang cukup bagus, Andy F Noya 
senantiasa dihujani puja puji dan tepuk tangan. Karena memang selama ini Andy 
begitu dikagumi lantaran program Kick Andynya dianggap telah banyak 
menginspirasi orang. Mungkin karena kehebatan itu. selama ini tak pernah ada 
yang berani mengingatkan jika suatu ketika Andy salah. Jadi wajar Andy sangat 
marah ketika kami ingatkan bahwa tak selayaknya “KISAH HOROR” PSK remaja 
dieksploitir. Hmmm tepuk tangan memang menikam rupanya.

      Buat Andy F Noya, terimakasih telah mengusir saya dengan begitu “SANTUN”. 
Namun maaf sekali, saya tidak merasa lebih terhina. Saya justru bersyukur, 
karena setelah itu saya dapat kabar, anda memberi ruang untuk Ibu Elly bicara 
lebih banyak, ketimbang sebelumnya. Saya sangat menyayangkan, show anda yang 
dikagumi selama ini sebagai suatu tayangan yang “Mendidik”, di antara tayangan 
sampah, ternyata juga “mengikuti selera rendah pasar” dan eksploitatif.

      Anda keliru jika merasa hebat telah melecehkan orang lain. Percayalah, 
kehormatan dimata manusia tak ada artinya, jika kita tak punya kehormatan di 
mata Sang Maha Kuasa. Kemuliaan seseorang tak terusik dengan sangkaan manusia 
manapun. Lagi pula menghina dan melecehkan orang lain, sesungguhnya kita justru 
tengah menghinakan dan melecehkan diri sendiri.

      Karena itu saya juga telah memaafkan anda tanpa diminta. Bagi saya 
kejadian ini hanya teguran dan pembelajaran dari Allah buat saya, agar kita 
jangan terlena jika sudah merasa berbuat baik, lalu merasa paling benar dan 
paling hebat. Ya Allah ampuni hamba.

      Oya, satu lagi kekecewaan yang ingin saya sampaikan anda dan crew Metro 
TV, tak sedikitpun melindungi identitas si nara sumber (PSK remaja perempuan), 
begitu ia keluar studio rekaman. Saya dan Ibu Dewi Motik langsung dapat 
mengenalinya dan sempat memeluk serta menasehatinya. Pakaian yang ia kenakan 
dan atribut yang menyertai masih sama dengan apa yang ia pakai sewaktu 
dipanggung menjadi nara sumber yang bermandikan cahaya dan sorot kamera. 
Padahal jika memang benar ia PSK remaja, yang mau bertobat (seperti katanya) 
tentu ia masih punya harapan untuk hidup baik, bukan malah dieksploitasi dan 
dipromosikannya sebagai pelacur !!! Pernahkah anda membayangkan, bagaimana 
perasaan anda jika nasib itu menimpa anak anda sendiri ?

      Ketika saya hendak menutup “Cerita menjelang tidur ini”, saya dapat SMS 
dari Ibu Elly Risman yang bertuliskan “Kau benar adikku. Kakak Kecewa sampai 
tak tahu harus jawab apa. Tapi mudah-mudahan pesan yang yang sedikit itu 
sampai. Kita Tidak dilibatkan membuat programnya. Terimakasih ya sayang, telah 
bersikap”.

      Ya Rabbana, berilah kami selalu kekuatan untuk menyatakan kebenaran jika 
itu benar, dan melawan segenap kemungkaran, meski hal itu harus melukai diri 
sendiri.

      Amin ya Rabbal Alamin.

      (Tatty Elmir 19 Januari 2011)

      Posted in uneg-uneg | Tags: Andy F Noya, Bahaya Pornografi, Bahaya seks 
bebas, Elly Risman, Kick Andy, Metro TV

      Source: 
http://tattyelmir.wordpress.com/2011/01/20/%E2%80%9Cmengapa-kami-harus-bertepuk-tangan-untuk-berita-yang-kami-tangisi-%E2%80%9D/
      ----
      Best Regards,
      Feri S.





-- 
you have this email because you join to "aga-madjid" GoogleGroups.
to post emails, just send to :
[email protected]
to join this group, send blank email to :
[email protected]
to quit from this group, just send email to :
[email protected]
please visit to www.facebook.com/aga.madjid,
add my Yahoo Messenger at [email protected] or
add my twitter @aga_madjid
thanks for joinning this group.

Kirim email ke